
Kerempongan yang terjadi kemarin tidak terulang kembali pagi ini. Walaupun semalam mereka juga menghabiskan waktu untuk cuddle dan sesekali melanjutkan kegiatan menyesap bibir satu sama lain, Biru dan Baskara tetap bisa bangun lebih awal. Mereka bahkan bisa bekerja sama menyiapkan sarapan, sesuatu yang jarang terjadi sebab kalau pagi mereka biasanya lebih senang membeli sarapan di luar. Lebih praktis, katanya.
“Udah matang belum sayurnya?” tanya Biru setelah meletakkan tasnya ke salah satu kursi di meja makan. Tadi dia sudah kebagian menanak nasi dan menggoreng telur, jadi giliran memasak sayur bayam dengan wortel dia serahkan kepada Baskara selagi dia berganti pakaian.
“Udah nih, bawangnya juga udah selesai gue goreng.” Tutur Baskara seraya meletakkan satu panci kecil sayur bayam panas bertabur bawang goreng ke atas meja makan.
Aroma bawang goreng yang gurih membuat semangat Biru untuk segera melahap hasil karya kekasihnya meningkat pesat. Piring yang sudah tersedia di depannya pun segera dia isi nasi, lalu dengan semangat yang menggebu-gebu dia hendak menyendok sayur, ketika pintu depan diketuk berkali-kali dan suara cempreng Lintang datang mengikuti.
“Yaelah, ganggu aja sih itu bocil kematian satu.” Gerutunya, namun dia tetap bangkit dan berjalan cepat menuju pintu depan.
Baskara tak berkomentar apa-apa, hanya lanjut saja menuangkan kuah sayur ke atas piringnya yang sudah terisi sedikit porsi nasi.
Tak lama kemudian, Biru kembali, bersama dengan Lintang yang senyumnya tidak pernah kalah cerah ketimbang sinar matahari pagi. Lintang datang membawa rantang, yang sudah pasti isinya adalah makanan.
“Dapat titipan dari Ibu.” Ujar anak itu, memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan tertata rapi.
“Ngerepotin terus, nih. Makasih, ya. Bilang sama Ibu nanti gantian Mas Abi sama Mbak Anin yang bawain sesuatu.” Kata Baskara.
“Kata Ibu ndak ngerepotin sama sekali, kok, Mas. Ibu malah senang kalau bisa sering-sering kasih sesuatu ke Mas Abi sama Mbak Anin.”
Oh. Biru menyahut di dalam hati. Ini momen langka, sebab biasanya Lintang hanya menyebut nama Mas Abi kecintaannya, dan melupakan eksistensi Anindia seutuhnya. Mungkin ini efek dari perdamaian mereka, atau Lintang hanya sedang berusaha untuk mengubah strategi pendekatannya terhadap Baskara.
“Loh!” Lintang tahu-tahu berseru, membuat Biru dan Baskara seketika terkejut.
“Kenapa, cah ayu?” tanya Baskara panik. Terlebih saat tatapan Lintang tak lepas dari Sabiru.
“Itu ... lehernya Mbak Anin kenapa? Kok merah begitu?” tunjuknya, tepat di area leher Sabiru yang terdapat kissmark hasil perbuatan Baskara semalam.
Mendengar itu, Biru mengembuskan napas pelan. Dia pikir kenapa, nggak tahunya cuma karena kissmark ini. Benar-benar, ya, si Lintang ini memang suka sekali over reaction.
“Cuma digigit semut.” Sahut Biru asal, lalu dia kembali duduk di kursinya setelah mengisyaratkan kepada Lintang agar turut duduk di sampingnya.
Masih dengan tatapan yang tertuju pada leher Sabiru, Lintang duduk dan meletakkan rantang ke atas meja makan. Semakin diperhatikan, tanda kemerahan di leher Sabiru membuat Lintang merinding sebadan-badan. Kalau tanda kemerahan itu memang disebabkan oleh gigitan semut, kira-kira semut jenis apa? Supaya dia bisa bilang ke Bapak dan Ibu untuk membasmi jenis semut itu dari rumahnya, agar dia tidak mengalami hal serupa seperti yang Sabiru alami sekarang.
“Semut apa yang gigitnya sampai kayak gitu, Mbak?” tanyanya polos.
“Semut rangrang.” Lagi-lagi Biru menjawab asal, tapi kali ini sambil melirik ke arah Baskara di mana lelaki itu malah terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala.
“Ihhhh ... kok seram banget, sih? Lintang jadi takut.”
“Nggak usah takut, semutnya cuma gigit orang tertentu aja, kok.” Kali ini, Baskara yang bersuara, sementara Biru sudah mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Perhatian Lintang lalu beralih ke arah Baskara. Masih sambil ngeri-ngeri sedap membayangkan lehernyalah yang menjadi sasaran si semut rangrang. Pasti sakit dan menyiksa.
“Perlu Lintang kasih tahu Bapak sama Ibu ndak? Biar disemprot pakai cairan anti serangga, gitu. Kasihan Mbak Anin kalau sampai digigit lagi.”
Sekali lagi, Biru dibuat terkejut karena Lintang menunjukkan kepedulian terhadap dirinya. Saking mengira bahwa ini hanyalah halusinasi, dia sampai nekat mencubit lengannya sendiri, dan berakhir dibuat meringis karena ini memang bukanlah mimpi.
“Nggak usah, cah ayu, makasih. Udah Mas Abi beresin, kok. Semutnya udah nggak ada lagi sekarang.”
“Yakin?”
“Iya, cah ayu.”
Cah ayu. Cah ayu. Cah ayu. Iyuhhhh, Biru sebenarnya muak sekali. Tapi ya bagaimana, dia harus menahan diri karena sudah kadung berjanji kepada Baskara untuk tidak lagi mengedepankan emosi saat sedang berhadapan dengan Lintang. Jadinya, Biru hanya bisa menarik napas dalam-dalam, lalu lanjut makan.
“Iya, cah ayu. Sekali lagi makasih, ya.”
“Sama-sama, Mas Abi.” Lintang merekahkan senyum.
Untuk beberapa lama, tak ada lagi obrolan di antara mereka. Baskara dan Sabiru melanjutkan makan, sedangkan Lintang menjadi penonton karena sebelumnya memang telah menolak untuk ikut sarapan bersama.
Sampai kemudian, Lintang kembali menjadi orang yang pertama buka suara.
“Oh, ya,” ucapnya mengawali. Biru dan Baskara serempak menoleh, menjeda kegiatan makan mereka yang sebentar lagi selesai. “Titipan Lintang yang kemarin udah dikasih ke Mbak Anin belum, Mas Abi?”
“Oh....” Baskara ber-oh panjang. Ia juga menyempatkan diri menenggak air minum, barulah mengangguk. “Udah Mas Abi kasih semalam.”
Mendengar itu, Lintang kegirangan. Ia lantas menoleh dengan semangat ke arah Sabiru, matanya yang bulat berbinar cerah. “Jadi gimana? Mbak Anin suka nggak sama hadiahnya?” tanya anak itu antusias.
Biru melirik lagi ke arah Baskara, lalu mengangguk patah-patah. “Iya, suka.” Ucapnya.
“Yes!” Lintang berseru semangat, bagaikan baru saja berhasil memenangkan sebuah perlombaan. “Nati kapan-kapan kita pakai barengan ya, Mbak Anin. Itu tasnya sengaja Lintang beli kembaran buat kita berdua.”
Agak cringe dan canggung, sebab Biru belum terbiasa dengan Lintang versi good girl. Namun, Biru tetap mengangguk seraya berusaha mengulaskan senyum. “Iya, nanti kita pakai barengan. Makasih, ya.”
“Sama-sama!” Lintang masih dengan semangatnya.
Baskara yang menjadi saksi dimulainya babak baru hubungan baik antara Sabiru dan Lintang pagi itu pun tak kuasa menahan senyum. Sudut-sudut bibirnya terangkat begitu tinggi, nyaris membuat matanya menghilang.
Satu hal baik lagi telah terjadi, dan semoga ini adalah pertanda bahwa hal-hal baik lain akan datang menyertai.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Kissmark. Sejak kali pertama melihat Biru pagi ini, Denis sudah dibuat salah fokus dengan adanya tanda kemerahan itu di leher gadis yang sedang berusaha dia dekati. Hati Denis ngilu, tetapi dia sadar dirinya tak memiliki hak untuk bertanya lebih lanjut karena itu memang bukan merupakan tanahnya.
Memang, selama ini Biru juga tidak pernah mengungkapkan statusnya. Apakah masih single, sudah punya pacar, atau malahan sudah menikah. Denis hanya menebak-nebak saja, berpikir rekan kerjanya itu masih lajang sebab sama sekali tak ada tanda-tanda ia memiliki kekasih.
Telepon di tengah jam istirahat, curi-curi waktu untuk berbalas pesan di jam kerja, pun dengan agenda nge-date sama sekali tidak pernah Biru ungkapkan. Sehingga selama tujuh bulan menjadi rekan kerja, Denis benar-benar memegang teguh pemikiran bahwa Biru masih belum berpemilik.
Kissmark itu kemudian menjadi alarm yang terasa berdering terlalu nyaring di telinga Denis. Membuatnya tersentak, seketika tersadar dari ilusi yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri. Biru jelas sudah memiliki pasangan, dan akan sangat kurang ajar jika dia masih meneruskan niat untuk mendekati gadis itu sekarang.
“Sore nanti sebelum balik, temenin gue bentar ke lantai atas, ya. Ada yang mau gue cek.” Celoteh Sabiru usai mendorong troli berisi buku-buku ke pojok ruangan seperti biasanya ketika dia selesai menyortir.
“Iya.” Hanya itu yang Denis bisa katakan, sebab pikirannya masih belum sepenuhnya jernih.
“Anyway, makan siang nanti gue nggak bisa sama lo, ya. Gue mau makan siang bareng abang gue.” Kata Biru, dan lagi-lagi Denis hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Sikap Denis yang tak biasa lambat laun terendus juga oleh Sabiru. Lalu saat sadar bahwa tatapan Deni sejak tadi tak beralih dari area lehernya, Biru baru menyadari bahwa kissmark yang ditinggalkan oleh Baskara telah berhasil sampai tepat sasaran.
“Nis?” Biru memanggil pelan, membuat Denis mengangkat kepala cepat sambil berdeham. “Kenapa?”
Agak gelagapan, Denis menggeleng pelan. “Enggak, bukan apa-apa. Ya udah, gue pindah ke rak sebelah dulu. Kalau butuh apa-apa teriak aja.” Pamit lelaki itu, lalu ngeloyor dengan langkah gontai menuju rak sebelah kanan.
Biru memandangi kepergian Denis dengan tatapan iba. Namun detik setelahnya, senyumnya terkembang begitu sempurna. Ide Baskara memang benar-benar brilian. Meskipun tak bisa secara langsung menunjukkan diri sebagai pemilik seorang Sabiru, lelaki itu nyatanya tetap berhasil membuat Denis mengerti bahwa Sabiru bukan gadis lajang yang bisa dia dekati.
“Emang nggak salah gue pacarin manusia yang namanya Baskara itu.” Gumamnya, lalu dia kembali bekerja dengan konsisi hati yang berbunga-bunga.
Bersambung