Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
On Purpose




Inhale, exhale. Inhale, exhale. Inhale, exhale.


Baskara sampai harus melakukan teknik pernapasan agar emosinya tidak meledak-ledak, berkobar seperti bara api yang tengah mengamuk—membumihanguskan apa saja yang ia temui di sepanjang perjalanan.


Hanya lima menit. Waktu yang relatif sebentar jika dibandingkan dengan kesediaannya untuk menunggu Sabiru yang rempong bersiap ini itu ketika mereka hendak pergi ke suatu tempat. Hanya lima menit. Bukan waktu yang menurut Baskara wajar untuk membuat Sabiru mencak-mencak apalagi sampai berniat untuk pulang bersama laki-laki lain.


"Saya manusia baik, saya sabar." Ucapnya kepada diri sendiri. Dia pikir, suaranya cukup pelan hingga hanya dia sendiri yang bisa mendengar. Nyatanya, ucapan itu sampai juga di telinga Seno dan satu lagi rekan kerja lain yang kebetulan sedang main ke meja Seno.


Mendengar gumaman dari seorang Abimanyu yang tidak pernah mengeluh sepanjang sejarah membuat Seno dan Jordy (rekan kerjanya) saling pandang, lantas sama-sama melemparkan tatapan keheranan ke arah Baskara.


"Sabar." Ucap Baskara lagi, membuat Seno dan Jordy semakin kebingungan.


Seno berniat untuk bertanya, namun Jordy dengan cepat mencegahnya sambil menggelengkan kepala. Dengan bibir yang berkomat-kamit tanpa suara, Jordy seakan berkata, "Jangan ganggu, Mas Abi lagi aneh." yang tentu saja membuat Seno tak lagi punya keberanian untuk mencoba. Terlebih lagi, seharin ini dia sudah menerima penolakan sebanyak dua kali dari lelaki itu.


Selagi Seno dan Jordy bergibah tanpa suara, Baskara sibuk sendiri dengan kegiatannya beres-beres tanpa tahu bahwa ia sedang menjadi topik utama dari kegiatan pergibahan yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Dengan gerakan serabutan, Baskara membereskan barang-barang miliknya, menjejalkannya ke dalam tas punggung sekenanya tanpa peduli apakah susunannya rapi atau tidak. Kemudian, dia menyambar leather jacket miliknya, menyampirkannya ke satu sisi bahu sementara tas punggung yang sudah penuh dia tenteng menggunakan satu tangan.


"Saya balik duluan, ya." Pamitnya.


Seno dan Jordy menjawab, "Iya, Mas." secara serempak, lantas mereja biarkan saja Baskara pergi meninggalkan ruang kerja masih dengan keheranan yang mereka bawa dalam keheningan.


Tiba di depan gedung perkantoran yang masih sepi karena rekan kerjanya yang lain masih sibuk beres-beres di ruangan masing-masing, Baskara menepuk jidatnya cukup keras tatkala menyadari ada sesuatu yang tertinggal di ruang kerjanya. Paper bag pemberian Lintang masih ada di bawah kolong meja kerja, teronggok bersama beberapa barang lain yang memang sengaja dia tinggalkan agar tidak repot membawanya pulang pergi.


Malas sekali sebenarnya untuk kembali, apalagi Sabiru yang cerewet masih saja terus mengiriminya pesan yang membuat ponselnya berdenting nyaring berkali-kali. Namun, ia tidak bisa untuk membiarkan pemberian Lintang tertinggal begitu saja di sana, ia tidak sampai hati. Maka sambil menggerutu, Baskara berlarian kembali ke ruang kerjanya.


Ayunan langkah yang yang menggula turut membuat napas Baskara ngos-ngosan. Ketika ia tiba di depan pintu ruangan pun, Seno dan Jordy yabg masih tengah bersiap-siap untuk pulang di meja kerja masing-masing juga kembali menatapnya bingung.


"Kenapa Mas Abi? Ada yang ketinggalan?" tanya Seno basa-basi.


Baskara berusaha mengatur napasnya terlebih dahulu, barulah menjawab dengan anggukan kepala sambil berjalan menuju meja kerja.


"Punya Anin." Ucap Baskara setelah mendapatkan paper bag dari kolong meja.


Seno dan Jordy ber-oh ria, manggut-manggut seperti baru saja menerima informasi yang berguna. Padahal, tidak sama sekali. Itu malah terkesan TMI dan bukan tipikal Mas Abi yang mereka kenal sama sekali.


"Ya udah, saya duluan. Kalian juga buruan balik, keburu ramai nanti jalanan." Usai berkata demikian, Baskara bergegas. Tunggang-langgang meninggalkan ruang kerja hingga nyaris membuat sebelah sandal jepitnya terlepas.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Sementara itu, di perempatan tempat ia dan Baskara janjian untuk bertemu, tanpa tahu bahwa kekasihnya sedang kalang kabut agar bisa tiba tepat waktu dan tidak semakin membuatnya mengoceh, Biru malah berdiri santai sambil mengenyot es mambo rasa anggur pemberian Denis sebelum lelaki itu pamit pulang duluan.


Ngilu yang terasa di gigi kala bongkahan es mambo ia gigit dengan brutal membuat Biru meringis sesekali. Kemudian dingin yang menyebar ke seluruh bagian di dalam mulut menemaninya menikmati bagaimana bubble chat yang masih terus dia kirimkan ke ponsel Baskara berubah menjadi centang dua abu-abu dengan cepat.


"Oh, there you are." Gumamnya tatkala matanya menemukan Vero melaju dari kejauhan. Kecepatannya yang di atas rata-rata membawa motor matic yang body-nya lebih kinclong daripada deretan gigi emas milik Pak Prapto (manajer di tempat Biru bekerja) tiba di depan Biru secepat angin yang berembus menerbangkan anak-anak rambut yang keluar dari cepolan asal. Lalu sama cepatnya dengan kedatangan Vero, sebuah helm berwarna biru muda pun tersodor ke hadapannya.


Bukannya cepat-cepat meraih helm tersebut, sebab sejak tadi dia sudah mengeluh kepanasan, Biru malah membiarkan Baskara memegang benda tersebut cukup lama, hanya agar dia bisa menghabiskan sisa bongkahan es mambo yang telah membuat telapak tangannya merah sempurna.


"Bajingan." Baskara mendesis, matanya melirik antagonis.


Namun seperti tuli, Biru membiarkan umpatan itu lewat begitu saja. Masuk ke telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Benar-benar akhlakless.


Jika bukan karena dia telah berjanji untuk menjadi manusia sabar dan tawakal, Baskara mungkin sudah melompat turun dari atas Vero, mengangkat paksa tubuh Biru lantas mendudukkannya di jok belakang kemudian memakaikan helm yang saat dia dia pegang tanpa peduli reaksi apa yang akan Biru tunjukkan. Dan karena dia sudah berjanji, serta janji adalah hutang yang harus dibayar, Baskara pun hanya bisa dengan sabar menunggu sampai Biru selesai dengan es mambo sialan itu.


Diam-diam, Sabiru mengulum senyum saat dia melahap bongkahan terakhir es mambo miliknya. Sedikit puas karena akhirnya bisa melihat kecemburuan Baskara timbul lagi seperti dulu. Katakanlah dia aneh, tetapi baginya memang lebih baik melihat Baskara yang cemburuan dan gemar berbicara kasar ketimbang harus melihat lelaki itu legowo menerima semua yang terjadi dalam hidupnya karena terlalu dikungkung rasa bersalah.


"Let's go, Baby." Seperti tak berdosa, Biru meraih helm miliknya, mengenakannya sambil merelakan senyum lalu naik ke atas Vero dengan bertumpu pada kedua bahu kekasihnya. Tak sampai di situ saja, dia juga dengan sengaja melingkarkan kedua lengannya begitu erat di perut Baskara, menyandarkan kepala di punggung lelaki itu yang membuat sang empunya kehilangan kata-kata.


"Gue nggak akan maafin lo cuma karena lo peluk-peluk gue kayak gini." Kata Baskara, lalu ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tas punggung dan paper bag yang menghuni bagian depan membuat kedua kakinya harus terbuka lumayan lebar, dan kepala Sabiru yang menempel di punggungnya membuat lengan Baskara harus mengeluarkan kekuatan ekstra untuk menahan beban lebih banyak.


Dari posisinya duduk yang nyaman, Biru masih tersenyum. "Gue nggak merasa habis bikin salah, tuh?" pancingnya, sengaja supaya Baskara semakin mencak-mencak.


Benar saja, terdengar suara decakan yang bahkan lebih nyaring ketimbang suara kenalpot motor butut yang barusan menyalip mereka berdua.


Kalau orang-orang kebanyakan menginginkan kedamaian dalam sebuah hubungan, saat ini Biru benar-benar ingin mereka mulai bertengkar kecil untuk masalah-masalah cemburu seperti sekarang ini.


"Makin lama dibiarin lo makin bandel, ya. Lihat aja nanti pas kita sampai di rumah, bakal gue kasih hukuman yang setimpal." Ancam Baskara, dan Biru malah tergelak dibuatnya.


"Mau dong, dihukum." Godanya. Bukan hanya menggunakan lisan, ia juga iseng sekali menggerakkan jemari nakalnya untuk mencubit kecil perut Baskara, berujung membuat kekasihnya menggeliat seperti cacing kepanasan.


Perjalanan mereka di sore yang terik itu hanya dipenuhi dengan umpatan yang keluar secara beruntun dari bibir Baskara, juga gelak tawa Sabiru yang mengudara sampai menembus lapisan awan keemasan di atas mereka.


Bersambung