Dum Spiro, Spero

Dum Spiro, Spero
I Love You



Cerahnya matahari yang masih bersinar terang meski sebagian tubuhnya telah rebah nyatanya masih kalah cerah dengan senyum yang terbit di wajah Sabiru. Sejak dari tempat kerja hingga mereka kini sudah tiba di pekarangan rumah, senyum tersebut masih tak luntur. Hal itu jelas membuat Baskara kebingungan, membuatnya berasumsi apakah jangan-jangan kekasihnya itu habis ketempelan jin penunggu perempatan di mana mereka janjian untuk ketemuan sebelum pulang.


“Lo ada kenalan ustaz yang sakti mandraguna, nggak?” tanya Baskara usai ia pastikan Vero terparkir rapi di tempatnya.


Yang ditanya sedang memasukkan kunci ke dalam slot di pintu, sehingga pertanyaan tersebut tak langsung mendapatkan jawaban. Ketika pintu berhasil dibuka, barulah Biru menoleh seraya balik bertanya, “Buat apa?” masih dengan senyum semringah yang membuat Baskara semakin merinding.


“Rukiah.”


“Rukiah?” kening Biru berkerut, senyumnya pun luntur.


Baskara mengangguk mantap, netranya tak lepas menatap wajah kekasihnya sambil menelisik kalau-kalau betulan ada jin iseng yang menempel ke tubuhnya. “Lo kayaknya ketempelan jin penunggu di perempatan.” Ujarnya kemudian.


Normalnya, respons yang Biru tunjukkan adalah melotot, mencak-mencak, atau bahkan sampai memukuli tubuh Baskara hingga habis babak belur. Namun apa yang Baskara dapatkan selanjutnya justru membuatnya semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Alih-alih segala respons negatif, Biru malah kembali tersenyum, tangannya pun terulur, hendak meraih lengan Baskara yang nganggur.


Merinding. Baskara memilih untuk menarik diri cepat-cepat. Kaburlah ia ke dalam rumah, meninggalkan Sabiru di ambang pintu dengan kebingungannya sendiri.


“Si Lintang tahu kali, ya, di mana nyari ustaz yang manjur.” Monolog Baskara di dalam langkahnya menyusuri ruang tamu yang tak berapa luas. Opsi itu lantas benar-benar dia eksekusi. Dibukanya room chat dengan Lintang, lalu dia mengetik beberapa kata untuk dikirimkan.


Namun, belum sempat ia menekan tombol kirim, Baskara kembali dibuat jantungan ketika tiba-tiba saja sepasang lengan melingkar posesif di perutnya. Tak hanya itu, Baskara juga dengan jelas merasakan sebuah kepala bersandar nyaman di punggungnya, menumpukan beban tubuh dua orang hanya pada dirinya.


“What are you doing?” tanyanya, berusaha melepaskan lengan Sabiru, namun gagal karena sang empunya telah menyegel jemarinya agar tertaut erat.


“Hug you tightly.”


“Ya I know, tapi maksudnya tuh kenapa? Nggak biasanya lo kayak gini?”


Perlahan, Baskara merasakan pelukan Biru melonggar. Ia menggunakan momen itu untuk melepaskan diri, hanya agar ia bisa berbalik demi menghadapi kekasihnya secara langsung.


Namun sekali lagi, belum sempat ia melakukan apa pun, Biru sudah kembali merapatkan tubuh, memeluknya tak kalah erat dari depan.


“Nggak ada alasan khusus, gue cuma lagi pengin meluk lo aja, sepuas gue.”


Mendengar itu, tak ada satu pun kalimat yang kemudian bisa Baskara ucapkan lagi. Dia memutuskan untuk berhenti bicara, lalu perlahan-lahan membalas pelukan Biru meski tidak terlalu erat. Ia hanya tidak ingin kekasihnya kehabisan napas. Ia hanya tidak ingin rengkuhannya pada tubuh Sabiru justru membuat gadis itu kesulitan.


“I love you so much.” Tiba-tiba saja, pengakuan cinta itu keluar dengan lancar dari bibir Sabiru. Tapi masalahnya, ia bukan tipikal yang seperti itu. Baskara tahu kekasihnya memiliki gengsi yang setinggi langit. Mendengar pengakuan cinta datang tanpa hambatan hanya membuatnya semakin bertanya-tanya perihal apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu.


Sementara bagi Biru, tak dibalasnya ungkapan cinta yang dia katakan dengan susah payah membuatnya menjadi resah. Secepat kilat, ia menarik diri dari pelukan Baskara. Hanya untuk menyuguhkan tatapan menghakimi yang sayangnya tak dimengerti dengan baik oleh sang lawan bicara.


“Kenapa nggak dibalas? Lo udah nggak cinta lagi sama gue?” tuduhnya.


Datangnya tuduhan itu jelas membuat Baskara melongo, tetapi dia masih memiliki sedikit kekuatan untuk menyahut, “Love you too.”


Dia pikir, itu sudah cukup. Dan seharusnya, memang sudah. Apa lagi yang dibutuhkan jika jawaban atas pernyataan cintanya telah diberikan? Tapi sepertinya, kondisi Biru memang sedang tidak baik-baik saja, sehingga gadis itu malah semakin memicingkan mata.


“Who? Who loves me?”


“Me.” Baskara menyentuh dadanya sendiri.


“Say it properly, then.” Pintanya.


“I love you too, Eleena Sabiru. I love you, to the moon and back. I love you, more than I love all the beer in this world. I love you, yesterday, today, tomorrow, forever. I love you don’t ask me about this again. I—“


“Oke.” Biru memotong cepat. Lalu, dia kembali masuk ke dalam pelukan Baskara. “I just want you to know that I love you, more than you’ll ever wonder.”


Meski kebingungan, meski masih tidak mengerti mengapa Biru tiba-tiba bersikap manis terhadap dirinya bahkan dengan terang-terangan mengungkapkan cinta, Baskara tetap menyambut tubuh kecil itu untuk dia dekap erat-erat. Mungkin saja Biru hanya sedang kelelahan. Mungkin saja, apa yang telah mereka lewati sejauh ini membuat gadis itu akhirnya sampai pada titik di mana ia mulai terseok-seok, kepayahan untuk tetap bertahan sambil berusaha kerasa agar mereka tidak kehilangan diri mereka sendiri.


Bersambung