Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
Hadiah Perdamaian



Hari yang cerah untuk memberikan hadiah kepada seseorang. Segera setelah mendapatkan kabar bahwa perkuliahan ditiadakan, Lintang bergegas melesat keluar dari lingkungan kampus yang membuatnya sesak. Bukan ke rumah, dia meminta sang sopir membawanya ke kantor di mana Baskara bekerja.


Selama dalam perjalanan, tatapan Lintang tak pernah beralih dari paper bag yang dia letakkan di kursi penumpang sebelah. Di dalam paper bag itu, sebuah persembahan telah dia persiapkan untuk seseorang yang spesial.


Lintang tersenyum begitu cerah saat dia menyadari mobilnya telah memasuki lingkup perkantoran. Lebih mengembang lagi senyumnya tatkala menemukan Baskara berdiri sendirian di depan bangunan kantor, tampak sedang menelepon.


“Bapak tunggu di sini, ya, saya cuma sebentar kok.” Tuturnya kepada sang sopir yang langsung diberikan anggukan patuh.


Masih dengan senyum yang secerah matahari siang ini, Lintang meraih paper bag berwarna putih dengan tali berwarna hitam tersebut, lantas membawanya turun dari mobil dengan semangat yang menggebu-gebu.


Langkahnya baru akan terayun ketika terpaksa urung begitu rungunya mendengar Baskara berteriak kesetanan, entah dengan siapa lelaki itu sedang bertelepon, tetapi agaknya obrolan mereka tidak berjalan terlalu baik.


Mulanya ragu-ragu untuk menginterupsi, namun Lintang akhirnya tetap memberanikan langkahnya maju mendekati Baskara yang tengah memunggungi dirinya. Pelan, ia memanggil nama lelaki itu, lantas melabuhkan tepukan pelan di punggungnya saat suaranya tak cukup mampu menarik perhatian sang lelaki kecintaan.


Yang ditepuk punggungnya terlonjak kaget. Ponsel di tangan nyaris mendarat mengenaskan di tanah, beruntung sang empunya sigap menahan hingga bencana besar itu tidak terjadi.


Keterkejutan tergambar jelas di wajah Baskara. Lalu saat lelaki itu dengan gelagapan mematikan sambungan telepon dan buru-buru mengantongi benda pipih dengan casing gambar Sinchan itu, Lintang sadar ada yang tidak beres dengannya.


“Lintang ngapain di sini? Nggak kuliah?” tanya Baskara, berusaha meredakan kegugupan karena barusan tertangkap basah oleh Lintang sedang marah-marah. Dan lagi, dia juga marah-marah kepada Sabiru dengan memanggil nama aslinya. Dia hanya berharap Lintang mendadak budek, sehingga anak itu tidak akan mendengar persis apa yang dia teriakkan.


“Kelas Lintang dibatalin, makanya Lintang datang buat anterin ini.” Jawab Lintang seraya menyodorkan paper bag yang talinya dia genggam erat-erat. Ia ingin bertanya apakah Baskara sedang ada masalah, tetapi urung karena dia tidak ingin dianggap lancang dan berakhir menimbulkan keributan seperti yang terakhir kali.


Pandangan Baskara jatuh pada paper bag yang Lintang bawa, bertanya-tanya apa sekiranya isi di dalam sana, dan untuk siapa tepatnya paper bag itu ditujukan?


“Buat Mas Abi?” tanyanya seraya menunjuk dadanya sendiri.


Paper bag tadi masih berada di tangan Lintang, Baskara belum hendak meraihnya. “Kalau buat Mbak Anin, kenapa nggak dikasih ke orangnya langsung aja? Kenapa malah dikasih ke Mas Abi? Kan, kalian udah baikan?” tanya Baskara heran.


Ditanya begitu, Lintang malah menghela napas. “Lintang nggak berani kasih langsung, malu.” Akunya, lantas tatapannya agak jatuh, terlabuh pada kaki jenjangnya yang terbalut sneaker warna abu-abu.


“Kenapa malu?” tanya Baskara lagi.


Lintang mengangkat kepala, lantas menghela napas sekali lagi. “Ya pokoknya malu.” Begitu katanya, entah malu karena apa, Baskara pun tak tahu.


Akhirnya, Baskara ambil paper bag itu, dia simpan di samping tubuh. “Ya udah, nanti Mas Abi sampaikan ke Mbak Anin. Makasih, ya.” Ucapnya.


Lintang menganggukkan kepala. “Kalau gitu, Lintang pamit. Mau ketemu sama teman buat ngerjain tugas kuliah.”


“Udah, gitu aja? Kamu jauh-jauh ke sini cuma buat anterin ini?”


Lintang mengangguk lagi, “Betul sekali.” Lantas menyunggingkan senyum.


Baskara keheranan, jujur saja. Dia tidak menyangka Lintang yang biasanya musuh bebuyutan dengan Sabiru bisa menjadi super duper sweet begini. Namun, dia tetap bersyukur. Setidaknya dia harap dengan begini, keadaan akan jadi lebih baik.


“Hati-hati di jalan, bilang Pak Marsudi jangan ngebut.” Pesan Baskara ketika Lintang pamit pergi sekali lagi. Tak lupa, ia labuhkan usapan di puncak kepala anak itu, seketika membuat pipi tirusnya merona lucu.


Tak tahan menahan salah tingkah, Lintang segera berbalik. Melangkahkan kakinya cepat seiring dengan degup jantungnya yang kian hebat. Dalam hati, ia berbisik, “Yang diacak rambut, yang berantakan hati.” Lalu senyumnya tak kunjung pudar bahkan setelah mobilnya melaju meninggalkan area perkantoran.


Bersambung