
Setelah balapan yang menegangkan itu, Eqlima pun beristirahat di drivers room bersama dengan 6 pembalap tercepat lainnya termasuk Emina, mereka saling mengobrol satu sama lain membahas balapan itu.
Namun, ketika mereka mengobrol, Emina coba dekati Eqlima untuk mengatakan sesuatu
"Hey Eqlima, apa kau bosan? Sini aku mau kasih tau kamu sesuatu." Ucap Emina dengan maksud mengajak.
Eqlima pun mengikuti Emina keluar dari driver room itu untuk mencari tau apa yang Emina maksud tentang yang dia ingin bicarakan.
"Kamu kalo nginep dimana? Apa ada kenalan disekitar sini?" Tanya Emina yang penasaran dengan Eqlima
"Nginep di hotel sih, kemarin ada agen pembalap aku yang kebetulan kerjasama dengan BWT, makanya kenapa aku bisa disini." Kata Eqlima yang masih terbawa suasana ceria.
Emina pun mengerutkan dahi dan mengangkat alisnya sebelah untuk beberapa menit "Oh ya? Aku pikir kau tinggal disekitar sini."
Tak lama, Emina pun menawarkan sesuatu ke Eqlima "Hey Eqlima, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu nih, aku mau menawarkan sesuatu ke kamu."
Eqlima pun hanya melihat dan mengiyakan perkataannya sambil mengikuti nya, dan setelah itu Eqlima dan Emina pun menuju Motorhome yang dipinjam Emina dan suami nya yang terparkir di parkiran khusus
"Wah, ini apa? Kau menjualnya?" Tanya Eqlima dengan tatapan nya ke Motorhome tersebut
Emina pun melihat Eqlima sambil tersenyum, "Gak mungkin lah, aku tidak akan seaneh itu dengan rekan sendiri"
Emina pun mendadak berekspresi serius sambil bertanya ke Eqlima "Eh, ngomong-ngomong kamu tinggal dimana?"
"Di Hotel Berlin, gak jauh sih dari bandara utama Berlin"
Emina pun berpaling dari Eqlima untuk kembali ke driver room sambil berkata "Nanti Jum'at depan kita ketemuan ya."
Eqlima pun bertolak pinggang dan memandangnya dengan mengangkat alis karena dirinya heran apa yang akan direncanakan setelah ini.
...****************...
...(5 hari kemudian)...
Sore pun tiba, Eqlima pun balik ke hotel setelah dirinya balapan, dia pun mulai membereskan dan mulai check-out, khawatir jika nanti Emina mengajaknya ke hotel lain untuk menginap.
Tak berselang lama, motorhome yang sebelumnya ada di sirkuit dan ditunjukkan ke Eqlima, datang didepan hotel dan saat itu hotel sedang keadaan sepi, wajar jika Emina mau memarkirkan nya sebentar disitu.
Kebetulan Eqlima sudah melakukan check-out dan dia bersiap-siap untuk pergi dengan koper nya tersebut, dan tidak menunggu lama, Emina pun keluar dari mobil tersebut.
"Hai Eqlima....!" Ujar Emina sambil berjalan menemui Eqlima dan memeluknya sebagaimana sahabat.
"Siap untuk hari ini? Mungkin kita libur untuk minggu ini, tapi aku mau ngajak kamu ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi lho." Ucap Emina dengan nada yang ceria dan semangatnya
Eqlima pun mengangguk dan mengatakan "Kenapa tidak? Ajak kemanapun asal jangan kamu buat aku tersesat" sambil tertawa kecil.
Tak lama setelah nya, mereka pun langsung naik kedalam motorhome yang dikendarai oleh Suaminya Emina itu, lalu Eqlima menaruh kopernya di kamar kosong di mobil tersebut.
"Selamat datang disini, kawan." Emina membuka percakapannya untuk memberikan penerangan tentang motorhome nya itu.
"Disini kamu bisa tidur di manapun kamu mau, aku biasanya tidur di sofa jika aku malas tidur dikamar." Terang Emina dengan Eqlima, namun Eqlima pun melihat dapur di motorhome itu, meski sudah terpakai namun nyatanya tidak ada bahan sama sekali dan mereka sedang dalam perjalanan menuju Belanda, jadi sulit untuk mereka memesan makanan jika mereka tak berhenti di rest area.
Emina pun menepuk bahu Eqlima dari belakang "Kenapa kamu melihat dapur? Ada yang mau dimakan?" dan sontak Eqlima pun menoleh karena sebelumnya Emina sempat di kamar, namun Eqlima masih di dapur, "Oh iya, kau keroncongan?"
"Jadi kamu melihat dapur untuk mencari makanan? Santai saja, aku tidak akan marah, hanya saja jika kamu sopan"
Emina pun akhirnya membuka isi lemarinya setelah ia tau Eqlima sedang butuh sesuatu untuk mengisi perutnya.
Didalam lemari itu banyak sekali makanan instan yang siap dimasak, yang beberapa diantaranya khas Indonesia bawaan dari Emina yang sempat ke Indonesia beberapa bulan lalu.
"Wah, ini keren, kamu punya makanan instan khas Bosnia-Herzegovina dan Indonesia dalam satu lemari!?" Ujar Eqlima yang terkesan dengan makanan di lemari tersebut
Emina pun tersenyum dengan jumawa menanggapi Eqlima "Jelas, karena setiap aku berkunjung ke rumah bapakku, aku selalu mampir ke tempat oleh-oleh, selain buat yang lain, kadang aku membeli untuk disimpan disini" Sambil mengeluarkan Rabeg Instan dari lemari tersebut untuk dimasak.
Tak lama, Eqlima pun langsung mengambil Rabeg kaleng itu dari Emina yang memberinya supaya dimasak, dan untuk nasi nya, Emina punya Penanak nasi yang biasa berada di motorhome nya tersebut.
Setelah matang Rabeg dan nasi nya, tibalah saatnya makan malam untuk mereka berdua, karena saat berangkat, waktu pun menunjukkan jam 5 sore, dan saat jam 8 malam, mereka masih ada di perjalanan menuju perbatasan Belanda.
"Eh Emina, kamu kenapa berfikir pakai motorhome? Apa gak pakai pesawat aja?" Tanya Emina sambil mengunyah nasi dan Rabeg yang ada di mulutnya itu.
"Apa? Yang bener? Bahkan sekelas aku aja ada fans nya? Padahal aku masih rookie lho" Jawab Eqlima sembari tersedak dan minum air setelahnya.
"Jangan tersinggung, mungkin ini fans BWT sih yang lebih kenal aku sebelum kamu, dan mungkin Volta"
Eqlima pun menunda makan nya sebentar dengan menaruhnya di meja sambil teringat Daphne Volta, orang yang membuatnya mendapatkan seat di tim Formula E itu "Oh, Volta ya, aaah... aku khawatir dengan dia, aku pengen banget ketemu dan mungkin menanyakan apa yang ia lakukan saat ini"
"Ya semoga saja kau bertemu dengannya, tapi sepertinya akan sulit, karena dia sudah tidak seperti yang kamu lihat sebelumnya" Jawab Emina sambil mengambil gelas dan minum.
Sambil melihat kedepan sembari membuka jendela karena agak pengap, Eqlima pun melihat supirnya dan mencoba bertanya soal siapa dia, "Hey Emina, itu supir kamu namanya siapa?"
Emina meresponnya dengan tertawa kecil "Itu suami aku, namanya Eidel Mubarko, dia asli Bosnia-Herzegovina, kami menikah bulan Januari"
Eqlima hanya bisa melongo karena rekannya ternyata sudah nikah, jauh lebih awal dari yang disangka Eqlima "Jadi.... kalian berdua nikah?! Kupikir kau masih muda"
Emina pun melihat Eqlima dengan agak aneh, karena dia tidak menyangka hal itu "Ya, kurasa kau tidak perlu memikirkan hal itu"
Setelahnya, Eqlima pun duduk kembali, dan mengambil piring yang sempat ia taruh di meja karena ia menunda makan nya sebentar, sementara itu, Emina melanjutkan lagi perkataan nya "Masa depan kamu masih panjang, kamu tidak perlu memikirkan hal itu terlebih dahulu, kamu ingat kamu baru sekali ini juara, kan?"
Sambil mengunyah makanan nya lagi, Eqlima pun mengangguk dan memperhatikan Emina berbicara ke dia.
"Maka dari itu, kamu lebih baik memikirkan cara kamu agar tetap bisa bertahan di tim, aku sudah tidak perlu karena aku sudah banyak memenangkan balapan, sementara kamu baru sekarang kan?" Ujar Emina sambil mengelus bahu Eqlima yang sedang makan.
Karena Emina sudah habis makan nya, maka dia pun menaruh piringnya ke tempat pencuci piring di depannya.
"Oh iya Emina, kenapa kamu terlalu baik denganku? Bukannya kita rival ya? Apa emang kek gini sebelumnya kamu dengan Volta?" Tanya Eqlima yang baru menyelesaikan makan nya.
Emina yang baru menaruh piringnya pun langsung duduk di sofa disebelah Eqlima, sambil berkata "Yang kamu pikir rival itu apa?"
Emina mengangkat satu kakinya diatas kaki kanannya sambil melanjutkan perkataan nya "Rival itu cuma di Trek doang Eqlima, bukan di sini, kamu kalo diluar nyari ribut itu namanya musuh, paham sampe sini kan?"
Eqlima pun menaruh piring bekas makan nya di tempat yang sama seperti Emina menaruh piring tadi, lalu sekembalinya dia ke sofa dia pun bertanya "Oh, jadi rival itu hanya bersifat sementara? Tidak seperti musuh?"
Emina pun mengangguk "Iya, itu yang memang terjadi adanya."
...****************...
Tak lama kemudian, Mereka sempat turun di perbatasan Jerman ke Belanda di jam 10 malam,
Eqlima yang masih mengantuk karena ia tidur di sofa dan Emina yang habis nonton anime Overtake itu pun terpaksa keluar dari motorhome dan mereka pun memuju ke ruangan khusus untuk memberikan paspornya dalam pengecekan,
Semua berjalan lancar saat Emina dan Suami nya memberikan paspornya, namun saat Eqlima yang memberikan paspornya, Petugas agak aneh dengan paspor Eqlima.
"Apa kamu pendatang dari Indonesia?" Ujar petugas itu dengan bahasa Inggris nya yang kurang fasih.
"Berikan kami izin kerja kamu!"
Sontak, Emina pun mencari cara agar Eqlima masih bisa menembus Belanda tanpa kena bala, namun Eqlima masih bisa tenang karena dirinya tidak pernah mengeluarkan dokumen kerjanya dari koper, jadi dirinya masih bisa menemukan itu.
"Gak perlu khawatir, aku punya kok" Ujar Eqlima sebelum dirinya bergegas kembali ke motorhome nya untuk mencari dokumen itu
Akhirnya dokumen pun ketemu dan diberikan ke petugas itu, tak lama setelah dokumen itu diberikan, pengecekan berhasil, dan petugas memberikan dokumen nya lagi ke Eqlima.
"Dahulu ada seorang pembalap Indonesia juga yang pernah balapan di Formula bukan?" ujar petugas itu sembari memberikan dan berjabat tangan dengan Eqlima.
"Kau sekarang melanjutkan tradisinya dan menaruh harapan agar kau lebih baik dari sebelumnya"
Eqlima pun dengan polosnya hanya menjawab "Tapi, itu kan Formula One pak, bukan Formula E"
Emina yang berada disamping petugas nya pun langsung mendekat nya "Apapun itu, kamu membuat bangga Indonesia di mata dunia." sambil memeluknya dari samping.
"Yuk kita masuk ke mobil lagi" Ajak Emina ke Eqlima untuk masuk ke mobil sembari berterimakasih dengan petugasnya dan pamit.
Setelah semua kejadian itu, mereka pun akhirnya menuju Amsterdam untuk memulai acara esok hari disana, meski jam menunjukkan pukul 1 malam, namun karena Eqlima sudah tidur, Eqlima pun mencoba memandang pemandangan kota yang masih terang namun terasa sepi hingga kantuk nya tiba di jendela dekat kamarnya.
suasana sayup dan sepi yang hanya ditemani oleh suara mesin motorhome itu menemani Eqlima disaat Emina memakai headphone sambil menyeruput kopi dan menikmati anime itu, sedangkan suaminya masih sibuk menyetir untuk mencari rest area terdekat.