
"Lepaskan mereka! Mereka tidak ada urusannya dengan kalian!".
"Hahaha... tidak, semenjak mereka berinteraksi dengan Ryujin pun mereka sudah terjalin urusan dengan kami Lee Heeseung". Suara bariton itu terdengar menjengkelkan sekarang.
"Serahkan Ryujin maka urusan selesai". Lanjutnya.
"Kami tidak akan menyerahkan Ryujin". Rahang Heeseung mengeras.
"Kalau itu keputusan kalian, maka bersiaplah untuk waktu-waktu terakhir kalian. Ryujin apa kamu mendengarkan? Mereka tidak akan selamat selama kamu masih disana..".
Ryujin menegang ditempat, pupil matanya bergetar.
"..kamu mengerti?". Pertanyaan itu seakan menuntut jawaban pasti.
"Aku mengerti". Parau dan kecil sekali.
"Jawabanmu terlalu lemah Uji, sepertinya kamu tidak diurus dengan baik disana-".
"Berhenti berbicara dan cepat lepaskan mereka!". Suaranya berubah, kini lebih meninggi.
"Ah, hahahaha... baiklah, baiklah akan segera ayah lepaskan mantan temanmu ini, hati-hati dijalan pulang Uji. Ayah harap kamu selamat".
TUTT TUT
"KAMU GAK SEDANG BERCANDAKAN!". Beomgyu menyambar bahu kecil Ryujin, mencengkramnya meminta penjelasan.
Ryujin tertunduduk ditempat.
Beomgyu gemas dibuatnya. "AYO JAWAB RYUJIN!". Beomgyu mengguncang tubuh sang embu.
"Sudah hentikan!". Heeseung melepas kasar cengkraman dibahu Ryujin. "Biarkan Ryujin menenangkan dirinya".
Walau tak terima pada akhirnya Beomgyu mengalah. Heeseung membawa Ryujin duduk, mengusap lembut bahu didekapannya.
"Menangislah jika itu bisa memenangkan mu". Bisik Heeseung tepat ditelinga sang empu.
Ryujin memperdalam dekapannya dipelukan hangat yang Heeseung buat, mulai menumpahkan segala keluh kesah lewat air mata. Beomgyu meliriknya, meringis.
"Tua bangka sialan".
...~...
"Aku salah karna membentaknya disaat-saat seperti itu". Beomgyu mengusap wajahnya kasar.
"Itu keputusan yang berat memang, tapi itu keinginan Ryujin".
"Tapi bagaimana dengan semua yang telah terjadi?! Aku tak akan membiarkan Ryujin kembali ke tempat itu".
"Aku juga". Suara Heeseung terdengar.
Lia berdiri dari duduknya, dari mimik muka yang terpasang dia seolah bertanya 'bagaimana Ryujin?'. Heeseung mengerti.
"Dia sedang beristirahat, berikan dia waktu". Pintanya yang mendapat anggukan dari Lia.
"Soal yang kamu bilang tadi tidak ingin membiarkan Ryujin kembali aku pun berpendapat sama, aku juga tidak ingin Ryujin kembali kesana". Jeda sejenak, menunduk sebentar lalu kembali menengadah mantap.
"Tapi apa kita akan diam saja? Tentu tidak, mari kita ikuti alurnya dan buat itu sedikit menarik".
Semua orang disana termasuk Seokjin menatap bingung perkataan Heeseung. Heeseung mengambil balpoin dan secarik kertas kosong yang entah sejak kapan sudah ada diatas meja.
"Ayo menyusun strategi, aku harap kalian bersedia membantu ku".
.......
.......
.......
Jackson dan para antek-anteknya telah kembali ketempat mereka, yaitu markas. Jangan lupakan dua orang tahanan berbeda gender yang mereka sekap dengan tubuh dan kaki masih terikat kuat dikursi ruangan kerja Jackson.
Mereka dibiarkan terus meronta tanpa dikubris, hingga tenaga yang mereka punya habis. Mereka tidak diberi makan apapun, lagipula untuk apa?.
"Ugh". Lenguh Taehyun.
Yuna disampingnya yang sudah lemas karena tenaga yang habis terkuras itu melirik pendek pada Taehyun.
"Berhentilah, kau melakukan hal tak berguna". Ucapnya dengan suara serak.
Tidak ada jawaban Taehyun tak mengubris, ia melirik sekitar hanya ada Jackson dimeja kerja beserta tangan kanannya, Yoongi dan beberapa penjaga didepan pintu.
Taehyun kembali kepada aktifitasnya. Memutuskan tali ikatan yang mengikat tubuhnya.
Serpihan kaca, ia dapat saat dirumah Heeseung tadi. Entah apa yang dilakukan para orang gila ini pada kaca rumah milik kawannya itu karena saat sampai disana tempatnya sudah amat sangat kacau, banyak serpihan kaca yang berserakan dilantai.
Entah karena apa, tapi firasatnya mengatakan ia harus mengambil salah satu serpihan kaca itu. Dan benar saja disaat seperti ini serpihan kaca dapat menjadi salah satu jalan keluarnya, yaa walaupun tangannya harus berdarah karna terus-menerus menggenggamnya erat agar tak ketahuan.
"Hey mendekatlah". Bisiknya agak keras agar Yuna mendengar, tangannya kebas karena terus dalam posisi yang tak nyaman.
Perintah Taehyun, sang empu hanya mengerutkan dahi kuat. Sungguh wajahnya yang memelas terlihat sangat bodoh dimata Taehyun sekarang.
"Berhentilah memasang muka begitu dan turuti saja, lakukan tanpa ketahuan".
Jarak keduanya memang cukup jauh, mereka membiarkan keduanya seperti itu mungkin agar keduanya tidak mencoba untuk membebaskan diri.
Yuna melirik Jackson yang sedang bercakap serius dengan tangan kanannya diseberang sana. Mengangguk dan mulai menggerakan kursi besi yang dia duduki.
Stettt
Yuna menoleh pada Jackson. Tidak, mereka tidak mendengarnya.
Lagi, Yuna mencoba menggerakan kursinya.
"Asa!".
"Huh?". Yuna mengalihkan pandangan nya pada Taehyun yang berseru, namun sayang ia tak memerhatikan permukaan lantai yang tak sempurna.
Uh, Stettt. Selanjutnya adalah suara tubuh kursi juga tubuh Yuna yang bersentuhan dengan lantai yang berdentum begitu dramatis menghiasi ruangan.
"Apa itu?!". Jackson berteriak ditempatnya saat mendengar kegaduhan.
'Lantai sialan, Taehyun sialan'
Penjaga diluar ruangan segera masuk saat mendengar sesuatu jatuh disusul teriakan bosnya. Dengan sigap mereka tahu apa yang terjadi, tahanan yang nakal.
"Mereka mencoba melarikan diri Tuan!". Lapor salah satu diantara nya.
"HAH TIDAK!". "TIDAK!". Teriak Taehyun juga Yuna yang masih terbaring dilantai.
"Anu, k-kami tidak. A-aku hanya ingin dekat dengan pacar ku apa tidak boleh!". Yuna menunjuk Taehyun dengan dagunya yang bebas.
Taehyun melotot ditempat duduk, menatap Yuna tak jauh dibawahnya, 'apa-apaan?!'.
Para penjaga mengangkat alis tak mengerti lantas melirik rekan-rekannya yang lain seolah bertanya, namun hanya ekspresi sama yang didapat.
"Aku i-ini gak bisa dipisahkan dari pacarku tau!". Yuna kembali berteriak.
"Y-ya, apa kalian tega memisahkan kami? Walaupun dalam keadaan disekap begini, setidaknya kami akan mati bersama!". Taehyun ikut menimpali, telinganya memerah.
Yuna tak bisa menahan rahangnya untuk tidak mengganga, cengo dengan ucapan yang di lontarkan Taehyun barusan.
"Kalian membual. Aku tak pernah membaca data tentang kalian yang berpacaran". Yoongi berucap dibelakang.
"Hey pak tua! Anda tak akan mengerti percintaan anak muda zaman sekarang!".
"Rumit! Kami punya hubungan rumit, kami pacaran tapi hanya kami berdua yang tau!". Lagi Taehyun menambahkan. "Kecuali satu orang". Cicit Taehyun.
"APA?! Apa kau bilang?! Katanya hubungan ini hanya kita yang tau, secret love! Secret loh Taehyun! Bisa bisanya kau memberi tahu orang lain!". Yuna dengan segala tenaga nya diluapkan.
"T-tidak, aku tau ini secret love tapi temanku itu serba tahu lohh. Tidak bisa bohong jika dengan dia, mengertilah". Taehyun memasang muka memelasnya
"Tetap saja, kau ingkar janji! Aku gak mau bersama orang yang tidak menepati janji". Yuna memalingkan mukanya ke arah lain.
"Ahh Sayangg~". Bulu kuduknya berdiri, bersama dengan semua orang yang mendengernya. Tapi ia harus meneruskan ini.
"Ekhem.. Yuna s-sayangg, maaf dong... iya a-aku mengaku salah deh". Tak ada jawaban, Yuna masih memalingkan tubuhnya.
"Sayan-".
"Sudah cukup, hentikan!". Jackson lagi-lagi berteriak muak.
"Biarkan mereka berdua bersama, selesaikan urusan kalian dan berhenti bersuara seperti itu sampai Ryujin datang!".
"Baik Tuan".
Para penjaga sigap membantu Yuna duduk normal kembali. Namun sekarang keduanya, Taehyun dan Yuna duduk dekat berdampingan.
'Berhasil'.
Yuna masih dengan aktingnya, pura-pura merajuk dan Taehyun yang tetap mamasang muka memelas itu setia terpasang hingga semua penjaga keluar dan Jackson sibuk kembali, muka keduanya kembali datar.
Taehyun melemaskan mimik mukanya dan bergumam.
"Aku harap ini mimpi buruk dihari libur".
Yang sejujurnya masih terdengar oleh Yuna disampingnya, dia terkikik geli. Ternyata pria bermata besar ini punya bakat berekting walau masih tingkat menegah.
...~...
"Kau tak apa?". Taehyun bertanya lemah tanpa menoleh kepada orang yang ia tanya.
Yuna melirik Taehyun disamping nya. Keduanya sudah dalam keadaan tenang setelah tadi membuat keributan, Taehyun sudah dapat mengontrol emosinya terbukti dengan telinganya yang sudah tidak merah lagi.
"Hanya lecet sedikit mungkin".
Lengang lagi.
"Itu bagus". Yuna berucap tiba-tiba.
"Apa?". Tanya Taehyun malas.
"Akting, kau belajar dari mana akting seperti itu huh?". Yuna bertanya jahil.
"Ck, kau pikir yang seperti itu harus belajar? Para lelaki bisa melakukannya tanpa berlatih... kami ini pro". Ucapnya diselingi kekehan.
"Disaat seperti tadi kau bisa berpikir melakukan itu jadi aku ikut saja, aku pikir kau cukup keren".
Entah suhu bumi memang tiba-tiba panas, atau ia sedang demam atau bagaimana tapi wajahnya terasa panas dan ia rasa wajahnya merah padam sekarang.
Taehyun mengucapkan nya dengen tersenyum manis kearahnya, apa-apaan anak itu?!.
"Ah ekhem ya tadi.. ah- tadi kenapa kau berseru begitu?". Yuna menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berusaha mengalihkan topik percakapan.
"Oh? Ah ya... ini". Ujarnya sambil menyodorkan tangan berdarah dengan ikatan talinya yg sudah terbuka.
"Omo!".
"Sttt kecilkan suaramu".
Jika tak diikat, tangan Yuna mungkin akan reflek menutup mulutnya sekarang. "Lalu apa yang mau kau lakukan?".
"Diam disitu". Perintahnya, Taehyun sedikit menggeser posisi kursinya agar menghadap Yuna, tepatnya bagian belakang.
"Apa tanganmu tidak apa? Darahnya banyak sekali, itu pasti sakit". Ujar Yuna khawatir melirik ke belakang.
"Tak usah kwatirkan orang lain, perhatikan saja dirimu sendiri".
Selanjutnya hanya hening yang bisa mereka rasakan, hanya terdengar sesekali ringisan Taehyun dibelakangnya, sesekali juga Yuna melirik kebelakang memastikan nya baik.
"Sudah, ugh". Ringis Taehyun diakhir.
Yuna cepat-cepat meraih tangan Taehyun yang berdarah amat banyak, bisa-bisa dia kehabisan darah. Yuna dengan cekatan merobek lengan kemejanya sendiri membuat Taehyun melotot terkejut.
"Hey apa yang kau lakukan?!".
"Kecilkan suaramu, dan menurutlah!".
Kali ini Yuna yang memerintah, Taehyun hanya bungkam membiarkan Yuna membalut luka ditangannya menggunakan kain kemeja berwarna hijau army itu.
"Terima kasih".
"Tidak perlu berucap begitu. Kita impas".
Lagi hening melanda keduanya.
"Ah iya talinya". Taehyun teringat dengan tali dikaki mereka yang masih terikat.
Keduanya sama-sama menundukkan kepala secara refleks tidak menyadari posisi mereka yang begitu dekat, dan Ugh.
Kepala mereka berbenturan.
"Aduh, maaf Tae aku. Apa kamu bisa membukanya? Biar aku bukakan". Tawar Yuna mengingat tangan Taehyun masih terluka.
"Tak apa aku bisa sendiri".
"Serius?".
"Hem".
"Baiklah". Kali ini keduanya lebih menyerongkan badan agar kepala mereka tidak berbenturan.
Disaat-saat membuka ikatan tali yang begitu kuat itu, Taehyun malah terkekeh yang membuat Yuna mengerutkan dahinya bertanya kenapa dia tertawa begitu.
"Aku hanya menertawakan nasib kita. Sebenarnya apa yang kita perbuat sampai-sampai sisekap oleh orang-orang aneh ini disini". Ucapnya masih saja terkekeh dengan tangan yang sibuk.
Yuna yang mendengarkan ikut terkekeh, ini lucu. Mereka hanya seorang pelajar tidak tahu apa-apa, tapi nasib keduanya malang sekali. Terjebak diantara orang-orang jahat yang berusa memanfaatkan keduanya.
"Jika sukses keluar dari sini, ayo makan es cream bersama!".
"Apa ini termasuk kencan?".
"Yak! Kau ini ingin mati ya".
Taehyun terkekeh mendengarnya, dengan muka merah padamnya iya memasang muka jengkel yang dibuat-buat, Yuna ikut tersenyum simpul memperhatikan pria didepannya.
.......
.......
.......
"Kalian masih kukuh tidak akan membiarkan ku pergi?".
Ini masih terlalu pagi. Omong-omong Ryujin dibiarkan beristirahat di kamar tamu kediaman paman Kim. Dan ini pukul 3 dini hari dia bangun, namun sepagi itu semuanya terkecuali dia sudah berkumpul saja diruang tamu.
Kemarin sekitar pukul 10 malam, itu waktu saat dia tertidur karena lelah. Apa mereka tidur tadi malam?.
Suara lemah dibelakang membuat mereka yang sedang dilanda kebingungan menoleh, Ryujin disana dengan muka datar andalannya.
"Kamu sudah bangun?". Lia balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Ryujin.
"Apa kalian tidur semalam?".
"Kami semua tidur nyenyak semalam". Pernyataan Heeseung membuat Ryujin menyipitkan matanya menyelidik.
"Kemarilah nak, bergabung".
Sunoo yang berada paling dekat dengan Ryujin megulurkan tangannya, bermaksud agar Ryujin aman berjalan jika memegang tangannya.
"Aku tak butuh itu".
Ucapan sarkas dari Ryujin membuat Sunoo tergagap, tangan yang mengambang di udara tadi yang tak kunjung ada sambutan, beralih mengusak rambut belakangnya kikuk.
Ryujin mendudukkan diri disebelah Lia. Kini posisi mereka yaitu Ryujin duduk ditengah-tengah sofa panjang disisi kiri tubuhnya ada Heeseung dan disisi kanan tubuhnya ada Lia, di sofa single kiri ada Beomgyu, dan di sofa single kanan ada paman Kim beserta anaknya Sunoo yang berdiri menyanggah tubuh dengan tangan dipinggiran atas sofa.
Mereka memusatkan atensi pada Ryujin, lagi.
"Ryu kalo kamu mau pergi ke sana, maka kami akan tetap menahanmu di sini. Tapi jika kau keras kepala ingin pergi, kami tak akan bisa selalu menahanmu, dengan syarat kami akan ikut denganmu".
"Itu akan membahakan kalian".
"Apapun itu demi kamu". Heeseung angkat suara.
"Kami akan membantu mu, oleh karena itu.. Bantu kami juga dengan memberitahu apa yang mereka punya, agar kami pun punya persiapan untuk melawan mereka".
"Kalian akan melawan mereka?". Tanya Ryujin mengedarkan matanya melihat satu persatu wajah manusia didepannya.
"Ya nak, tidak ada cara lain kau harus bebas dari mereka". Itu Paman Kim yang bersuara.
"Tapi kalian akan terluka". Wajah Ryujin merengut takut.
"Tidak kalo kamu kasih tau kita semuanya tentang mereka. Keamanannya, kemampuan bersenjata, bela diri atau semacamnya.. Aku yakin kau tau segalanya". Beomgyu menimpali, badannya sedikit dimajukan terlihat antusias.
Ryujin yang mendapat begitu banyak dorongan menghela nafas.
"Percayalah pada kami".
Ryujin menatap lekat mata hitam legam milik lelaki disampingnya, tidak ada tersirat sedikitpun rasa ragu disana, hanya semangat dan keyakinan yang terus terpancar.
Setelah menghela nafas, lagi. Ryujin akhirnya mengangguk. Yang mendapat respon girang tertahan dari Beomgyu dan yang lain karena Ryujin kembali bersuara.
"Tapi kalian jangan sampai menganggap mereka enteng, kita tidak pernah tau apa yang mereka siapkan".
...~...
Kembali ke dalam sebuah perancangan strategi serius ditambah kini Ryujin telah bersedia untuk menjelaskan segalanya tentang kelompok itu.
"Aku akan mulai menjelaskan dari tempat mereka singgah, markas, mereka punya markas didalam hutan, jalan kesana mungkin akan terasa jauh dan tak aman karena setiap titiknya pasti ada alat pendeteksi benda asing yang dikendalikan oleh anggota yang bisa dalam hal merantas teknologi, jadi jika ada kendaraan atau seseorang yang melintas kesana mereka akan segera mengetahuinya".
"Untuk merkasnya sendiri, mereka punya tembok tinggi pelindung markas, tua tapi kokoh, kalaupun mencoba memanjat didasar tempoknya ada kawat listrik kecil namun mematikan, pintu gerbangnya terbuat dari baja besi itu kuat sekali mau kau tabrak dengan mobil pun sepertinya mobilmu yang akan roboh, mereka juga menyimpan orang-orang penjaga disetiap sudut manapun bahkan yang tidak telihat sekalipun, mereka kekar, memegang senjata api, dan botak walaupun gak semua sih... Itu untuk keamanan mereka". Ryujin memberi jeda untuk dirinya bernafas.
"Seperti kenyataan yang beredar, penjahat pasti punya keahlian dalam bertarung dan menggunakan senjata. Selain pistol dan senapan, mereka juga ahli dibidang berpanah dan pedang.. kalian pasti terkejut dizaman sekarang mereka masih menggunakan senjata semacam itu, tapi tidak bisa dipungkiri sebagian besar dari mereka menggunakan senjata itu juga... itu dari sisi kekuatan mereka".
"Dan kelemahan mereka adalah, yang aku tau mereka kadang terkecoh, kadang. Meraka juga terlalu patuh, kau tau, jika ketua mereka memerintahkan membunuh diri mereka sendiri, mereka akan melakukannya tanpa disuruh dua kali, itu semua berlandaskan kesetiaan mereka pada kelompok itu".
"Itu kejam".
"Itu kenyataannya, Lia... Aku bahkan lupa bagaimana aku bertahan di sana dulu".
"Keamanannya begitu ketat, bagaimana kita melewatinya tanpa diketahui?".
"Kau bilang setiap titik ada alat pendeteksi yang dikendalikan bukan?". Ryujin mengangguk memberi jawaban.
"Heyy kita punya kakak ku, dia punya kemampuan meretas hal semacam itu". Sunoo antusias menyebut kakaknya.
Semua orang kecuali Sunoo, beralih melirik paman Kim dan mendapat anggukan kepala. "Yaa, anak satu itu memang bisa sih.. Tapi apa kalian yakin itu akan berhasil?".
"Dugaanku sih bisa walaupun hanya membantu sedikit karena bagaimapun para penjaga pasti mengetahui kedatangan kita". Ryujin memegang dagunya.
"Itu lebih dari cukup. Aku dan kak Soobin bisa menggunakan panah dan cross brow, kami juga punya gudang senjata di belakang rumah".
"Seriusly, Gyu?".
Beomgyu menjawab pertanyaan Heeseung dengan mengangkat bahu. "Aku selalu berlatih dengan kakak ku jika kalian ingin tahu".
"Bagus, setidaknya kita juga punya orang yang ahli senjata jarak jauh". Ucap lega Lia.
"Apa digudang senjatamu ada pedang, pistol atau senapan kak Gyu?".
"Tentu saja, bahkan lebih dari itu". Sombong Beomgyu.
"Senjata sebanyak itu, tapi kita tidak punya orangnya".
"Eyy kau lupa ayahku siapa, huh?... Mari lihat sebesar apa kekuasaan ayahku dikepolisian". Beomgyu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan meletakkan tangannya disamping sofa, tingkat kesombongannya meninggi.
Semua orang yang melihat tingkah Beomgyu terkekeh seraya menggelangkan kepala kecil, antara menertawakan sikap anak itu atau meresa lega karena orang-orang dipihak mereka akan bertambah banyak.
"Ck anak ini". Seokjin, mengusap keningnya juga ikut terkekeh.
"Dan untuk Ryujin kami akan berpura-pura mengatarmu kesana, aku harap kamu bisa bertahan sebentar".
Ryujin tersenyum dan mengangguk.
Selanjutnya ruangan itu disini dengan berbagai opini yang dikeluarkan tentang strategi dan posisi masing-masing yang akan dilancarkan dalam waktu dekat, mari lihat nanti bagaimana hasilnya.