Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
Staycation



Membutuhkan waktu 2 jam perjalanan dari Jogja, Pantai Sedahan menawarkan keindahan yang setimpal. Diapit oleh dua tebing karang yang kokoh, tempat itu serupa gerbang untuk datangnya ombak besar yang terkenal di jajaran laut pantai selatan. Termasuk ke dalam salah satu ‘pantai perawan’, keberadaannya pun belum banyak diketahui oleh wisatawan sehingga kemurnian air, kebersihan lingkungan, serta kualitas udara di sana masih terjamin. Karena masih sepi, Pantai Sedahan kerap kali dijadikan tujuan pelarian bagi mereka yang membutuhkan ketenangan. Seperti yang kini Baskara dan Sabiru lakukan.


Subuh tadi, setelah menghabiskan malam dengan tangis sia-sia karena kembali menyambut rasa bersalah terhadap Fabian, Baskara ide untuk pergi ke sini. Membangunkan Biru yang tidur di kamar sebelah, lelaki itu lantas meminta sang kekasih untuk bersiap sekenanya karena mereka akan segera berangkat untuk menyambut munculnya matahari pagi dari sisi timur. Sang pujaan hati hanya menurut. Masih dengan terkantuk-kantuk perempuan itu menyambar jaket tebal miliknya—karena udara subuh memang cukup dingin—lantas berjalan menghampiri Baskara yang sudah lebih dulu standy di motornya. Tidak banyak yang mereka bawa. Hanya membawa diri, dompet dan ponsel sebagai yang utama.


Perjalanan yang mereka lalui sambil terkantuk-kantuk membawa mereka pada sebuah ketenangan yang akhirnya datang setelah sekian lama. Bersama suara debur ombak yang berkali-kali menghantam tebing karang, Baskara menyandarkan kepalanya di bahu Sabiru, membiarkan beban yang dia bawa perlahan-lahan terkikis bersama hantaman ombak yang ganas.


“Thank you again.” Ucap Baskara dengan mata yang terpejam. Aroma garam laut yang menyentuh ujung hidungnya tak ia biarkan masuk lebih dalam, sebab ia lebih memilih untuk mengendus aroma cokelat dari tubuh Sabiru. Ini aneh, tetapi aroma itu tidak hilang bahkan meskipun telah melewati semalaman. Baskara yakin Biru tidak menyemprotkan parfum yang baru, sebab mereka berangkat dengan terburu-buru.


“I think, all we need is something like this.” Biru menjawab. Tatapannya terlabuh pada ombak yang berkejaran dari tengah-tengah bentangan laut luas, bergulung dengan kecepatan konstan hingga akhirnya menabrak tebing karang. Posisi mereka yang cukup dekat dengan bibir pantai membuat air laut kerap kali menghantam kaki, namun sejak tadi, mereka sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari sana. Tak peduli meski celana panjang yang susah payah mereka gulung sampai sebatas lutut pun sudah sebagian basah.


“Yeah,” Baskara menyetujui. Lelaki itu lantas membuka mata, turut menyaksikan bagaimana ombak terus menabrakkan diri ke tebing karang yang kokoh. Kadang kala, ia berpikir ombak itu adalah serupa dirinya. Terus-menerus berlari menabrakkan diri pada dinding rasa bersalah yang dia harap akan bisa hancur suatu hari nanti. Meski lelah, meski kepayahan, dia berharap usahanya tidak akan berakhir sia-sia. Ia ingin hidup seperti dulu lagi, agar bisa mencintai Sabiru dengan lebih baik.


“Kalau kata anak zaman sekarang, healing biar nggak sinting.” Tubuh Sabiru yang bergerak membuat Baskara mau tak mau mengangkat kepala dari bahu sang kekasih. “Next time kita pergi lebih jauh, cari pantai yang lebih sepi supaya kita bisa—“


“Making love?” celetuk Baskara asal, sambil memainkan alisnya lalu terkekeh ringan. “Gue nggak tahu kalau ternyata lo punya fantasi yang sejauh itu.”


Sabiru jelas mendelik, sementara Baskara hanya cengengesan karena telah berhasil membuat kekasihnya jengkel.


“Otak lo isinya emang cuma soal making love doang, ya?” tanya perempuan dengan tatapan sangar.


Dan seperti tidak berdosa sama sekali, Baskara menjawab “Iya,” yang sontak membuat Sabiru mengembuskan napas keras-keras di depan wajahnya.


“I hate you so much.” Lalu Biru membuang muka, bibirnya berkomat-kamit tanpa suara.


Melihat itu, Baskara tersenyum tipis. “I know you’re not. So come here, cuz I wanna hug you.” Baskara berucap, lalu menarik tubuh Sabiru mendekat. Dipeluknya tubuh rampingnya itu erat-erat dari samping, membiarkan kepala perempuan itu yang gantian beristirahat di pundaknya yang tidak seberapa kuat.


“I don’t fxcking care about the ‘making love’ things, don’t care if I couldn’t do that ‘till the end. Cuz all I want is you to stay here with me, ‘till the day I die.” Bersama debur ombak yang sekali lagi datang menghantam, kalimat itu Baskara ucapkan dengan ketulusan yang paling dalam.


Selanjutnya, tak ada lagi percakapan yang terjadi. Keduanya sama-sama sibuk menikmati pemandangan cantik ciptaan Tuhan dengan pikiran yang berisi satu hal serupa: bagaimana caranya untuk membuat kehidupan mereka segera membaik ke depannya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Butuh setidaknya satu jam perjalanan sebelum akhirnya Baskara membelokkan motornya ke sebuah warung gudeg yang masih relatif sepi. Bermodal selembar uang seratus ribu, ia lantas mengajak kekasihnya masuk, duduk di kursi kemudian memesan dua porsi nasi gudeg dengan bacem telur serta tahu dan tempe. Tak lupa segelas teh tawar panas dan satu botol air mineral untuk membasuh sisa-sisa makanan yang menempel di lidah setelah mereka makan.


“Bas,” setelah tiga suapan, Biru meletakkan sendoknya. Ia lalu menoleh ke samping, pada Baskara yang masih khidmat menikmati makanannya. Yang dipanggil namanya pun turut menoleh, lantas dengan begitu, Biru melanjutkan ucapannya. “Habis ini mau langsung pulang ke kontrakan?”


Baskara mengernyit, namun dia tetap balik bertanya, “Kalau lo masih mau jalan-jalan, kita lanjut jalan aja. Mau ke mana? Cari pantai lagi?” tanyanya.


Namun alih-alih mengiyakan, Sabiru justru menggeleng pelan. “Jangan ke pantai lagi.”


“Oke, mau ke mana?”


“Hotel.” Saat Sabiru menyeletuk begitu, Baskara sedang minum, jadilah bulir-bulir air yang harusnya sudah terjun mulus melewati tenggorokan malah terdorong keluar, muncrat hingga mengenai makanan yang baru disantap setengah.


Masih dengan keterkejutan yang besar, Baskara menoleh cepat ke arah Sabiru, menatap kekasihnya dengan sorot tidak percaya. “Lo ngomong apa barusan?” tanyanya, berharap pendengarannya saja yang bermasalah sehingga tidak bisa menangkap dengan baik apa yang kekasihnya bicarakan sebelumnya.


“Hotel. Ayo cari hotel, kita staycation selama sehari.” Kata Biru dengan mata yang berbinar. Seperti bocah yang sedang berusaha merayu ayahnya agar diperbolehkan main ke halaman ketika hujan sedang turun begitu deras.


Awalnya, Baskara terdiam, belum tahu harus memberikan respons seperti apa untuk ajakan tersebut. Sampai akhirnya, ia menarik pandangan dari Sabiru seraya mengembuskan napas pelan. “Kalau lo ngajakin staycation cuma karena celetukan gue di lantai tadi, better lupain. Lo jelas tahu kalau gue cuma bercanda.”


“But I want to. Dan ini sama sekali nggak ada hubungannya sama celetukan lo yang tadi.”


Berlagak tuli, Baskara tidak menyahut. Ia malah mengeluarkan ponsel, asyik menggulir layar sedangkan Sabiru tahu apa yang Baskara lakukan tidak lebih dari sekadar menggeser menu ke kanan dan ke kiri.


“Please,” Biru merengek sebagai jurus terakhir. Lengan Baskara ia gelendoti, ia goyang-goyangkan agar sang empunya segera merespons keinginannya. “Ayo, lah, Yaaaang. Gue mau staycation, sehari aja kok. Yaaa? Pakai duit gue deh, nggak apa-apa keluarin dari tabungan. Yaaaa Sayang, yaaa? Pleaseeeeee???”


Pengang mendengar Biru terus merengek, Baskara akhirnya mengangguk pasrah. “Habisin dulu makan lo, baru kita jalan cari hotel.” Pungkasnya.


Kemudian, tak terdengar lagi suara Sabiru. Perempuan itu dengan semangat mengunyah makanannya, menyelipkan senyum yang lantas membuat Baskara juga turut menarik ujung-ujung bibirnya meskipun tidak terlalu tinggi.


Bersambung