Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
Can't You Stay?



Saat pertama kali diberitahu oleh ibunya bahwa Baskara dan Biru akan kembali ke Jakarta besok subuh, Lintang tidak perlu berpikir dua kali untuk berlari keluar rumah. Menerobos hujan yang turun deras hanya agar ia bisa sampai ke rumah kontrakan mereka sebelum semuanya terlambat.


Persetan dengan segala kebohongan dan rasa kecewa yang dia terima. Karena pada akhirnya, Lintang menyadari dirinya belum siap untuk menghadapi perpisahan. Masih tidak rela untuk kehilangan Baskara dan Biru, walaupun mulai sekarang dia harus melihat mereka berdua dengan cara yang berbeda.


“Ke Jalan Angsana nomor 65 Pak!” pintanya pada sopir taksi yang barusan dicegatnya.


Sang sopir, laki-laki sekitar akhir 40-an itu hanya bisa mengangguk. Menelan rasa penasaran melihat seorang gadis dalam balutan baju tidur yang basah kuyup menyetop taksinya pada pukul 11 malam. Ia hanya bisa berdoa, semoga ini bukan merupakan salah satu modus perampokan seperti yang sedang santer terdengar di kalangan para driver.


“Tolong ngebut sedikit ya, Pak. Saya buru-buru!” pinta gadis itu lagi. Sedari ia duduk di kursi penumpang belakang, tangannya pun tak tinggal diam. Jari-jemarinya bergerak ribut, berusaha mendial nomor Baskara dan Biru meskipun belum juga mendapatkan jawaban.


Lagi-lagi, sang sopir hanya bisa menurut. Pedal gas diinjak sedikit lebih dalam hingga mobil melaju lebih kencang. Menerobos hujan yang menjadikan jalanan beraspal yang mereka lewati licin dan basah.


“Angkat, tolong angkat.” Gumam Lintang seraya menempelkan ponsel di telinga kiri. Akan tetapi, usahanya kali ini pun tidak membuahkan hasil karena lagi-lagi sang empunya nomor tidak menjawab panggilannya.


Kalut, Lintang kembali menangis. Ia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan, tersedu-sedu sementara mobil masih terus melaju dengan sedikit ugal-ugalan.


Sekitar 15 menit kemudian, mobil yang ia tumpangi berhasil sampai di area rumah kontrakan Baskara. Masih dengan menangis, Lintang meminta sang sopir untuk menepi agak jauh dari gerbang rumah tujuannya.


“Ini, Pak. Maaf uangnya basah, terima kasih.” Ucapnya seraya mengulurkan selembar uang pecahan seratus ribu yang lepek dan basah.


Setelah sang sopir menerima uang darinya, Lintang bergegas mengayunkan langkah. Kembali berlarian menerobos hujan meski tubuhnya sudah mulai menggigil kedinginan.


Gerbang rumah terkunci, tentu saja. Sementara untuk meneriakkan nama Baskara di tengah derasnya guyuran hujan adalah sesuatu yang mustahil dan hanya akan berakhir sia-sia. Jadi, dengan sisa tenaga yang ada, Lintang nekat memanjat pagar. Licin dan basah tak ia pedulikan. Tangannya mencengkeram erat besi dan kakinya menapak serabutan.


“Akh!” Lintang memekik tatkala kakinya tergores ujung pagar bagian atas sebelum dia sukses mendarat di atas tanah. Saat dilihat, darah merembes dari bagian pergelangan. Lukanya cukup lebar, dan guyuran air hujan membuat rasa perihnya semakin parah.


Berusaha mengabaikan luka itu, Lintang kembali melangkah. Terseok-seok hanya untuk sampai di teras yang sepi. Dengan tubuh menggigil dan kaki yang terasa perih, Lintang mengetuk pintu rumah kontrakan itu berkali-kali.


“Mas...” hanya ketukannya saja yang keras, sementara suaranya hanya terdengar seperti lirihan samar yang teredam suara hujan.


“Mas, bukain pintunya...” mohonnya lagi. Ia tahu bertamu pada hampir tengah malam begini adalah tindakan tidak terpuji, tetapi jika tidak sekarang, dia mungkin tidak akan memiliki kesempatan lagi.


Ketukan demi ketukan perlahan berubah menjadi gedoran yang semakin brutal. Buku-buku tangannya mulai memerah dan terasa perih karena terlalu keras membentur pintu.


“Mas...” lirihan Lintang terdengar sedih, namun sang empunya rumah tak kunjung membukakan pintu hingga lama-kelamaan gadis itu kehilangan banyak energi.


Darah yang masih merembes dari pergelangan kaki juga semakin memperburuk keadaan. Dan dalam keadaan paling pasrah itu, tubuh Lintang jatuh ke lantai. Kepalanya terkulai, bersandar pada pintu sedangkan tangannya masih berusaha melabuhkan ketukan-ketukan yang entah masih bisa terdengar dari dalam atau tidak. Dadanya sakit sekali. Rasanya, seperti ia hampir mati.


Ketika Lintang sudah benar-benar pasrah pada nasib dirinya malam ini, pintu yang ia sandari bergerak perlahan. Seseorang membukanya dari dalam. Sehingga secepat kilat, Lintang mendongakkan kepala untuk memeriksa.


Matanya yang kabur karena penuh air mata tetap tak mengurangi kemampuannya untuk mengenali sosok tinggi yang berdiri di sana. Cinta sekaligus patah hati pertamanya itu tampak terkejut akan kehadiran dirinya yang muncul dalam kondisi hampir sekarat.


“Mas Abi....” panggil Lintang, lalu ia mendapati lelaki itu berjongkok di depan tubuhnya, memegang kedua lengannya sambil terus bertanya ‘kenapa?’.


Lintang tak mampu menjawab. Yang bisa gadis itu lakukan hanya menjadi tidak tahu diri. Tanpa permisi masuk ke dalam pelukan Baskara kemudian menumpahkan tangisnya di dada lelaki itu.


“Jangan pergi, Mas Abi. Jangan pergi....” pintanya dengan nada frustrasi.


Laki-laki itu tidak menanggapi permintaannya. Malah sibuk menenangkan agar tangisnya segera reda.


“Lintang janji ndak akan kasih tahu siapa pun, Mas. Biar yang kemarin itu jadi rahasia kita bertiga, ya. Tapi tolong, jangan pergi.” Ia masih berusaha meminta.


Alih-alih suara lelaki yang dipeluknya, Lintang malah mendengar suara lain datang dengan heboh sebagai gantinya.


“Ya ampun! Kakinya luka, Bas!”


“Astaga!” Baskara ikutan panik. Ia terlalu fokus menenangkan Lintang sampai tidak sadar kalau kaki gadis itu terluka.


Situasinya jadi kacau sekali. Lintang masih tidak berhenti menangis sambil memohon agar Baskara tidak pergi. Sementara Baskara dan Biru mulai kelabakan mencari cara untuk mengurus luka di kaki Lintang yang makin banyak mengeluarkan darah.


“Tolong siapin handuk sama baju ganti, Yang. Gue bawa Lintang ke ruang tamu buat obatin kakinya dulu.” Pinta Baskara.


Biru segera melesat untuk melaksanakan perintah. Baskara juga langsung bertindak dengan mengangkat tubuh Lintang lalu dia bawa ke ruang tamu untuk menerima pengobatan.


Kisruhnya keadaan membuat tidak satu pun dari mereka yang menyadari bahwa di luar pagar, Bagus berdiam diri di dalam mobil, menggertakkan gigi kuat-kuat karena sekali lagi harus melihat gadis yang dia sukai menangis untuk laki-laki lain.


“Jangan pergi,” adalah kalimat pertama yang Lintang katakan lagi setelah tangisnya mereda.


Tubuhnya sudah kembali kering. Satu set baju tidur milik Biru sudah melekat di tubuhnya, menggantikan baju tidurnya yang basah kuyup. Luka di pergelangan kakinya juga sudah diobati, dibebat perban seadanya sebelum besok pagi dicarikan pertolongan yang lebih proper.


“Minum dulu,” ucap Baskara seraya menyodorkan secangkir teh hangat buatan Biru. Sedari tadi, Lintang menolak diberi minum dan malah semakin keras menangis.


“Tapi jangan pergi,” rengek gadis itu lagi. Kedua tangannya melingkar erat di lengan kiri Baskara, benar-benar tidak mengizinkan lelaki itu pergi ke mana-mana.


Baskara menghela napas pelan, kemudian meletakkan kembali cangkir teh yang tak diterima oleh Lintang ke atas meja.


“Saya dan Biru harus pergi.” Ucapnya, mencoba memberi pengertian bahwa kepulangan mereka ke Jakarta tidak bisa ditunda lagi. Terlepas kejadian kemarin, mereka tetap harus pulang ke tempat di mana mereka seharusnya berada. “Kami nggak bisa terus berada di sini.”


“Kenapa?” tanya Lintang, matanya kembali berair.


“Saya nggak bisa kabur lagi, Lintang. Masalah yang saya tinggalkan di Jakarta sudah terlalu berlarut-larut. Lebih lama kabur cuma akan bikin masalah saya nggak ketemu jalan keluarnya.”


Lintang terdiam. Benarkah dia harus merelakan Baskara pergi dari hidupnya sekarang? Apa tidak boleh dia diberi kesempatan untuk setidaknya mengenal lelaki itu dari awal sebagai Baskara, bukan lagi Abimanyu yang telah pergi?


“Saya cuma pindah kota, bukan pindah alam. Kamu masih bisa ketemu sama saya kapan pun kamu mau. Setiap libur semester, kamu bisa minta izin ke Bapak sama Ibu buat berkunjung ke Jakarta. Atau kalau kamu nggak berani datang ke sana sendirian, kamu bisa telepon saya untuk bisa dijenguk di sini.” Perlahan, Baskara melepaskan tangan Lintang dari lengannya. Hanya untuk membawa kedua tangan yang pucat dan dingin itu ke dalam genggaman.


“Terima kasih sudah meminta saya untuk tetap tinggal, saya akan menganggap itu sebagai tanda bahwa kamu sudah memaafkan saya dan Biru. Tapi, cah ayu, saya tetap harus pulang ke Jakarta.” Pungkasnya.


Lintang tak lagi bisa mendebat. Dari sorot matanya saja, ia sudah tahu kalau tekad Baskara sudah bulat. Kesempatan untuk memulai semuanya dari awal sudah tidak ada. Sepertinya, dia benar-benar harus rela kisah mereka berakhir seperti ini saja.


“Jangan cemberut,” itu suara Biru. Gadis itu baru saja kembali dari kamarnya. Datang membawa selimut tebal yang kemudian dia lilitkan ke tubuh Lintang yang masih terlihat menggigil. “Gue sama Baskara janji nggak akan ganti nomor telepon, biar lo tetap bisa telepon kami kapan pun sewaktu lo lagi kangen.”


“Bohong.” Tuduh Lintang.


“Kok bohong?”


“Ya bohong.” Lintang mengulang, seraya menarik kedua tangan dari genggaman Baskara. “Tadi aja sewaktu Lintang telepon kalian berkali-kali, kalian nggak angkat sama sekali.”


Biru mendengus cukup keras, “Ya gue sama Baskara udah tidur.” Geramnya. “Lagian orang gila mana yang telepon tengah malam begini? Udah gitu malah nekat nerobos hujan sampai luka-luka? Nggak ada, cuma lo doang.”


“Lintang panik! Ibu bilang kalian mau pergi subuh nanti!”


Biru mengerjap-ngerjapkan matanya kaget saat Lintang tahu-tahu berteriak. “Ya biasa aja dong.” Ucapnya.


“Emangnya ndak bisa ya kalian tinggal di sini beberapa lama lagi? Sebulan mungkin? Atau dua?”


“Nggak bisa.” Tegas Baskara. “Kami harus pulang.”


“Tapi, Mas Abi—“


“Baskara. Panggil Baskara mulai sekarang.” Lelaki itu mengoreksi.


“B—Baskara,” ucap Lintang ragu-ragu. “Beneran ndak bisa?”


Jawaban Baskara masih sama; tidak.


Bahu Lintang terjatuh lesu, bibirnya cemberut dan matanya makin berkabut.


“Udah, mending kamu ikut Biru ke kamar buat tidur. Tadi saya udah minta izin ke Ibu biar kamu bisa nginep di sini malam ini.” Ucap Baskara seraya bangkit. Sengaja, biar lengannya tidak lagi digelendoti oleh Lintang dan gadis itu menolak untuk menurut.


“Ayo, buruan. Inget, gue sama Baskara harus berangkat jam 4 subuh, jadi kami butuh istirahat yang cukup.” Sahut Biru. Buru-buru menyambar lengan Lintang lalu membawa gadis itu masuk ke dalam kamar.


Lintang sih tidak memberontak. Kakinya tetap melangkah mengikuti Biru. Tetapi, kepalanya terus menoleh ke arah Baskara. Seakan tidak rela kalau harus kehilangan kesempatan untuk memandang wajah tampan sang lelaki idaman.


Setelah dua gadis itu menghilang di balik pintu kamar, Baskara turut masuk ke dalam kamarnya sendiri. Seperti kata Biru, mereka butuh waktu istirahat yang cukup sebagai bekal untuk menempuh perjalanan panjang.


Maka, ketika ia sampai di dalam kamar, Baskara langsung membaringkan tubuhnya. Memejamkan mata sambil merapalkan doa agar perjalanan pulangnya besok dimudahkan.


Bersambung....