Eqlima

Eqlima
Hal buruk ditengah Perlombaan positif



Karena Rita juga menyusul Fadil beserta anaknya yang berusia 7 & 8 tahun tersebut ke daerah Magny-Cours, Eqlima dan Fadil tak perlu balik lagi ke Monaco.


Mereka pun langsung mencari restoran didekat bandara untuk makan malam juga supaya mereka bisa berangkat ke Berlin lebih cepat, mereka pun sampai disana dan memesan makanan dan makan malam bersama.


"Eeeh, maaf Ibu Rita, ngomong-ngomong apa aku harus ikut test anak baru besok?" Tanya Eqlima membuka percakapan di meja makan tersebut.


"Harusnya iya, tapi kamu beruntung karena perusahaan Daphne mengalami kebangkrutan, jadi pihak BWT telah menulis surat permohonan supaya kamu tidak perlu ikut dan langsung balapan, karena tugas kamu untuk menggantikan dia." Ujar Rita sambil menatap Eqlima dengan manisnya.


Setelahnya, makanan pun datang, namun meski demikian, mereka belum selesai berbincang-bincang soal bagaimana esok hari.


"Kalo gitu, besok aku datang dan langsung mengikuti sesi latihan bebas?" Tanya Eqlima yang memulai lagi percakapan tersebut.


Rita hanya mengangguk sambil tersenyum.


Setelah itu, Rita menanyakan Fadil perihal tiket pesawat "Eh Fadil, kamu udah pesan tiketnya? Kalau sudah, kita bisa ke Berlin sekarang juga"


Fadil pun sambil mengotak-atik handphone nya mengatakan "Belom sih, nyari yang terjangkau dulu, takutnya kita tekor".


Eqlima dan Rita saling melihat satu sama lain mendengar hal tersebut sambil tertawa kecil dan memakan pesanan mereka masing-masing.


" Nah, Ini dia, kita mendapatkan nya!" Ujar Fadil yang sudah menemukan dan memesan tiketnya.


"Wah, suami ku yang telaten!" Ujar Rita sambil menepuk bahu dan memeluknya dari samping.


Eqlima malah refleks mengatakan "Iya telaten sih, saking telaten nya makan nya belom abis, whoops!" Sambil melakukan gestur keceplosan setelahnya.


Namun mereka tidak marah, justru mereka tertawa kecil karena memang benar adanya kalau Fadil lupa makan saking mencari tiket pesawat yang terjangkau di aplikasi HP nya.


Selesainya mereka makan malam dan membayar bill nya, mereka pun langsung menuju bandara Internasional di Perancis untuk terbang menuju Berlin, meskipun sebenarnya sesi latihan bebas nya masih 5 hari lagi alias hari Jum'at, mereka tetap mempersiapkan diri supaya tidak tergesa-gesa mengejar waktu.


...****************...



(Ilustrasi bandara di Berlin)


Sesampainya mereka di Berlin, mereka pun mencari tempat penginapan yang terdekat dengan Berlin Templehof karena menurut mereka, mereka bisa saja berjalan-jalan sebelum mulainya sesi race week pada hari Jum'at nanti.


Mereka pun sampai di hotel yang dituju dan mereka pun langsung mengeluarkan barang yang mereka bawa juga koper mereka tersebuttersebut dari bagasi mobil taksi.


Seperti biasa, Eqlima dan Rita dan Fadil terpisah kamarnya, dan perbedaan kamar mereka tidak jauh-jauh, cukup satu nomor perbedaannya.


Eqlima sebenarnya berencana untuk tidur, namun dirinya merasa belum kantuk, hingga akhirnya dia memasang televisi dan melihat berita di televisi tersebut.


"Kabar terkini, Eqlima Handayani, pembalap asal Indonesia, resmi menggantikan Daphne Volta di BWT, meskipun terdengar aneh, namun nyatanya mereka sudah menulis surat permohonan agar Eqlima menggantikan nya demi mengisi slot yang ditinggalkan Daphne karena masalah finansial" Ucap reporter berita itu dengan bahasa Jerman dan terjemahan bahasa Inggris di bawahnya.


Eqlima pun langsung mematikan televisi dan memilih untuk bermain handphone sambil melihat ada panggilan tak terjawab lagi atau tidak.


Namun setelah dilihat, tidak ada yang menelpon sama sekali, walaupun Eqlima tahu mereka sibuk, setidaknya bisa menelpon walaupun sekali, namun ada yang berbeda saat tidak ada yang menelpon saat ini.


Dan saat ingin menutup handphone nya, ada panggilan video dari nomor tidak dikenal, Eqlima coba mengangkat nya meskipun ia takut itu penipu.


"Halo siapa kamu!" Ujar Eqlima dengan suara lantangnya memakai bahasa Inggris.


"Eh eh eh eh, tenang aja Eqlima, ini aku, Emina, pembalap yang bakal jadi kompatriot kamu kedepan!." Ujar Emina dengan bahasa Inggris nya dengan agak panik karena dia sempat sombong kemarin.


"Emina? Aku tidak mengenal kau seperti kemarin"


"Iya maaf, aku tau aku keterlaluan kemarin, kupikir kau akan gagal makanya aku seperti itu, nyatanya aku yang salah sangka."


"Oke, jadi ada apa kamu menelpon aku?"


"Aku ingin nanya aja sih, kamu asli Indonesia?"


"Iya, kenapa?"


"Kalo boleh jujur aku juga ingin memakai bahasa Indonesia karena aslinya aku Diaspora yang berpaspor Bosnia-Herzegovina"


Emina sempat terkejut karena tidak percaya kalau dia Diaspora Indonesia.


"Kkkk...kau tidak bercanda kan?" Ujarnya yang terkesan tidak percaya soal itu.


"Iya, kau mungkin kau tidak percaya soal ini, tapi aku harus beritahu hal ini ke kamu, supaya kita tidak lagi kebanyakan bahasa Inggris". Jawabnya dengan agak senyum


"Oke kalau gitu, oiya, soal aku tidak perlu ikut Rookie test di Berlin, apakah itu benar?"


"Benar, kau tidak perlu khawatir, ntar kamu tinggal ikut sesi latihan bebas aja, oke?" Tanya Emina sambil mengacungkan jempol


Eqlima pun mengangguk sambil berkata "Oke, baiklah kalau gitu, makasih info nya" sambil tersenyum kecil.


Mereka berdua pun berpamitan sekaligus menutup panggilan video tersebut


...****************...


Eqlima pun berlatih keras setelah kedatangan nya di hotel pada esok harinya di Gym tempatnya menginap demi mendapatkan hasil yang positif di sirkuit tersebut, Eqlima pun diberikan trainer supaya dia tidak hanya mengangkat barbel saja di gym, melainkan tes kecekatan, keterampilan dan kesiapan mental jelang menghadapi E-prix pertama untuk Eqlima.



(Ilustrasi layout sirkuit Berlin Tempelhof untuk Berlin E-prix dan salah satu jepretan di sirkuit tersebut)


...5 hari kemudian...


Setelah 4 hari full Eqlima berlatih selama hampir 12 jam, hari yang ditunggu pun datang, dia akan menjalani debut pertamanya di Berlin, dia pun bersama dengan Fadli pergi ke Berlin Templehof menggunakan transportasi online yang dipesan Fadil.


Dia pun bertemu dengan Emina sesampainya di Paddock dan masuk ke dalam paddock nya, namun beberapa lama kemudian mereka pun berbincang-bincang sebelum memulai Free Practice pertama dan kedua mereka.


"Jadi, apa kamu benar seorang Diaspora? Bagaimana kamu bisa memiliki kewarganegaraan Bosnia-Herzegovina?" Ucap Eqlima memulai percakapan sambil melakukan track walk bersama Emina disamping nya.


"Jadi begini Eqlima, Ibu ku sebelumnya menikah dengan Bapakku, dia orang Indonesia yang merupakan bos dari perusahaan batu bara." Balas Emina disamping Eqlima.


"Saat aku terlahir, aku masih orang Indonesia sebagaimana bapakku yang aslinya orang Indonesia juga, sebelum itu Ibu dan bapakku bertemu disaat Bapakku sedang mengunjungi beberapa Imigran yang kabur dari Bosnia." Lanjut Emina yang agaknya sedang membuka tabir masa lalu nya.


"Lalu ada seorang wanita yang dirinya kehilangan kedua orang tua nya disaat peperangan antara Serbia dan Bosnia, yang pada akhirnya membuat dirinya kehilangan keluarganya dan kesulitan mencari saudara maupun saudarinya."


"Tapi, bagaimana pernikahannya?" Tanya Eqlima yang agak heran dengannya.


"Jadi bapakku langsung tunangan dengan nya tanpa mencari saudara nya dulu, lalu pada akhirnya bapakku langsung pindah ke Bosnia-Herzegovina guna mencari keluarganya yang hilang"


"Dan saat kau lahir, apa yang terjadi?"


"Bapakku sebenarnya punya kewarganegaraan ganda saat aku lahir, namun dirinya memaksa Ibuku untuk tinggal di Indonesia, sementara dirinya menolak karena dia terlahir di Bosnia dan dia kesulitan untuk mengubah kewarganegaraan nya karena tidak ada keluarga nya." Perkataan nya pun ditunda saat dia ingin menghela nafasnya terlebih dahulu.


Setelah Track Walk selesai, mulailah Sesi Latihan bebas pertama, semua seakan baik-baik saja untuk Eqlima karena di sesi ini tidak ada yang terlalu menganggap serius sesi ini.



(Ilustrasi mobil yang dipakai Eqlima dan Emina)


Mereka pun mengemudi mobil itu dengan baik, dan hasilnya pun cukup memuaskan karena mereka mampu mencatat kan waktu mereka di posisi 5 besar, dan mereka pun mengakhiri sesi itu dengan Eqlima di posisi 4 sementara Emina di posisi Emina dengan raihan waktu 1.25.00, terpaut 3 menit dengan Hazril bin Abdussalam.


Mereka berdua pun masuk pitstop dengan perasaan yang lega karena mereka telah menyelesaikan sesi tersebut dan tinggal menunggu hari esok tiba.


...****Besoknya****...


Keesokan harinya, mereka pun menjalani sesi Latihan bebas kedua mereka, namun berbeda dengan sebelumnya, jika kemarin Eqlima dan Emina merasakan tidak terlalu terbebani, lain hal nya dengan yang sekarang, karena mobil mereka tidak keluar duluan, melainkan Sampoerna University McLaren yang justru keluar duluan.


Saat melihat kedua mobil itu melintas didepan mereka, Emina pun mengatakan ke Eqlima perihal mobil itu "Hei, kau tau? Mereka berdua adalah pria yang sangat ditakutin sama tim lain, tapi tidak dengan BWT!" Dengan nada menggebu sambil menunjuk mereka berdua di saat mereka tak melihat Emina dan Eqlima.



(Ilustrasi gambar Hazrool Abdus salam dan Burhan Rusdi, driver di tim Sampoerna University McLaren)


Mereka pun berjalan mulus seakan tidak ada yang menghalangi di sirkuit itu di putaran pertama mereka


Namun di putaran selanjutnya, Eqlima dan Emina pun mengendarai mobil balapnya di sirkuit itu setelah pengendara McLaren sudah menempuh 4 putaran disaat menit yang tersisa hanya 15 menit lagi.


Tim BWT pun melaju seakan tanpa beban, mereka pun mpu mencatatkan rekor waktunya berkat mobil hasil usulan Emina yang dimana dia mengandalkan handling di bagian belakang mobilnya, sementara kecepatan di bagian depan mobilnya, Eqlima mampu berada di posisi 4 sementara Emina dibawah Haz.


Namun malapetaka terjadi saat menit tersisa 10 menit lagi, di tikungan yang berada di dekat garis start, mobil Haz melaju kencang dan ingin menyalip Eqlima yang ingin membelokkan mobilnya, kecelakaan untuk Haz pun tak dapan dihindari.


Mobilnya pun terpelanting seperti mobil Sophia Floersch di Makau tahun 2018, syukurnya keduanya selamat meskipun bagian belakang mobil Eqlima hancur parah, sementara Haz justru mobilnya terlempar hingga pagar pembatas trek.


"Ya Allah! Ya Allah! nih siapa yang nabrak aku?" Ujar Eqlima lewat radio team nya.


"Kamu terlibat insiden dengan Haz, copy" Balas Team principal nya lewat radio


Ketika Eqlima justru bisa kembali ke Pitstop, Haz justru belum bisa keluar karena arahan dari steward nya yang harus menetap terlebih dahulu menyusul berkibar nya bendera merah di trek.


"Oke, siapa yang tadi menghalangi aku?!" Ucap Haz lewat team radio nya sembari ngos-ngosan.


"Tadi kami lihat, Eqlima berada di depan kamu." Balas Irsan Rusdi, team principal dari tim nya Haz.


"Apa? Anak baru itu si pengganti Volta?"


"Iya benar."


Setelah percakapan itu, Steward mengizinkan nya untuk keluar dari mobil nya karena semua mobil sudah memasuki pitlane saat puing-puing bekas kecelakaan di belokan itu dibersihkan.


Sekembalinya Eqlima ke Pitlane, Eqlima menutup mukanya karena ia menangis setelah merasa bersalah perihal dirinya menghalangi Haz belok di kursi.


"Sudahlah kawan, itu bukan salah kamu juga kok, gak perlu dipikirkan juga harusnya kan?" Ucap Emina sambil menepuk bahu Eqlima dengan pelan guna menenangkan nya agar tidak menangis lagi.


"Tapi bagaimana kalo Haz ngamuk? Aku takut akan terjadi sesuatu" Balas Eqlima yang masih berderai air mata itu.


Dan benar saja, tidak lama kemudian Haz pun mencoba mendatangi paddock BWT bersamaan dengan Burhan yang mencoba menghalangi nya supaya tidak memperparah keadaan.


"Sudahlah tuan Haz, dia itu tidak sengaja juga, harap maklumi jika dia anak baru." Ujar Burhan yang berusaha menghalangi nya dari samping Haz.


"Aku tak peduli! pasar tradisional itu tidak seharusnya mengendarai mobil seperti ini!" Ujar Haz yang sedang emosi sambil berjalan ke paddock BWT.


Dia pun tak lama melempar helm nya ke arah Eqlima yang sedang berjalan ke arah mobilnya sambil berkata "Pulang dan jualan sayur aja lo, Anak baru!" dengan bahasa Inggrisnya.


BLETAK!


Hal ini pun menyulut emosi Emina yang menganggap nya terlalu serius dengan sesi latihan bebas ini.


"Heh, Lo kalo kecelakaan pas FP doang ngapain ngamuk?" Gertak Emina sambil mendorong badan Haz meskipun tidak sampai tersungkur.


"Lo yang harusnya ajarin dia cara mengendarai mobil, maniac! Dia kebanyakan di pasar kek nya!" Balas Haz dengan emosi dan melakukan hal yang sama dengan yang Emina lakukan ke Haz sebelumya.


Pertengkaran pun tak terelakkan, tak hanya adu bacot melainkan mereka pun hampir menjotos satu sama lain andaikan kru tim Sampoerna University McLaren dan BWT Nissan tidak memisahkan mereka berdua, Eqlima pun mencoba ikut memisahkan, namun sayangnya Eqlima disuruh menjauh dari Emina agar dia tidak dihabisi.


Beberapa saat kemudian, Pertengkaran pun selesai dan berhasil diredam, Eqlima dan Haz pun dipanggil ke Kantor FIA untuk pertanggungjawaban dan alasan kenapa hal itu terjadi.


"Jadi kalian itu berantem karena hal sepele di tikungan pertama?" Ujar Race director FIA di kantor itu membuka percakapan diantara mereka bertiga.


Eqlima hanya mengangguk, lain hal nya dengan Haz yang berkeluh kesah soal hal itu.


"Dia menghalangi saya belok dan saya yakin hal itu!" Ucap Haz dengan suara kerasnya


"Siapa yang suruh kamu berargumen? Duduk!" Balas ketua FIA dengan lantang sambil memukul mejanya sekali."


Tak lama kemudian, FIA meninjau kembali kecelakaan itu lewat layar komputernya, dan melihat bahwa mobil Haz tidak melakukan belokan, melainkan ngebut.


Melihat kecurigaan tersebut, FIA pun langsung menanyakan ke Haz soal itu.


"Haz, kamu sempat ngebut dan gak ngerem?" Ujar race director FIA itu.


Haz yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menghela nafas sambil mengangguk dan berkata "Sejujurnya, saya sendiri benci mengatakannya, tapi iya, saya agak teledor karena driver didepan saya terlalu amatir."


Eqlima pun terkejut mendengar hal itu, dan dalam hati ia pun berkata "Emang aku seamatir itu di mata dia?" lalu memegang pelipis sebelah kiri nya sambil berfikir tentang hal tersebut


"Oke, saya sudah putuskan hukuman untuk kalian berdua, tim kalian selain kena denda, kalian harus start tanpa menjalani kualifikasi!" Ujar FIA setelah mengetik file di komputer tersebut.


"Dan untuk Haz, kamu di grid terakhir karena kamu terbukti bersalah tidak mengerem di awal, Eqlima, kamu didepannya." Lanjut FIA sambil melakukan gestur menunjuk satu persatu.


Lalu setelah selesai, Mereka berdua pun meninggalkan ruangan sambil berterimakasih dengan race director FIA tersebut.


Terlihat mereka berdua berjalan ke paddock nya masing-masing seolah mempunyai masalah namun tiada satupun dari mereka yang memanggil maupun berbicara sepatah katapun.


Sesampainya di Paddock, Emina coba berbicara dengannya.


"Hey Eqlima, bagaimana soal tadi?" Tanya Emina kepada Eqlima yang sedang tidak baik-baik saja


Eqlima pun yang sebelumnya tertunduk langsung melihat Emina dan berkata "Tim kena denda, aku start di posisi terakhir di grid keempat." sambil menghela nafas dan tertunduk lagi.


Setelah itu, Eqlima pun mengatakan "Sampai jumpa lagi besok, teman." Dan meninggalkan paddock lebih awal walaupun keputusan dilanjutkan atau tidaknya sesi itu belum diumumkan.


Setelah tersiar kabar jika Free Practice tidak dilanjutkan lagi karena pembersihan lokasi bekas kecelakan, Emina pun coba menyusul Eqlima yang dia pikir masih di dekat gerbang keluar, namun nyatanya Eqlima sudah meninggalkan nya sebelum berita itu tersiar