
Setelah memberikan pengumuman diaula tadi pagi, Jackson kembali keruangan kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen, misi memang sedang break tapi tugas miliknya tidak, tidak banyak sih jadi ia menyelesaikan semuanya dalam waktu yang tak terlalu lama.
"Aku harus mengunjunginya". monolognya, mengambil jas miliknya dan memakainya. Melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya, langkahnya mematri menuju rumah sakit markas sesekali menjawab sapaan anak buahnya yang berpapasan.
Memasuki bangunan rumah sakit, menyapa beberapa pekerja dengan ramah yaa walaupun misi sedang break tapi urusan menangani orang sakit tak mungkin berhenti kan. Jadi mereka harus tetap bekerja, untuk menangani beberapa orang yang sedang sakit.
Jackson melangkah menuju ruangan Hoseok sebelum ia pergi ke ruang rawat Ryujin, tapi saat masuk ke ruangan Hoseok itu Jackson malah tak menemukan sang empu pemilik ruangan disana.
"Kemana dia". Gumam Jackson.
Lanjut saja dia menaiki lift untuk ke lantai 2, memasuki ruang rawat yang dituju. Saat masuk tiba-tiba langkahnya terhenti, disana ada Hoseok yang ia cari sebelumnya tengah terduduk menghadap seseorang yang ingin Jackson jengnguk. Bukan, bukan karna kehadiran Hoseok, tapi seseorang di atas ranjang pasien yang diposisikan menduduk bersandar pada headboard ranjang khusus pasien tersebut.
Terlihat pucat dan beberapa alat medis menempel dibadan dan kepalanya yang diperban, memandang bertanya-tanya dan bingung pada Jackson yang baru saja datang.
Ia sudah siuman.
Ryujin sudah sadar.
Ryujin yang menyadari ada seseorang baru saja masuk pun mengalihkan pandangannya, matanya fokus meneliti keheranan siapa orang itu. Hoseok yang menyadari fokus Ryujin teralih ke sesuatu di belakangnya ikut memutar badan dan melihat siapa yang Ryujin lihat.
"Oh Wang! kau datang. Aku lupa tak memberitahu mu, tapi kau sudah disini saja". Hoseok bangkit dari duduknya dan menghampiri Jackson.
Jackson masih mematung ditempatnya dan enggan memutus kontak mata dengan Ryujin. Ryujin yang ditatap terus seperti itu merasa sedikit risih tentu saja.
"Bagaimana.. Keadaannya?".
"Berhenti menatapnya seperti itu, kau membuatnya tak nyaman.. Dia baik, obatnya bekerja walau dia sadar dengan waktu yang dibilang cepat". Bisik Hoseok di akhir, tentu agar Ryujin tak mendengarnya. Jackson memejamkan matanya lalu menghela nafas lega.
"Pelan-pelan saja". Pesan Hoseok terakhir kali pada Jackson, sebelum membalik tubuhnya menghadap Ryujin kembali.
"Oh ya Ryujin, karna kau kehilangan banyak sekali ingatan, kau mungkin melupakannya". Tunjuk Hoseok pada Jackson. "Dia Jackson Wang, dia ayahmu".
Ryujin tampak mengerutkan dahinya binggung. Jackson melangkah mendekat, mendudukkan diri mengambil alih tempat yang Hoseok dudukki tadi, diusapnya lembut surai Ryujin yang kepalanya dilingkari perban.
"Bagaimana keadaan mu Ryujin?". Tanya nya lembut.
"Aku.. Baik".
"Apa Paman Hoseok sudah memberi tahu mu apa yang terjadi?". Ryujin membalasnya dengan anggukan.
"Kejadiannya sangat tiba-tiba, ayah sangat sedih saat tahu kamu kehilangan banyak ingatanmu". Jackson memasang wajah sendunya.
"Apa kau... Benar ayah ku?".
Jackson tersenyum hangat sekali. "Tentu aku ayahmu Ryujin Wang".
"Ahh aku, aku hanya merasa takut.. Aku tiba-tiba terbangun diruangan ini dan tak bisa mengingat apapun, aku, aku takut". Ucapan Ryujin sedikit bergetar menahan tangis.
Jackson langsung beranjak memeluk Ryujin, mengecup puncuk kepalanya untuk menenangkan.
"Tak apa, Sekarang ayah ada disini... Maaf, bukan ayah yang kau lihat pertama kali, ayah akan menuntunmu sedikit demi sedikit mengingat semuanya, okay?".
Ryujin tak membalas pelukan orang yang mengaku ayahnya ini, ia hanya menunpahkan air matanya dipundak yang lebih tua. Mengangguk samar antara lega juga ragu.
.
.
.
Disebuah cafe berkumpullah trio JaSuKe alias Jay, Sunghoon dan Jake. Berhubung misi dalam masa break juga sekolah hari ini adalah hari libur jadi mereka bisa kumpul santai seperti ini.
FYI Sunghoon adalah adik dari Jay, Sunghoon seumuran dengan Jake sedangkan Jay berbeda 1 tahun diatas mereka. Duo Park ini bersahabat dari sejak dini dengan Jake, mereka juga disekolahkan disekolah yang sama, ayah duo park ini adalah Park Jinyoung, seorang CEO tampan terkenal dinegara ini dan tak ada yang tahu bahwa ia juga sangat terkenal di industri dunia gelap.
"Apa paman Chan baik, Jake?". Tanya Sunghoon
"Hm, hanya koma beberapa waktu". Jawab Jake seadanya setelah menyeruput minumannya.
"Yang aku dengar itu ulah si Ryujin itu,kan?".
"Ya, tapi aku yakin dia hanya shock".
"Kau membelanya?". Tanya Jay keheranan
"Tidak, kata siapa?aku hanya melihat dari sudut pandangnya, lagi pula ayahku tak apa-apa".
"Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya".
"Ya aku juga, jadi aku gak tau gimana rupanya sampai Tuan Wang nekat begitu mengangkatnya sebagai anak?". Timpal Jay.
"Aku rasa... Karna Tuan Wang melihat Ryujin seperti Suji Saat pertama kali bertemu aku tak terlalu memperhatikannya tapi setelah dipikir-pikir sekilas aku merasakan ada yang mirip antara mereka hanya saja, dia terlihat.. Dingin". Jake mengulang ingatannya saat pertama kali bertemu Ryujin, dimana Jake yang marah besar tapi hanya dibalas tatapan dingin dan tajam dari Ryunjin.
"Tuan Wang memang terlihat berseri saat membicarakan soal Ryujin aku merasa lega karena itu sih, soalnya selama ini dia kan selalu keliatan murung dari semenjak meniggalnya Suji". Tuturan Jay dijawab anggukan setuju oleh Sunghoon dan Jake.
"Tapi entah kenapa aku ngerasa perasaan gak enak terhadap Ryujin". Gumam Jake yang masih bisa didengar oleh duo Park.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak, kita ikuti rencana Tuan Wang saja".
Ketiganya menyetujui dan lanjut membahasa topik lain seperti sekolah juga masing-masing misi mereka.
.
.
.
Setelah acara pemulihan kecil-kecilan untuk ingatan Ryujin yang sedikit di edit sore itu dibantu Jackson. Selaku dokter yang menangani, Hoseok bilang Ryujin sudah boleh dipulangkan tetapi tentu harus dengan perhatian dan pengawasan yang ketat agar kondisi dan ingatannya kembali pulih seperti sedia kala.
Jackson mengajak Ryujin pulang ke rumah mereka. Rumah yang biasa disebut Mansion itu terletak dikawasan elit diujung kota yang jauh berbanding terbalik dari letak markas, kawasan elit yang begitu sepi seperti sengaja lahan ini dikosongkan hanya itu berdirinya sebuah mansion yang keseluruhannya diberi warna gelap seakan ingin menyamarkan keberadaanya.
Hari dimana Ryujin siuman di malamnya juga Ryujin langsung dibawa pulang oleh Jackson, dengan kawalan anak buahnya mobil yang Jackson dan Ryujin tumpangi melesat membelah angin malam yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Ryujin mengeratkan blazer Jackson yang dilekatkan ditubuhnya yang kecil, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang, menoleh sedikit ke kaca mobil melihat pesona jalan malam dari dalam mobil yang sunyi.
"kalo Uji mengantuk tidurlah, perjalanan masih lama nanti kalo sudah sampai ayah akan bangunkan". Seru Jackson dari kursi sebelah kemudi sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat Ryujin.
Mendengar nama panggilan yang asing ditelinganya Ryujin melirik sekilas. Matanya memang sedikit berat, sedari tadi hanya melihat keluar kaca membuatnya mengantuk.
"Iya ayah". Balasnya seadanya.
Jackson tersenyum hangat, Ryunjin menyamankan posisi kepalanya untuk menjemput alam mimpinya.
Selanjutnya seisi mobil kembali sunyi hanya terdengar suara samar mesin mobil juga dengkur halus dari kursi penumpang, secepat itu Ryujin tertidur.
.
.
.
Ryujin terbangun dari tidurnya, mengerjapkan matanya membiasakan bias cahaya yang masuk ke retina matanya. Baru ia sadar lalu mendudukan tubuhnya mendadak, kepalanya menoleh kesegala arah melihat setiap sudut ruangan itu.
Tempat baru lagi. Batinnya.
Berbeda dari tempat sebelumnya dimana Ryujin terbangun diranjang yang tak seempuk dari ranjang yang sedang ia tempati sekarang juga ruangan yang sebelumnya tampak putih polos dan banyaknya alat medis.
Tempat ini tidak, tembok yang dicat berwarna cream pucat tapi terasa lembut, lemari putih besar disamping nakas tepat disebelah ranjangnya, meja rias dengan berbagai aksesoris lucu disana, dan meja belajar dibawah jendela besar dengan gorden yang melambai tertiup angin pagi juga terdapat sepasang pintu kaca yang langsung menuju balkon kamar tersebut.
Oh ya. Seingatnya semalam ia tertidur didalam mobil saat menuju rumah bersama ayahnya, ayahnya bilang akan membangunkannya jika kita telah sampai. Tapi nyatanya ia malah tidur sampai pagi dan sepertinya ia dipindahkan oleh anak buah ayahnya semalam.
Ryujin mengurut pangkal hidungnya atas prilakunya semalam, apa ia terlalu terlelap semalam sampai tak bisa dibangunkan.
Untuk pekerjaan ayahnya dan juga memiliki anak buah semacam itu masih terdengar aneh ditelinganya sebenarnya, tapi ayahnya bilang jangan terlalu ambil pusing dulu dan biarkan semuanya berjalan dengan perlahan katanya.
"Kau sudah bangun".
Ryujin mendongkak mendengar suara seseorang dari ambang pintu, dengan mata kucingnya ia tersenyum mendapati Ryujin sudah terbangun.
"Turun, Tuan Wang- ah maksudku ayahmu sudah menunggu untuk sarapan dibawah".
Ryujin tak menjawab, ia hanya memandang seseorang dengan setengah badannya dibalik pintu itu. Melihat tak ada respon dari Ryujin, seseorang itu masuk dan sekarang sudah merada di kamar itu seutuhnya.
"Aku Yeji, satu tahun lebih tua darimu kamu bisa panggil aku eonni atau terserah apa saja yang kamu mau. Aku anak buah Tuan Wang, kakak ku juga, Tuan Wang bilang aku boleh berteman denganmu, jadi ya, apa boleh?". Ucap seorang perempuan bernama Yeji itu terus terang sambil menjulurkan tangannya berniat bersalaman.
Ryujin menatap gadis yang katanya satu tahun diatasnya itu lalu kembali melirik tangan yang mengambang diudara menunggu balasan.
Bibir kering Ryujin memaksa tersenyum lalu tangannya terangkat untuk menyambut juluran tangan Yeji.
"Ryujin. Tentu, senang berteman denganmu Yeji eonni".
Keduanya saling melempar senyum sampai Yeji melepaskan tangannya dan teringat sesuatu yang harus ia lakukan sejak awal.
"Ah ya, cepat turun dan sarapan, aku dengar kemarin kamu nggak sempet makan karna langsung tidur".
"Eonni". Panggil Ryujin ragu-ragu ingin mengutarakan permintaan. Karena Yeji lah teman pertama yang ia punya untuk saat ini, Ryujin pikir ia harus lebih dekat dan bisa cepat akrab.
Yeji yang menangkap raut itu dari teman baru di depannya, ia mengerti sepertinya ada yang ingin Ryujin sampaikan tapi ia masih ragu karna baru saja mereka menyatakan pertemanan mereka, langkah kakinya ia urungkan untuk pergi.
"Mau bareng ke meja makan denganku?".
Ryujin yang awalnya ragu dan menundukan kepalanya, seketika menengadah dengan mata berbinar dan menganggukan kepalanya cepat.
Yeji yang melihatnya terkekeh dan tanpa sadar medekat dan mengusak surai Ryujin gemas.
"Ya udah sana ke kamar mandi, nanti aku siapain bajunya". Yeji menunjuk kamar mandi yang ada dikamar itu dengan dagunya, Ryujin mengangguk menurut lalu terburu buru beranjak dari ranjang dan masuk kedalam sana.
Tentu Yeji tahu ada kamar mandi disana, karna mansion ini bahkan kamar ini seperti rumahnya sendiri setelah rumah miliknya tentunya. Mansion atau lebih tepatnya kamar ini adalah milik sabahatnya dulu, Suji.
Dan lagi, matanya tak merasa asing saat ia membuka lemari pakaian disana, itu milik Suji terlihat masih bersih karna dijaga dan dibersihkan setiap saat oleh pembantu dimansion ini atas perintah Jackson.
Tangannya dengan telaten memilih baju yang pas untuk dipakai Ryujin hari ini, Yeji merasa tubuh Ryujin tampak sama dengan Suji hanya saja ia tak tahu baju seperti apa yang Ryujin suka dan kalau dipikir-pikir Suji kadang suka sekali memakai dress jika sedang dirumah.
"Hemm..". Yeji meletakkan jarinya di dagu sambil matanya menyisir seisi lemari memutar otak untuk memilih setelan yang mana yang cocok dipakai Ryujin.
Karna Yeji berniat mengajak Ryujin bermain, sekaligus untuk pendekatan dirinya dan Ryujin akan semakin akrab.
Netranya menangkap celana jens hitam dan jaket bomber warna orange dipojok sana, ia rasa Suji jarang sekali memakai setelah ini.
Tanpa berpikir panjang ia mengambil setelan itu dan mengambil baju pres panjang warna putih seleher lalu meletakannya diranjang, kembali menempelkan jarinya didagu, ia memilih baju panjang dan jaket karna udara hari ini sangat dingin.
Saat masih sibuk beradu dengan pikirannya, suara pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Yeji lalu dilihatnya Ryujin yang terlihat lebih segar.
"Ah kamu udah selesai?, apa kamu suka setelan seperti ini, aku mau ajak kamu keluar sih jadi pilihin jaket, gimana?".
"Gapapa aku suka kok".
"Baguslah kalo gitu, cepat ganti aku tunggu diluar ya".
Ryujin berucap 'okay' tanpa suara dengan tangan membentuk gestur Ok. Setelannya Yeji melengang keluar ruangan dan menunggu Ryujin diluar.
.
.
.
Setelah berganti pakaian dengan setelan yang sudah Yeji siapkan, keduanya bersamaan turun untuk sarapan bersama dengan Tuan Wang. Tuan Wang tampak sudah menunggu sambil membaca koran dimeja makan, mendengar suara sepatu mendekat ke arahnya ia lantas menoleh dan menemukan Ryujin dan Yeji yang sudah rapi dan menyapanya.
"Pagi ayah".
"Pagi Tuan".
"Selamat pagi juga, langsung duduk saja". Jackson melipat korannya dan menempatkan seluruh atensinya pada Ryujin. Ryujin dan yeji duduk bersebelahan dengan Jackson didepan keduanya.
Para pelayan datang membawa menu sarapan dan menyiapkan didepan ketiganya.
"Kalian rapi sekali, apa ada yang mau kalian lakukan?". Tanya Jackson.
"Ahh ya Tuan, aku mau ngajak Ryujin keliling sebentar boleh kan?".
"Tentu, ajak Ryujin ke tempat yang bagus dan jaga dia ya, Yeji".
"Tentu, Terima kasih Tuan".
"Ayah sepagi ini mau pergi kemana?". Kali ini Ryujin bertanya.
"Ayah ada kerjaan dimarkas, jika ada apa-apa bilang pada ayah ya. Pakai saja kartu kredit ayah untuk berbelanja okay".
"Iya, makasih yah". Selanjutnya hanya dilanjutkan dengan ketiganya yang fokus kepada makanan masing-masing sesekali berbincang ringan sebelum mereka memulai kegiatan dipagi ini.
~
Ryujin dan Yeji berada disebuah pusat perbelanjaan dikota itu sekarang setelah menyelesaikan sarapan mereka bersama Tuan Wang, mereka berdua diantar kan oleh supir sebenarnya bisa saja Yeji memakai motornya dan Ryujin ia bonceng dibelakang tapi karena tidak diizinkan oleh Tuan Wang yang berucap cuaca sedang dingin akan membahayakan apalagi ia membawa Ryujin, Putrinya.
Keduanya menginjakkan kaki digedung bertingkat yang dipenuhi orang berbelanja juga bermain itu, banyak sekali pengunjung karna berhubung hari ini adalah hari libur. Para anak sepantaran mereka pun banyak yang datang baik itu datang bersama keluarga atau teman temannya.
"Kebetulan hari ini juga aku libur jadi bisa ngajak kamu ke sini". Yeji menyambar tangan Ryujin dan menggandengnya
"Tetap disisi aku, hari ini banyak sekali yang datang aku gak mau kamu hilang dikerumunan banyak orang".
"Baik eonni~". Jawab Ryujin sambil mengeratkan gandengannya pada Yeji.
"Okay.. Kalau begitu ayo kita mulai habiskan uang Tuan Wang~". Seru Yeji girang sebelum menutup mulutnya kaget takut takut ada yang mendengarnya, lalu keduanya reflek tertawa bersama dan mulai berjalan menyusuri seluruh isi Mall tersebut dengan riang.
.......
.......
.......
"Kau always ganggu waktu santai aku deh, Jake. Ngapain juga sepagi ini kau ngajak aku kesini?!". Itu Jay, mengerutu kesal kepada sahabat satu taun lebih muda darinya itu, ya bagaimana tidak kesal ia sedang enak-enaknya tidur secara tiba-tiba ada yang menganggu dan membangunkannya hanya untuk meminta ditemani ke mall dihari kejayaannya ini.
"Kau kan tau aku gak di izinin bawa mobil".
"Kau kan bisa bawa motor, Jake".
"Udara hari ini lagi dingin banget, aku gak mau mati kedinginan dijalan nanti". Jay mendengus mendengarnya.
"Lagi pula ini sudah pukul sepuluh lebih Jay itu berarti sudah mulai masuk waktu siang". Bela Jake berjalan disampingnya.
"Tapi jika dihari libur seperti ini jam 5 sorepun masih bisa dibilang pagi kau tau".
"Aish, dasar tukang tidur mau jadi apa kau besar nanti?!".
"Ketua mafia~". Jawab Jay enteng yang langsung mendapat geplakan di bisep tangannya oleh Jake.
"Jaga ucapanmu ini tempat umum bodoh!".
"Kau berani memanggilku bodoh hah?!".
Dan pertengkaran tidak jelas itu berlanjut sampai keduannya memasuki pusat perbelanjaan dan tak berhenti hingga keduanya sudah berkali kali keluar masuk toko yang terdapat disana.
Memang tidak akan pernah habis jika sudah berurusan dengan acara berbelanja, Jay yang awalnya kesal pun jadi asik sendiri kesana kemari memilih barang dan juga berbelok sebentar ke Time Zone dan menghabiskan waktu paling lama disana sampai keduanya kelelahan.
"Hahaha kau payah sekali dalam bermain, sesuai aturan hukumannya kau harus mentraktirku, Jay". Ucap Jake setelah keduanya duduk dikursi yang ada di sana yang disampingnya juga ada beberapa kantong belanjaan milik keduanya.
"Kau hanya sedang beruntung, aku aslinya pro tau".
"Kalo kalah sih kalah ajaa jangan ngeles kayak gitu". Ucap Jake masih tertawa.
"Berisik. Udahlah aku jadi laper kita cari tempat makan aja lah, tiba tiba pengen makan sushi nih". Ucap Jay dengan tangan mengusak perutnya sendiri. Sejak bangun tidur perutnya memang kosong ia belum sempat makan apapun karna Jake yang menyuruhnya untuk cepat mengantarnya tadi pagi, jadilah ia merasa lapar saat ini.
"Oke oke ayo takut kamu keburu pingsan". Berjalan lebih dulu sambil masih terkekeh.
~
Saat berjalan sambil berbincang santai dengan tangan masing masing menjinjing kantong belanjaan berisi barang yang baru saja mereka beli beberapa waktu lalu, yang akhirnya berhenti didepan sebuah tempat makan jepang yang ada disana.
Ryujin bilang ia tiba tiba lapar dan ingin mencoba makan makanan jepang dan karna ini sudah melewati waktu makan siang langsung saja di'ia'kan oleh Yeji.
"Setelah ini kita mau kemana lagi eonni?".
"Kau masih ingin berkeliling tidak?". Tanya balik Yeji.
"Hmm.. aku udah cape berkeliling sih".
"Ya sudah, kamu apa ada tempat yang mau kamu datengin?".
Ryujin berpikir sejenak sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya lalu menelannya sebelum menjawab.
"Aku ingin datang ke markas sih, kemarin aku liat ada yang berlatih memanah. Aku ingin coba".
"Kamu ingin berlatih memanah? Aku akan mengajarimu kalo gitu".
"Benarkah?"
Yeji mengangguk. "Walaupun keahlian memanahku masih belum sebagus yang lain, tapi aku bisa mengajarimu yang dasar terlebih dahulu".
"Apa ada anggota yang sudah mahir menggunakannya?".
"Aku". Ucap seseorang dibelakang Ryujin, Yeji melirik kearah depan tepatnya dibelakang Ryujin dimana dua orang laki-laki yang Ryujin punggungi, Ryujin yang kaget langsung memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang berbicara.
"Jake, Jay?".
"Eonni mengenal mereka?". Yeji mengangguk.
"Sedang apa kalian disini?".
"Mungkin seperti yang kalian lakukan sekarang". Balas Jay memasukkan tangannya ke kantong hoodie.
Yeji melirik Ryujin seakan bertanya 'apa boleh' dan Ryujin yang seakan tahu pertanyaan yang dilontarkan Yeji melalui telepati itu hanya mengangguk singkat.
"Tentu, duduklah".
Kedua anak sepantar mereka itu duduk dibangku kosong itu dengan Jake disamping Ryujin dan Jay disamping Yeji.
"Aku sedikit dengar tadi kau ingin berlatih memanah?". Tanya Jake pada Ryujin.
"Ya, aku sedikit tertarik". Jawab Ryujin seadanya.
"Mau aku ajarkan?". Tawarnya, Ryujin memandang ragu ke arah Jake lalu melirik Yeji didepannya. Yeji yang menyadari lalu menimpali.
"Dia Jake Lee salah satu pemanah generasi baru, anggota yang ahli dalam memanah dimarkas".
"Nama koreaku Jaeyun Lee tapi kau bisa panggil aku Jake, Btw umur kita sama jadi santai aja". Jake bisa lihat alis berkerut itu mengendur dan tersenyum simpul.
"Aku Ryujin-".
"Aku sudah tau". Ucapan Ryujin terpotong
"Ahh begitu, senang mengenalmu, jika boleh aku ingin berlatih memanah dengan mu, Jake".
"Tentu, kapan saja kau mau aku akan langsung datang melatih". Jake baru pertama kali melihat senyum manis itu walaupun hanya sedikit, sangat berbeda dengan tatapan dinginnya waktu pertama kali mereka bertemu. Tuan Wang sepertinya sungguh-sungguh untuk menghilangkan ingatan Ryujin atau jika tidak mungkin Jake sekarang sudah habis dipukuli oleh Ryujin.
"Ekhem". Deheman seseorang didepan Jake membuat kontak mata itu terputus.
"Ahh ya, kenalin juga dia Jongseong Park kawanku, seumuran dengan Yeji nonna".
"Ais, sekali lagi kau bilang nama koreaku, benar benar aku potong jari kesayanganmu itu supaya gak bisa memanah". Ancam Jay dengan kepalan tangan yang tertahan diudara siap memumul tengkorak bocah didepannya.
"Panggil aku Jay saja, jangan memanggilku Jongseong. Jay saja sudah cukup". Jay mengenalkan dirinya sedikit menawar.
"Ahh baik kak Jay". Ucap Ryujin tertawa canggung.
Lalu pesanan kedua laki-laki itu datang dan dilanjut dengan obrolan ringan, dengan diakhiri oleh Jay yang menawarkan tumpangan pulang kepada Yeji dan Ryujin. Setelah mengabari Tuan Wang bahwa mereka akan pulang dengan Jay menggunakan mobil miliknya, lalu mendapat izin atasannya itu, Yeji meng'ia'kan tawaran itu dengan Ryujin yang mengekor saja lalu menitipkan barang bawaan mereka pada sopir untuk dibawa pulang dan disimpan.
Karena Ryujin yang ingin berlatih memanah, jadi setelah sesi makan selesai keempatnya melesat pergi ke markas dengan menumpang dimobil yang Jay tawarkan. Sesampainya dimarkas, tempat itu ramai oleh para anggota yang sedang berlatih setelah hari kemarin mereka diliburkan mungkin tenaga mereka sudah terisi penuh dan tak menyia nyiakannya untuk langsung berlatih mengasah kemampuan masing-masing, bahkan dinginnya udara terkalahkan oleh semangat membara dari dalam diri mereka.
Mobil mewah Jay berhenti ditempat parkir markas yang juga ada kendaraan anggota lain terparkir disana, setelah semuanya keluar dari mobil keempatnya menoleh saat mendengar ada pemuda jangkung berlari kecil memanggil salah satu diantara mereka, lebih tepatnya menuju kearah Jay.
"Yak hyung kau kemana saja tadi aku ke kamarmu kau sudah tak ada dikamar aku kira kau sudah pergi duluan ke markas, tapi dimarkas pun aku tak menemukanmu!". Gerutu pemuda itu ketika sudah ada didepan Jay.
"Salahkan saja si Jaeyun, dia tiba-tiba nyuruh aku pergi ngaterin dia". Ucap Jay tak kalah sewot melirik sinis Jake disampingnya.
"Eyy sudahlah maafkan aku, lagi pula kalian sudah bertemu kan sekarang".
Kedua pemuda itu berdecak bersamaan, sebelum pemuda jangkung itu menangkap seseorang yang asing disana.
Yeji yang menyadari tatapan pemuda itu pada Ryujin dan juga Ryujin yang tampak bingung, Yeji yang lagi lagi dengan senang hati menjelaskan.
"Dia Sunghoon Park adik dari Jay". Begitupun Jake, ia berbisik pada pemuda jangkung bernama Sunghoon itu bahwa yang Sunghoon tatap adalah anak dari Tuan Wang yaitu Ryujin sendiri, Sunghoon mengangguk mengerti lalu mendekat ke arah Ryujin.
"Sunghoon Park, adik dari Jay hyung kau mungkin sudah berkenalan dengan kakakku".
"Ryujin- ".
"Aku tau". Baru saja Ryujin ingin memperkenalkan bahwa ia adalah anak Tuan Wang, lagi-lagi terpotong oleh ucapan Sunghoon. Ahh Ryujin lupa mungkin mereka sudah berteman dulu sebelum ingatannya hilang.
"Kau sedang berlatih Hoon?". Tanya Yeji memecah kecanggungan yang sempat terjadi diantara keduanya.
"Ya, baru saja selesai".
"Kita akan berlatih memanah, kau mau ikut?". Tawar Jake.
"Tidak, kalian pergi saja. Aku ada urusan". Sunghoon menjalan kearah motor miliknya setelah berpamitan.
"Dia memang begitu, jangan terlalu dipikirkan". Ucap Yeji karna Ryujin terus terusan melihat kepergian Sunghoon.
Ryujin mengangguk. "Ayo, ikut aku". Ajak Jake melangkah lebih dulu.
.......
.......
.......
"Sebelum kau mengangkat panahanmu pastikan postur tubuhmu tegap dan kokoh". Inturksi Jake langsung dituruti oleh Ryujin yang langsung menegapkan bahunya.
"Pandanganmu harus lurus kedepan fokus kearah target, setelah itu ambil anak panah lalu letakan dan kaitkan ditengahnya, lalu angkat busurmu sambil tarik anak panah yang terkait ditali. Tarik hingga tanganmu lurus setinggi telinga dan fokuskan tatapanmu pada target".
Ryujin mengikuti setiap intruksi yang Jake ucapkan, tangan yang memegang busur dengan kuat, ujung anak panah yang menempel dan bergesekan langsung dengan permukaan atas jari jempol Ryujin. Mensejajarkan nya dengan telinga, sebelah mata memejam dan mata satunya yang terbuka menatap fokus target didepannya yang berjarak lima meter dari ia berdiri.
"Seberapa kuat kamu menarik talinya akan menentukan seberapa jauh dan kuat anak panah mu melesat, jika sudah yakin dengan arah targetmu kau bisa melepaskannya, mengerti?".
Ryujin mengangguk kecil tanda mengerti. Ryujin yakin kali ini ia akan mendaratkan busurnya tepat di daerah berwarna kuning ke tengah target jauh didepannya sana, ia merasakan otot lengannya ikut tertarik karna memusatkan tenaganya disana menarik talinya dengan kuat.
"Lepaskan".
Perintah Jake barusan membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya, tapi langsung melepas tali dibusur itu dengan tergesa.
Meleset. Ekspentasinya meleset. Ryujin hanya mengenai bagian warna biru disana, sebenarnya yang ini lebih baik dari tembakan sebelumnya yang selalu mengenai daerah hitam bahkan keluar dari daerah lingkaran itu, Ryujin mendesah kecewa atas ekspentasinya sendiri.
"Hey, jangan cepet nyerah gitu dong ini masih awal kau masih bisa berlatih. Postur tubuhmu sudah bagus kau hanya perlu berlatih aja, konsentasimu jangan sampai buyar". Ucap Jake menyemangati.
"Ahh makasih Jake".
"Istirahat saja dulu, Yeji noona membawakanmu minum tuh".
"Em.. Kau duluan aja aku ingin berlatih sebentar lagi, nanti aku nyusul".
"Kau serius?". Ryujin menjawabnya dengan mengangguk yakin.
"Yasudah, jangan lama-lama diluar dingin sekali". Jake menepuk pundak Ryujin lalu berlari kecil menghampiri Yeji dan Jay yang berada di dalam ruangan kaca yang hangat, memperhatikan Ryujin belatih dari sana.
"Kenapa kau datang sendirian Jake?". Tanya Yeji ketika Jake masuk keruangan kaca tersebut, seorang diri.
"Dia bilang ingin berlatih sebentar lagi, aku udah nyuruh dia buat cepetan selesain kok".
"Kayaknya dia sungguh sungguh buat belajar memanah". Ucap Jay sambil menyesap americano hangat miliknya.
"Ryujin seperti Suji, Suji dulu mahir sekali memanah bahkan melebihimu Jake".
"Ya, noona benar". Ucap Jake sambil mendudukkan bokongnya di sofa sebelah Yeji.
"Ryujin belajar dengan cepat". Yeji berucap tanpa sadar melihat tanpa henti Ryujin yang sedang melesatkan anak panahnya berulang kali dan berhasil mendarat di daerah kuning meskipun tidak tepat di titik tengah, Ryujin terlihat senang mengayunkan tangannya yang mengepal ke atas dan ke bawah seakan berkata 'yes aku berhasil' tanpa suara, lalu kembali mengambil anak panah di kantong yang ia soren dan mencoba melesatkan beberapa busur lagi.
"Ya, lebih baik darimu".
Yeji yang mendengar tuturan Jay melirik sang empu dengan sinis lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
"Yaa, memang memanah bukan keahlianku.. Tapi jika ingin mengadu bermain pisau aku pastikan urat nadi dilehermu itu akan terputus dengan rapih ditangan cantikku". Melambaikan tangannya sendiri didepan wajah melihat kuku miliknya yang dicat berwarna merah gelap itu dengan senyum kucing andalan nya yang malah membuat bulu kuduk Jake meremang.
Ryujin baru saja akan mengambil anak panah dikantung yang ia soren dibahunya itu tak kunjung mendapatkannya, setelah ia menoleh dan melihat bahwa isinya sudah ia pakai habis dan benar saja target didepannya sana sudah dipenuhi oleh anak panah hasil berlatihnya barusan.
Ryujin menghela napas padahal ia ingin mencobanya beberapa kali lagi.
"RYUJIN-AH ! KEMARI, KAU MAU MEMBEKU DILUAR SANA HAH?!". Teriakan melengking Yeji membuat Ryujin terperanjat, menyadari aktifitasnya memakan banyak waktu.
"IYA EONNI AKU AKAN SEGERA KESANA SETELAH MEMBERESKAN INI DULU". Jawab Ryujin tak kalah keras karna jarak mereka yang terbilang cukup jauh.
Selanjutnya Ryujin berjalan mendekat ke arah papan target untuk mengambil anak panahnya kembali, busur ia sampirkan dibahunya agar mempermudah ia mencabut anak panah.
Setelah dirasa semua anak panahnya sudah terjabut Ryujin berniat melenggang pergi, baru saja akan mebalik badan. Sebuah anak panah melesat ke arahnya tepat didepan muka dan berhasil membuat kepalanya menoleh ke arah samping seperti tertampar oleh anak panah tersebut, Ryujin meringis memegangi bagian pipi sampingnya itu.
"Apa ada yang kena". Ucap seseorang berlari padanya bukannya melihat keadaan Ryujin, tapi yang pertama kali orang itu lakukan yaitu mengambil anak panah miliknya yang menancap tepat ditengah target itu sedikit bernoda merah diujungnya.
"Sepertinya sudah cukup tajam" gumam orang itu yang masih bisa Ryujin dengar karna jarak keduanya yang tak terlalu jauh.
Tersadar dengan keadaan Ryujin, orang itu menoleh dan memperhatikan tangan Ryujin yang memegangi pipinya.
"Oh apa pipimu tergores? Biar aku lihat".
Orang itu menyingkirkan tangan dingin Ryujin yang menutupi pipinya, lalu kemudian dahi nya mengerut.
"Huh? Sepertinya tidak".
Ryujin yang mendengarnya langsung saja memegang kembali pipinya, tidak terasa ada luka disana, Ryujin yakin ia merasakan perih di daerah pipinya tadi. Karna tak percaya ia kembali merapa bagian lain pipinya tapi tetap saja tidak ada, Ryujin hanya merasakan kulit itu semakin dingin karna cuaca.
"Syukurlah tidak ada yang kena, maafkan aku, aku tak sengaja melesatkan anak panahku aku hanya ingin mencobanya karna baru saja selesai aku asah". Ucapnya sedikit berbohong, karna sejujurnya ia sengaja memanah tepat dimana Ryujin berada.
"Ya tak ap-".
"YAK RYUJIN! JIKA DALAM HITUNGAN KETIGA KAU MASIH DISANA AKU TAK AKAN MENGIZINKANMU BERLATIH MEMANAH LAGI". Ancaman terakhir kali Yeji dari arah ruangan kaca itu mengelegar seperti petir di siang bolong, membuat Ryujin gelagapan dan buru buru berlalu dari sana.
"Kamu mau ikut aku?". Tanya Ryujin pada orang tadi.
"Hem? Kemana-". Ucapannya terpotong kala Ryujin menarik tangannya membawa ia ke arah teriakan Yeji berasal.
.......
.......
.......
Dilain sisi sore itu.
Disebuah kantor polisi pusat, seorang anggota polisi disana sedang mengobrol dengan seseorang lewat telepon kabel yang ia dekatkan ke telinga kirinya, tampak serius dengan lembaran ketas digenggamannya.
"Saya tidak tahu detailnya, disini hanya tertera bahwa keduanya mengundurkan diri dari pekerjaan tanpa keterangan dan meminta untuk tidak mengikut campuri kehidupan mereka setelah ini". Jelas seorang polisi itu sembari membaca ulang surat pengunduran diri dari dua orang kepolisian sekaligus Detektif yang kebetulan suami istri itu.
"..."
"Baik pak, saya akan mencari tahu. Akan saya sampaikan informasi yang saya dapat secepatnya kepada anda".
"..."
"Baik. Terima kasih pak selamat siang". Setelah panggilan dengan seseorang disebrang sana yang merupakan sang atasan terputus, pria itu menaruh kembali telepon kabel tersebut ke tempatnya, ia mengurut pangkal hidungnya lelah, tak lama terdengar ketukan dipintu ruangannya.
"Masuk".
"Apa kau membawa informasi baru Seungmin?".
"Iya pak".
"Apa itu?".
"Seorang narasumber bilang ia melihat Detektif Kim dan istri juga anaknya bersiap pergi dan sepertinya akan melakukan pindahan keluar negri, pak".
"Hanya itu?".
"Itu saja yang baru saya bisa temukan sejauh ini pak".
"Saya dan yang lain akan memeriksa data penerbangan dibandara untuk memastikan". Lanjut Seungmin.
Polisi bername tag Park Jimin itu mengangguk kecil disertai helaan nafas gusar, melihat itu Seungmin menjadi khawatir dengan atasannya itu.
"Saya akan mencari lebih banyak informasi soal Detektif Kim dan keluarganya, anda bisa serahkan ini pada saya dan jaga kesehatan anda pak".
"Tidak, jangan terlalu memaksakan dirimu kau juga harus jaga kedehatanmu. Kita bisa mencarinya dengan yang lain". Jimin tahu bawahan yang satu ini sangat serius dalam mengerjakan pekerjaan nya.
Masalah kali ini bukan permasalahan dari luar, tapi dari pihak dalam itu sendiri, membuat semua anggota merasa kaget juga heran akan kabar surat pengunduran diri dari keluarga Detektif Kim yang juga secara mencurigakan menghilang begitu saja.
"Tidak pak, Detektif Kim adalah keluargaku juga disini, saya dengan senang hati ingin membantu".
Walaupun disurat terakhir dari sang Detektif Kim yang diserahkan pada atasan nya menggunakan paket itu, menyatakan bahwa ia dan keluargnya baik baik saja dan akan hidup tenang setelahnya dan memerintah bahwa jangan ada yang mecari keberadaan atau pun keadaan diri juga keluarganya, pesan itu terasa janggal menurutnya.
Jimin tahu akhir akhir ini memang ada sesuatu yang suami istri itu selalu sibuk seperti selidiki sesuatu secara diam diam tanpa mau diketahui oleh dirinya apalagi anggota lain, apa karena itu mereka mengundurkan diri.
Tidak mungkin Namjoon tiba-tiba saja mengundurkan diri, setidaknya jika memang benar, ia akan datang memperlihatkan batang hidungnya untuk mengucapkan salam perpisahan pada atasan dan rekan rekannya, tapi ini tidak, Namjoon dan istrinya yang merupakan seorang detektif juga pun hanya mengirimkan selembar surat yang isinya tak bisa membuat ia lega sama sekali.
"Terima kasih Seungmin, tapi untuk hari ini kau istirahatlah dahulu. Kita lanjut besok".
"Baik pak, jika ada sesuatu tolong kabari saya". Seungmin membungkuk dan izin pamit lalu melenggang keluar ruangan kerja pribadi milik Jimin tersebut.
.......
.......
.......
Ryujin duduk di sofa setelah memasuki ruangan kaca itu ia diapit oleh dua orang yang tepat disamping kirinya yaitu Jake dan disamping kanannya orang yang baru saja ia temui tadi.
Tangannya masih saja menyentuh pipinya yang tak terluka sedikit pun itu, tapi Ryujin masih bisa ingat ia merasakan saat kulitnya merasa perih tadi karena benda runcing itu.
"Kenapa?". Tanya Jake, karna melihat Ryujin yang terus memegang pipinya sambil melihat orang disampingnya yang sedang membersihkan anak panah miliknya menggunakan lap.
Ryujin menggeleng kecil dan berucap 'tak apa' tanpa suara.
"Makasih eonni ". Ryujin berucap saat Yeji menyodorkan segelas cokelat hangat padanya, juga memperikan segelas americano hangat kepada orang baru disamping kanannya itu.
"Thanks ji".
"Huh??".
"Dia sahabatku". Jawab Yeji seolah tahu pertanyaan Ryujin.
"Kita belum sempat berkenalan tadi, aku Chaeryeong Lee, kau Ryujin Wang bukan. Maaf soal yang tadi, aku tak mengenalimu dari arah belakang jadi jujur saja aku sempat mencurigaimu juga sekalian menguji ketajaman anak panahku". Ucap orang bernama Chaeryeong itu menjelaskan.
"Senang kenal denganmu, ah tak apa Chaeryeong-ssi, salah aku juga karena tak berhati hati".
"Tapi untung saja kau tak terluka". Ucap Chaeryeong sambil mengusap pipi yang selalu Ryujin pegang tadi.
Yeji bertanya apa yang terjadi dan Chaeryeong dengan senang hati menceritakan kronologinya lalu setelah mendengar penjelasan dari Chaeryeong, Yeji memerintahkan untuk berhati hati dalam menggunakan senjata, yang di'ia'kan oleh keduanya.
Dilanjut dengan mereka yang asik mengobrol sampai tidak terasa langit hampir menggelap dan Jay bilang mereka harus segera pulang terutama Ryujin, semuanya beranjak dari ruangan itu dan baru saja akan menuju mobil Jay diparkiran seseorang datang menghampiri sambil berlari menyerukan nama dua laki laki disana.
"Jay, Jake". Sang empu nama menoleh saat ada yang memanggil mereka.
"Kai, ada apa?". Tanya Jay.
"Ah itu, Sunghoon menyuruhku jika aku bertemu dengan kalian dia bilang kalian berdua di suruh datang menemuinya ditempat biasa".
"Kenapa memangnya?". Kali ini Jake yang bertanya.
"Mana aku tau, aku hanya menyampaikan perintahnya". Kai mengedikkan bahunya, lalu menoleh dan melihat Chaeryeong juga Yeji disana.
"Chae,Yeji noona kebetulan sekali, kalian juga disuruh menghadap Suga-nim tadi".
"Ah benarkah?". Tanya Yeji, lalu melirik Ryujin disampingnya. Ia harus mengantarkan anak ini ke mansionnya sebelum hari benar benar berubah malam.
"Ahh lalu Ryujin-".
"Ryujin sama aku saja nonna, dia mau balik ke mansion kan? Kebetulan aku membawa motorku". Tawar Kai.
"Hm.. Ryujin tak apa kau pulang dulu bareng Kai? nonna kayaknya ada urusan dulu disini".
"Gak papa eonni, yasudah pergilah aku akan pulang bareng dia". Ryujin meilirikkan matanya pada sosok Kai.
"Maaf ya lain kali aku bakal anterin kamu pulang". Ucap Yeji memelas.
"Kau sudah ada Kai yang anterin, aku sama Jake pergi duluan ya takut si pangeran es ngamuk. Ayo Jake!".
"Kita duluan ya, bye". Jake berlari kecil membuntuti Jay sambil melambaikan tangannya.
"Makasih tumpangannya tadi kak Jay". Seru Ryujin yang dibalas Jay dengan mengangkat tanganya seolah berkata 'tak masalah' sebelum masuk kedalam mobil miliknya tanpa menoleh.
Setalah mobil mewah itu pergi meninggalkan kawasan markas, Yeji dan Chaeryeong ikut undur diri untuk segera menghadap Yoongi. Masing masing dari mereka sudah pergi, sekarang tinggalah Kai dan Ryujin berdua disana.
"Mau ku antar sekarang?".
"Ah ya, terima kasih sudah mau mengantar".
"Bukan masalah". Kai berjalan lebih dulu menuju motor miliknya dengan Ryujin yang mengekor saja dibelakang. Kegiatan Kai memakai helm full facenya terhenti berganti menaruh helm itu dijok motor lalu menopang dagu menggunakan satu tangannya dan menatap Ryujin lekat.
Ryujin yang ditatap seperti itu pun merasa mulai risih.
"Apa ada masalah?". Tanyanya
"Apa kamu sungguh gak mengenali ku?". Bukannya menjawab, Kai malah melontarkan pertanyaan yang membuat kerutan kecil di dahi Ryujin muncul.
"Ryu, kau tak mengenalku?" Tanya Kai lagi sedikit mencondongkan tubuhnya, nada suaranya terdengar lebih serius dari tadi.
"Apa maksudmu?".
"Oh gosh, kau serius tak mengenaliku barang sedetik pun?".
"Aku sungguh gak ngerti apa yang kamu maksud??". Kepalanya mulai pusing sekarang.
Kai menatapnya tak habis pikir lalu mengela nafas kasar. Menyugar rambut pirangnya kebelakang lalu memakai helmnya kembali, memakaikan helm yang sama kepada Ryujin yang tak berkutik sama sekali dari tempat ia berdiri.
"Naik". Titahan Kai membuyarkan lamunannya, Kai sudah diatas motornya dengan mesin yang sudah menyala. Sepertinya hari ini Ryujin banyak sekali melamun, Ryujin menggelengkan kepalanya merutuki kebiasaan bodoh yang ia lakukan berulang kali hari ini.
Tanpa pikir panjang Ryujin mengangguk lalu menaiki mobil besar milik Kai itu.
"Pegangan, udaranya dingin". Merasa jaket bomber kebesaran miliknya tak berfungsi sama sekali, akhirnya Ryujin menurut lalu memeluk pinggang Kai dari belakang. Setelahnya mereka melesat pergi menjauhi lingkungan markas menerjang udara sore yang terasa menusuk kulit keduanya.