
Malam itu Ryujin benar dibawa pergi oleh Heeseung, bukan tempat yang baik tadi dijalanan itu banyak sekali yang datang dan bertanding malam. Ya balap motor liar.
Heeseung bercerita tentang nya bahwa ia bukanlah pelajar baik seperti kebanyakan anak di sekolah. Nyatanya dia seorang anak brandalan jika diluar sekolah, atau jika lebih jelasnya dia adalah seorang gengster didaerah itu bukan hanya dia, Taehyun, Jungwon bahkan Yuna adalah anak-anak yang bergabung dengannya.
Entah bagaimana bisa ia membocorkan semua itu padanya, Ryujin hanya sekedar tahu dan tak mau ikut campur.
Kini Ryujin baru sampai di mansion nya, masuk dengan mengendap endap. Baru saja akan naik tangga menuju kamarnya, ruangan yang gelap tadi seketika terang dan pelakunya adalah Jackson.
Ryujin mengumpat dalam hati, ia ketahuan. Berusaha bersikap normal Ryujin akhirnya membuka suara karna sedari tadi Jackson hanya menatapnya dari jauh.
"Ayah belum tidur?".
"Kau lihat jam itu?". Bukannya menjawab Jackson bertanya balik sambil menunjuk jam dinding besar di dinding atas sana. "Dari mana saja kamu?". Benar-benar bukan nada suara yang bersahabat.
"Aku hanya berjalan-jalan dan mampir di minimarket, ayah". Jawab Ryujin jujur tapi juga tidak.
"Setidaknya bawa Kai bersamamu, bahkan Kai saja tidak tau kau kemana. Dimana ponsel mu?".
Ryujin menunduk, ia ingat tadi sempat melempar ponselnya ke sungai agar Kai tak bisa melacaknya nanti. "Aku melemparnya". Ryujin bercicit hampir tak terdengar.
"Hahh.. kau ini..". Jackson memperkecil jaraknya dengan sang anak.
"Ayah hanya khawatir padamu Uji, setidaknya kabari ayah..".
"Maafkan aku". Masih setia menduduk.
"Yasudah, Uji cepat beristirahat ini sudah larut".
Ryujin mengangguk, lalu mengambil langkah lebar menaiki tangga. Masuk ke dalam kamar, melepas sepatunya asal, Ryujin langsung membaringkan diri ditempat tidur.
"Kau tahu.. dulu aku tidak seperti ini. Karna seorang gadis, aku yang dahulu sangat berambisi untuk bisa dalam segala hal. Tapi karna gadis itu juga, aku seperti ini".
"Bukan kah dia cukup buruk untukmu jika membuatmu seperti ini?".
"Tidak, dia tetap menjadi gadis favoritku".
Tiba tiba saja percakapan antara ia dan Heeseung tadi melintas dibenaknya. Ryujin berdecih lucu, mengapa bisa seorang ketua gengster itu amat terbuka dengannya yang notebennya baru saja berkenalan.
Tak mau terlalu jauh memikirkannya, Ryujin menyamankan posisi nya berbaring untuk menjemput ke dalam alam mimpinya.
.......
.......
.......
Ryujin belum sempat meminta izin kepada Jackson untuk mengeluarkannya dari misi, jadi mungkin ini hari terakhirnya bersekolah disini ia pasti akan merindukan teman-temannya.
Ryujin menuruni motor besarnya lalu berjalan sambil membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan sesekali menguap merasa masih mengantuk, sampai seorang pemuda menyamai langkah disampingnya, Ryujin kira itu adalah Kai tapi saat ia berbicara sudah dipastikan dia bukan temannya Kai.
"Kurang tidur Ryujin?".
"Bukan urusanmu".
"Err.. aku ingin mentraktirmu dikantin nanti, sebagai permintaan maaf ku soal diatap kemarin".
"Tak perlu".
"Tapi aku memaksa".
"Aku bilang tak perlu, Beomgyu-sii".
"Oh ayolah aku gak akan tenang kalau kau tidak memaafkan ku".
Dan begitu banyak ajakan dan rayuan Beomgyu lontarkan, mungkin sekarang telinga Ryujin sudah kebas mendengarnya. Sampai didepan kelas milik Ryujin dia masih saja berceloteh ria, Ryujin memasuki kelas meninggalkan Beomgyu diluar masa bodoh jika Beomgyu mulai kesal padanya. Karna lebih baik begitu.
"Aku akan kembali dijam istirahat!". Tak disangka Beomgyu berucap lantang dipintu kelasnya lalu berlari dari sana dengan wajah ceria.
"Kau dekat dengan kak Beomgyu?". Tanya Lia disampingnya.
"Tidak".
"Lalu apa tadi? Dia mengajakmu istirahat bersama?".
"Hahh.. aku gak tau, dia bertingkah aneh dari sejak awal datang". Ryujin menidurkan kepalanya dimeja.
Yuna seakan bertanya ada apa tanpa suara pada Lia dan dijawab gelengan olehnya, lalu tak lama Kai memasuki kelas melihat Ryujin sudah ada, ia berniat mengajaknya bicara.
"Ryujin". Lia dengan cepat menyetop Kai menghampiri Ryujin.
"Jangan mengganggunya untuk kali ini".
Dengan terpaksa Kai mengurungkan niatnya, dan memilih duduk dikursinya mungkin ia akan berbicara dengan Ryujin nanti.
.......
.......
.......
Tidak sesuai yang diharapkan Ryujin, waktu istirahat tiba lebih cepat dan lebih cepat lagi si Beomgyu yang sudah berada didepan kelas Ryujin sekarang. Karena malas berurusan lagi dengan kakak tingkatnya itu, Ryujin terpaksa menahan lapar dan terus berdiam diri dikelasnya.
Awalnya Beomgyu bersi keras untuk terus menunggu Ryujin keluar, tapi entah dengan tipu daya apa yang Lia lakukan sehingga pemuda itu bisa pergi dari sana.
Ryujin baru saja meresa tenang, saat ia merasakan seseorang berdiri disamping mejanya. Pada awalnya ia tak ingin peduli tapi saat mendengar suara itu, Ryujin langsung saja menegakkan tubuhnya.
Dia Heeseung, cukup berani memasuki kelas lain walau ini hanya kelas adik tingkatnya. Tapi kehadiran Heeseung medapat atensi curiga dari Kai yang sedari tadi memeperhatikan Ryujin dimeja miliknya, ia menghadang Heeseung untuk lebih dekat dengan Ryujin.
"Ryujin".
"Ada perlu apa?". Bukannya Ryujin, tapi malah Kai lah yang menjawab.
"Aku ada kepentingan dengan Ryujin". Jawab Heeseung balik menatap mata Kai.
"Kau bisa kembali nanti, dia sedang tid-". Belum selesai berbicara, ucapan Kai disela oleh suara gadis yang Kai belakangi.
"Tak apa Kai. Ada apa kak?". Ryujin kini menjadi penengah keduanya.
"Cukup ikut denganku". Ucapan itu membuat Kai memandang Heeseung curiga lalu bergantian menatap Ryujin memperingatinya untuk tidak menuruti kemauan kakak kelasnya itu.
"Oke". Heeseung berjalan, dan Ryujin menyusul sebelum benar-benar pergi dari sana Kai mencekal tangannya.
"Jangan percaya dengan orang asing". Walaupun tidak mengerti maksud tersembunyi apa yang Kai bicarakan tapi tetap di 'ia'kan oleh Ryujin.
Kai memandang tubuh sempit Ryujin yang kian menjauh dan hilang dari pandangannya. Berpikir apakah ia yang lakukan selama ini adalah kesalahan.
[Beberapa hari sebelumnya]
"Kai!".
"Kau benar Jung Kai ternyata". Heeseung melirik name tag diseragam milik Kai.
"Apa kau ingat aku?". Tanya Heeseung, karna mendapat kernyitan dahi dari adik tingkatnya. Heeseung terkekeh dan melanjutkan ucapannya.
"Dulu aku adalah kakak kelas mu disekolah dasar, yang memakai kacamata bulat, itu aku".
"Ahh.. itu sudah lama sekali, maaf aku tak mengenalimu".
"Tidak apa. Kau tau, aku tidak suka berbasa basi". Ucapan Heeseung mulai serius.
"Aku ingat kau dan Ryujin menghilang semenjak 3 tahun yang lalu, dan kini aku bertemu dengan kalian kembali. Ryujin, apa Wang Ryujin adalah orang yang sama dengan gadis bernama Kim Ryujin yang aku sukai dahulu?".
Dunia ini memang sempit, berpisah dan dipertemukan. Dan seberusaha apapun kita mengkubur dalam dalam sesuatu, akan ada yang menggalinya lebih dalam atau malah keluar dengan sendirinya ke permukaan.
.......
.......
.......
Heeseung menuntun Ryujin keatap sekolah, tempat yang sama dimana ia dan Beomgyu pertama bertemu, dan beruntungnya kini tak ada Beomgyu disana. Dengan tiba tiba Heeseung menyerahkan sebuah kertas pada Ryujin, dengan bingung Ryujin mengambilnya.
"Alamat?".
"Ya.. apa kau mengenal alamat itu Ryujin?".
"Kau memanggilku kesini hanya untuk menanyai alamat?". Ryujin balik bertanya.
"Tidak, bukan itu maksudnya".
"Lalu?".
"Kau masih ingat gadis yang aku ceritakan waktu itu? Itu adalah alat rumahnya yang dulu".
"Lalu apa urusannya dengan ku?".
"Hem?.. kau akan tau jika sudah waktunya".
"Gak jelas". Heeseung terkekeh mendengarnya
Mengabaikan suara bel yang sudah berkumandang, keduanya malah duduk dibangku panjang yang ada disana, hanya angin yang menjadi jarak pemisah keduanya. Ryujin tak peduli jika gurunya akan mencapnya buruk, toh ia tak akan pernah sekolah lagi besok.
"Ryujin". Ryujin yang sedang memejamkan matanya itu berdehem sebagai balasan.
"Apa kau mau mendengarkan ceritaku lagi?". Ryujin hanya diam sebagai respon mengiyakan tapi tetap mendengarkan pemuda disampingnya itu, karna tak ada alasan untuk Ryujin agar ia tidak bercerita.
"Kau sudah tau tentang gadis yang aku sukai sedari dulu sampai sekarang kan. Kau tau, aku pernah memberi coklat dan secarik surat yang didalamnya adalah ungkapan isi hati ku, aku memang terlalu cupu waktu itu. Namun, entah ia sudah memeriksa kertas itu atau belum. Aku masih terus menunggu jawaban darinya".
"Apa kau benar-benar secinta itu padanya?". Kini Ryujin mulai menatap Heeseung mencari kebenaran.
"Ya, tentu saja". Heeseung membalas tatapan itu dengan yakin tak sedikitpun Ryujin tangkap kebohongan dimatanya itu.
"Dia sudah lama menghilang bukan, lalu mengapa kau tidak mencarinya? Apa kau sudah menyerah dengannya?".
Ryujin memang tidak tau apa apa soal percintaan, Entahlah Ryujin hanya mengikuti hati nuraninya saja.
"Aku sudah mencoba. Dan hampir saja menyerah bahkan hampir masuk lebih dalam kepada hal-hal yang buruk. Tapi kini tidak, aku rasa masih ada sedikit harapan didepan sana".
Entah ini hanya perasaanya saja atau apa, tapi Heeseung menatapnya seolah ia lah orang yang dimaksud dalam perkataanya barusan.
"Aku bersumpah, jika aku sudah menemukannya. Aku tak akan dengan mudah melepaskannya, lagi".
Dan lagi Ryujin dibuat terdiam oleh perkataan Heeseung barusan.
Setelah mengabiskan waktu sangat lama diatap sampai tak terasa bel pulang sudah berbunyi, keduanya berpisah dipersimpangan jalan untuk pergi ke kelasnya masing masing dan pulang ke habitat awal mereka.
Ryujin masih saja mengabaikan Kai yang sedari tadi terus bertanya tentang ia dan Heeseung lakukan, tentu saja tak digubris oleh Ryujin. Kai tak berhasil membujuk Ryujin untuk kembali dan menyelesaikan masalahnya dengan Jay secara baik baik.
...~...
"Ayah".
"Hem?".
"Apa ada misi lain yang bisa aku lakukan?". Jackson menaruh alat makan yang ia genggam.
"Memangnya kenapa dengan misi mu kali ini?". Tanya nya balik.
"Tidak apa apa.. hanya mungkin Uji tidak cocok dimisi itu ayah". Karena Jackson hanya diam, jadi Ryujin melanjutkan ucapannya. "Aku ingin keluar dari misi".
"Bagaimana dengan anggota lain?".
"Mereka akan setuju.. Dan keluarkan aku dari sekolah juga".
"Apa kamu yakin?". Ryujin mengangguk mantap.
Jackson menghela nafas, tidak ingin memperpanjang hal itu karna kemauan putinya Jackson mengangguk "Baiklah, akan ayah suruh Yoongi mengurusnya".
"Makasih yah".
.......
.......
.......
Pagi ini seharusnya ia sudah bersiap untuk pergi sekolah, tetapi karna keputusannya semalam Ryujin tak melakukan aktifitas itu lagi. Ia kini sedang dilapangan luas markas untuk melakukan pembelajaran menembak, sudah lama ia tak memegang senjata api tersebut.
Ryujin sudah bersiap, digaris ia berdiri jauh didepan sana ada target yang menyerupai seseorang ia harus membidik kan pelirunya disana. Saat sudah fokus dengan target, Ryujin melepaskan peluru dari pistol yang ia genggam, suara yang dikeluarkan tak cukup keras namun menurut Ryujin itu terlalu keras di pendengaran nya.
"AAKH". Dengan refleks Ryujin menjatuhkan pistol digenggamannya lalu meremas rambut kepalanya kencang saat berdenyut sakit bersamaan dengan suara pistol yang menggema tadi.
Hoseok yang memang sedari tak sengaja melihat Ryujin sedang berlatih itu memutuskan memerhatikan anak itu berlatih selagi ia tidak sibuk, namun hal tak terduga terjadi dengan tiba-tiba Ryujin memekik terlihat kesakitan lalu dengan panik Hoseok berlari mendekat.
"Ryujin! Ada apa?!".
Ryujin tak menjawab, ia terus mencenggram rambutnya keras merusaha mengusir rasa sakit dikepalanya, nafasnya berderu tak beraturan.
"Berhenti menarik rambutmu! Ryujin!".
Hoseok panik karna Ryujin masih saja menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Mau tidak mau ia menggendong Ryujin untuk pergi keruangan miliknya.
Sesampainya disana, Hoseok langsung memberinya obat penenang dan tak lama kemudian Ryujin melepas cengraman pada rambutnya, terkulai lemas diatas sofa diruangan itu.
Hoseok bernafas gusar, ia menempelkan telapak tangannya pada kening juga leher Ryujin tapi suhu badannya masih normal. Apa mungkin ini waktunya? Tidak mungkin, jika iya itu adalah waktu yang cepat.
Namun tak lama, Ryujin kembali bangun dari tidurnya mencoba bangkit dengan dibantu oleh Hoseok.
"Bagaimana keadaanmu Ryujin?".
"A-apa yang terjadi?".
"Tadi paman menemukanmu ditempat latihan menembak, sepertinya kau kesakitan tadi, apa yang terjadi?".
"Huh... aku gak tau". Ryujin mendadak menundukkan kepalanya murung. "A-aku akan pulang". Ryujin bangkit mencoba berjalan keluar walau sedikit sempoyongan.
"Biar paman antar".
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Terima kasih, paman". Final Ryujin menutup pintu ruangan Hoseok.
.......
.......
.......
Ryujin memaksakan tubuhnya yang sedang sedikit lemah itu menggunakan motor besarnya menuju mansion, dengan terburu-buru ia memasuki rumah megah itu, menaiki tangga dan mendobrak masuk tanpa izin ke dalam kamar milik Jackson.
Sang embu kamar tidak ada disana, tidak lupa ia kunci pintu itu dari dalam jadi ia bisa dengan leluasa mencari sesuatu disana. Membuka lemari, laci dan yang lainnya dengan tergesa-gesa, dan yang terakhir sebuah berangkas didalam lemari kayu dipojok ruangan menjadi satu-satunya harapan.
Bukan uang, namun sesuatu yang menyangkut hidupnya. Tentu sebuah brangkas akan selalu terkunci dan Ryujin tidak mengetauinya. Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal, Ryujin mendekati brangkas besi itu.
Ia menempelkan terlinganya pada dinding brangkas, memutar kode brangkas disana untuk menemukan suara 'krek' pada kode. Setelah beberapa lama Ryujin berkutat dengan benda berputar itu, suara engsel kunci yang terbuka membuat hatinya bersorak dan berterima kasih pada Minho yang sudah pernah mengajarinya hal tersebut.
Benar, didalam sana tidak terisi oleh tumpukan uang. Melainkan sebuah box berwarna merah ati yang menjadi satu satunya barang disana. Ryujin mengambilnya dengan tangan bergetar, Ryujin tahu ini bukanlah tindakan yang benar. Tapi ia harus meyakinkan sesuatu.
Saat tutup itu dibuka, Ryujin reflex menutup mulutnya tak percaya. Mengambil sebuah pigura kecil disana, mengamatinya dengan seksama.
Disana, didalam foto keluarga. Terdapat Jackson dan istrinya yang tak pernah Ryujin tahu rupanya, juga seorang anak gadis diantara keduanya. Yang tentu itu bukan dirinya, tak bisa menahan air matanya, kristal bening itupun jatuh dari sarangnya.
Ryujin menyeka air matanya dengan kasar, mengambil foto itu dari pigura lalu mengantonginya pada jaket kulit yang sedang ia pakai, mengembalikan piguranya beserta box tadi pada berangkas.
Ryujin berlari keluar kamar Jackson menuju kamarnya, menyambar saku jaket bomber miliknya yang tergantung disudut kamar, mengambil secarik kertas yang dulu pernah ia pikir tak berguna.
Tak mau membuang waktu, Ryujin kembali berlari menuju motornya lalu bergegas dengan kecepatan tinggi ke tempat yang ditunjukan oleh secarik kertas tadi.
.
.
.
Ryujin berhenti disebuah rumah, yang sedikit familiar. Menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri, menyakini bahwa ini memang tempat yang kertas itu maksud.
Ryujin mengitip dari balik jendela besar disana namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam, meraih gagang pintu ingin membukanya tapi ternyata terkunci, dengan sisa tenaganya Ryujin mendobrak pintu itu namun nihil Ryujin mendengus, tenaganya telah habis.
Dengan putus asa Ryujin mengambil batu besar yang ada dipekarangan rumah, dan tanpa basa-basi melembarnya pada jendela besar tadi. Membuat suara pecahan kaca itu bergema didalam ruangan.
Ryujin memasuki rumah dengan perlahan, namun saat seluruh badannya telah masuk dengan aman. Permukaan tangannya tergores kecil oleh ujung kaca jendela, Ryujin meringis kecil. Baru saja akan mengisap darahnya keluar, Ryujin dibuat tercengang saat luka itu tertutup.
Lukanya hilang. Tanpa jejak, rasa perih yang ia rasakan tadipun ikut tak terasa kembali, Ryujin mengusap-usap lengannya tak percaya.
"Oh my god, apa apaan ini?".
Kegiatan kagetnya terganggu oleh suara dering dari ponselnya, Ryujin mengambil malas benda pipih itu dari saku celananya. Tertera nama Heeseung disana, dan beberapa panggilan tak terjawab dari teman dan beberapa anggota markas.
Ryujin termenung sementara sebelum tombol hijau ia geser.
"Ryu! Dimana kau? Kau tidak sekolah?".
"Aku keluar dari sekolah, jadi bisakah kau datang kemari".
"Hah?... a-apa maksudmu, dimana kau sekarang?".
"Dialamat yang kau berikan padaku".
Sempat hening sebentar disebrang sana. "Oke, tunggu aku". Panggilan terputus sepihak, Ryujin melempar ponselnya pada lantai cukup keras membuat ponsel itu seketika mati.
Seolah belum puas, Ryujin mengambil palu yang tergantung didinding dapur lalu memukul ponsel barunya itu berkali-kali seperti orang kerasukan.
Setelah puas, Ryujin membuang palu tadi kesebarang arah. Menyisir rambut panjangnya lalu berjalan gontai ke arah anak tangga, menaikinya satu persatu dengan kaki yang sudah kehabisan kekuatannya.
Masih ada beberapa waktu untuk Heeseung datang kesana. Tungkainya Ryujin paksakan melangkah pada salah satu kamar diujung lorong, yang semakin ia dekati semakin ia yakin bahwa kamar itu miliknya.
Ryujin akhirnya menyentuh knop pintu, menekannya kebawah, mendorong lemah pintu itu. Ruangannya, miliknya, namun dimana semua barang miliknya, kamar itu kosong.
Ryujin gelagapan, dimana semua barangnya. Ryujin berlari kesebrang kamar, yaitu kamar milik kedua orang tuanya, berbeda dengan kamar miliknya yang kosong melongpong. Kamar itu masih diisi oleh beberapa barang, tentu Ryujin tahu ada beberapa barang yang hilang disana.
Pigura keluarganya yang ada diatas nakas hilang, Ryujin kembali melakukan hal yang sama saat ia menggeledah kamar Jackson tadi tapi tak menemukan apapun. Saat akan putus asa, Ryujin kembali mendapat sekelebat ingatan masa kecilnya.
Berlari menuju lemari besar yang ada disana, memasukinya dan bernafas lega saat menemukan sesuatu yang terukir jelas didinding kayu tersebut. Sesuatu yang ditulis menggunakan spidol warna yang berisikan
"Kim So Hee adalah ibuku, dia adalah wanita favoritku, Kim namjoon adalah ayahku, dia adalah pria yang menjadi cinta pertamaku".
Ryujin mendengus lucu juga haru membaca kembali coretan masa kecilnya yang pada saat itu sedang bermain petak umpet dengan ayahnya, ia bersembunyi didalam lemari pakaian orang tuanya, merasa bosan karena Namjoon tak kunjung menemuinya dan kebetulan Ryujin sedang memegang sebuah spidol warna
Jadilah ia menulis itu disana walau jauh dari kata rapih karna cahaya yang minim yang masuk. Namun masih bisa terbaca olehnya sampai saat ini, dan beberapa tambahan gambar disana yang belum selesai digambar karna Namjoon yang sudah menemukannya.
Ryujin tersenyum saat ia kembali mengingat memori baiknya, itu cukup membuat Ryujin sedikit tenang dari sebelumnya. Ryujin bangkit namun tiba-tiba saja suara tembakan berdengung keras ditelinganya ditambah sekelebat gambaran dimana So Hee terjatuh saat terkena tembakkan dan darah yang mengalir keluar dari tubuh Namjoon.
"ARRHH". Ryujin menutup telinganya frustasi.
"BERHENTI!".
"RYU!". Heeseung datang tepat pada waktunya.
Heeseung langsung menyambar bahu sempit itu digenggamnya. "Ada apa?!". Bukannya menjawab Ryujin malah terus meracau tidak jelas membuat Heeseung kebingungan.
"Shhh... Hey, tenang... ini aku". Heeseung berucap menenangkan.
"Tolong!"
"Me- mereka.. mereka membun.. nuh, orang tuaku, k-kak". Ryujin berucap tersenggal-senggal.
"Tenanglah dahulu, aku disini... Kau aman". Heeseung membawa Ryujin pada dekapannya.
"Tak usah khawatir... Aku akan menghukum mereka untukmu".
...[RYUJIN POV ON]...
Aku berjalan ketakutan ke arah pintu saat aku selesai mengubungi seseorang ditelepon, aku menggenggam sebuah pistol yang terlihat lebih besar dari telapak tanganku yang masih kecil itu. Namun tiba tiba saja suara tembakan memenuhi indra pendengaranku secara paksa, membuat kelapalaku berdenyut sakit.
Tidak, itu bukan dari suara pistol yang ku genggam.
Tapi didalam hatiku bukan rasa itu yang paling sakit, hatiku serasa remuk saat sepasang netra ku menangkap sekelebat seseorang yang ditembak tepat dikepala. Aku tidak tahu siapa itu, tapi aku merasakan sakit yang teramat dilubuk hatiku, nyeri sekali.
"TIDAK!". Ryujin terduduk dari tidurnya.
"Hahh... mimpi itu lagi". Aku mengusap wajahku yang sudah berkeringat dingin.
Ini bukan pertama kalinya aku mendapat mimpi yang menakutkan setelah sekian lama, pada awalnya bukan mimpi seperti itu yang aku lihat, aku pernah bermimpi.
Meja makan, kue ulang tahun yang sangat enak, suara tawa kebahagiaan. Itu semua terasa nyata, didapur minimalis hanya bertiga namun bisa membuat atmosfer disekitarnya menjadi bahagia. Namun suatu ketika, tiba tiba saja suara tembakan bergema membuat ku terjengit dan menjerit kuat sekali, saat mencari keberadaan kedua orang tadi, aku kehilangan mereka.
Saat aku berjalan, lantai putih itu seketika menjadi berwarna merah darah. Sandal rumahan yang putih ikut ternodai oleh darah itu, aku dengan cepat berlari ke arah tangga. Menggedor-gedor pintu kamar namun tidak ada jawaban, tiba-tiba saja aku sudah memegang pistol yang sama saat aku didalam mimpi itu, dari moncongnya mengeluarkan asap lalu suara sirene polisi yang membawaku pergi dari mimpi buruk itu.
Mimpi itu selalu ada setiap malamnya menghantuiku dan terbangun dalam keadaan gusar, itu semua terasa nyata nyeri didada masih jelas terasa, air mataku yang mengalir dipipi, aku merasakan semuanya.
Ryujin mengelap wajahnya, tidak mau terlalu hanyut dalam mimpi buruknya. Aku lebih baik membersihkan diri dan segera pergi ke markas untuk berlatih, monolognya.
Namun malangnya, ditengah-tengah latihan aku kembali merasakan sakit dikepalaku. Dan banyangan-banyangan itu muncul lebih jelas, membuat beberapa memori ingatan di otakku menyeruak.
Satu yang aku tangkap dari banyangan itu adalah, tempatku bukanlah disini...
...[RYUJIN POV OFF]...