
Alih-alih hukuman seperti apa yang telah Baskara sebutkan selama dalam perjalanan pulang, apa yang Biru dapatkan justru adalah sebuah petuah. Nasihat yang tidak pernah terpikir olehnya akan keluar dari bibir seorang Pramudya Baskara yang dulu terkenal sebagai pentolannya Pain Killer, grup paling disegani di kampus mereka, Neosantara.
“Jangan pernah gunain perasaan orang buat tujuan apa pun.” Ucap Baskara setelah mereka sempat menjeda obrolan selama beberapa saat.
Televisi di hadapan mereka masih menayangkan sinetron kesukaan ibu-ibu. Pemeran utama perempuan yang hidupnya selalu dijajah oleh sang antagonis tengah menangis tersedu-sedu, meratap pilu lantas mengadu kepada Tuhan sang empunya hidup. Tatapan Biru tertuju ke sana, tetapi konsentrasi dan rungunya benar-benar hanya tercurah untuk apa pun yang Baskara sampaikan.
“Terakhir kali gue melakukan itu, gue hampir kehilangan lo untuk yang kedua kalinya, kalau lo lupa.” Kata Baskara lagi.
Setelah itu, tarikan napas yang begitu dalam memancing Biru untuk menolehkan kepala. Ia sedikit meringis saat mendapati Baskara sedang menundukkan kepala, jemari tangan kanannya bergerak tidak tenang, kentara sekali sang empunya sedang menyembunyikan kegugupan.
“Gue beruntung karena Fabian lebih mementingkan hubungan pertemanan kami, Bi. Karena kalau dia mau egois sedikit aja, gue bukan cuma akan kehilangan lo, tapi juga kehilangan teman—ah, bukan, saudara. Gue akan kehilangan kalian berdua, dan itu adalah takdir paling kejam yang nggak akan pernah bisa gue terima.” Usai berkata demikian, Baskara menoleh, lantas bertemulah tatapan mereka di satu titik yang sama.
“Jangan gunain Denis, atau siapa pun buat memancing kecemburuan gue, Sayang. Karena tanpa lo lakuin itu pun, gue masih sama pencemburunya kayak dulu. Cuma cara gue aja yang berbeda dalam menunjukkan kecemburuan itu sekarang. Gue cuma jadi sedikit lebih tenang dan nggak meledak-ledak, tapi bukan berarti gue udah nggak kenal lagi sama yang namanya cemburu.”
“But you did the same with Lintang. You treat her better than any girls we meet before, dan gue menangkap itu sebagai sebuah usaha dari lo buat bikin gue cemburu.” Bukan hendak memberikan pembelaan atas dirinya sendiri, tidak. Biru hanya sedang berusaha mengeluarkan isi kepalanya saja, unek-unek yang selama ini hanya dia simpan karena takut akan membebani Baskara jika dia terlalu lepas menyuarakannya.
Alih-alih setuju atas statement tersebut, Baskara malah menggeleng pelan. Satu kakinya terangkat, lalu dinaikkan ke atas sofa dan ditekuk, membuatnya jadi terlihat setengah bersila dengan tubuh yang menghadap ke arah Sabiru.
“Gue nggak pernah manfaatin perasaan Lintang buat bikin lo cemburu, atau demi dapat benefit lebih dari kedua orang tuanya as our bapak dan ibu kos. Sedari awal, sedari gue sadar kalau Lintang punya perasaan terhadap gue, gue udah menerapkan batas yang tegas. She’s my little sister, and I told her about that. Berkali-kali dapat pernyataan cinta dan tawaran buat pacaran sama dia, gue selalu dengan tegas menolak dan bilang bahwa hubungan kami nggak akan pernah bisa lebih dari sekadar kakak dan adik.”
“Tapi Lintang belum tentu berpikiran hal yang sama.”
“She would.” Baskara memotong. “Karena sedari awal gue udah kasih batas yang jelas, dia akan berpikir berkali-kali sebelum baper ke gue. Dia pasti bakal mikir kalau apa yang gue lakuin ke dia, sikap-sikap manis gue, itu semua adalah sebuah bentuk kasih sayang dari seorang abang ke adiknya. Sure, pasti bakal ada momen di mana dia lupa akan hal itu. Tapi gue percaya, dia akan selalu ingat soal batas yang udah gue terapkan, karena sebenarnya, Lintang nggak sebebal yang lo kira.”
Tak tahu harus merespons bagaimana, Biru hanya terdiam. Terlebih saat dia tahu kalau Baskara belum sepenuhnya selesai dengan ucapannya, dia memutuskan untuk mendengarkan lebih banyak.
“Kalau lo bisa kasih garis batas yang tegas ke Denis, sama kayak apa yang gue kasih ke Lintang, gue nggak akan keberatan buat ngeliat kalian dekat.”
“Kenapa gitu? Lo nggak cemburu?” tanya Sabiru cepat. Ada gurat kecewa yang tampak di wajahnya saat ini. Memikirkan bahwa kekasihnya memang sudah enggan memelihara rasa cemburu yang padahal kata orang adalah tanda cinta.
“Nggak gitu, Sayang.” Berusaha menenangkan, Baskara meraih tangan Sabiru. “As a said before, gue masih pencemburu, sama kayak dulu. Bedanya, sekarang ini gue nggak punya banyak energi dan power sebesar dulu buat bisa menunjukkan rasa cemburu gue secara menggebu-gebu. Paling banter, gue cuma bisa marah-marah di chat sama telepon kayak tadi siang, nggak akan berani sampai ngajakin anak orang buat baku hantam kayak yang dulu pasti bakal gue lakuin setiap ada yang berani deketin lo.”
“Your mentally unstable boyfriend ini nggak sekeren dulu, jadi tolong jangan bikin energi dia yang cuma seuprit ini kebuang untuk menunjukkan rasa cemburu.”
“But I miss you so fxcking much, Bas. Gue kangen lo yang dulu. Gue ... gue....” ucapan Biru tak selesai. Matanya malah terasa panas dan berkabut ketika melihat Baskara mengangguk seraya tersenyum tipis.
“Gue tahu, Sayang.” Ucap lelaki itu lembut. Lalu usapan yang jatuh pada puncak kepalanya sukses membuat Sabiru gagal menahan desakan kabut bening yang menerobos ingin keluar. Biru menangis, dengan bahu bergetar dan usapan lembut yang malah semakin banyak dia terima.
“Maaf, Bas...” lirihnya di sela isakan.
Tak tahan melihat kecintaannya menangis, Baskara pun merengkuh tubuh itu, lantas dia bawa ke dalam sebuah dekapan hangat.
“Nggak perlu minta maaf, Sayang. Gue tahu ada hal-hal dari diri gue di masa lalu yang memang nggak bisa lo temuin di diri gue yang sekarang, dan itu bikin lo merasa kehilangan. Tapi, satu hal yang lo harus tahu, Bi. Sebanyak apa pun hal berubah, perasaan gue terhadap lo akan menjadi satu-satunya yang tetap, bahkan cenderung bergerak lebih besar. Cara mencurahkannya memang beda, tapi kualitas dan kuantitasnya justru semakin bertambah dari hari ke hari.”
Dalam dekapan hangat Baskara, tangis Biru semakin menjadi. Rasanya egois, tetapi dia benar-benar merindukan momen di mana Baskara bisa leluasa melabrak siapa saja yang mengganggunya atau berusaha menjalin interaksi yang berlebih dengan dirinya. Dia rindu momen di mana Baskara bisa dengan lantang mengatakan kepada seluruh dunia bahwa ia adalah pemilik dari seseorang bernama Eleena Sabiru dan tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang dapat menggantikan posisinya. Dua tahun hidup sebagai Abimanyu dan Anindia membuat Sabiru kehilangan momen-momen itu, dan saat ini, rindunya sudah sangat berat sehingga dia mulai mencari gara-gara untuk setidaknya bisa membuat Baskara menampilkan lagi sisi posesif yang dulu sering dia maki-maki, namun tetap berhasil membuatnya mengulum senyum diam-diam.
Sungguh, Biru tidak ada niat untuk menggunakan perasaan orang lain. Dia hanya... dia hanya benar-benar sedang merindukan Pramudya Baskara miliknya yang dulu.
“Gue punya ide yang lebih baik buat bikin lo bisa pamer ke Denis bahwa lo udah dimiliki, tanpa gue harus berkoar-koar di depan dia, yang mana itu artinya kita lagi bongkar identitas kita sendiri.” Kata Baskara setelah bermenit-menit lamanya yang dia dengar hanyalah suara isakan Sabiru yang semakin lama semakin mereda.
Bingung, Biru pun menarik diri dari pelukan Baskara. Hanya untuk dibuat semakin bertanya-tanya saat kekasihnya itu menyunggingkan senyum yang... mencurigakan.
“Jangan aneh-aneh.” Tegurnya, sebelum Baskara menyampaikan niat.
“Bas—“
Kalah cepat. Bibir Biru kalah cepat dari bibir Baskara. Ranumnya itu disambar oleh Baskara, dihadiahi beberapa kecupan sebelum akhirnya diberikan sesapan-sesapan halus yang meninggalkan jejak basah.
Ciuman yang datang secara tiba-tiba itu membuat Sabiru tersentak, tetapi dia tidak memiliki alasan untuk menolak sehingga yang dia lakukan adalah membalas pagutan Baskara dengan sama intensnya.
Makin lama, Sabiru makin terlena. Hingga ketika napasnya habis dan mereka menjeda untuk mengangkut pasokan oksigen, ia tidak sempat mencegah Baskara yang telah bergerak turun menyasar lehernya yang terbuka.
“Akh!” Biru memekik tatkala Baskara menggigit lehernya tanpa aba-aba. Perih menjalar meski setelahnya lelaki itu langsung memberikan kecupan basah sebagai penawarnya.
Mulanya, Biru pikir sudah berhenti sampai di sana. Tetapi rupanya dia salah. Sebab sebelum benar-benar pergi meninggalkan lehernya, Baskara menyesap kuat hingga menimbulkan tanda merah keunguan yang letaknya... Ah, sial, tidak akan bisa dia sembunyikan kecuali dia memakai syal.
Ini tidak seperti kali terakhir di mana Baskara meninggalkan tanda merah di area leher yang masih bisa ditutupi. Seakan kali ini, dia benar-benar ingin Denis dan semua laki-laki yang berusaha mendekati Sabiru tahu bahwa perempuan itu telah memiliki kekasih.
“Done.” Ucap Baskara dengan senyum penuh rasa bangga. Bak baru saja menciptakan karya seni yang bisa dihargai ratusan juta.
Biru yang masih agak syok tak menyahut. Dia juga belum mengerti mengapa Baskara tiba-tiba menyerang dirinya.
“Ini sebagai tanda bahwa lo adalah milik gue, Sabiru. Nggak peduli meskipun gue nggak bisa lagi secara terang-terangan klaim lo sebagai milik gue kayak dulu lagi, seenggaknya tanda ini bisa jadi alarm buat cowok mana pun yang berusaha deketin lo, bahwa lo sudah berpemilik.” Terang Baskara.
Seharusnya, Biru mencak-mencak. Tetapi kali ini, ia malah menatap tanda kemerahan di lehernya cukup lama. Sebelum akhirnya dia memotret tanda kemerahan itu menggunakan ponsel Baskara yang tergeletak di atas meja.
“Kenapa difoto?” tanya Baskara heran.
“Buat kenang-kenangan.”
“Gue bisa bikin lebih banyak, kalau lo mau.” Baskara hanya bergurau, namun Biru malah menganggapnya serius.
Tanpa ba-bi-bu, Biru menyodorkan lehernya ke depan wajah Baskara, minta dibuatkan tanda lebih banyak untuk dia pamerkan kepada seluruh dunia. Apa itu rasa malu? Dia sudah tidak memilikinya lagi sekarang. Karena jika ini adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah milik Baskara, Biru tidak akan keberatan.
“Nakal.” Baskara menyentil pelan leher Biru yang terdapat tanda merah hasil karyanya. Lalu alih-alih menuruti permintaan sang kekasih, ia malah mengecup bibir Sabiru sebanyak delapan kali. Benar-benar hanya kecupan, yang kemudian membuat Sabiru merengut lucu.
“Bas....” rengek perempuan itu.
Baskara menggeleng pelan, “Satu aja udah cukup buat bikin Denis paham kalau lo bukan cewek single yang boleh dia dekati.” Ujarnya, dan ketika dia menepuk-nepuk pelan kepala Sabiru sebelum bangkit dari sofa, Baskara tahu perempuan itu sudah tidak bisa lagi membantah omongannya.
“Udah malam, ayo kita tidur. Malam ini gue izinin lo gantian nginep di kamar gue.” Kemudian, Baskara masuk ke dalam kamarnya, disusul Sabiru yang berlarian beberapa detik setelahnya sambil berteriak heboh.
“TUNGGU!!! GUE MAU CUDDLE DULU SAMPAI PUAS!!!”
Bersambung
.
.
.
.
Yah, teman-teman, welcome to Sabiru physical touch era. Semoga tetap waras, soalnya authornya mulai gila ngeliat sifatnya Sabiru sama Baskara malah kayak ketuker begini 🙃