
Gelak tawa memenuhi meja makan. Riuhnya mampu meredam suara denting sendok, menjadikan acara makan malam kali ini tampak seperti sebuah pertemuan menggembirakan.
Lintang menyeka sudut matanya yang basah. Bibirnya masih saja menyuguhkan lengkungan indah meski tawanya kini telah perlahan-lahan mereda. Ditatapnya sepasang kakak adik yang duduk bersebelahan di hadapannya, lantas terasa semakin hangat hati Lintang dibuatnya.
Baru kali ini Lintang melewati makan malam dengan riang gembira. Tak hanya memasukkan butiran nasi ke dalam mulut, ia pun diizinkan untuk memuntahkan beberapa kata yang berakhir membuat sang empunya rumah meledakkan tawa dengan lepas. Di rumah, ia tidak akan diizinkan untuk berbicara ketika makan. Adat Jawa yang kental dengan kesopanan membuat keluarganya tidak memperbolehkan satu kata pun terucap selama mereka ada di meja makan. Ponsel disingkirkan jauh-jauh, obrolan basa-basi apa pun ditiadakan sampai mereka benar-benar menandaskan makanan di piring masing-masing.
Di sini, di rumah kontrakan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada rumahnya sendiri, Lintang justru menemukan kehangatan lain yang ternyata selama ini tidak ia dapatkan di sebuah bangunan yang dia anggap ‘rumah’.
“Kuliah yang bener, biar nanti jadi orang.” Sabiru membuka obrolan ketika tawa mereka bertiga benar-benar reda.
Mengawali jawaban, Lintang kembali membentangkan senyuman. “Emang sekarang ini Lintang masih jadi monyet kah?”
“Lo mah bukan monyet, tapi babi. Ngok ngok.” Gurau Sabiru seraya memencet ujung hidungnya ke atas, lantas menirukan suara babi hingga kembali membuat Lintang tergelak.
“Mbak Anin yang lebih mirip babi.” Celetuk gadis berambut ikal itu. Kembali ia terbahak-bahak, memegangi perutnya sendiri yang mulai keram karena terlalu banyak tertawa.
Sedangkan di kursi yang lain, Baskara hanya memperhatikan bagaimana dua gadis yang dia sayangi saling melemparkan tawa dengan riangnya. Kini, perasaannya terpecah menjadi dua. Satu sisi merasa senang karena dua gadis itu akhirnya bisa akrab dan tidak lagi bertengkar hebat, dan di sisi yang lain ia merasa semakin bimbang.
Rencana kepulangan ke Jakarta sudah dia susun dengan sebaik-baiknya. Nyaris tak ada celah untuk membuatnya ragu hingga mengurungkan niat. Namun, melihat betapa Lintang sebahagia ini dengan interaksi di antara mereka, Baskara mulai lebih banyak memikirkan perasaan gadis itu jika waktu kepulangannya benar-benar tiba nantinya.
Baskara tahu, entah waktunya melenceng atau tidak dari rencana yang sudah dia susun, dia dan Sabiru tetap harus pergi dari Jogja. Mereka harus tetap pulang untuk menghadapi kenyataan, sebab melarikan diri selamanya adalah sebuah perbuatan yang sia-sia. Dunia terus bergerak, ia tidak mungkin selamanya tinggal di dalam fase terpuruk yang menyedihkan. Ia hanya... tidak tahu bagaimana caranya berpamitan kepada Lintang tanpa membuat gadis itu sedih.
“Mbak Anin dulu waktu kuliah ambil jurusan apa?”
“Sastra Indonesia,” Biru menjawab cepat, lalu meneguk air putih di dalam gelas. “Kenapa?”
“Itukah alasannya Mbak Anin milih buat kerja di toko buku?” tanya Lintang dengan sorot mata penuh penasaran. Gadis itu juga baru selesai dengan makanannya, memilih menanti jawaban daripada menenggak air untuk membilas tenggorokan.
Biru terkekeh pelan atas pertanyaan itu. “Nggak ada korelasinya.” Jawabnya, lalu sekali lagi menenggak air hingga gelas miliknya kosong melompong.
“Maksudnya?”
“Gue kerja di sana karena cuma tempat itu yang mau nerima ijazah SMA.” Jelas Biru.
“Hah?”
“Kuliah gue nggak sempet selesai, Kumala Lintang. Cuma sampai semester tiga atau empat, entahlah gue lupa. That’s why gue nggak berharap buat bisa dapat kerja di tempat yang bagus.” Tak ada penyesalan yang tergambar di wajahnya ketika Biru menjelaskan demikian.
Namun, hal tersebut malah membuat Baskara termenung. Kembali dia menyalahkan diri sendiri, karena kalau tidak ada masalah yang menimpa keluarganya, Biru pasti sudah menyelesaikan kuliah dan hidup dengan nyaman bersama gelar Sarjana yang ia punya.
Sekali lagi, jika ia boleh meminta sekali saja kepada Tuhan, Baskara masih sering berharap bahwa apa yang terjadi beberapa tahun silam hanyalah sebuah mimpi yang akan segera usai.
“Itu juga kenapa gue mau lo kuliah yang bener, supaya masa depan lo bisa lebih baik. Gue tahu, taraf pendidikan seseorang nggak bisa dijadikan acuan apakah masa depan lo akan cerah atau enggak, tapi at least ketika lo kuliah dan punya gelar, lo punya satu privillage buat ambil kesempatan hidup yang lebih baik.”
Dan gue udah bikin lo kehilangan privillage itu, Bi.
“Mbak Anin bener.” Lintang mengangguk-anggukkan kepala paham.
“Habis makan mau langsung pulang?” di sela obrolan, Baskara masuk membawa topik yang lain. Bukan tanpa sebab mengapa ia melakukannya. Itu adalah upaya agar ia tidak tenggelam, agar ia tidak kembali tergoda untuk merutuki keadaan sebanyak yang sudah dia lakukan bertahun-tahun silam. Ia sudah berjanji untuk sembuh, agar setidaknya mereka bisa memperbaiki beberapa hal.
Lintang mengalihkan perhatian kepada Baskara yang sejak tadi hanya banyak menjadi penonton. Sejenak, ia terdiam menatap manik cantik milik lelaki itu. Ada banyak sekali ketenangan yang bisa dia temukan di sana. Ketenangan yang tidak bisa dia temukan di mana pun. Kemudian, gadis itu menurunkan pandangan, menatap layar ponselnya yang habis diketuk dua kali hingga menampilkan sinar terang.
Pukul 7 lewat 20, terhitung masih sore, tetapi di saat yang bersamaan juga sudah masuk ke dalam jam malam yang akan membuat kedua orang tuanya berteriak kesetanan jika ia tidak segera pulang.
Lintang suka di sini. Dia suka menghabiskan waktu bersama dua orang yang mulai ia anggap seperti anggota keluarga sendiri. Akan tetapi, ia punya rumah. Rumah sesungguhnya yang dia jadikan naungan selama 20 tahun lebih ia hidup di dunia. Maka, ia harus pulang. Meski itu berarti ia harus merelakan segala kehangatan ini dibawa pergi bersama langkah yang akan ia ayunkan nanti.
“Mas Abi bisa mintain izin kalau kamu emang mau nginep di sini malam ini.”
Tawaran itu bukan hanya membuat Lintang langsung menaikkan pandangan dengan cepat, tetapi juga telah berhasil membuat Sabiru menatap tidak percaya. Ada banyak rahasia yang mereka simpan di rumah ini, dan membawa Lintang menginap sepertinya bukan ide yang baik.
“Mas,” Biru berusaha memotong sebelum semuanya semakin jauh.
Baskara menoleh ke arahnya, menyuguhkan tatapan yang baru kali ini tidak bisa dia terjemahkan dengan mudah.
“Ndak usah, Mas Abi.” Seakan bisa membaca ketidaknyamanan yang terjadi, Lintang buru-buru bersuara.
Baskara beralih lagi menatap Lintang, dengan tatapan yang 180 derajat berbeda dari apa yang dia berikan kepada Biru sebelumnya.
“Lintang pulang aja. Besok kan hari Minggu dan Mbak Anin libur kerja, jadi Lintang bisa main ke sini lebih lama besok.”
“Yakin?”
Lintang mengangguk mantap. “Siniin piring kotornya, Lintang aja yang cuci sebelum pulang.” Tangan gadis itu menggapai piring kotor milik Biru dan Baskara, namun Baskara dengan cepat menahannya.
“Mas Abi aja yang cuci. Kamu ke depan dianter sama Mbak Anin, ya. Hati-hati nyetirnya.” Lalu lelaki itu bangkit dan membawa piring-piring kotor ke wastafel. Tak dihiraukannya lagi apa yang terjadi di belakang, ia menyibukkan diri agar ribut di kepalanya tidak semakin menjadi-jadi.
...****************...
“Lintang ngomong begitu?” Sabiru membetulkan posisi bersandar di headboard ranjang. Lengannya masih melingkari punggung Baskara sejak lelaki itu ndusel di pelukannya, merebahkan kepala di perutnya.
“Gue juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba ngomong kayak gitu. Seolah-olah dia udah tahu kalau kita emang bakal pulang ke Jakarta dalam waktu dekat.”
“Itukah sebabnya lo sampai nawarin dia buat nginep?” tanya Biru lagi.
Baskara mengangguk lemah, “Gue pikir, akan lebih baik kalau bisa kasih dia kenangan-kenangan indah sebelum kita pamit pergi. Tapi kayaknya enggak, ya? Kayaknya kalau semakin kita bikin dia nyaman, malah semakin susah buat kita pamit ke dia tanpa bikin dia sedih, ya?” tanyanya, seraya mendongakkan kepala.
Biru mendesah pelan, “Kayaknya nggak ada perpisahan yang nggak bikin sedih deh, Bas. Mau lo prepare sebaik apa pun, mau sebanyak apa kenangan indah yang lo bikin, pas perpisahannya tiba, rasanya tetap bakal sedih.”
“Terus kita harus gimana?” tanya Baskara nelangsa. Ia rebahkan kembali kepalanya di perut Biru, sembari jemarinya bergerak membentuk pola acak di lengan gadis itu yang melingkupi tubuhnya.
Biru tampak berpikir sejenak, lalu daripada menjawab pertanyaan Baskara dengan sesuatu yang belum tentu bisa lelaki itu terima, ia malah mengubah posisi tubuhnya menjadi rebah, membuat kepala Baskara yang beristirahat di perutnya bergeser pelan hingga kini berpindah ke lengannya.
“Nggak tahu, gue juga nggak tahu harus ngapain.” Ucapnya seraya menatap Baskara lekat-lekat. Jari-jemarinya bermain di anak rambut lelaki itu, menyentuhnya satu-satu bagai sedang menghitung berapa banyak helai yang tumbuh.
“Dari dulu, gue nggak pernah prepare apa pun buat yang namanya perpisahan. Nggak sewaktu orang tua gue meninggal, nggak sewaktu lo pergi ninggalin gue tanpa alasan, juga nggak sewaktu kita pergi dari anak-anak tanpa pamitan. Semuanya jalan gitu aja tanpa persiapan, Bas. Jadi kalau lo nanya sama gue kita harus gimana, gue beneran nggak tahu harus jawab apa.”
Penuturan itu membuat Baskara kembali termenung. Kalau dipikir-pikir, semua yang Biru katakan memang benar. Mereka tidak pernah menyiapkan apa pun untuk sebuah perpisahan. Mereka tidak pernah mengucapkan kata pamit dengan benar. Maka dari itu, sekali ini saja, Baskara ingin perpisahan mereka dengan Lintang dilakukan dengan baik. Agar setidaknya, ketika mereka memiliki kesempatan untuk bertemu suatu hari nanti, mereka bisa saling menyapa seperti teman lama yang saling merindukan. Bukan malah berdiri canggung seolah orang asing yang baru pertama kali bersua.
“Besok sewaktu Lintang main ke sini, gue bakal kasih tahu dia soal rencana kepulangan kita.” Ucap Baskara, akhirnya menetapkan pilihan.
Mereka akan terbang ke Jakarta dalam dua pekan, mungkin memang lebih baik untuk mengatakan kepada Lintang soal itu lebih cepat. Supaya gadis itu juga bisa bersiap.
“Terserah lo aja.” Ujar Biru tak memberikan penolakan. Gadis itu lalu memeluk Baskara, gantian menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang adam. “Gue ngantuk,” bisiknya.
“Iya, tidur yang nyenyak.” Baskara mengusap-usap punggung Sabiru, menyalurkan kasih sayang melalui sentuhan-sentuhan lembut yang dia berikan.
Tak lama kemudian, dia pun turut memejamkan mata, merebahkan lelah yang membersamainya selama seharian. Bersiap untuk menyambut hari esok dengan keberanian yang lebih besar.
Bersambung....