
Pagi-pagi sekali, kegaduhan sudah terjadi. Pintu rumah kontrakan digedor berkali-kali, disusul suara teriakan yang berasal dari suara cempreng seseorang yang dengan membayangkan wajahnya saja sudah membuat Biru kesal bukan main.
Kumala Lintang. Si ulat bulu kesayangan Baskara itu mengganggu pagi Biru yang sudah kacau balau karena nyaris tidak tidur semalaman demi bisa menenangkan Baskara yang kembali mengalami gangguan pasca-trauma. Kepalanya pening, dan suara cempreng Lintang berhasil membuat kondisinya menjadi semakin parah.
"Berisik!" Biru memekik persis di depan wajah Lintang ketika pintu berhasil dia buka. Tapi bukannya merasa bersalah, cewek itu malah menyelonong masuk ke dalam rumah seperti tidak pernah diajari sopan santun oleh kedua orang tuanya.
"Lo mau ngapain?!" Biru memekik sampai membuat otot di sekitar lehernya bermunculan. Sungguh, dia ingin sekali mengigit Lintang, mencabik-cabik tubuhnya menggunakan gigi taring yang dia miliki hingga gadis yang kini mengikat rambutnya hanya setengah itu berubah menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti.
"Mbak Anin bisa ndak jangan marah-marah? Ini masih pagi, malu didengar tetangga."
Oho! Dengar apa yang barusan Lintang katakan? Gadis menyebalkan itu baru saja bersikap seolah-olah kedatangannya juga bukan merupakan sebuah gangguan.
"Lo yang mulai!" Biru masih betah menggunakan nada tinggi.
"Lintang ndak ngapa-ngapain, tuh? Orang Lintang ke sini cuma buat nganterin rantang isi makanan ini buat Mas Abi, disuruh sama Ibu." Ujar Lintang seraya mengangkat rantang makanan yang dia bawa hingga sejajar dengan wajahnya yang menyebalkan. "Mbak Anin aja yang terlalu heboh menanggapi. Padahal Lintang mah biasa-biasa aja."
Sabar. Sabar. Sabar. Biru membisikkan itu kepada dirinya sendiri. Kalau saja ulat bulu ini bukan merupakan anak dari pemilik rumah kontrakan yang dia dan Baskara tinggali, Biru mungkin sudah merencanakan pembunuhan terhadapnya. Memastikan jasadnya dibuang ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan bisa menemukannya.
"Makasih sebelumnya, tap gue sama Abi--"
"Wah, ada Lintang."
Sialan. Biru mengumpat. Kekasih yang berusaha dia tenangkan semalaman kini muncul dari balik pintu kamar, menyuguhkan senyum manis madu ke arah ulat bulu menyebalkan yang tentu saja membuat si ulat bulu itu kegirangan.
Dalam sekejap, eksistensi Biru sudah tidak lagi dianggap. Lintang berlarian menghampiri Baskara, seenak jidat menggamit lengan lelaki itu sambil berceloteh riang membanggakan rantang berisi makanan yang dia bawa--mengatakan bahwa itu adalah hasil masakannya sendiri. Cih! Biru tidak percaya. Dari tampangnya saja, modelan anak seperti Lintang ini bisa dipastikan hanya tahu makan saja, tidak bisa masak apa-apa!
"Oh, ya? Wah, makasih, ya. Jadi ngerepotin."
"Ndak ngerepotin kok, Lintang malah senang kalau bisa sering-sering masak buat Mas Abi."
"Mas Abi sih senang-senang aja, tapi tetap jangan sering-sering, ya."
"Kalau sesekali berarti ndak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa kalau cuma sesekali."
"Yeay! Ya udah, nanti Lintang sesekali masakin buat Mas Abi lagi, ya."
"Boleh, cah ayu."
Bilih, cih iyi. Biru mengikuti cara bicara Baskara dengan nada mengejek. Tetapi, dia hanya mengatakan itu di dalam hati.
Menyaksikan pemandangan menyebalkan itu terlalu lama membuat Biru menjadi muak. Jadi, daripada dia harus menguras energinya untuk hal-hal seperti ini, lebih baik dia kembali ke kamar. Ini hari Sabtu, masih jam 7 pagi. Dia libur, dan berhubung semalaman belum tidur, dia akan menggunakan waktunya untuk balas dendam. Biru akan tidur seharian. Masa bodoh dengan Baskara, toh kelihatannya kondisi kekasihnya itu juga sudah baik-baik saja sekarang.
"I wish your kepala ketiban kelapa muda nanti pas lo lagi jalan pulang, biar lo lupa ingatan dan nggak bisa lagi gangguin cowok orang!" setelah menutup rapat pintu kamarnya, Biru melayangkan sumpah serapah. Walaupun kedengaran agak mustahil, dia tetap berhatap doanya akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebab semakin lama, Lintang memang semakin menyebalkan.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Mas Abi hari ini libur, kan?” usai menata makanan yang dia bawa ke atas piring, Lintang kembali nemplok ke lengan Baskara yang berdiri di sisi meja makan.
“Iya, Mas Abi libur. Kenapa?” tanya Baskara. Dia sebenarnya risi karena Lintang terus saja bergerak, membuat dua aset berharga milik gadis itu berkali-kali bersenggolan dengan lengannya.
“Jalan, yuk? Hari ini ada film horor yang baru tayang, Lintang mau nonton sama Mas Abi. Yuk?” Lintang mengajak dengan antusiasme yang tinggi.
“Aduh, maaf, cah ayu, hari ini Mas Abi nggak bisa.” Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak menyinggung perasaan Lintang, Baskara berusaha melepaskan lengannya dari jeratan gadis itu.
Menanggapi itu, Baskara menggeleng pelan. “Mas Abi hari ini mau anterin Mbak Anin ke klinik. Kamu lihat, kan, muka Mbak Anin pucat tadi? Itu karena Mbak Anin lagi sakit.”
Seketika, Lintang berhenti menunjukkan raut murung. Dia coba ingat-ingat lagi wajah Anindia ketika mereka mengobrol tadi. Soalnya, dia tadi tidak terlalu memperhatikan karena yang ada di kepalanya cuma Mas Abi seorang.
“Iya, sih, emang pucat.” Gumamnya setelah sadar bahwa wajah Anindia memang pucat. Kantung matanya juga terlihat tebal dan kehitaman, mungkin efek dari sakit yang sedang dirasakan.
“Nah, makanya itu, mumpung lagi sama-sama libur kerja, Mas Abi mau bawa Mbak Anin ke klinik biar cepat dapat obat.”
“Mau Lintang antar? Lintang ke sini nyetir mobil sendiri tadi.”
“Nggak usah, Mas Abi naik motor aja.” Baskara menolak dengan sopan.
“Yo wis kalau emang ndak mau, tapi kalau Mas Abi butuh apa-apa, jangan ragu buat minta bantuan sama Lintang, ya? Apa pun itu, Lintang pasti akan usahain buat bantu.”
“Iya. Makasih, ya, cah ayu.” Ucap Baskara tulus. Terlepas dari sikapnya yang kadang memang over dan cenderung annoying, Lintang adalah gadis baik. Bantuan demi bantuan yang gadis itu berikan kepadanya dan Biru bukanlah sesuatu yang bisa dia lupakan begitu saja.
“Sama-sama, Mas Abi. Yo wis, kalau gitu, Lintang pulang dulu deh, biar Mbak Anin bisa istirahat.” Tutur Lintang. Ngeselin-ngeselin begitu, anak itu sebenarnya memang cukup pengertian kok. Hanya Sabiru saja yang tidak mengerti bagaimana menghandle, karena sudah kadung emosi duluan.
“Iyo, cah ayu. Mas Abi nggak antar sampai depan, ya, mau cek kondisinya Mbak Anin.”
“Ndak masalah. Titip salam buat Mbak Anin, semoga lekas sembuh.” Lintang kemudian membereskan rantang yang dia bawa, mendekapnya erat seperti anak-anaknya yang berharga.
Setelah memastikan Lintang pergi bersama mobilnya, Baskara buru-buru melesat ke kamar Biru. Dia ketuk-ketuk pintu kamar kekasihnya itu, namun tak kunjung juga mendapatkan sahutan. Akhirnya, dia nekat membuka pintu kamar Biru sendiri—untungnya tidak dikunci.
Dilihatnya Biru sedang berbaring dengan posisi membelakangi pintu. Perlahan, Baskara berjalan mendekat.
“Yang?” panggilnya.
Tidak ada sahutan.
Dia mencoba lagi, kali ini sambil menyentuh lengan Sabiru. “Yang?”
Masih tidak kunjung ada jawaban.
Geregetan, Baskara akhirnya nekat membalikkan badan kekasihnya. Dan....
“ANJING!” Dia refleks mengumpat karena Biru melotot ke arahnya, seperti sedang kesurupan. “Yang! Nggak lucu, ah!” protesnya.
“Lo yang nggak lucu!” Biru balik mengomel. “Cah ayu, cah ayu. Sana! Lo urusan aja cah ayu kesayangan lo itu!”
“Nggak ada, dia udah gue suruh pulang.” Setelah menormalkan lagi detak jantungnya, Baskara kembali mendekat.
“Kenapa lo suruh pulang? Bukannya lo senang ada dia di sini, hah? Buktinya langsung sumringah tuh muka lo! Padahal gue yang semalaman meluk lo biar lo bisa tidur dengan tenang! Padahal gue udah bela-belain nggak tidur buat jagain lo! Tapi lo luluhnya malah sama si ulat bulu itu!" Biru sewot sesewot-sewotnya manusia yang sedang sewot. Wajahnya merah padam menahan amarah, dadanya naik turun seirama aliran napas yang berantakan.
“Cuz I’m gonna kiss you, sampai mampus.” Sekonyong-konyong Baskara naik ke atas kasur, langsung mengungkung tubuh kecil Sabiru dengan kedua lengannya yang sudah tidak segemuk dulu. Mata Biru yang menatap tajam bukan sesuatu yang akan membuatnya mundur, tidak sama sekali.
“Siapa bilang gue—“
“You want it too. Udah lama kita nggak ciuman karena kondisi gue yang sering down tiba-tiba.” Sela Baskara, kedengaran frontal. Lalu tanpa membuang waktu, ia bergerak mendekat, menyapa bibir kekasihnya yang sudah lama tidak dia sentuh dengan kecupan-kecupan ringan.
“If today I lose control, please forgive me. Cuz you lips really driving me crazy.” Itu menjadi yang terakhir, karena setelah itu, tak ada lagi kata yang terucap sebab gerakan bibir mereka telah mewakili semuanya.
Bersambung