
Di beranda rumah, Biru mondar-mandir sambil terus menggigiti ujung kuku tangannya hingga menipis. Setelah sekian lama, ia kembali merasakan sensasi cemas ini. Sensasi cemas yang sampai membuatnya susah bernapas dan perutnya terasa mulas.
Sudah lebih dari satu jam Baskara pergi bersama Lintang. Ini adalah waktu yang tidak wajar jika lelaki itu betulan pergi untuk sekadar mengantar sang gadis cerewet pulang. Jarak dari rumah kontrakan ke rumah Lintang hanya 15 sampai 20 menit perjalanan. Itu pun kalau ditempuh dengan kecepatan sedang. Kalau sedikit ngebut, tentu saja bisa lebih cepat daripada itu. Dengan perkiraan waktu tempuh yang segitu, sangat tidak masuk akal jika Baskara belum kembali sampai sekarang.
Oh, apakah terjadi sesuatu? Apakah emosi Lintang akhirnya meledak, dan gadis itu kesetanan sampai Baskara harus berusaha menenangkan? Atau jangan-jangan, Lintang malah betulan mengadukan soal kebohongan mereka kepada Bapak dan Ibu sehingga kedua orang tua itu sedang menyiapkan segala sesuatu untuk mengusir dirinya dan Baskara dari rumah kontrakan?
“Arghhh!!!” Biru mengacak rambutnya frustrasi. Secepat kilat, ia berlari masuk ke dalam rumah, serabutan mencari kunci motor dengan niat hendak menyusul Baskara ke rumah Lintang. Kalau lelaki itu sedang kesulitan di sana, maka dia harus segera datang untuk memberikan bantuan, benar?
Kunci motor sudah didapat tanpa perlu bersusah payah. Selanjutnya, Biru langsung melesat keluar menghampiri Vero di tempat parkir. Ia sudah menunggang sang kuda besi. Helm juga sudah terpasang dengan benar di kepalanya. Namun, ketika ia hendak memutar kunci dan menekan tombol starter, suara gerbang yang digeser membuatnya berbalik dengan cepat.
Detak jantungnya tiba-tiba meningkat pesat kala menemukan Baskara muncul dalam keadaan yang... memprihatinkan. Wajahnya sendu, langkahnya diseret seperti kakinya telah diberi beban berat hingga sulit untuk bergerak.
Buru-buru, Biru melompat turun dari atas motor. Helm di kepala dia lepas, dilempar begitu saja hingga jatuh mengenaskan di atas tanah.
Napasnya memburu, jantungnya berdetak semakin cepat dan bulir-bulir keringat mulai membasahi wajahnya ketika ia tiba di hadapan sang kekasih. Tanpa berkata apa-apa, ia merengkuh tubuh Baskara.
“Bi,” ia dengar lelaki itu melirih, namun Biru memutuskan untuk tidak menyahut. Masih terus ia peluk tubuh kekasihnya. Sangat erat. Seolah ini adalah kesempatan terakhir untuk membuat lelaki itu tetap tinggal.
“Sayang,” panggil Baskara lagi. Dan sekali lagi, Biru masih enggan menyahut. Sebisa mungkin ia berusaha menormalkan detak jantungnya. Karena untuk berbicara dengan Baskara, kondisinya harus lebih dulu baik-baik saja. Supaya mereka bisa memikirkan cara terbaik untuk menghadapi segalanya.
“Eleena Sabiru,” panggilan yang kali ini berhasil membuat Biru melepaskan pelukannya. Ditatapnya Baskara cukup dalam, sedangkan sang lelaki membalas tatapannya dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.
“Lintang—“
“Masuk ke dalam, siap-siap buat pulang.” Titah Baskara sebelum ucapan Biru selesai.
“Sekarang?” tanya Biru dengan pikiran yang mengawang.
Baskara mengangguk, “Siap-siap sekarang.” Ulangnya.
Biru ingin bertanya lebih banyak, tetapi saat melihat raut wajah Baskara yang masih tidak membaik, ia pun mengurungkan niat.
“Ya udah, ayo kita siap-siap.” Ujarnya, seraya menautkan jemari dengan milik kekasihnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Dalam hening. Dalam kondisi kepala yang sama-sama ribut tetapi sepakat untuk tidak mengeluarkan apa pun dan memilih fokus bersiap-siap untuk perjalanan pulang.
Dua buah koper berukuran besar segera Biru turunkan dari atas lemari di kamar Baskara. Lalu satu demi satu pakaian milik lelaki itu ia masukkan ke dalam koper yang berwarna navy. Tak bisa rapi, ia hanya asal menjejalkan mereka semua. Asal masuk. Asal tidak ada yang tertinggal di dalam lemari.
Sedangkan Baskara bertugas mengurusi barang-barang yang lebih berat. Kotak kontainer dia keluarkan dari ruang kosong dekat kamar mandi. Satu persatu perabotan penunjang pekerjaan ia masukkan ke dalam kotak kontainer dengan memastikan susunannya tidak akan menyusahkan ketika ia harus membongkarnya nanti.
Butuh waktu hampir satu setengah jam sampai mereka selesai dengan semua persiapan. Dua koper besar dan beberapa kotak kontainer sudah mereka tata rapi di ruang tamu, siap diangkut ketika mobil sewaan mereka tiba nanti.
Iya, alih-alih pesawat atau bus, mereka memilih pulang ke Jakarta dengan menyewa dua mobil. Satu mobil sedan untuk mereka tumpangi, satu lagi mobil box untuk mengangkut barang-barang mereka dengan aman.
“Berangkat jam berapa?” tanya Biru sambil menyodorkan segelas air.
Baskara menerimanya, “Jam 4 subuh.” Jawabnya, lalu menenggak air pemberian Biru sampai tandas.
“Lintang....” Biru tampak ragu-ragu. Sederet kalimat sudah ia siapkan, namun hanya berakhir menggantung di ujung tenggorokan.
Ia ingin tahu apakah urusan dengan Lintang berakhir baik atau tidak. Apakah gadis itu sudah menerima maaf yang mereka sampaikan atau justru berkeras kepala untuk tidak lagi berhubungan dengan mereka seperti mereka tidak pernah saling mengenal. Tapi entah kenapa, rasanya sulit sekali untuk bertanya kepada Baskara secara gamblang.
Dan Baskara pun seakan tidak ingin menjelaskan. Alih-alih mencoba membantu Biru memahami situasi, lelaki itu malah menyerahkan gelas kosong sambil berkata, “Cookies buatan lo tadi pagi boleh dimasukin ke dalam toples nggak? Gue mau bawa ke Jakarta.”
Biru paham betul bahwa itu adalah sebuah pengalihan, jadi dia pun mengikuti keinginan Baskara dengan menganggukkan kepala. “Gue siapin dulu. Apa lagi yang mau lo nawa?” tanyanya.
Biru turut menyunggingkan senyum, kemudian berlalu membawa gelas kosong ke dapur.
Sepeninggal Biru, Baskara kembali menggunakan waktunya untuk merenung. Kepulangan mereka ke Jakarta seharusnya tidak secepat ini. Masih ada waktu beberapa minggu sampai semuanya siap. Ia sudah menyewa sebuah rumah untuk mereka tinggali di Jakarta. Saat ini, rumah itu sedang dalam proses renovasi dan baru bisa ditinggali beberapa minggu lagi. Tapi berhubung keadaannya sudah jadi begini, ia tidak punya pilihan selain cepat-cepat pergi.
“Yah, lebih cepat lebih baik.” Gumamnya. Lalu getaran yang muncul dari saku celana mengalihkan perhatiannya.
Satu pesan datang dari Biru. Sepertinya, gadis itu sudah selesai memasukkan semua cookies pesanannya ke dalam toples.
Kalau udah selesai, susulin gue ke kamar. Gue mau peluk. Begitu bunyi pesannya.
Baskara pun menurut. Ia ayunkan kakinya menuju kamar Biru. Sebuah pelukan hangat yang datang dari seseorang yang kita cintai memang paling ampuh untuk menjadi obat ketika suasana hati sedang kacau begini. Sudah banyak tempat yang dia datangi, tetapi pelukan Biru masih selalu menjadi tempat ternyaman untuknya merebahkan segala lelah.
Ketukan dilayangkan dua kali, dan setelah sang empunya menyahut dari dalam, barulah Baskara meraih kenop pintu kemudian memutarnya hingga pintu itu terbuka.
Di atas kasur, Biru duduk bersila. Kedua lengannya terentang lebar. Sudut-sudut bibirnya pun terangkat membentuk segaris senyum tipis menenangkan.
“Sini, come to Mommy.” Ucap gadis itu.
Baskara terkekeh pelan mendengar Biru menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘Mommy’, namun kakinya tetap bergerak mendekat untuk menerima pelukan yang ia senangi.
“You’re doing great, Baby. Nggak semua hal bisa berjalan mulus sesuai rencana, nggak apa-apa, itu nggak bikin lo jadi gagal kok. Lo tetap hebat karena udah mau bertahan sampai sekarang. Gue bangga sama lo.” Kalimat penenang yang selalu mampu membuat Baskara percaya bahwa dia sudah cukup berusaha.
Di dalam pelukan Biru, lelaki itu benar-benar melepaskan semuanya. Segala beban, rasa sakit, penyesalan. Ia tanggalkan semuanya, sambil membangun janji untuk lahir kembali menjadi lebih baik begitu langkah mereka terayun meninggalkan rumah kontrakan ini. Akan dia tinggalkan semuanya di sini. Abimanyu, Anindia, segala kepura-puraan yang mereka bawa. Ia akan kembali ke Jakarta sebagai Pramudya Baskara, yang baru, yang siap menghadapi kenyataan bahwa hidupnya tidak pernah baik-baik saja sejak awal.
“Makasih udah selalu setia di samping gue, Bi. I love you so much,” bisiknya. Kemudian matanya terpejam. Ia biarkan kesadarannya berangsur-angsur menghilang. Tidur sebentar sepertinya bukan ide buruk. Siapa tahu saja, setelah bangun nanti, dia jadi punya energi lebih.
...****************...
Mengunci diri di dalam kamar menjadi jurus andalan untuk menghindari pertanyaan dari Bapak dan Ibu. Ia beruntung karena siang tadi Bapak dan Ibu ternyata tidak ada di rumah. Asisten rumah tangganya pun sedang pergi entah ke mana dan tukang kebun yang berjaga sedang asyik membabat rumput-rumput liar yang tumbuh mengganggu koleksi bunga mahal milik Ibu. Jadi, dia bisa menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa ditodong tatapan keheranan dan pertanyaan memusingkan.
Mungkin, dia akan mengurung diri sampai besok pagi. Sampai setidaknya dia yakin wajah sembabnya menghilang dan suaranya kembali jernih seperti semula. Dan untuk mendukung usahanya itu, Lintang sengaja mematikan ponselnya. Benda pintar itu ia simpan di laci nakas dan dia lebih memilih untuk kembali membaca koleksi buku yang sudah lama tidak ia sentuh saking sibuknya kuliah.
Satu buku berjudul ‘Under The Rain’ ia pungut dari rak kecil di sudut kamar dekat jendela. Cover warna biru muda dengan ilustrasi seorang gadis di bawah payung berwarna merah terang itu lantas dia bawa menuju kursi baca di sudut yang lain. Lembar pertama dibuka, dan ia disuguhi sebuah kalimat yang sialnya malah membuatnya meringis.
Bunyinya, “Kita adalah dua orang yang terombang-ambing pada jalan takdir. Masih berkeras kepala untuk tinggal meski semesta telah memberi isyarat bahwa kita tidak akan bisa bersama”.
Miris. Bahkan buku yang hendak dia baca pun seakan mendukung suasana hatinya saat ini.
“Kurang ajar,” geramnya.
Ujung-ujungnya, buku itu tidak jadi ia baca. Malah teronggok tak berdaya di atas pangkuan sementara ia kembali berusaha keras untuk tidak menangis lagi.
“Jangan nangis lagi, bodoh!” hardiknya kepada diri sendiri. Makin banyak menangis, itu artinya akan semakin lama dia harus mengurung diri.
Tapi, mau seberapa keras pun mencoba, Lintang tetap gagal juga. Dia menangis lagi, kali ini lebih keras dan lebih terdengar menyedihkan.
Siapa sangka rasanya akan sesakit ini? Bahkan jika waktu sudah berlalu, ia mungkin masih akan terus menangis ketika mengingat momen ini lagi.
“Lintang harus gimana sekarang?” lirihnya, dan tentu saja, tidak ada yang mampu memberikan jawabannya. Hanya waktu yang akan membawa tangis itu perlahan mereda. Hanya waktu yang akan membawa semuanya berlalu, meski kenangannya tetap akan sesekali datang dan membuatnya kembali merasa ngilu.
Bersambung....