
"Mas Abi serius?" Seno bertanya sekali lagi, ini sudah yang ke-29 kali setelah Baskara kembali dari ruangan bos usai menyerahkan surat pengunduran diri.
"Muka saya ada kelihatan kayak lagi bercanda kah?" alih-alih menjawab, Baskara malah balik menjawab dengan raut wajah yang jenaka, berbanding terbalik dengan milik Seno yang sedang mendung.
"Kenapa mendadak sih, Mas? Padahal kayaknya kita nggak ada masalah apa-apa deh, kerjaan juga lancar-lancar aja tuh saya lihat-lihat."
Sambil memasukkan beberapa barang ke dalam kotak karton berwarna cokelat terang, Baskara menjawab, "Nggak ada yang dadakan, Sen. Rencana resign udah saya sampaikan ke atasan dari satu bulan sebelumnya, cuma surat pengunduran dirinya baru saya serahkan secara resmi hari ini, pas di hari terakhir saya kerja di sini."
Penjelasan tersebut rupanya tidak membuat Seno merasa puas. Terlihat dari gerak bibir lelaki itu yang seakan-akan sedang mendebat meski tak ada suara yang keluar dari rongga mulutnya yang terbuka.
"One month notice sih, tapi cuma ke bos, ke kita enggak." Sahut rekan yang lain, Priska namanya. Gadis berdarah Sunda itu baru bergabung ke perusahaan selama dua minggu, dan hari ini harus mengucapkan salam perpisahan pada senior yang padahal paling dia kagumi.
Meninggalkan Seno, Baskara beralih menatap Priska yang duduk di sebelah kiri. Sudut bibirnya terangkat sedikit, "Sengaja, biar nggak pada heboh." Sahutnya.
"Justru kalau dadakan gini malah bikin heboh, Mas Abi." Priska menyanggah.
Namun, Baskara tetap menanggapinya dengan santai. "Paling nggak, hebohnya cuma sehari. Kamu nggak tahu aja gimana dramanya seorang Senopati. Kalau saya kasih kabar ini sejak satu bulan yang lalu, yang ada dia bakal nempel terus ke saya, kayak lintah yang lagi menghisap darah."
Yang disebut namanya mengerucutkan bibir, meski tak lama kemudian mengakui bahwa dirinya kemungkinan memang akan melakukan hal serupa seperti apa yang Baskara sampaikan sebelumnya. Ia memang sedrama itu, dan semua rekan kerjanya juga tahu. Kecuali Priska si anak baru.
"Terus, habis dari sini, Mas Abi mau kerja di mana lagi?" tanya Seno setelah bibirnya kembali ke bentuk semula, tidak mengerucut lagi.
"Di rumah." Jawab Baskara. Kegiatan membereskan barang yang sempat tertunda ia lanjutkan lagi. Satu persatu barang pribadinya dimasukkan lagi ke dalam kotak, disusun begitu rapi. "Saya mau WFH, biar sekalian bisa bantuin Anin urusin rumah."
"Kenapa bukan Anin aja yang resign kalau gitu?" si Seno masih kepo.
Baskara terkekeh pelan, "Anin bukan tipikal orang yang bisa dibiarin berkutat di rumah dalam waktu yang lama. Dia harus bersosialisasi, biar tetap waras. Kalau saya, sih, adaptif, jadi better saya aja yang kerja dari rumah." Ungkapnya.
Semenjak tinggal berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, Baskara menyadari bahwa kepribadiannya dengan Biru memang sepertinya telah tertukar. Ia yang dulu gemar sekali berkeliaran di luar rumah dan membangun relasi dengan berbagai jenis manusia yang ada di muka bumi, mendadak lebih senang berada di rumah. Mengobrol dengan orang baru hanya akan menghabiskan energi, membuatnya berakhir kelelahan dan harus beristirahat total dengan tidak bertemu dengan orang lain selama beberapa hari.
Sedangkan Sabiru, gadis itu malah kebalikannya. Yang tadinya anak rumahan dan ansos abis, malah berubah menjadi super duper friendly dan gemar terbang ke sana kemari. Malahan, kalau terlalu lama diam di rumah, gadis itu akan mudah uring-uringan. Mood-nya jadi lebih mudah berubah, sehingga Baskara menjadi pusing tujuh keliling dibuatnya.
"Anin nggak seekstrovert itu deh kayaknya," Seno masih menyangkal, seolah dia yang paling tahu semua hal tentang gadis bernama Anindia yang dia kenal.
Baskara memutuskan untuk tidak menjawab, hanya mengulaskan senyum tipis dan mulai menyangklong tas punggungnya di satu sisi bahu. Semua barangnya sudah masuk ke dalam kotak, dia sudah siap untuk beranjak.
"Mau langsung pulang? Nggak mau adain farewell party dulu?" tanya Priska.
"Farewell party itu kalau kita nggak akan ketemu lagi. Rumah saya deket, masih bisa sesekali datang buat berkunjung, jadi nggak perlu lah ada farewell party segala." Jawab Baskara apa adanya. Lagi pula, dia sudah punya rencana lain untuk dilakukan. Bersama Sabiru, tentu saja.
"Nggak asik banget, sumpah. Udah dadakan, nggak mau bikin perpisahan pula." Gerutu Seno, sontak membuat Baskara tergelak.
"Saya cuma berhenti kerja, bukan berhenti jadi manusia, Seno." Kata Baskara di sela gelak tawa.
Seno melirik sinis, kedua lengannya terlipat di depan dada. "Nggak tahu, lah, pokoknya Mas Abi nggak asik banget."
Lagi-lagi Baskara hanya tersenyum. Lalu tak lama setelah itu, seseorang masuk ke dalam ruangan dengan kedua tangan yang penuh berisi tentengan.
Baskara meletakkan kembali kotak karton miliknya, hanya untuk berjalan mendekat ke arah Jordy yang tampak kepayahan. Diambilnya satu tentengan dari tangan kiri lelaki itu, ia bantu bawa lalu diletakkan di meja kerjanya yang sudah kosong.
"Alhamdulillah ada rezeki lebih, jadi saya pakai buat beliin kalian makanan." Ujarnya. "Silakan dimakan, semoga sesuai sama selera kalian, ya."
"Mas Abi ... ini banyak banget, lebih kalau cuma buat kita-kita aja." Priska kewalahan sendiri melihat jumlah makanan yang melimpah di atas meja. Padahal mereka yang ada di sini tidak sampai sepuluh orang, tetapi Baskara sepertinya menyiapkan hampir 20 porsi makanan.
"Kalau masih ada sisa boleh kalian bawa pulang. Kalau mau bagi ke Pak Kodir atau siapa pun juga nggak masalah, yang penting jangan dibuang."
"Aduh, jadi nggak enak kami, Mas. Mas Abi berhenti kerja tapi malah menghambur-hamburkan uang buat kami yang masih dapat gaji bulanan."
Ucapan Priska itu hanya Baskara tanggapi dengan senyuman. Entahlah, bukannya sedih karena harus berpisah dengan rekan-rekan kerjanya, hari ini lelaki itu justru lebih banyak tersenyum.
"Saya balik duluan, ya, harus jemput Anin sebelum anaknya berubah jadi reog. Makan yang nikmat ya kalian. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan." Usai berpamitan, Baskara berjalan meninggalkan ruangan. Dengan diiringi ucapan selamat jalan dan harapan semoga mereka bisa bertemu lagi segera, ia meninggalkan tempat yang sudah memberinya kehidupan selama satu tahun di Jogja.
"Ha...." embusan napasnya terasa lebih ringan setelah kakinya menapak di parkiran.
Seakan ingin merekam tempat kerjanya untuk kali terakhir, ia membalikkan badan, mendongak sedikit untuk bisa menatap papan nama bertuliskan nama perusahaan.
"Sampai bertemu lagi, teman." Salamnya, alih-alih mengatakan selamat tinggal.
...****************...
"I love you."
"I love you too."
"I love you so much."
"Me too."
"I love you to the moon and back, and I swear no one will loving you like the way I do."
"Oke, oke. Lo menang. Lo emang secinta itu sama gue, and can't do anything about it."
Game over, Biru pemenangnya. Seringaian lebar tercipta, pertanda sang pemenang telah puas dengan hasil yang diterima.
"Padahal di dunia ini banyak yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih romantis, lebih segala-galanya daripada lo, tapi gue malah memilih buat stuck sama lo doang." Dan seolah hendak membuktikan perkataannya, Biru beringsut, masuk ke dalam pelukan Baskara.
"How lucky I am, bisa dicintai segini hebatnya sama lo." Satu kecupan Baskara daratkan di pucuk kepala Sabiru. "Makasih, ya, udah bertahan sama manusia yang nggak stabil dalam segala aspek kehidupan ini."
"Mulai," Biru memberikan cubitan kecil di pinggang Baskara, yang malah membuat kekasihnya itu terkekeh pelan. "Stop ngomong kalau lo nggak stable, cuz I hate it so much. Lo tuh keren, lo hebat, lo berhasil ngelewatin banyak hal dan tetap bertahan meskipun ada opsi buat nyerah. Lo keren, anjir, Bas. Kenapa, sih, harus selalu underestimate diri lo sendiri?"
"Ke mana perginya Pramoedya Baskara yang tingkat percaya dirinya setinggi langit, hmm?"
"Dia yang itu udah nggak ada, Sayang." Tak membiarkan Biru menusuknya dengan tatapan, Baskara sengaja merengkuh tubuh kekasihnya semakin erat. "Terlalu percaya diri juga nggak bagus soalnya. Jadi, yang versi itu udah di upgrade ke versi yang lebih bersahaja. Biar kalau ada kejutan lain yang datang ke hidupnya, dia nggak akan begitu kena mental break down."
"Adaaaa aja ngelesnya, heran." Biru mengomel, tapi ujung-ujungnya tetap melingkarkan lengan di pinggang sang kekasih. "Untung gue sayang, jadinya nggak apa-apa, bisa gue maklumin."
"Lo makin lama makin bucin ya sama gue," gurau Baskara, dan Sabiru dengan senang hati menganggukkan kepala.
"Terlalu sulit buat menolak pesona mantan playboy kayak lo." Biru menekankan kata mantan sehingga membuat Baskara kembali tergelak.
"Gue versi lama emang bajingan banget, asli. Untung sekarang udah resign." Candanya, yang disambut gelak tawa puas oleh Sabiru.
Keduanya saling bersahutan tawa, sesekali menjeda hanya untuk mempertemukan bibir mereka pada kecupan-kecupan singkat nan sederhana.
Begini saja, mereka sudah bahagia. Begini saja, mereka sudah berhasil sejenak lupa pada segala peristiwa yang membuat mereka terdampar di kota orang dan hanya bisa saling mengandalkan satu sama lain.
"Omong-omong soal resign," Biru menjauhkan sedikit wajahnya demi bisa menatap Baskara. "Mulai besok lo udah full jadi bapak rumah tangga, ya?"
Baskara mengangguk, "Job yang terakhir udah kelar, tinggal nunggu pembayaran. Jadi selama beberapa hari ke depan, sambil nunggu ada job lain, gue bisa bantuin lo beres-beres rumah."
Bibir Sabiru melengkung indah, "Kalau sambil ngurus anak, juga bisa?" godanya, sambil mengerlingkan matanya dengan genit.
"Mulai," sentilan maut mendarat di dahinya sebagai konsekuensi atas candaannya yang menyebalkan (bagi Baskara). "Nikah dulu, baru bikin anak. Jangan berzina, wahai saudaraku, itu dosa besar." Sambungnya, dengan lagak seperti pemuka agama yang sedang memberikan siraman rohani.
Sontak saja Biru merengut, kemudian mulai berkomat-kamit dengan gaya yang julid abis. "Jingin birzini, wihi sidiriki, iti disi bisir." Ia mengikuti perkataan Baskara, namun dengan cara yang menyebalkan. "Bacot!" susulnya, penuh dengan emosi.
"Astaghfirullah, kayaknya setan di badan lo udah kebanyakan deh, makanya udah nggak mempan nerima nasihat." Baskara masih mendalami peran sebagai orang alim, sementara Biru sudah mulai jengah dan hanya bisa menghela napas pasrah.
"Ayo, kita cari ustaz yang oke. Kita rukiah, ya, mumpung belum terlambat."
"Mending lo diem."
"Nah, setannya makin galak."
"Bas,"
"Bismi--"
"Demi Tuhan, Baskara, lo salah server!"
"Oh, salah, ya?" sambil garuk-garuk kepala, Baskara menyengir bodoh. "Kebanyakan temenan sama Seno, jadi ikutan sengklek otak gue." Dalihnya, menumbalkan Seno yang padahal tidak tahu apa-apa.
Biru memutar bola mata jengah, "Nggak usah nyalahin orang lain, emang lo aja yang agak lain." Omelnya.
Alih-alih kembali menyahut, Baskara lebih memilih untuk memeluk Sabiru lagi. Membiarkan lengannya tetap dijadikan bantal oleh gadis itu meski rasanya sudah mulai kebas.
"Besok mau sarapan apa?" tanyanya, sembari mengusap kepala Biru dengan sayang.
"Apa aja yang lo masak bakal gue makan dengan lahap." Dan di dalam pelukan kekasihnya, Biru mulai memejamkan mata. Kantuk memang belum datang, jam juga baru menunjukkan pukul 9 malam. Dia hanya sedang ingin meresapi aroma tubuh Baskara lebih dalam, memvisualisasikan wewangian itu ke dalam bentuk di dalam imajinasinya.
"Kalau gue masak kerikil rica-rica, lo juga bakal tetap makan dengan lahap?"
Buyar. Segala imajinasi yang sedang Biru bangun di kepalanya seketika bubar karena lagi-lagi Baskara tidak bisa serius. "Sekali lagi bercanda, biji lo yang gue jadiin rica-rica." Ancamnya.
"Serem amat, anjir." Baskara bergidik ngeri. Sekian tahun berlalu, ternyata ancaman yang Sabiru gunakan masih tidak berubah juga. Ia jadi menduga, jangan-jangan gadis ini memang memiliki jiwa psikopat yang tersembunyi di balik wajah bak malaikatnya.
"Mending shut up your lambe before I really membuat your biji menjadi rica-rica."
Perpaduan bahasa dalam satu kalimat yang Biru ucapkan membuat Baskara terkekeh geli. "Perpaduan yang aneh," komentarnya, menjadi yang terakhir karena setelah itu keduanya sama-sama terdiam.
Jarum jam yang bergerak lambat menimbulkan suara detak yang konsisten, menemani keterdiaman mereka yang jauh sekali dari kata sepi. Sebab baik Biru maupun Baskara tahu, mereka tetap berkomunikasi meski bibir mereka tak bergerak sama sekali.
Satu hari lagi terlewati, dan untungnya, terlewati dengan baik. Dan tentu saja, mereka juga masih melangitkan permintaan yang sama; semoga ke depannya, keadaan akan semakin membaik. Hingga mereka bisa pulang, ke tempat di mana mereka seharusnya berada. Mengakhiri pelarian yang melelahkan, melepaskan beban yang memberatkan.
Mereka ingin pulang, segera setelah semua badai ini sepenuhnya mereda.
Bersambung...