
Sedari pagi, Biru sudah sibuk di dapur, berkutat dengan adonan kue kering demi memenuhi keinginan Baskara yang tiba-tiba ngidam makan cookies buatan sendiri. Entah ada angin apa, Biru pun tidak tahu. Sebab selama ini yang dia tahu Baskara tidak terlalu suka dengan makanan manis.
“Dengerin gue,” ucap Biru seraya meletakkan keping cookies terakhir di atas loyang, menyusul kepingan lain untuk siap dimasukkan ke dalam oven. “Bikin ini semua susah, jadi kalau sampai lo nggak habisin, gue bakal potong lidah lo biar lo nggak bisa lagi nikmatin makanan enak.”
“Pasti gue habisin, tenang aja.” Baskara menjawab dengan percaya diri, bahkan ketika dia belum tahu apakah cookies bikinan Biru layak dimakan atau tidak. Bukan apa-apa, tapi terakhir kali gadis itu mencoba membuat kue kering, rasanya sungguh tidak keruan.
Biru berdecak malas, lantas memasukkan loyang penuh kepingan cookies mentah ke dalam oven. Ia menyetel suhu dan waktu pemanggangan sesuai dengan instruksi yang didapat dari internet. Kemudian, selagi menunggu cookiesnya selesai dipanggang, gadis itu bergerak membereskan wadah kotor, membawanya ke wastafel untuk dicuci.
“Biar gue aja.” Serobot Baskara seraya merebut wadah-wadah kotor dari tangan Biru. Lelaki itu tampak bersemangat saat berjalan menuju wastafel. Bahkan, Biru bisa mendengar suara senandung riang lolos dari bibirnya.
“Kalau rajin gini biasanya suka ada maunya.” Biru menyindir, lantas membuntut di belakang Baskara untuk memastikan lelaki itu mencuci wadah kotor dengan benar.
Sementara itu, Baskara hanya terkekeh menanggapi tuduhan yang dilayangkan oleh sang kekasih. Suasana hatinya sedang baik sehingga dia tidak berniat untuk memulai perdebatan apa pun dengan Biru walaupun konteksnya hanya bercanda.
“Bas,” panggil Biru seraya berjalan mendekat. Gadis berkaus abu-abu itu berhenti persis di sebelah Baskara, menyandarkan pinggangnya ke pinggir area wastafel dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. “Menurut lo, kapan gue kelihatan paling cantik?”
“Tiba-tiba?” Baskara menoleh dengan sebelah alis yang terangkat. Wadah kotor sudah berhasil dia cuci, sudah pula dia taruh di rak untuk dikeringkan sebelum masuk ke lemari penyimpanan.
“Penasaran aja.” Sahut Biru seraya mengendikkan bahu. “Kalau diingat-ingat, kayaknya lo hampir nggak pernah muji gue cantik soalnya.”
Untuk beberapa lama, yang Baskara lakukan hanya diam seraya memperhatikan wajah kekasihnya dengan saksama. Titik demi titik ia susuri, ia teliti untuk menemukan cacat yang sejak awal ia yakini tidak pernah ada di sana.
Kemudian, dengan senyum hangat yang terbit secara perlahan, Baskara mendekat, memangkas jarak hingga mereka bisa saling merasakan embusan napas masing-masing.
“Lo selalu cantik,” ucapnya, persis di depan wajah Biru dengan posisi hidung mereka yang hampir bersentuhan. “Tapi kalau disuruh milih momen di mana lo kelihatan paling cantik di mata gue, itu adalah sewaktu gue bisa natap lo dari jarak sedekat ini. Sewaktu gue bisa ngerasain embusan napas lo di wajah gue. Sewaktu gue bisa nyium aroma sabun dari lekuk leher lo yang terbuka.” Sambungnya.
“Fxck!” Biru terkesiap saat Baskara tahu-tahu mengumpat di depan wajahnya. Dia kira, ada sesuatu hal yang salah pada dirinya sehingga membuat Baskara melakukan hal tersebut.
“Apa, sih? Kenapa tiba-tiba—“
“Ssssttt...” potong Baskara. Jari telunjuk tangan kanannya maju, menyegel bibir Biru agar berhenti berbicara.
Bulu-bulu halus di sekitar area leher Biru seketika meremang, terlebih saat jari telunjuk Baskara bergerak turun, menyusui garis pipinya hingga bermuara pada ceruk lehernya yang terbuka.
“Fxck it, I want to kiss you so bad.” Gumam lelaki itu, dan Biru tidak punya waktu untuk menyahut karena bibir yang barusan mengumpat itu sudah lebih dulu menginvasi bibirnya.
Gerakan-gerakan pelan dibuat. Isapan-isapan kecil bermuara pada belah bibir bawah Biru yang polos tanpa pulasan lipstik. Suara decapan menyusul kemudian, ketika isapan-isapan lembut tadi mulai berubah menjadi lebih intens dan menuntut.
Detik demi detik berlalu, tautan mereka semakin memanas. Biru tanpa ragu menyambut lidah Baskara masuk ke dalam mulutnya, mengabsen satu persatu bagian di dalam sana tanpa ada yang terlewat.
“Lo cantik, selalu cantik.” Bisik Baskara di sela tautan mereka yang terlepas untuk mengambil napas. Netranya tak lepas dari wajah kemerahan sang kekasih, seakan hendak memberikan bukti konkret bahwa apa yang dia ucapkan bukan hanya bualan semata.
Biru tidak berkomentar apa-apa, ia terlalu sibuk mengambil napas sebanyak-banyaknya karena dia tahu kegiatan mereka pagi ini tidak akan selesai dengan cepat. Setidaknya, dia harus menyimpan banyak oksigen agar tidak mati kehabisan napas.
Bibir-bibir mereka kembali bertemu. Ribuan kupu-kupu mekar secara bersamaan di dalam perut mereka, menimbulkan sensasi aneh yang terlalu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti mereka baru melakukannya untuk pertama kali, dan akan mulai melakukannya lebih sering lagi.
“I swear I’ll kill myself kalau gue berani lepasin lo sekali lagi, Bi.” Baskara mengusap bibir Biru yang basah dan sedikit bengkak.
“And I swear I’ll kill you if you dare to do that.” Sahut Biru, lalu kembali ia raup bibir kekasihnya dengan rakus. Tidak ada lagi yang namanya sabar. Bahkan jika hari ini ia harus kehilangan yang lebih, dia akan merelakannya, asal orangnya adalah Baskara.
...****************...
Dengan langkah yang melambung-lambung, Lintang membawa dirinya menyusuri pelataran rumah kontrakan Mas Abi tercinta. Dua kantong belanja berisi buah-buahan dan beberapa jenis camilan dia bawa sebagai persembahan, hitung-hitung tanda terima kasih karena sang empunya rumah telah menyambutnya dengan begitu hangat kemarin malam.
Sepanjang sejarah hidupnya, ini mungkin akan menjadi hari Minggu terbaik. Hari Minggu paling spesial yang akan dia habiskan dengan orang-orang yang dia sayang. Dari rumah, ia sudah menyiapkan daftar hal-hal apa saja yang akan dia lakukan bersama Mas Abi dan Mbak Anin kesayangannya. Oh, sudah terbayang betapa menyenangkannya untuk mengulang kembali interaksi hangat bersama mereka nanti.
Langkah Lintang terhenti di depan pintu rumah kontrakan. Sedikit heran dia ketika mendapati kondisi pintu itu dalam keadaan setengah terbuka. Namun, dengan mengenyahkan keheranan teraneh, Lintang kembali mengayunkan langkah. Ia masuki rumah kontrakan yang tak seberapa besar itu, masih dengan perasaan senang luar biasa dan senyum yang terkembang lebar sampai ke telinga.
“M—“ baru saja bibirnya hendak terbuka untuk memanggil nama sang empunya rumah, Lintang mengurungkan niat.
Dari arah dapur, terdengar suara senda gurau yang meriah. Lalu muncullah ide di dalam kepalanya untuk mengejutkan kakak-kakak kesayangan itu dengan kehadirannya yang tak terduga.
“Seru banget sih kayaknya.” Gumam gadis itu, sembari berjalan menuju dapur dengan langkah yang mengendap-endap.
Semakin dekat dengan dapur, suara Biru dan Baskara semakin jelas terdengar. Namun, alih-alih suara tawa menyenangkan seperti sebelumnya, Lintang malah mendengar suara decapan yang diselingi dengan lenguhan-lenguhan halus.
Dengan begitu saja, ayunan langkah Lintang menjadi melambat. Senyumnya perlahan-lahan luntur dan kepalanya mulai sibuk menerka-nerka. Tidak mungkin Mas Abi dan Mbak Anin melakukan yang aneh-aneh karena mereka adalah sepasang kakak adik kandung. Maka yang bisa Lintang pikirkan hanyalah kemungkinan bahwa yang sedari tadi dia dengar sedang bergurau di dapur itu adalah Mbak Anin dengan laki-laki lain yang tidak dia kenal, atau justru Mas Abi dengan... kekasihnya?
Lintang ingin putar balik, merasa tidak enak karena telah mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar meski itu terjadi secara tidak sengaja. Namun, ketika dia mendengar suara Mas Abi kecintaannya mengudara, menyebutkan satu nama asing yang baru Lintang dengan untuk pertama kali, entah kenapa gadis itu menjadi terdorong untuk melanjutkan langkahnya.
Sambil menggigit bibir dengan perasaan yang tidak keruan, Lintang memberanikan diri mengintip dari tembok pembatas. Dan seketika itu juga, Lintang merasa bumi tempatnya berpijak berputar sangat hebat, bagai baru saja diterpa gempa bumi yang begitu dahsyat.
Alih-alih menemukan Mas Abi bersama gadis asing yang tidak dia kenal, Lintang malah melihat lelaki itu bersama dengan Mbak Anin. Dan, iya, keduanya sedang bercumbu. Bibir-bibir mereka saling bertemu, mencecap dengan rakus seolah tidak ada hari esok untuk meluapkan segala perasaan yang mereka punya.
Lintang syok. Kepalanya tiba-tiba terasa kosong dan dia terlalu tidak tahu bagaimana harus memberikan respons untuk pemandangan tidak masuk akal di depan matanya.
Kacaunya pikiran Lintang membuat genggamannya pada dua kantong belanja melemah hingga akhirnya benar-benar terlepas. Buah-buahan segar menggelinding dari dalam kantong, pun dengan beberapa kaleng soda dari kantong lain yang jatuh bergelimpangan menimbulkan suara berisik.
Sontak, hal tersebut membuat dua orang yang masih asyik bercumbu itu menarik diri. Sama-sama terlihat gelagapan ketika menemukan kehadiran Lintang yang berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang terlalu sulit untuk diterka.
“Mas Abi....” Lintang melirih. Tiba-tiba saja, dadanya terasa sesak. “Mas Abi sama Mbak Anin ngapain?” atau mungkin sebaiknya, Lintang tidak pernah bertanya demikian.
Bersambung....