
Menjadi bapak rumah tangga ternyata asyik juga. Sambil menunggu kekasihnya pulang kerja, Baskara bisa mengerjakan banyak hal. Menyapu, mengepel, memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, bahkan menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Rutinitas yang ternyata cukup ampuh untuk mengusir banyak sekali pikiran buruk dari dalam kepala yang selalu ribut.
Menjelang sore, ia akan keluar rumah, duduk di beranda sambil membawa segelas kopi dan setoples keripik kentang rasa sapi panggang. Di tempat itu, dia akan menghabiskan waktu menikmati senja, seraya menunggu kedatangan kekasihnya bersama Vero kesayangan mereka.
Sebetulnya, Baskara sudah berkali-kali menawarkan kepada Biru untuk diantar-jemput saja, supaya gadis itu tetap bisa duduk anteng di jok belakang dan Baskara pun tak perlu was-was takut terjadi sesuatu dengan gadis kecintaannya di tengah jalan. Namun, yang namanya Sabiru tetaplah Sabiru, tidak akan tiba-tiba berubah menjadi orang lain yang mudah diatur. Gadis itu masih keras kepala, dan Baskara tidak merasa keberatan asalkan keras kepalanya masih dalam ambang batas yang bisa dia kendalikan.
Sore ini, langit sedikit mendung, jadi warna langit yang cantik tak tersuguh dengan sempurna karena tertutup gumpalan awan kelabu yang bergerak dari sisi timur ke arah barat. Tapi tak mengapa, apa pun warnanya, Baskara masih selalu suka mengabadikan langit menjelang malam dengan kedua netranya.
"Bas!" gelas kopi yang sudah berada di depan bibir terpaksa Baskara turunkan lagi. Wajahnya lantas dihiasi senyum kala netranya menemukan gadis kecintaannya berada di depan pagar, melambaikan tangan pertanda sedang meminta bantuan.
Meninggalkan gelas kopi dan segala kegiatan yang dia lakukan sejak tadi, Baskara berjalan riang menghampiri Sabiru. Slot besi dia geser ke kiri, lalu pagar yang tak terlalu tinggi dia dorong ke sisi kanan hingga mentok agar sang kekasih bisa masuk bersama Vero.
"Thank you," ucap sang hawa, lalu segera menarik tuas gas sehingga roda-roda kokoh Vero kembali berputar, melaju dalam kecepatan sedang hingga kemudian tuas rem ditarik dan laju roda itu pun perlahan berhenti. Vero telah sampai di tempat peristirahatan, dan Biru segera melompat turun setelah memastikan standarnya diturunkan dengan benar.
"Hari ini masak apa?" tanya gadis berkemeja hitam itu lagi ketika Baskara sudah berdiri di sampingnya.
Sang adam melebarkan lengkungan di bibir, kemudian menjawab, "Chicken Katsu." Dengan nada suara penuh kebanggaan.
"Kolesterol lagi," Sabiru mencibir, namun tak urung tetap menyambar lengan Baskara untuk dia ajak masuk ke dalam rumah dalam langkah yang beriring.
"Adanya tinggal ayam sama telur doang di kulkas, besok gue baru pergi ke pasar buat belanja."
Biru hanya mengangguk, sebab netranya telah beralih fokus pada apa yang Baskara tinggalkan di meja teras. Bukan pada gelas kopi yang setengah kosong ataupun toples keripik kentang yang isinya tinggal seperempat, melainkan asbak berisi tiga puntung rokok serta abu yang tumpah-tumpah hingga ke meja.
"Bas," Biru memanggil lirih. Netranya menatap Baskara dengan penuh rasa khawatir. "Lo ngerokok lagi?"
Karena, ini bukan sekadar soal merokok. Dahulu, ketika Baskara masih menjadi anak tongkrongan yang pergaulannya bebas sekali, lelaki itu juga sudah gemar merokok. Berbatang-batang bisa ditandaskan dalam sekali duduk, dan Biru pun terkadang juga ikut membantu menghabiskan sisa batang di dalam bungkus.
Masalahnya, Baskara sudah lama berhenti. Sudah setahun lebih, sejak kondisi mentalnya mulai membaik.
Memikirkan bahwa Baskara kemungkinan mulai merokok lagi malah membawa Biru ke masa dua setengah tahun silam, ketika kondisi mental Baskara sedang buruk-buruknya dan tidak ada hal lain yang bisa lelaki itu jadikan pelarian selain lintingan tembakau tersebut. Biru takut Baskara kembali mengalami masa-masa sulit. Ia takut mereka harus kembali ke titik nol untuk memulai semuanya dari awal lagi.
"Bas,"
"Enggak, Sayang." Perlahan, Baskara menelusupkan jemarinya, menggenggam milik kekasihnya dengan erat. "Itu bukan punya gue."
"Terus punya siapa?" Biru masih terlihat khawatir. Tidak ada cara untuk menyembunyikan kekhawatiran itu dari Baskara.
"Seno," jawab Baskara dengan tenang. "Tadi siang dia ke sini buat anterin kado dari anak-anak, katanya sebagai kenang-kenangan karena waktu itu gue terlalu mendadak announce pengunduran diri gue."
"Kok Seno bisa tahu alamat rumah kita? Terus kenapa dia ke sini siang-siang? Emang dia nggak kerja?"
Baskara hanya mengendikkan bahu, sebab sama seperti Sabiru, dia juga ingin tahu jawabannya. Dia juga ingin tahu dari mana Seno mendapatkan alamat rumah mereka. Dia ingin tahu kenapa bocah itu memilih datang siang hari bolong, merelakan jam makan siang untuk sekadar menyerahkan kado yang padahal bisa diberikan sepulang ngantor. Namun kenyataannya, dia tidak tahu apa-apa. Tak ada satu pun pertanyaan Sabiru soal Seno yang dia tahu jawabannya.
"Nggak ada yang perlu lo khawatirin, Bi. I am totally fine now. Gue udah oke, bahkan kalau lo minta gue buat nikahin lo besok, gue udah siap." Celetuk Baskara, dibubuhi kekehan ringan di ujung kalimat sebagai upaya mengusir atmosfer yang tidak nyaman.
Namun sebagai gantinya, ia malah mendapatkan pukulan cukup keras di dadanya. "Jangan bercanda!" seru sang hawa.
Baskara tertawa kecil, satu tangannya yang bebas terangkat lalu mendarat di puncak kepala sang kekasih. "Makasih udah khawatir sama gue, ya, Sayang. Makasih udah selalu jadi number one yang peduli sama sekecil apa pun hal yang terjadi kepada gue. Makasih banget pokoknya." Ucapnya tulus.
Diberi ucapan begitu, bibir bawah Sabiru malah maju. Bukan untuk mencibir, melainkan untuk menahan diri dari rasa haru.
"Jelek." Gurau Baskara, yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Sabiru sebab gadis itu malah menerobos masuk ke dalam pelukan kekasihnya.
"Jangan sakit lagi, ya, Bas. Jangan menderita lagi, gue mohon." Bisiknya samar-samar.
Baskara menanggapi permohonan itu dengan senyum tipis, "Iya, Sayang. Gue janji nggak akan sakit lagi, nggak akan menderita lagi. Pokoknya, kita lewatin sisa waktu kita buat bahagia, ya?"
Di dalam pelukan, Biru mengangguk patah-patah.
...****************...
"Gimana rasanya jadi bapak rumah tangga?" dari dalam selimut, Biru menyembulkan kepala, menarik wajahnya yang semula ndusel di ketek Baskara.
"Not bad,"
Tak puas dengan jawaban itu, Biru mencebik, "Yang spesifik!" tuntutnya.
Baskara terkekeh. Sebelum menjawab, ia lebih dulu menyingkirkan ponsel dari hadapan, meletakkan benda pintar itu ke nakas lalu dia menarik tubuh Biru agar semakin dekat. "Seru, banyak hal yang bisa gue kerjain. Malahan gue sama sekali nggak punya waktu buat bengong."
"Really?"
Kepala Baskara naik turun, "Nanti kalau kita udah nikah, kayaknya gue aja deh yang jadi bapak rumah tangga kayak sekarang. Ya I mean, gue cari nafkahnya dari rumah, bukan berarti lo harus gantiin gue jadi pencari nafkah utama."
"Stop talking about marriage,"
"Loh, kenapa? Bukannya lo yang selalu semangat buat nikah sama gue?" tanya Baskara heran. Dia ini sedang berusaha mewujudkan keinginan Sabiru, loh. Kenapa gadis itu malah kelihatan tidak senang?
Biru tidak menjawab, malah memilih untuk kembali ndusel ke ketek Baskara. Entah apa yang bisa dia temukan di sana sehingga gemar sekali menyembunyikan wajah alih-alih bertatap muka dengan kekasihnya.
"Ini artinya lo udah nggak mau nikah sama gue, kah?" tanya Baskara, masih keheranan.
"Mau, lah!" Biru berseru, tapi suaranya hanya terdengar seperti berbisik.
"Ya kalau mau kenapa malah ngumpet?" pelan-pelan, Baskara mendorong tubuh Biru agar ia bisa membuat kekasihnya itu kembali menatapnya.
"Gue...."
"Hm, kenapa? Coba jelasin."
Tatapan Biru berlarian, enggan berada pada satu garis yang sama dengan Baskara. Jemarinya bergerak gusar, memilin kaus depan yang Baskara kenakan. "Gue cuma ... nggak mau lo terpaksa." Cicitnya.
Helaan napas pelan mengudara, disusul gerakan tangan Baskara yang meraih dagu sang kekasih agar netra mereka saling berjumpa. Diselaminya tatapan gadis itu, ditilik sampai pada bagian paling dalam agar ia tahu apa kiranya yang sedang dirisaukan oleh Sabiru.
"Siapa yang bilang kalau gue terpaksa?" itu bukan pertanyaan yang benar-benar membutuhkan jawaban. Baskara hanya melontarkannya untuk menegaskan bahwa, ia serius dengan ucapannya yang terdahulu. Bukan sekadar gurauan yang tidak akan dia jadikan kenyataan.
"Gue mau nikah sama lo, Bi. Gue udah siap."
Sabiru tak kuasa menahan desakan kabut bening yang menyelimuti netranya sejak tatapannya dipaku oleh Baskara. Dalam sekejap saja, kabut itu tumpah, membuat wajahnya basah berurai air mata.
Karena Baskara tahu air mata itu adalah bentuk dari rasa haru, maka ia tak berusaha membuat Sabiru berhenti menangis. Ia biarkan keharuan itu dituntaskan, dengan ia yang setia menemani sambil mengusap-usap kepala sang gadis dengan sayang.
"Tunggu sebentar lagi, ya. Nanti setelah kita balik ke Jakarta, kita cari tanggal yang pas buat menikah." Ucapnya, jemarinya bergerak mengurai helaian rambut sang gadis, merasakan halusnya menyapa permukaan kulit tangannya yang kasar.
Sementara bagi Sabiru, mendengar kata 'Jakarta' membuat tangis harunya terjeda. Rembesan air mata dia usap kasar dari pipinya, netranya yang kemerahan menatap sang kekasih meminta penjelasan. "Kita bakal pulang ke Jakarta?" tanyanya.
"Iya, dong. Kita nggak mungkin terus-terusan lari. Pasti akan ada waktu di mana kita harus balik ke sana lagi, mau nggak mau, siap nggak siap." Jelas Baskara.
Bisu. Sabiru tak mampu menanggapi karena lidahnya mendadak kaku. Lagi pula, tidak benar-benar ada kosakata yang pas di kepalanya, yang sekiranya mampu untuk mengimbangi apa yang telah Baskara katakan sebelumnya. Maka, gadis itu hanya membiarkan percakapan mereka berhenti di sana. Kembali dia menarik diri masuk ke dalam pelukan Baskara. Bukan untuk menangis lagi, karena tiba-tiba saja tidak ada lagi desakan air mata di kedua netranya.
"Gue mau dipeluk sampai pagi." Pintanya, dengan kedua lengan yang melingkar posesif di pinggang Baskara.
Sang adam tak punya pilihan selain mengiyakan. Kedua lengannya lantas balik melingkari tubuh sang gadis, mendekapnya cukup erat namun tetap memastikan oksigen bisa mengalir dengan baik ke saluran napas kekasihnya.
Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi sampai Baskara benar-benar siap untuk pulang. Hanya sedikit waktu lagi sampai... sampai dia siap untuk menampakkan diri di hadapan teman-temannya lagi.
Bersambung...