
Baskara percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya perencana. Maka ketika rencananya untuk pamit secara baik-baik kepada Lintang berakhir kacau karena identitas aslinya dan Biru malah terbongkar lebih dulu, ia meyakini bahwa itu adalah cara Tuhan untuk membuatnya menerima masa lalu. Mungkin sudah cukup melarikan diri. Cukup untuk hidup sebagai orang lain dan membohongi banyak pihak. Di titik ini, Baskara mencoba percaya bahwa segala hal telah diatur dan inilah yang terbaik.
“Kamu berhak marah, kalau mau bilang sama Bapak dan Ibu untuk usir kami sekarang pun, saya nggak akan memberikan pembelaan.” Ucapnya. Sebagai sentuhan terakhir dari penjelasan singkat soal siapa ia dan Biru sebenarnya serta apa yang mendasari mereka harus hidup sebagai orang lain. Hanya sebagian kecil. Ia tidak dengan detail menjelaskan soal kerumitan hidup yang ia tinggalkan di Jakarta.
Di sisinya, Biru siap siaga. Gestur yang gadis itu tunjukkan sudah cukup menjelaskan bahwa Baskara tidak perlu merasa sendirian. Selalu akan ada Biru dalam setiap keadaan, dan hal itu pula yang pada akhirnya membuat keyakinan Baskara untuk kembali ke Jakarta semakin besar.
“Saya minta maaf karena telah hidup dengan nama orang lain dan membuat kami jatuh cinta pada sosok yang sebetulnya nggak ada. Saya juga nggak akan memaksa kamu untuk percaya, tapi paling tidak izinkan saya untuk mengatakan kalau semua yang saya dan kekasih saya lakukan kepada kamu itu semuanya murni datang dari diri kami sendiri. Nama kami boleh palsu, tapi sikap kami adalah sebenar-benarnya perwakilan diri kami sendiri.” Tuturnya panjang lebar.
Ia tidak mengharap Lintang akan percaya. Dibohongi selama hampir satu tahun jelas tidak akan membuat gadis itu mudah menerima segalanya. Baskara hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyampaikan kepada Lintang bahwa dia benar-benar menyayangi gadis itu, seperti adiknya sendiri.
“Lintang masih berharap kalau ini cuma omong kosong,” lirih sang gadis. Tatapannya nanar, jatuh pada kedua kakinya sendiri.
“Tapi sayangnya, ini semua kenyataan.” Baskara menegaskan. “Saya tahu kamu kecewa dan berharap semuanya cuma mimpi. Saya paham, karena saya pernah ada di posisi yang sama.”
Melepaskan diri sejenak dari genggaman Biru, ia berjalan mendekat ke arah Lintang. Tanpa berniat untuk kurang ajar, ia menyentuh punggung tangan Lintang yang saling bertautan.
“Kenapa jadi begini?” samar-samar, terdengar gadis itu melirih.
Baskara tidak tega, ingin memeluk tubuh gemetar gadis itu namun sadar dirinya tidak bisa. Identitas Abimanyu sudah ia tanggalkan, otomatis ada beberapa hal yang tidak lagi bisa dia lakukan.
“Dalam hidup, orang-orang yang datang kadang memang akan meninggalkan sayatan. Saya minta maaf karena saya harus jadi salah satu di antaranya. Saya minta maaf karena harus jadi patah hati kamu, cah ayu.”
Bahu Lintang bergetar hebat, ia menangis. Sapaan yang sampai kemarin masih membuat perutnya dipenuhi koloni kupu-kupu kini malah terasa asing. Terasa seperti datang dari antah-berantah dan eksistensinya cukup sulit untuk bisa dia terima.
Dulu sekali, pernah ada seseorang yang berkata padanya bahwa cinta pertama kebanyakan tidak akan berjalan lancar. Beberapa dari mereka akan berakhir menjadi asing, sementara beberapa yang lain malah berujung saling membenci seperti tidak pernah ada semerbak wangi cinta yang mereka rasakan.
Katakanlah Lintang bodoh atau semacamnya, tetapi saat seseorang berkata demikian, ia hanya menanggapi itu dengan senyuman. Ia baru pertama kali jatuh cinta, dan yang berhasil membuatnya merasakan segala hal indah itu adalah Kanindra Abimanyu, laki-laki yang dia pikir berbeda dan bisa menjaga hatinya dengan baik meski cintanya tak bersambut.
Lintang percaya jatuh cinta kepada Abimanyu adalah keputusan yang tepat. Ia pikir, dianggap sebagai adik pun sudah cukup. Setidaknya dia masih bisa berada di jarak dekat dengan lelaki itu. Membaui aroma parfumnya yang unik, melihat senyumnya yang cantik, juga menyaksikan banyak sekali hal-hal baik yang lelaki itu lakukan. Ia terlalu jatuh cinta, sampai sulit untuk percaya bahwa ternyata laki-laki yang ia puja-puja bahkan tidak nyata.
“Lintang mau pulang,” ucap Lintang. Sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Saya antar,” Baskara menawarkan.
Kepala Lintang menggeleng cepat sebagai jawaban. “Bisa sendiri.”
Tapi seharusnya Lintang sadar kalau sosok di depannya ini sudah bukan Mas Abi yang sabar. Laki-laki ini sudah kembali menjadi dirinya sendiri, yang keras kepala dan cenderung ingin dituruti.
Lelaki itu meraih lengannya dan dengan sungguh-sungguh berkata, “Saya antar, cah ayu. Biar bagaimanapun, saya yang udah bikin kamu nangis. Jadi kalau Bapak sama Ibu nanya nanti, kamu nggak perlu pusing memikirkan jawaban. Saya yang akan kasih, saya yang akan jelaskan ke mereka kenapa putri kesayangannya menangis.”
Energi Lintang tak tersisa banyak, jadi ia hanya pasrah membiarkan Baskara menuntunnya keluar dari rumah kontrakan. Berjalan sempoyongan menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan.
Sebelum langkah mereka tiba di halaman, Lintang mendengar Baskara berucap kepada kekasihnya, “Gue anterin Lintang pulang dulu, ya. Tunggu di rumah, jangan lupa kunci pintu.” Dan di titik itu Lintang akhirnya sadar bahwa ini bukan mimpi. Bahwa ia harus menerima kenyataan dengan lapang dada, meski rasanya sulit sekali hingga membuat sakit kepala.
...****************...
Roda-roda mobil berhenti berputar. Derunya pun berhenti tak lama kemudian. Tergantikan dengan suara degup jantung masing-masing anak Adam yang duduk diam tanpa saling bertukar obrolan.
Di sepanjang perjalanan tadi, yang Lintang lakukan adalah menuntaskan tangis. Ia kuras habis-habisan air matanya, berharap kalau sampai rumah nanti sudah tidak ada yang tersisa.
Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian Lintang. Dia lupa kalau menangis cukup heboh berarti dia akan meninggalkan jejak yang kentara. Mata merah dan sembab bisa dia akali dengan berpura-pura habis terkena debu sampai iritasi. Tetapi suara seraknya yang mirip kodok tidak akan hilang dalam waktu dekat, kecuali dia memiliki kekuatan super untuk mengubah suaranya menjadi semerdu Nadin Amizah.
Karena masuk ke rumah sekarang hanya akan membuatnya dihadiahi beragam pertanyaan, Lintang pun memutuskan untuk berdiam diri lebih lama di mobil. Tidak akan cukup hanya satu atau dua menit, dia mungkin harus berdiam di sana setidaknya selama 30 menit ke depan. Dan tentu saja, dia tidak bisa melakukan itu jika masih ada orang lain di sana.
“Lintang masih mau di sini. Sendirian.” Ucapnya dengan sedikit penekanan di kata terakhir. Terlalu bingung untuk mengutarakan secara langsung bahwa ia ingin lelaki di balik kemudi itu segera pergi.
“Saya temenin.” Kekeuh sang laki-laki.
Praktis, Lintang menoleh dengan sedikit kerutan di kening. “Lintang mau sendiri,” ulangnya.
Lelaki itu balik menatapnya, dengan sorot mata yang anehnya masih mampu membuat Lintang kelabakan meskipun dia tahu sosok Mas Abi sudah sepenuhnya hilang.
“Orang yang lagi kalut nggak boleh dibiarkan sendirian.” Kata lelaki itu.
“Lintang cuma perlu menenangkan diri,”
“Saya temani.” Sela lelaki itu lagi, kali ini tampak berkeras kepala untuk tidak dibantah lagi. “Saya akan tunggu di sini sampai kamu masuk ke dalam rumah, sampai saya memastikan kamu masuk kamar dan nggak kelayapan sendirian dengan mobil dalam keadaan yang begini.” Sambungnya.
Selama beberapa menit, Lintang tidak melakukan apa-apa. Pun dengan laki-laki di balik kemudi yang agaknya juga tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian sampai di titik sudah jenuh, Lintang beringsut ke arah pintu di samping kirinya.
Pertama-tama, ia turunkan kaca mobil hingga mentok, lalu menumpukan dagunya di sana. Satu tangannya terulur, menggapai angin semilir yang berembus. Tarikan napasnya sudah mulai stabil. Kepalanya juga tidak seribut tadi meski sesekali ia masih denial dengan mengatakan bahwa kejadian hari ini adalah mimpi.
“Seberapa rumit masalah hidup kalian sampai harus menggunakan nama orang lain?” tanyanya memecah keheningan. Tak bisa dipungkiri, ia juga ingin tahu alasan di balik lahirnya Abimanyu dan Anindia. Setidaknya, jika itu cukup masuk akal, ia mungkin akan lebih mudah untuk menerimanya.
“Rumit sekali.” Sang adam menjawab. Entah hanya perasaan Lintang saja, atau suara lelaki itu memang kedengaran lebih rendah dan dalam.
“Rumit sekali? Sampai orang lain nggak bisa mengerti?” tanya Lintang lagi. Ia masih berada di posisi awal, sudah kadung nyaman. Meskipun dia tahu mengobrol sambil memunggungi lawan bicara adalah hal yang tidak sopan, tidak apa-apa, dia ingin menjadi anak bandel sekali saja.
Terdengar suara embusan napas yang cukup berat dari kursi kemudi. Dan walaupun penasaran akan ekspresi yang lelaki itu miliki sekarang, Lintang memutuskan untuk tidak menoleh sama sekali.
“Ayah saya punya dua anak, semuanya laki-laki. Yang satu lahir dari pernikahan yang sah, satu lagi lahir dari sebuah kesalahan. Selama bertahun-tahun, saya dan saudara saya berteman, tanpa tahu bahwa kami lahir dari satu ayah yang sama. Saya hidup dengan segala kenyamanan bersama kedua orang tua saya, sedangkan saudara saya harus hidup tanpa tahu siapa ayahnya. Dia bahkan nggak dapat kasih sayang dari ibunya yang selalu menganggap bahwa dia adalah anak pembawa sial.”
Lintang tercekat. Refleks, ia menggigit bibir bagian dalam. Tapi rupanya, yang mengejutkan tidak selesai sampai di situ saja. Ia semakin dibuat tak bisa berkata-kata ketika lelaki itu melanjutkan ceritanya.
“Waktu terus berlalu, dan ketika rahasia besar itu akhirnya sampai di telinga kami, saya justru harus menemukan fakta bahwa dalang di balik segala kesialan yang saudara saya alami adalah ibu saya sendiri. Demi melindungi saya dan keluarga kecilnya, ibu saya mengupayakan yang terbaik agar saudara saya nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Nggak main-main, ibu saya bahkan sampai menghilangkan nyawa perempuan yang sudah melahirkan saudara saya. Ibu saya membiarkan dirinya menjadi penjahat, hanya demi menjaga keluarga kecilnya tetap utuh.”
Tak kuasa menahan diri lebih lama, Lintang akhirnya menoleh. Namun alih-alih menemukan lelaki itu menunduk sedih, ia malah melihat segaris senyum terpatri.
“Sinetron abis, ya?” celetuk lelaki itu tiba-tiba, disusul suara gelak renyah yang kontras dengan sorot matanya yang redup.
“Mas....” Lintang hampir menyebut nama Abimanyu, namun beruntung otaknya mengirim sinyal untuk segera berhenti.
Lelaki itu tersenyum, “Saya terlalu pengecut untuk menerima kenyataan itu, makanya saya kabur sama pacar saya. Hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain berharap nggak akan ada yang bisa nemuin keberadaan kami.”
“Saya ... menciptakan Abimanyu dan Anindia dengan harapan bisa memulai hidup kembali. Sebagai individu baru, yang nggak berkaitan dengan segala tragedi di masa lalu.” Lelaki itu menarik pandangan lalu menunduk. “Tapi seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa saya tetaplah Pramudya Baskara. Sejauh apa pun kabur, pada akhirnya saya akan tetap menjadi diri saya sendiri.”
Untuk beberapa lama, tidak ada yang bisa Lintang katakan. Bibirnya terkatup rapat, kepalanya sibuk memproses informasi satu demi satu jangan sampai ada yang terlewat.
“Saya akan kembali ke Jakarta,” dan pertanyaan itu sukses membuat Lintang berhenti dari segala kegiatannya. Kembali ia tatap lelaki di sampingnya lekat-lekat.
“Saya dan pacar saya udah merencanakan untuk pamit secara baik-baik ke kamu sebelum kembali, tapi keadaannya malah terlanjur jadi begini.” Terang lelaki itu, lantas kembali menoleh hingga tatapan mereka terpaku.
Lintang melihat lelaki itu menarik napas begitu dalam, kemudian suaranya kembali mengudara. “Sekali lagi, saya minta maaf. Selama berada di sini, saya dan pacar saya banyak sekali merepotkan kamu. Pacar saya juga sering bertindak kasar, saya mewakili dia meminta maaf dengan tulus.”
Lalu, Lintang menemukan lelaki itu tersenyum lembut. “Dan terima kasih. Terima kasih karena sudah menyayangi kami dengan tulus. Terima kasih karena selalu siap sedia memberikan bantuan meskipun kami nggak memintanya secara langsung. Terima kasih sudah menjadi orang baik, Lintang.”
Seharusnya, Lintang mempergunakan waktunya dengan baik untuk membuat suara seraknya menghilang. Tetapi saat lelaki itu mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus yang sampai ke matanya, Lintang malah tidak kuasa membiarkan air matanya kembali berlinang.
“Jangan menyesal jadi orang baik cuma karena kamu pernah ketemu sama orang kayak saya, ya. Dan semoga ke depannya, kamu bisa bertemu dengan orang-orang baik lainnya, orang-orang yang tulus, yang bisa menunjukkan siapa diri mereka yang asli kepada kamu tanpa perlu berpura-pura.”
Makin banyak yang Lintang dengar, air matanya makin deras mengalir. Perasaannya campur aduk sekarang. Marah, kesal dan sedih bergerumul di benaknya hingga terlalu sulit untuk memilih satu yang harus lebih dulu ia validasi.
Bahkan, ketika tangan lelaki itu menyentuh puncak kepalanya dengan cara yang sama seperti kemarin, Lintang masih tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha agar tangisnya tidak semakin menjadi.
“Saya pamit. Entah bersedia atau enggak, tapi saya harap kamu masih sudi untuk menyapa saya kalau suatu hari nanti kita nggak sengaja ketemu. Kamu juga perlu tahu kalau sampai kapan pun, kami tetap akan saya anggap sebagai adik saya, Lintang. Adik kecil yang manis dan menggemaskan.” Lalu Lintang merasakan tangan lelaki itu turun ke pipinya, mengusap jejak air mata yang menganak sungai di sana.
“Jaga diri baik-baik, cah ayu. Saya betulan pamit.” Pungkas lelaki itu. Kemudian Lintang melihatnya bergerak membuka pintu. Satu kakinya sudah keluar, berpijak di jalanan aspal disusul satu kakinya yang lain hanya dalam beberapa detik.
Kini, tubuh lelaki itu sudah sepenuhnya berada di luar mobil. Dan Lintang hanya bisa menatap pergerakannya dengan dada yang sesak bukan main.
“Tadinya saya mau nemenin kamu sampai perasaan kamu lebih baik, tapi kayaknya satu-satunya cara biar kamu nggak nangis lagi ya dengan saya pergi. Jadi, saya pergi, ya. Sampai bertemu lagi, jika Tuhan mengizinkan.”
Setelahnya, Lintang betulan melihat lelaki itu melangkah pergi. Punggung lebarnya perlahan-lahan menjauh. Semakin jauh. Semakin jauh sampai hilang sepenuhnya ditelan belokan.
Lintang menyandarkan tubuh ke kursi. Merasa tak berdaya menerima kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba.
Jadi, memang begini akhirnya. Cinta pertamanya ternyata memang tidak berhasil, dan dia tidak tahu apakah akan ada cinta-cinta lain yang bisa membuatnya lebih patah hati daripada ini.
Siang itu, di bawah terik matahari yang membakar kulit, Lintang masih berteman dengan tangisnya yang tak kunjung berhenti. Sendirian. Kesepian.
Bersambung....