
Setelah Eqlima tiba di hotel penginapan nya, Eqlima pun langsung membanting badannya ke kasur dan langsung mengumpat di selimut kasurnya sambil menangis sejadi-jadinya didalam selimut itu.
Beberapa saat kemudian, Rita memencet bel di dekat pintu kamar Eqlima sambil memanggil Eqlima, namun Eqlima yang sedang sedih itu masih bisa respon walaupun di ketukan pintu yang ketiga kalinya.
"Ya ampun, ada apa sama kamu? Cerita lah, kan kamu udah aku anggap saudari." Ujar Rita yang melihat muka Eqlima yang penuh dengan air mata dan masih menangis mengingat sebelumnya.
Keduanya pun masuk ke kamar dan duduk di kasur untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Iya, jadi aku merasa bersalah sama pesaing aku di sesi latihan tadi, aku sempat mau belok, tapi aku gak sadar kalo dibelakang ada pembalap lain" Ujar Eqlima yang masih terbawa suasana sedih.
"Oh gitu, aku ngerti kok perasaan kamu, namanya juga balapan, memang terkadang ada hal yang tidak terduga" Ujar Rita yang memeluk dan mengusapnya dari samping.
Tak lama kemudian, Fadil pun datang ke kamar Eqlima disaat mereka masih mengobrol, saat melihat Eqlima sedang sedih, Fadil pun ikut duduk di kasur nya.
"Hei Eqlima, aku tahu perasaan kamu saat ini, tapi aku harus minta maaf ke kamu sebelum nya" Ujar Fadil yang berada di samping kiri Eqlima, sementara Rita di kanan.
"Kenapa?"
"Iya, karena setelah ini, kita gak bisa temenin kamu disini lagi, karena kami punya kesibukan lain diluar dari ini"
Mendengar hal itu, Rita pun langsung memeluknya supaya Eqlima bisa menenangkan diri.
"Besok kami akan pulang sekeluarga, tapi jangan khawatir soal uang, kami bisa transfer kok jika kamu butuh, kontak aja". Ujar Fadil ke Eqlima yang sedang dipeluk oleh Rita.
Beberapa lama kemudian, Rita pun mengakhiri pelukan nya dan memegang muka Eqlima sambil berkata " Kuat ya tanpa kami, kami akan mendukung kamu dimanapun ku berada".
Eqlima pun mencoba tersenyum lagi setelah menangis sebelum nya, sebagaimana Rita yang memberikan senyuman ke Eqlima.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, namun keadaan hotel masih seramai jam sore, disaat Eqlima menonton televisi untuk melepas penat nya, dia mengganti channel dan menemukan berita tentang pengunduran diri nya Team Principal mereka akibat insiden tadi.
Eqlima pun mencoba menghubungi Emina untuk membahas hal ini, dan benar saja, banyak sekali miss call dari Emina yang mungkin menanyakan kabarnya setelah insiden tadi.
Akhirnya Eqlima menghubungi nya memakai video call, dan setelahnya panggilan itu diterima.
"Halo Emina, ini bener kabar soal Team Principal kita mengundurkan diri?" Tanya Eqlima membuka percakapan itu
"Whoa whoa whoa.... Jangan terlalu terburu-buru Eqlima, aku tau kamu mau bilang kamu menyesal kan?" jawab Emina karena melihat ada yang tidak beres dari Eqlima.
"Mungkin iya, tapi yang aku tanyakan, bagaimana dengan McLaren? Kenapa team principal nya gak mundur?"
"Entahlah, jangan pikirkan yang bukan urusan kita, yang pasti, kamu udah punya hal yang bisa menenangkan mu pasca insiden tadi?"
"Iya, aku sudah mulai melupakan hal itu dan mencoba memaafkan dia"
Emina pun kaget ketika dia melihat temannya seperti ini, lain hal nya dengan temannya yang dahulu yang sulit memaafkan orang.
"Oke, jadi kamu ingin melupakan Insiden tersebut?" Tanya Emina dengan mengangkat alisnya sebelah
Eqlima pun membalasnya dengan mengangguk.
"Baik kalau begitu, kuharap kau bisa tampil mengesankan besok, sampai jumpa." Ucap Emina yang menutup percakapan itu.
Eqlima pun hanya bisa memberi salam dan jempol setelahnya, dia pun tersenyum meski hatinya tak ikut senyum.
Eqlima pun kembali terlentang di kasur dan memikirkan bagaimana dengan hari esok nya, namun ketika dirinya sedang santai, mendadak ada surat di depan kamarnya
GUBRAK!
Sambil Istighfar, Eqlima langsung membuka pintu kamarnya dan menemukan ada pria dengan kursi roda yang sedang menjalankan tugasnya sebagai pengantar makanan Online
"Maaf ya, aku coba bantu, ngomong-ngomong, apa makanannya rusak?" Ujar Eqlima dengan bahasa Inggrisnya ke Pria itu sambil membereskan pesanan yang terjatuh, juga membantu pria itu kembali ke kursi roda.
Pria itu sedikit menghela nafas sambil mengatakan "Yah, makasih nak untuk membantu saya, tapi saya tidak apa-apa"
Sambil melihat pesanan itu, terbesit di pikiran Eqlima untuk membantunya.
"Eeemmm, maaf Pak, apakah dia sudah membayar ini lewat online?" Tanya Eqlima ke pria itu
"Oh ya, dia sudah membayar nya" Jawab pria itu dengan sedikit senyum
"Baiklah jika begitu, aku akan membawa nya, supaya bapak bisa lebih cepat untuk beristirahat" Ucap Eqlima sambil membawa pesanan itu.
"Wah makasih ya, oiya, kamar dia berada di kamar 321, di lantai 3." Ujar pria itu sambil berbalik arah ke arah lift.
Eqlima pun mengikuti pria itu, walaupun saat naik, pintu lift nya berbeda, Pria itu masuk ke kiri yang menuju arah bawah, sementara Eqlima masuk ke kanan yang menuju arah atas.
Sesampainya di depan kamar 321, dia pun memencet bel di dekat pintu kamar itu dan mengatakan "Pesanan untuk kamar 321!".
Penghuni kamar tersebut pun mengatakan
"Masuk saja, aku akan membuka pintunya."
Wanita yang merupakan penghuni kamar itu membukanya lalu masuk ke kamar mandi lagi untuk menyelesaikan mandi nya tersebut.
Eqlima pun menaruh pesanan tersebut di meja hotel itu, namun ketika dia selesai, Wanita yang merupakan penghuni kamar tersebut keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian pasca mandi itu.
Eqlima pun spontan berteriak karena dia agak terkejut melihat wanita penghuni kamar itu, meski demikian itu hanya sebentar terjadi.
"Hei kenapa? Tenang, aku gak apa-apain kamu kok!" Ucap wanita itu.
Sambil Eqlima mencoba menenangkan dirinya, Wanita itu kembali bertanya perihal mengapa dia yang malah mengantar makanannya
"Apa yang membuat kamu kesini? Kurasa aku memesan orang nya bukan kamu deh."
"Oh, bukan, aku tidak ada niatan buruk kok, aku cuma ingin membantu pria dengan kursi roda yang mengantarkan makanan mu itu kesini, supaya dia bisa langung istirahat" jawab Eqlima dengan sedikit tertawa kecil.
Perempuan itu menatap sinis dengannya sambil berkata "Oke, aku masih bisa Terima hal itu" sambil mengangkat bahunya.
Perempuan itu mencoba membuka makanan yang dipesan nya itu disaat Eqlima masih menetap di tempat itu, namun setelah dirasa oke pesanannya, Eqlima pun pamit dan mencoba keluar dari kamar itu.
Namun perempuan itu menyuruhnya untuk kembali dengan mengatakan "Hey nak, kau meninggalkan ruangan dengan perut dan hati yang kosong? Itu illegal buatku!" Dengan makna tersirat dia ingin mengajak Eqlima makan malam bersama.
(Ilustrasi Kotoha Okazaki, Team principal pengganti untuk tim BWT Nissan)
Setelahnya Eqlima pun tidak jadi keluar dari kamar itu dan dia pun langsung ke meja makan dan makan malam bersama dengan perempuan itu.
Sambil membuka salah satu dari kotak makan yang akan ia makan, Eqlima bertanya sesuatu kepada perempuan itu
"Oiya, kenapa kau membeli 4 kotak? Apakah ini akan disimpan sampai besok?"
Perempuan itu menjawab dengan muka datar nya seperti terkesan serius "Tidak, jika aku bisa membagikannya denganmu, kenapa harus disimpan?"
Eqlima pun tertunduk dan kembali mengurus makanannya lagi dan mencoba untuk memakannya, namun karena ia ragu, ia pun mencoba mencari logo halal di kotak itu, beruntung ia menemukannya logo itu, dan ia pun langsung membuka dan memakan makanan di kotak itu.
"Kamu tau soal BWT Nissan?" Ucap perempuan itu membuka percakapan sambil makan malam bersama di meja itu
"Iya, ada apa?" Tanya Eqlima yang berada di depan Perempuan itu.
"Jadi besok aku disuruh untuk menjadi pengganti Team principal mereka yang sempat mengundurkan diri karena insiden tidak terduga di pitstop"
Eqlima yang tau persis kejadian itu pun menjeda makan malam nya dan kebingungan harus berbuat apa, karena dia tau itu adalah team principal nya untuk besok, dan Emina tidak memberitahu hal itu sebelum nya, dia langsung gelisah dan ingin keluar, namun dirinya tidak bisa karena jika dia keluar kamar, dia akan meninggalkan makanannya.
"Ada apa? Kau takut akan sesuatu?" Ujar Perempuan itu yang menghampiri Eqlima yang sedang berdiri didekat pintu.
Eqlima langsung menghadap kebelakang dan langsung memeluknya sambil berkata dengan nada sedihnya "Please nyonya, jangan hukum saya, saya tau itu bukan kesalahan aku kemarin, mungkin aku teledor, tapi aku coba memperbaiki nya besok!"
Perempuan itu berprasangka aneh dengannya, namun ia pun coba memahaminya perkataan nya itu
"Oh kamu jadi salah satu driver tersebut? Oke oke, aku ngerti sama kamu, tapi ingat jangan melakukan sesuatu yang tidak-tidak lagi!" Ucap nya sambil memeluk Eqlima yang ketakutan akan dihukum.
"Oiya, nama Nyonya siapa?" Tanya Eqlima sambil melepas pelukannya ke perempuan itu
"Kotoha Okazaki, aku sekarang team principal kamu, dulu aku pernah bekerja sebagai Team principal juga di Super formula Nippon di tahun 2010". Jawab Kotoha dengan sikap nya yang serius namun pembawaannya santai.
Karena Eqlima sudah tau jika dia adalah team principal nya, Eqlima pun kembali duduk di kursi dan kembali memakan makanannya lagi tanpa terasa beban.
Saat makan pun, Eqlima masih bingung dengan bagaimana dia bisa langsung dipekerjakan meskipun Team principal nya baru mengajukan pengunduran diri saat ini.
"Oiya Nyonya Kotoha, soal penandatanganan mu itu, kok kamu bisa langsung direkrut?" Ujar Eqlima dengan penasaran
"Hmmm, aku akan beritahu, tapi ingat jangan ke selain driver di BWT ya." Jawab Kotoha sambil meminta agar hal itu dirahasiakan.
Kotoha pun berbisik jika penandatanganan nya dilakukan secara digital, yang dimana dia melakukannya dengan scanning kontrak yang sudah dikirim oleh pihak BWT, lalu menandatangani nya dan baru di scan dan dikirim lewat email untuk diresmikannya besok hari.
...****************...
Esoknya Eqlima pun kembali ke Paddock lagi bersiap untuk balapan debut nya, tak lama kemudian ia pun bertemu dengan Emina dan mengobrol dengannya di dalam paddock.
"Kau sudah dengar kabar bahwa TP kita bakal diganti?" Tanya Emina sembari melepas aksesoris di kepala nya setelah melepas helm.
"Kotoha Okazaki? Aku baru saja bertemunya kemarin." Jawab Eqlima dengan percaya diri
"Hah serius? Gimana kamu tau? bahkan dia belum menekan kontrak nya." Tanya Emina yang terkejut akan hal itu
"Aku baru saja bertemu dengannya di Hotel, dia sekamar dengan aku"
Namun Eqlima hanya mengangkat bahu merespons hal itu.
Kotoha yang sudah selesai meresmikan dirinya menjadi pengganti TP yang lama pun akhirnya langsung mulai bekerja dan mulai berbaur dengan semua kru dan staff di BWT.
Sebelum balapan, Eqlima dan Emina pun berkumpul dengan para kru dan staff untuk merencanakan balapan di Berlin E-prix ini.
"Oke semua, selamat pagi" Ujar Kotoha sambil melambaikan tangannya
Semua kru dan staff juga Eqlima dan Emina merespon nya dengan membalas jawab itu dan melambaikan tangan.
"Baik, perkenalkan saya Kotoha Okazaki, saya Team Principal kalian sekarang, jadi untuk kedepannya, apa kalian siap untuk menjadi lebih baik?" Tanya Kotoha dengan semangat
Satu tim pun termasuk Eqlima dan Emina mengiyakan hal tersebut dengan semangat.
Setelah perkenalan, akhirnya mereka pun bersiap untuk menghadapi sesi kualifikasi di balapan tersebut, minus Eqlima yang tidak ikut kualifikasi pasca insiden kemarin.
Saat Eqlima berjalan kedepan paddock, Eqlima justru dihampiri oleh Haz dibelakangnya.
"Oi budak, kau ini merekrut Siti Badriah kah untuk balapan kau saat ini?" Ujar Haz memakai bahasa Melayu dengan sombongnya.
"Menurut kau?" Jawab Eqlima dengan nada sedang nya.
"Heheheh, berani nya kau ya,dapat elmu bahasa Melayu darimana kamu?." Balas Haz sambil menepuk pundaknya Eqlima
"Kurase kau sengaje mempelajari nya lewat kartun untuk membantah aku." Lanjut Haz sembari meninggalkan Eqlima kembali ke Paddock.
Tak lama kemudian, Emina yang baru saja menyelesaikan kualifikasi nya baru sampai keluar dari mobilnya dan langsung memergoki Haz yang kebetulan sempat mengejek Eqlima.
"Woi, lu ngapain lagi anak orang?" Gertak Emina dengan bahasa Inggrisnya sambil menyenggol badan depannya.
Haz yang bingung hanya membalasnya "Bukan urusan kamu kali, kamu baru sampai!" Sambil berjalan ke Paddock nya lagi
Emina yang agak kesal mengatakan ke Haz hanya mengatakan dengan lantang "Pokoknya kalo lu macem-macem sama dia, gue hantem muka lo!" tepat dibelakang Haz ketika Haz cuekin dia.
Lalu Emina pun mengajak Eqlima agar ke Paddock saja dan jangan meladeni Haz yang mengejeknya.
Setelah itu, semua pun berkumpul di paddock, kru, staff, Eqlima, Emina dan Team Principal berkumpul untuk berunding perihal strategi mobil yang akan digunakan
"Oke teman-teman, menurut saya, mobil ini lumayan bagus di sesi kualifikasi, saya mampu berada di posisi terdepan dan memenangkan duel" Ujar Emina dengan bahasa Inggris nya membuka percakapan di Paddock tersebut.
"Saya harap mobil saya dan Eqlima disamakan strateginya, supaya kita berdua tak perlu memikirkan lagi apa strategi yang cocok." Lanjut Emina dengan yakin.
Namun saat Emina selesai dengan pernyataannya, Eqlima justru heran dengan hal itu.
"Lho kenapa harus sama? Bukannya kamu punya target juara? Kamu kan Driver utama." Ucap Eqlima dengan lugas.
Emina pun tertawa kecil dengan mengatakan "Aku, mau menang sendiri? Siapa saya?" Dengan gestur menunjuk dirinya.
"Aku tau aku driver berbakat, aku driver utama memang, tapi aku tidak egois, aku juga mikirin bagaimana tim." Lanjut Emina yang menjawab pertanyaan Eqlima tersebut
Sambil memegang kedua sisi bahu Eqlima, Emina berkata "Kamu pikir deh, kalau aku menang sendiri disaat tim tidak merasakan hal itu, apa yang bisa kamu rasakan? Gaada kan?"
Eqlima pun mengangguk disaat yang lain melihat kelakuan Emina seperti agak lain, bahkan Team Principal pun seperti tidak percaya menemukan tipikal driver seperti ini.
"Jadi, kita ini berjuang bersama dan menghasilkan sesuatu bersama! Itu alasan seharusnya aku jadi driver utama!" Ucap Emina kepada yang lainnya dengan lantang
"Dan aku harus jujur ya Eqlima, aku juga ingin membuatmu lebih beruntung ketimbang sebelumnya, aku tau kamu seperti ini karena hampir semua driver pernah seperti ini" Ujar Emina yang kembali lagi berbicara dengan Eqlima.
Eqlima pun bingung bagaimana ia bisa tau jika dirinya sangat sial di kompetisi sebelumnya yang pada akhirnya membuatnya pindah ke Formula E, lalu ia pun bertanya "Eh, ngomong-ngomong, Siapa contoh yang kamu kenal?" dengan muka polosnya.
"Jean Eric Vergne, Sebastian Buemi, dan Nelson Piquet **. Adalah beberapa yang termasuk seperti kamu." Jawab Emina dengan percaya diri.
"Vergne, dia sangat apes di perhelatan F1, tapi dirinya mampu membuktikan banyak di sini, 2x juara dunia Formula E bukan hal yang gampang, Eqlima!"
"Lalu bagaimana dengan Buemi dan Piquet?" Tanya Eqlima dengan polos nya
"Buemi juga gak kalah apesnya di F1, tapi dia memenangkan juara dunia di musim kedua FE, lebih lagi si Piquet, tau Crashgate?"
Eqlima pun menggeleng karena dia baru remaja di masa setelah Crashgate tersebut.
"Dia dikorbankan supaya Fernando Alonso yang satu rekan dengannya bisa juara di Singapura musim 2008 di F1."
Eqlima terkejut dengan hal tersebut, lalu ia bertanya "Jadi, bagaimana setelahnya? Apakah dia balapan disini jadi pelariannya?"
Emina pun mengelus kepala Eqlima sambil berkata "Ya gak seburuk itu lah, dia akhirnya bisa juara di musim pertama Formula E"
Emina lalu kembali agak serius dan sedikit berjalan didepan Eqlima sambil berkata "Jadi, kenapa kamu tidak bisa sebaik mereka? Kamu harusnya bisa dan aku coba bantu kamu sekarang"
Eqlima sebenarnya mengerti, namun Ia belum pernah melihat salah satu sosok tersebut.
"Tapi aku belum pernah lihat salah satunya sih." Ucap Eqlima setelah Emina selesai berbicara
"Nanti kamu akan lihat kok, suatu saat nanti." Jawab Emina seperti memberikan asa kepada Eqlima.
...***************...
Setelah selesai merakit mobil tersebut, mereka pun bersiap untuk balapan dan berada di starting grid masing-masing, Emina di posisi pertama, Burhan di posisi 7, sementara Eqlima berada di posisi 19 sebelum Haz yang berada di posisi 22.
Semua pun telah bersiap dan menunggu lampu hijau menyala.
Lampu hijau pun menyala dan semua mobil saling merebut posisi di Berlin E-prix ini.
Karena bermain dengan strategi baterai, nampaknya Eqlima seperti diuntungkan disini karena dia memakai settingan bawah di pengaturan baterainya untuk beberapa lap pertama, meski demikian dia melakukan divebomb di beberapa tikungan sehingga membuat lawan agak terkecoh dan Eqlima mampu menyusul beberapa pembalap sekaligus.
Meskipun dia menyenggol beberapa pembalap, nyatanya tidak ada yang sampai kecelakaan, oleh karena itu Eqlima tidak dikenakan penalti meskipun keseringan melakukan manuver itu.
Tidak mau kalah, Haz pun langsung mencoba di settingan baterai medium agar bisa menyusul lebih banyak pembalap.
Hal tidak diinginkan pun terjadi, saat Emina dan Haz saling menyusul di lap ke 20, bendera kuning berkibar karena insiden di tikungan ke-12 yang melibatkan beberapa pembalap, meski begitu Emina masih memimpin jalannya balapan dan disusul oleh Burhan dibelakangnya, Eqlima sebenarnya berada di posisi 10, namun karena 3 pembalap didepan nya kecelakaan, jadi dia pindah ke posisi 7, sementara Haz berada di posisi 11.
Tak lama kemudian, di lap 23 bendera kembali hijau, Eqlima pun langsung mengubah kembali pengaturan menjadi medium mengingat putaran menyisakan 17 putaran lagi.
Semua berjalan normal untuk Eqlima, terlebih karena selain dia sangat mudah menyalip dan berada di posisi 5, dia masih mempunyai baterai sekitar 52% untuk sekitar 16 putaran tersisa.
Namun dirinya justru harus berhati-hati karena pembalap dibelakangnya, Haz, justru sudah berada di posisi 6, dan dia mempunyai baterai 50%.
Aksi saling menyusul diantara keduanya pun berlangsung sangat sengit, bukan hanya karena mereka memperebutkan posisi terdepan, karena mereka juga masih ada dendam pribadi soal insiden tersebut.
"Ok tim, posisi berapa Eqlima sekarang? Aku mengkhawatirkan nya" Tanya Emina lewat radio team nya yang memecah keheningan setelah beberapa putaran tidak berbicara sama sekali
"Posisi 4, dan jaraknya dengan Haz sangat dekat di posisi 5" Ujar Kotoha lewat team radio nya.
"Tolong katakan ke Eqlima, buat divebomb sebisa mungkin agar kita sama-sama bisa di podium"
"Baik, kami akan laporkan ini ke Eqlima"
Setelahnya, di 11 lap tersisa, Eqlima diinstruksikan oleh Kotoha lewat radionya
"Eqlima, kau dengar kami?" Tanya Kotoha memulai instruksi nya
"Rebut podium itu sebisa mungkin, tapi jangan paksakan hingga pertama, karena baterai kamu belum tentu cukup." Lanjut Kotoha yang memberikan instruksi nya
"Baik, saya akan usahakan" Balas Eqlima sambil mengambil tikungan terpinggir yang dekat dengan belokan selanjutnya.
Putaran menyisakan 4 putaran lagi, baterai Eqlima pun mulai menyisakan 2% lagi setelah ia memakai settingan medium selama hampir 12 putaran.
Mau tidak mau, Eqlima harus balik ke setingan rendah nya jika tidak mau kehabisan baterai sebelum finish.
Eqlima sempat beruntung karena Burhan agak sedikit melebar, jadi dia bisa naik ke posisi 2 yang sebelumnya Eqlima berada di posisi 3 di putaran ke-38.
Namun sialnya, melebar nya Burhan tak berarti menghalangi Haz untuk berada di belakangnya Eqlima, ia pun langsung berada di tempat ketiga setelah ia menggunakan gaya driving yang sama dengan Eqlima, yaitu belok selalu di pinggir dan tentu saja, divebomb.
"Katakan ke Eqlima, dia harus hati-hati, karena dibelakangnya ada Haz yang akan menyusulnya!" Ujar Emina lewat radio team nya kembali.
"Baik, nanti kami sampaikan" Balas Kotoha sembari langsung menghubungi Eqlima.
"Eqlima, dibelakang kamu ada Haz, berrhati-hatilah karena kamu akan disalip." Instruksi Kotoha ke Eqlima yang sedang menjaga posisinya agar tidak tersusul, mengingat sisa baterai Eqlima hanya 1%.
Di satu lap akhir, Eqlima sebenarnya bisa saja mengakhiri balapan di posisi kedua, sayangnya karena ada bonus lap dan sisa baterai Eqlima hanya 0,7%, Haz pun langsung mengubah mode menjadi rendah dan langsung menyusul nya dengan baterai Haz yang tersisa sekitar 0,4%
Dan karena itu juga, meski Emina mampu juara di race pertama ini, hal yang menyakitkan justru dirasakan Eqlima ketika harus merasakan posisi ketiga karena ia harus menjaga baterai nya supaya tidak habis, dan ironisnya dia tersusul oleh Haz di putaran akhir.
"Guys, maafin aku karena hal ini ya" Ujar Eqlima dengan suara lirih nya setelah gagal mendapatkan posisi kedua.
"Tidak apa nak, setidaknya itu sudah bagus untuk rookie seperti kamu" Ujar Kotoha dengan suara lembut nya.
Namun menanggapi posisi Eqlima yang berada di Posisi ketiga, Emina justru terkejut mendengar hal tersebut
"Apa? Dia di posisi ketiga? Dia seharusnya berada di posisi kedua, aku merasa kasiha dengan Eqlima karena dia pasti dicurangi oleh si kepala empat tengik itu!" Jawab Eqlima dengan sedikit lantang karena kekesalannya dengan Haz.
Sesampainya di pitstop, Eqlima dan Emina pun langsung mendekati tim nya dan merayakan posisi mereka di podium, lain hal nya dengan Haz yang merayakannya sendiri.
Meski Emina masih merajuk dengan hasil tersebut, Emina tetap menyemangati nya dan mengatakan "Gausah khawatir, race selanjutnya mungkin akan jadi rejeki kamu" sambil tersenyum agar Eqlima tidak cemberut.