Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
Awal



Mereka berjanji untuk kembali suatu hari nanti. Sebagai diri mereka sendiri. Membawa cerita baru dari hari-hari yang akan mereka lewati di tempat di mana mereka berasal.


Langkah demi langkah mereka ayunkan. Segala hal baik mereka tinggalkan untuk dikenang oleh orang-orang yang mereka tinggalkan di kota cantik ini. Sementara kenangan buruknya akan mereka bawa. Satu persatu mereka lepaskan di sepanjang perjalanan menuju pulang.


“Mas Baskara sama Mbak Biru harus janji buat selalu angkat telepon Lintang. Kalau ndak, Lintang akan datangi kalian ke dalam mimpi. Biar tidur kalian ndak pernah nyenyak dan selalu dihantui.” Ancam si gadis lugu sebelum mengantarkan mereka masuk ke dalam mobil.


Ketika itu, Baskara menjawab ‘iya’ dengan penuh keyakinan. Pun dengan Biru yang sampai memberikan pelukan sebanyak enam kali, masing-masing bertahan sampai hampir satu menit lamanya. Subuh itu, mereka meninggalkan Jogja dengan keadaan hati yang lebih baik.


Walaupun si ceriwis masih sesekali menangis, tetapi pada akhirnya gadis itu tetap melambaikan tangannya sambil membubuhkan senyuman. Ditemani bapak dan ibunya, Lintang mengantarkan kepergian dua saudara barunya untuk kembali ke tempat yang lebih baik.


Hari ini adalah hari kedua sejak kedatangan mereka di Jakarta. Sebuah rumah kontrakan yang letaknya di pinggiran kota mereka sewa untuk dijadikan tempat ‘persembunyian’ sementara sampai mereka siap untuk menemui satu persatu teman dan anggota keluarga yang mereka tinggalkan selama empat tahun lamanya.


Di rumah kontrakan itu, Baskara menyembunyikan diri lebih banyak. Segala keperluan yang mengharuskan keluar rumah dihandle oleh Biru dengan pemikiran bahwa risiko untuk ketahuan bisa lebih kecil karena gadis itu lebih gampang berkamuflase untuk mengelabui orang lain.


“Stok bahan makanan buat seminggu ke depan aman, ruangan buat lo kerja remote juga udah gue bersihin. Sekarang, kita cuma perlu gunain waktu buat adaptasi sama bising dan ramainya kota Jakarta lagi.” Biru menjabarkan apa saja yang sudah dia lakukan untuk menunjang kehidupan mereka dengan nada penuh kebanggaan.


Baskara menyambutnya dengan senyuman. Tak lupa membubuhkan kecupan di kening kekasihnya sebagai tanda apresiasi atas apa yang telah gadis itu lakukan untuk mereka.


Televisi di ruang tamu menyala dengan suara cukup keras. Menayangkan berita yang mengabarkan kondisi terkini dari ibukota tercinta. Dalam beberapa waktu terakhir, tingkat polusi cukup tinggi sampai pemerintah mengimbau untuk diberlakukan kembali agenda work from home. Katanya, untuk mengurangi tingkat polusi yang disebabkan dari kendaraan bermotor. Padahal kalau dilihat-lihat, sebagian besar polusi sepertinya justru berasal dari pabrik-pabrik di kawanan industri.


“Kayaknya kita balik di waktu yang salah deh,” komentar Biru. Sekarang, pewara perempuan di layar sedang menunjukkan tabel indeks tingkat polusi udara. Di mana Jakarta berada di urutan kedua paling parah dibanding beberapa kota lainnya.


Tak seperti Biru yang terlihat cukup serius menyimak segala informasi yang disampaikan oleh sang pewara, Baskara malah lebih tertarik untuk memandangi wajah serius Biru dengan lebih saksama. Bibirnya yang sedikit maju dan sesekali bergerak refleks terlihat lucu di mata Baskara. Rasanya, ingin langsung dia lahap bibir itu hingga habis tak bersisa.


“Nih ya, kalau gue jadi presiden, gue bakal bikin kebijakan supaya satu keluarga cuma boleh punya maksimal satu mobil dan satu sepeda motor. Biar jalanan nggak makin padet dan polusi udara makin parah.” Gadis itu masih terus berkomentar. Raut wajahnya semakin serius. Bola matanya sampai ikutan bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti ke mana sang pewara melangkah pergi.


Gemas, Baskara pun menarik tubuh itu mendekat. Dia bawa naik ke atas pangkuan agar ia bisa membaui aroma sabun yang menguar dari tubuh kekasihnya itu dalam jarak yang lebih dekat.


“Ish! Gue lagi serius nonton berita!” protes Biru sambil melayangkan pukulan pelan di dada Baskara.


Tak peduli, Baskara malah meraih remote tivi, memencet tombol berwarna merah hingga layarnya seketika padam. Suara yang semula berisik mendadak hening. Menyisakan gerutuan kecil yang lolos dari bibir Biru karena kegiatan nontonnya diganggu.


“I don’t fcking care about the pollution things. As long as you’re here with me, everything will be fine for me.” Goda Baskara, sementara Biru malah mendecih malah mendengarnya.


“Ini bukan waktunya buat ngeluarin kata-kata manis kayak gitu. Air pollution is really a serious poblem. Itu bisa mengancam keberlangsungan hidup manusia.” Ocehnya.


Alih-alih tersanjung, Baskara malah tergelak dibuatnya. Bisa dibilang, sudah sekian lama sejak Biru menjadi aktif bicara soal isu-isu lingkungan. Ini membuat Baskara jadi mengingat kembali sosok Birunya semasa SMA dulu, yang gemar sekali menyuarakan kegiatan cinta lingkungan demi menjaga bumi tetap aman ditinggali umat manusia.


“Apanya yang lucu, Pramudya Baskara?” tanya gadis itu sambil mengetatkan gigi.


“Lo.” Sahut Baskara tanpa ragu. Kemudian, tanpa mau bersusah payah meminta izin, lelaki itu bergerak cepat menyambar bibir kekasihnya yang mengomel tanpa henti sejak tadi. Kecupan-kecupan dia labuhkan dengan ugal-ugalan. Lidahnya juga sesekali usil bergerak di permukaan ranum sang kekasih hingga membuatnya dihadiahi cubitan kecil di perut.


“Mesum.” Komentar Biru tepat setelah Baskara menjauhkan wajahnya.


Baskara kembali tergelak. Bukankah sejak dulu dia memang mesum? Kenapa Biru baru protes sekarang? Bukankah sudah terlalu terlambat untuk melarikan diri?


“Nikah yuk besok,” celetuk Baskara tanpa tedeng aling-aling.


“Aba-abanya kan udah dari kapan tahu,” elak Baskara. Seingatnya, dia memang sudah memberikan clue. Kalau tidak salah, dia pernah bilang akan mencari waktu untuk menikah dengan Biru setelah mereka kembali ke Jakarta. Jadi, bagian mana yang salah?


“Ya nggak besok juga!” Biru memukul lengan Baskara cukup keras, tetapi anehnya lelaki itu sama sekali tidak meringis kesakitan. Malahan, Biru mendapati kekasihnya tersenyum penuh arti. Sorot matanya yang tampak lain juga malah membuat Biru bergidik ngeri.


“Jangan macem-macem!” ancamnya sambil memasang kuda-kuda untuk melarikan diri.


Di hari-hari kemarin, dia memang suka memancing Baskara untuk bertindak lebih jauh. Namun hari ini, ketika tatapan lelaki itu terlihat penuh tekad, entah kenapa nyali Biru jadi ciut sendiri. Kalau dipikir-pikir, dia sepertinya tidak siap kalau harus hamil di luar nikah. Ough, tidak! Mengerikan sekali!


“Katanya boleh,” bisik Baskara sambil menaik-turunkan alisnya.


Sumpah demi Tuhan, Biru jadi merinding sebadan-badan. Sesegera mungkin ia bangkit dari pangkuan Baskara. Langsung menarik langkah mundur sejauh-jauhnya sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. Gesturnya yang kelihatan kocak abis di mata Baskara membuat lelaki itu kembali meledakkan tawa. Puas sudah mengerjai kekasihnya di sore yang temaram dengan latar suara hujan.


“Bercanda, Sayang. Gue nggak seberengsek itu, ah.” Ujarnya di sela gelak tawa.


Akan tetapi, Biru sudah terlanjur terkena trust issue. Jadi daripada harus mengambil risiko, lebih baik dia meneruskan agenda pelarian diri.


Tanpa peduli pada bujukan rayu Baskara, gadis itu berlarian tunggang-langgang meninggalkan ruang tamu. Buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu.


Sementara itu, Baskara kembali tergelak hingga suara tawanya menyebar ke mana-mana, bersaing dengan suara hujan yang cukup deras.


Beberapa saat kemudian, ledakan tawa itu mereda. Tergantikan dengan segaris senyum tipis yang dia biarkan terbentuk apa adanya.


Mengusili Biru hanyalah sebuah bentuk pengalihan dari rasa gugup dan khawatir yang masih dia pelihara. Karena biar bagaimanapun, ini masih awal. Dia masih belum tahu hal apa saja yang akan menyambutnya ketika dia memutuskan untuk menampakkan diri lagi nantinya. Bahkan, dia pun tidak tahu berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk beradaptasi sebelum mulai keluar dari ‘sarang’.


“Tuhan, kali ini tolong permudah semuanya.” Ia melangitkan doa dengan sungguh-sungguh. Dan semoga saja, Tuhan bersedia untuk membantunya menata kembali segala hal yang rusak. Keluarga, pertemanan, semuanya. Semoga kepulangannya tidak akan berakhir sia-sia.


...-Tamat-...


Halo, halo, terima kasih sudah baca sampai sini...


Ceritanya sudah selesai, soalnya masa pelarian Baskara juga udah usai.


Terus, apakah nanti Baskara bakal muncul lagi di work sebelah?


Iya, dia bakal muncul. Well, sebenernya udah muncul satu kali, kalian mungkin belum sadar aja wkwk


Ya udah gitu aja, aku lagi nggak ada kata-kata manis buat disampaikan ke kalian.


Intinya jaga kesehatan dan tetap bahagia buat kalian semua. Banyakin minum air putih, istirahat yang cukup dan jangan lupa lakuin hal-hal yang bisa bantu naikin mood kalian supaya kondisi mental juga tetap prima.


See you again di work yang lainnya, guys!


I Luh Ya ❤️


-Rain