
...[Backward flow on]...
...________________________________________...
Jimin sang ketua satuan Reserse itu kini sedang terduduk dimeja kerja miliknya, dihadapan nya kini sudah berdiri ke empat pemuda yang sudah ia pilih untuk diberikan sebuah tugas.
Bukan sembarang orang yang ia pilih, untuk hanya mencari sebuah Chip yang bahkan tidak diketahui wujudnya seperti apa ini tetap tugas penting yang menyangkut pada negara. Chip itu diperkirakan sudah berada disana sebelum bangunan berupa sekolah itu dibangun, hampir terlupakan keberadaan nya saking terlalu lama disana.
Jika sampai Chip itu jatuh ditangan yang salah, mereka akan memanfaat kan itu untuk kepentingan jahat mereka. Jimin harap dengan ia mengutus beberapa anak remaja ke sekolah itu dan menemukan keberadaan Chip tersebut tanpa membuat bising jagat raya.
Jimin tahu mereka hanyalah anak ingusan yang tidak tahu apa apa, namun jika menyangkut negara tercinta mereka setidak membuat hatinya tergerak untuk ikut membantu pihak kepolisian dalam tugas kali ini.
Mari kita perkenal kan anak ingusan yang di maksud. Orang pertama yaitu Kim beomgyu, anak tingkat dua yang bersekolah di Dwight School itu sendiri, Beomgyu merupakan anak kedua setelah sang kakak Kim Soobin, dari pasangan Kim Taehyung dan nyonya Kim.
Selanjutnya Park Lia, anak tingkat pertama yang juga bersekolah di Dwight School, Lia adalah anak Tunggal dari pasangan Park Jimin dan nyonya Park.
Dilanjut Jeongin Seo, juga pelajar setingkat dengan Beomgyu, Jeongin juga adik dari salah satu anggota Resense yaitu Seo Changbin, seperti kakaknya Jeongin hampir memiliki otot bisep tak kalah kuat yang sama dengan milik anggota kepolisian bermarga Seo itu.
Dan yang terakhir Kim Sunoo, pelajar setingkat dengan Lia, Sunoo adalah anak bungsu keluarga Kim atau adik kandung dari kepolisian Kim Yeonjun. Ayah mereka merupakan Seorang Prikeater yang kabarnya sudah hampir pengsiun yang bernama Kim Seokjin.
Dan alasan mengapa mereka dipercayai untuk menjalan kan tugas ini? Beomgyu dan Lia mereka dipilih tentu karena mereka sudah jauh lebih tahu sekolah itu terutama Beomgyu yang sudah menduduki tingkat dua, mereka tentu dibutuhkan ditugas ini.
Ditunjuk sebagai salah satu anggota yang ikut bertugas kali ini, berbekal ketelitian nya dalam segala hal mengharapkan Sunoo bisa membantu mencari dimana Chip itu ditempatkan.
Jeongin ia ditambahkan ditugas ini karna kemampuan bela dirinya yang bagus untuk berjaga jaga jika ada yang terjadi diluar ekspetasi saat menjalankan tugas, intinya Jeongin akan siap menjadi pelindung bagi ketiga rekan nya nanti.
Setelah keempat nya diberi tahu tentang tugas yang akan diberikan kepada mereka, Sunoo sebagai anak tingkat pertama yang baru saja masuk sekolah dan sudah mendapat teman baru juga disana sedikit sewot karna harus dipindah sekolahkan hanya untuk mencari sebuah Chip yang bahkan mereka tidak tahu wujudnya.
Sunoo merasa dongkol dan ingin menolak tapi ketika kakaknya yang sedari tadi berada diruangan yang sama mendekat dan menarik Sunoo ke pojok ruangan lalu membisikan segala ancaman yang bisa ia jadikan senjata jika Sunoo tidak menurut dan diakhiri dengan jitakan mulus dikepalanya membuat Sunoo meringis terpaksa mengangguk. Yeonjun menyeret kembali Sunoo ke tempat semula, tersenyum pada Jimin sambil berucap 'maaf, silahkan lanjutkan' membuat Sunoo mendelik kesal.
Selain Sunoo tidak ada bantahan dari yang lain, Jeongin tidak ingin bernasib sama dengan Sunoo ketika melihat kakaknya juga sudah menatap tajam kepadanya, dan tatapan menuntut Jimin pada putrinya membuat Lia membuang nafas pasrah, kalo Beomgyu sih terima saja karna menurutnya tugas itu menantang dan keren.
Semua berkas untuk pindahan sekolah Sunoo juga Jeongin diurus detik itu juga, hari senin setelahnya mereka bisa masuk dan diterima dengan mudah juga karna nilai raport keduanya yang ternyata bisa diandalkan. Beruntung nya Sunoo mendapat kelas bersama Lia disana, dan Jeongin dengan Beomgyu, setidaknya mereka pergi mencari berpasangan dan tidak terhalang oleh apapun, semoga saja.
Dengan bantuan alat pendeteksi yang dimiliki masing masing, pencarian seminggu itu belum juga membuahkan hasil padahal mereka berusaha susah payah mendapat waktu yang pas untuk menjelajahi bangunan luas itu, bahkan rela menahan lapar disaat jam istirahat.
Seperti yang Sunoo bilang "aku mungkin tak perlu diet lagi kalo lakuin tugas ini" ia selalu mendumel seperti itu disaat kegiatan mencarinya, mereka juga cukup lelah karna harus bersandiwara dan berinteraksi dengan anak lain.
Menurut Sunoo sebagai orang yang suka sekali berteman sangat disayangkan karna tidak ada waktu untuk bercengkrama selain dengan Lia dan satu teman nya yang menyebalkan, tapi dengan modal nekatnya jika ada waktu luang ia selalu mengecek berita terupdate tentang segala hal yang menyangkut sekolah ditempatnya itu, jadi tidak heran jika ia tahu siapa saja murid famous disana dan berbagai cerita tentangnya.
...________________________________________...
...[Backward flow off]...
... ...
Satu minggu lebih sudah berlalu sejak kedatangan Ryujin dan yang lain ke sekolah ini, dan sudah tiga hari itu pula mereka menelusuri semua area sekolah. Cukup kewalahan karena mereka harus bisa menggunakan waktu yang tepat disaat mereka harus berpura pura menjadi murid disana.
Banyak sekali yang menghambat aksi mereka salah satunya saat ini, dikantin sekolah pada waktu istirahat harusnya Kai dan Ryujin lah yang beraksi kali ini. Tapi entah lupa atau disengaja Ryujin malah ingin ikut pergi ke kantin bersama teman satu kelasnya yang lain.
Kai menatap kesal pada Ryujin yang sedang asik menyantap makanan sambil berbincang dan tertawa tanpa beban disisi meja sana. Kai menghela nafas berat lalu memasukan sesuap kedalam mulutnya.
Saat menengadah dan tak sengaja ia melihat seorang pemuda, kali ini bukan Jay ataupun Jake tapi memang satu meja dengan Jay. Pemuda yang Kai tangkap adalah pelajar tingkat dua itu sedang mengaduk-aduk makanan dimangkok miliknya tetapi dengan tatapan yang tak menuju pada makanan miliknya itu.
Tatapannya mengarah tak jauh dari tempat Kai, mengundang rasa penasaran Kai yang pada akhirnya mengikuti arah pandang pemuda itu. Tatapan itu tertuju tepat pada meja yang ia tempati atau lebih tepatnya pada salah satu temannya.
Kai kembali memeriksa pemuda tadi dan kembali melihat tujuan padangan nya, tidak salah lagi pemuda itu sedang menatap Ryujin. Meja mereka memang sedikit bising oleh pembicaraan dan tawa, mungkin saja pemuda itu merasa risih dengan itu tapi yang Kai tangkap Ryujin tak terlalu mengeluarkan suara sebising itu ia hanya terkekeh oleh celotehan Sunoo.
Tapi mengapa pemuda itu hanya menatap Ryujin dengan tatapan seperti itu, bukan kah itu sedikit aneh. Kai sedikit gugup takut-takut Ryujin dikenali identitas aslinya, terlebih takut Ryujin tahu yang sebenarnya.
.......
.......
.......
Kai memisahkan diri saat yang lain akan kembali ke kelas setelah menghabiskan makanan mereka, tungkainya berjalan menuju kamar mandi pria disana. Tak ada yang ingin ia lakukan hanya mencuci muka dan tangan saja, hingga saat ia sedang membasuh wajah keran disamping nya menyala Kai menghentikan aktifitasnya. Tanpa melirik kearah samping.
"Kalian tidak menjalankan misi dengan benar". Ucap Sunghoon dari samping yang sedang mencuci tangan bersihnya.
Kai tahu betul suara siapa itu sebelum menjawab, Kai memperhatikan sekitar memastikan tidak ada siapapun yang menguping pembicaraan mereka.
"Kami gak bisa, temannya menempel terus dengan Ryujin aku gak mau membuat mereka curiga".
"Sedari awal memang seharusnya kalian jangan dekat dengan siapapun".
Sunghoon mematikan keran lalu mengambil beberapa lembar tisu disana, mengelap tangannya lalu membuang sampah tisu itu pada tempat sampah.
"Jangan menghambat misi kali ini hanya karna masalah itu". Setelah Sunghoon berucap datar ia melenggang dari sana meninggalkan Kai sendirian.
Kai mengusak wajahnya yang masih basah.
"Siapa juga yang ingin menghambat, ini hanya rintangan saat dilapangan". Gerutunya membela diri.
Kai merasa hanya ia yang disalahkan disini, dengan muka sedikit tertekuk ia ikut melenggang pergi dari sana tanpa mengeringkan wajahnya yang basah membiarkan wajahnya mengering oleh angin disepenjang ia berjalan menuju kelas.
.......
.......
.......
Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu, pencarian dari kedua belah pihak masih berlangsung walau keduanya tak kunjung mendapatkan apa yang mereka cari.
Lia dan yang lainnya sebenarnya sedang terdesak karna pihak Resense kepolisian terus terusan bertanya tentang hasil tugas, mereka sempat akan menyerah tetapi saat diberitahu oleh Jimin bahwa bukan hanya mereka yang sedang mengincar Chip itu. Mereka yang sudah susah payah mencari waktu senggang untuk menjalankan tugas kini harus dibuat waspada akan kelompok yang juga memiliki tujuan yang sama tetapi niat yang berbeda dengan mereka.
Sedangkan Ryujin selalu bertingkah sama seperti sebelumnya, saat waktunya mereka menjalankan misi ia malah sibuk dengan teman barunya itu, dan beberapa kali juga Kai harus menyeret Ryujin dari kumpulan nya, berbohong bahwa mereka punya janji akan pergi ke perpustakaan bersama.
Dan disinilah Ryujin berada, di rooftop sekolah setelah gandengan tanganya dengan Lia ditarik paksa oleh Kai, mereka berpencar dan entah bagaimana cara nya ia bisa berada disana. Ryujin menumpu lengannya ditembok pembatas, dari pada terus berkeliling mengendap-endap Ryujin memilih menatap sekolah megah itu dari sudut paling atas gedung dengan semilir angin siang yang hangat.
Masa bodo dengan Kai yang akan memarahi nya habis-habisan nanti, ia hanya ingin menikmati sesuatu yang seharusnya ia syukuri saat ini. Mengikuti arus angin yang lembut menerpa wajahnya Ryujin perlahan menutup mata membiarkan helaian rambut panjangnya tertiup angin.
Ryujin akan membolos untuk sekali saja walau berikutnya adalah pelajaran yang ia sukai, sastra seni. Lebih tepatnya seni musik, Ryujin tidak tahu sejak kapan ia mulai suka terhadap alat musik tapi sejauh ini ia memang mahir bermain gitar dan mulai tertarik dengan benda bunyi bersenar itu.
Beberapa menit berlalu, mungkin sekarang kelas sudah memulai pelajaran nya dan mungkin juga Lia sedang bertanya kemana perginya ia dan Kai lalu berpikir bahwa kami tertidur diperpustakaan. Ryujin menyunggingkan senyum membayangkan nya, karna kejadian ini bukan terjadi sekali maupun dua kali.
"Cuaca hari ini memang sangat bagus, tapi sepertinya kau harus segera kembali ke kelas mu". Ryujin tersentak lalu membalik badannya.
Seorang pemuda yang sepertinya dari tingkat dua itu sedang tidur terlentang dibangunan atas pintu yang ada disana, pantas jika Ryujin tak menyadarinya karna ia tidak terlalu memperhatikan bagian itu saat datang.
"Aku membiarkan mu karna ku pikir kau hanya akan sebentar saja disini". Lanjut pemuda itu masih dengan posisi yang sama.
"Lalu, apa maumu?". Ryujin tahu ini tidaklah sopan, tapi hey siapa yang berani melarang seseorang datang ke tempat umum begini?.
"Jika kau mengerti, kau akan pergi sekarang". Ujar pemuda itu santai.
"Secara tak langsung kau mengusirku". Entah pertanyaan atau pernyataan yang Ryujin lontarkan, membuat pemuda itu perlahan mendudukan diri.
"Sekarang sudah memasuki waktu pelajaran, tapi kenapa kamu juga masih di sini?". Ucap Ryujin balik.
"Aku sudah biasa disini, ini tempatku".
"Atap ini tempat umum".
"Tidak ada yang datang kesini selain aku".
"Ada, aku contohnya".
"Ya dan kau baru saja menganggu ku sejak kau menginjakkan kaki disini dan malah menjawab ucapanku dari pada pergi dari sini, dimana sopan santun mu anak tingkat pertama?". Pemuda itu menekan setiap kata di kalimat terakhirnya.
Ryujin tak membalas hanya semakin menajamkan matanya pada sang pemuda begitupun pemuda itu yang semakin menyipitkan matanya tak suka pada gadis tingkat pertama itu.
Ryujin yang awalnya merasa nyaman dan tenang disana, menjadi kesal dengan keberadaan dan sikap aneh pemuda diatas sana. Jadi ia memilih berjalan menuju anak tangga sebelum genggaman nya digagang pintu terhenti.
"Wang Ryujin. Aku seperti mengenalmu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?".
Ryujin melirik name tag didada kiri seragam yang pemuda itu kenakan, lalu menyungking senyum simpul.
"Tidak, Kim Beomgyu. Dan aku harap kau tidak perlu mengenalku". Senyuman itu luntur mengembalikan wajah datarnya lalu melengang dari sana.
...~...
Setelah kejadian diatap sekolah siang itu, Beomgyu kini sedang berjalan dikoridor sekolah yang sepi sedikit terbawa kecewa dengan kalimat terakhir yang gadis bername tag Wang Ryujin itu lontarkan terakhir kali sebelum meninggalkan nya sendirian diatap.
Beomgyu sedang berjalan menuju gudang sekolah yang entah sejak kapan sudah disulap menjadi tempat berkumpul ia dengan teman-temannya.
"Sudah puas menyendiri, Gyu". Sapaan pertama yang dilontarkan temannya bername tag Lee Heeseung saat ia memasuki gudang.
"Kau akhir-akhir ini sering sekali memisahkan diri, ada apa sebenarnya?". Tanya temannya yang lain bername tag Kang Taehyun.
"Tidak, tidak ada". Jawab Beomgyu lelah mendudukkan dirinya disofa samping Taehyun.
Mendengar respon temannya itu membuat Taehyun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, detik berikutnya Beomgyu menegakkan badannya menghadap temannya yang bermarga Kang itu.
"Oh ya, apa kalian tau dengan siswi kelas pertama yang bernama Wang Ryujin?". Heeseung seketika mengalihkan pandangannya pada Beomgyu.
"Aku hanya tau dia anak pindahan kan? Oh! apa gara-gara dia kau menjadi seperti ini?!". Taehyun bertanya sedikit heboh.
"Aiss tidak, itu perkara yang berbeda. Kau tau? Kira-kira dia kelas mana".
"Kalau tidak salah sih sekelas dengan Sunoo temannya Jungwon kau ingat".
Beomgyu mangut-mangut setelah mengetahui nya. Jungwon adalah adik tingkatnya walaupun beda tingkat tapi Jungwon kadang ikut berkumpul dengan mereka disana, dan dia adalah kawan dari Sunoo partner nya, entah bagaimana mereka bisa berteman padahal berbeda kelas.
Sedangkan disisi lain Heeseung yang tidak mengalihkan pandangan nya untuk menatap Beomgyu dengan mata yang menyipit, dan raut wajahnya sulit diartikan.
"Kau, ada apa dengannya?". Heeseung bertanya dengan nada yang sedikit tidak bersahabat.
"Huh? Tidak ada".
"Tapi kau bertanya tentangnya?".
"Sungguh tidak ada apa-apa Lee, aku hanya penasaran karna itu aku bertanya".
Beomgyu yang menangkap aura tidak suka dari Heeseung mulai gelagapan memutus kontak mata dengan nya.
"Y-ya sudah jangan diperpanjang, itu bukan masalah besar kan? Kalo gitu aku balik kelas duluan ya, bye".
Taehyun dan Heeseung memandang kepergian Beomgyu dalam diam, Taehyun kemudian melirik teman disebrangnya itu menyadari sesuatu.
"Dia tertarik pada targetmu Lee".
Bohong bila Beomgyu kembali ke kelasnya, buktinya saja ia sekarang masih berjalan-jalan dikoridor sekolah bahkan kelasnya sudah terlewat dibelakang sana.
Pikiran Beomgyu sungguh sedang berputar sejalan dengan kakinya yang tak berhenti melangkah tanpa arah, mengabaikan sapaan murid lain yang berpapasan. Gadis diatap tadi sungguh mengganggu pikirannya, ia merasa pernah melihat bahkan mengenal gadis itu sebelumnya, tapi dimana.
Seketika otaknya berhenti begitupun langkahnya saat suatu hal terbesit dibenaknya Beomgyu menggelengkan kepalanya berusaha menyangkal pikirannya sendiri. Tidak, ini tidak mungkin, kalau memang benar aku harus segera menemui ayah. Niatnya dalam hati.
Baru setelah ia menyadari ia berada ditaman belakang sekolah, bisa-bisanya ia tidak sadar kemana ia melangkah karena memikirkan sesuatu. Baru saja akan membalik badan, Beomgyu melihat seorang pemuda yang membungkuk seperti sedang mencari barang diantara semak belikar yang tinggi tidak terurus itu, dengan tangan yang terulur tetapi dari tangannya memancarkan sebuah cahaya berwarna hijau bening.
Aneh memangnya apa yang sebenarnya dia lakukan ditaman belakang yang sepi ini, dan lagi sepertinya Beomgyu mengenal pemuda itu, yang akhir-akhir ini sering berkumpul dengan Heeseung. Setelah menelisik kembali memastikan bahwa dia memang pemuda yang dimaksud, Beomgyu dengan suara lantangnya memanggil kenalan barunya itu.
"KAU MENCARI SESUATU, JAY?".
Yang dipanggil namanya mengumpat karna kaget sekaligus meringis merutuki tingkahnya sendiri, tubuhnya otamotis menegang kaku mengetahui ia tertangkap basah sedang melakukan sesuatu.
Seperti yang sudah disepakati bahwa hari ini Kai dan Ryujin lah yang bertugas menjalankan misi, bukan Jay. Tapi tiba-tiba saja Kai bilang bahwa Ryujin menghilang.
Saat Kai sedang berlarian dikoridor untuk menjadi partner misinya hari ini itu, Kai berpapasan dengan Jay yang baru keluar dari toilet pria. Dan jadilah dia meminta untuk Jay membantunya, Jay sempat menolak tapi Kai memelas padanya agar kali ini saja untuk membantunya.
Dan dengan terpaksa Jay mengangguk kesal dan mengomel tapi tetap ia melakukannya untuk Kai. Jay telah memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan yang lain dan mendiskusikan permasalahan yang mulai Ryujin perbuat akhir-akhir ini, sehingga menghambat misi. ia juga tak segan jika harus memarahi Ryujin untuk itu.
Tapi pertama-tama Jay harus menyusun kalimat yang mudah di percaya oleh Beomgyu. Setaunya anak ini amat penasaran tentang apapun, dan yang paling penting anak ini betul-betul menyebalkan.
.......
.......
.......
Malam harinya, disebuah mansion keluarga Kim dengan Kim Taehyung sebagai kepala keluarga, Pria berparas rupawan itu sekarang sedang didalam ruang kerja miliknya. Suara ketukan pintu membuat fokusnya sedikit teralihkan dari tumpukan berkas yang ia bawa kerumah.
"Ayah, ini aku".
"Oh, ya masuk saja Gyu". Balas Taehyung dari dalam mendengar, mengakhiri coretannya pada berkas.
Saat sudah di dalam Beomgyu hanya berdiri menghadap punggung ayahnya dimeja kerja, tak lama Taehyung memutar kursinya.
"Ada apa nak? Duduklah".
Taehyung bangkit dan duduk disofa single yang tersedia disana agar duduk lebih dekat dengan anak bungsunya itu.
"Sepertinya ayah sibuk". Beomgyu melirik tumbukan dokumen yang masih belum terjamah disana.
"Tidak apa, untuk sebentar ayah akan disini mendengarkan mu dulu. Jadi ada apa?".
"Aku mau bertanya sesuatu pada ayah".
"Apa itu?".
Beomgyu menjeda sebentar sebelum menjawab. "Ini tentang sepupu ku, anak perempuan paman Namjoon".
Mendengar itu, Taehyung menegakkan tubuhnya.
"Kamu mau bertanya apa?".
"Saat masih sangat kecil aku pernah sesekali bermain dengan sepupu ku, bukan? Aku sedikit melupakan rupanya karna dulu aku masih sangat kecil dan dia juga". Taehyung mengangguk menanggapi.
"Namanya sepupuku itu, Ryujin?". Lagi lagi ayahnya itu mengangguk. Beomgyu berusaha tenang untuk bertanya lebih.
"Ryujin Kim?".
"Tentu saja". Jawab pasti Taehyung.
Beomgyu memejamkan matanya mengambil nafas dalam seolah pertanyaan singkat itu sangat amat menguras oksigen dijantungnya.
"Kenapa? Mangapa kamu bertanya seperti itu".
"Entahlah sepertinya aku mengenal seseorang mirip dengan nya". Beomgyu bergerak gusar.
"Kau yakin? Siapa, dimana dia sekarang?".
"Aku masih belum yakin. Tapi dia memiliki marga yang berbeda, dia bersekolah ditempat ku sekarang".
"Wang Ryujin. Namanya Wang Ryujin".
Taehyung terdiam sejenak raut mukanya sangat serius.
"Ayah berpikiran sama denganku kan?".
"Jangan gegabah. Untuk sekarang kamu awasi saja dia, dan kabari ayah apapun tentangnya".
Beomgyu mengangguk patuh, ia tahu ayahnya tak mungkin diam saja mengetahui keturunan satu satunya dari kakak kandungnya itu diketahui keberadaanya, walau tidak pasti jika dia adalah orang yang dimaksud.
Ayahnya pasti menangkap apa yang Beomgyu pikirkan. Bahwa mungkin saja Ryujin diculik dan disembunyikan, tapi bagaimana bisa tidak ada apapun yang mencurikan sama sekali selama tiga tahun terakhir ini.
Dan jika benar Wang Ryujin adalah Kim Ryujin itu sendiri, Beomgyu tidak yakin pada saat waktu dimana orang yang menyembuyikan Ryujin sekaligus membunuh keluarga pamannya ditemukan, dia akan habis ditangan ayahnya.
.......
.......
.......
Juga malam dan suasana yang sama, diruangan kaca yang amat sepi lebih tepatnya canggung itu terdapat ketujuh manusia yang ada disana tidak ada niatan membuka mulut mereka.
Saat salah satu menghela nafas jengah dengan situasi diruangan itu berinisiatif membuka suara.
"Aku mengumpulkan kalian disini, untuk membicarakan soal berjalannya misi". Jay mengedarkan pandangan pada setiap anggota. "Sebelum itu aku ingin bertanya, apa kalian bersungguh-sungguh dalam misi kali ini?". Lanjutnya
Semuanya mengangguk samar mengiyakan, tetapi sedari ia bicara tadi Jay selaku yang berbicara, sorot matanya terfokus kepada Ryujin yang sedang menunduk.
"Misi ini memang cukup memakan waktu, oleh karna itu jangan terlena dan cepatlah bergerak. Apa strategi nya tidak sesuai dengan kesanggupan kalian?".
Kali ini semuanya menggeleng.
"Lalu mengapa selalu ada kendala pada saat pengerjaan nya?, terutama kau Ryujin". Jay berucap langsung tertuju pada yang dipanggil nama.
Sang empu nama menengadahkan kepalanya menatap mata elang yang seperti menunjuk nya tanpa jari sebagai pelaku kendala di misi itu.
"Aku tau betul kau memang masih pemula, tapi bisakah kau fokus pada misi awal mu ini. Apa kau sadar? Hanya karna perilakumu itu kita semua kena imbasnya".
Ryujin kembali menundukan kepalanya, tidak berani menatap mata elang yang semakin menyipit, mengintimisasi milik Jay.
"Aku tidak sadar untuk itu, maaf".
"Apa yang sebenarnya kau lakukan sampai mengenyampingkan misi?!".
"Aku.. hanya merasa nyaman disana".
Kemarahan Jay pada Ryujin masih berlanjut, membuat anggota lain saling pandang tidak enak, takut-takut Jay terbawa emosi dan melebihi batasnya.
"Kita tidak melarang mu untuk berbaur, kami juga tidak membebaskan mu untuk berbuat lebih. Jika kau merasa keberatan dengan misi ini, minta kepada ayahmu untuk memindahkan kau pada misi lain".
"Jay".
"Kita sudah terjun dilapangan, aku tidak ingin mengambil resiko mengulur waktu". Jay tak menggubris panggilan dari Jake.
"Cukup Jay, kau berlebihan!". Yeji memperingati.
"Tidak eonni, kak Jay benar. Aku hanya menjadi beban untuk kalian. Maaf, mungkin kerja tim ku tidak cocok dengan misi ini bersama kalian". Ryujin mengucapkan nya dengan menunduk dalam.
"Lain kali aku akan ikut dalam misi yang seukuran ku, aku permisi". Setelah terdiam lama, Ryujin keluar dari sana.
"Ryujin! Aku belum selesai bicara!". Teriakkan Jay tak di gubris sama sekali. Tanpa menengok sekalipun saat dipanggil oleh Yeji maupun Kai.
"Biar aku yang susul". Kai lari menyusul Ryujin setelah menatap Jay beberapa saat.
Ryujin terburu-buru mengambil motor miliknya menghiraukan panggilan dari Kai, dengan cepat ia tancap gas meninggalkan Kai yang berlari kecil mengerjarnya.
"Aishh.. kenapa jadi begini sih?". Kai mengusak rambut.
Sedangkan kini Ryujin mengendarai motornya tak tahu arah, ia terus memikirkan ucapan Jay tadi Ryujin tidak menyadari jika ia menghambat semua orang. Apa salah ia berteman dengan Lia dan yang lain. Ryujin hanya merasa kesepian, dengan anggota lain Ryujin memang berteman tapi karena misi hanya Kai yang paling dekat dengannya.
Kini Ryujin ntah akan kemana, sudah sejauh mana ia mengelilingi kota ini. Sampai tangannya merasa pegal karna terlalu lama menyetir, saat melihat minimarket didepan sana ia bermaksud untuk beristirahat saja.
Mengambil sebotol soda lalu duduk ditempat yang ada disana, sebenarnya ia tak terlalu menyukai soda tapi entah mengapa kali ini ia memaksakan krongkongan nya yang tidak biasa meminum soda.
Hanya melamun melihat lalu lintas kendaraan diluar minimarket. Menegak sisa sodanya dalam sekali teguk, meringis saat kerongkongannya dialiri air cukup keras tersebut.
"Ryujin! Oh, benar kau".
"Sedang terjadi sesuatu, huh?". Tanya seorang pemuda disampingnya, menarik kursi dan duduk menghadap Ryujin.
Ryujin menoleh dan mengeryitkan dahinya, ia tak tahu siapa orang didepannya ini dan mengapa ia berbicara santai seperti itu.
"Apa kau tidak mengernalku? Aku satu sekolah denganmu, lho?". Orang itu bertanya lagi, saat lagi-lagi mendapat raut bingung dari Ryujin orang itu melanjutkan.
"Mungkin karna aku kelas tingkat dua ya. Ah, aku Heeseung, Lee Heeseung". Heeseung memperkenalkan diri.
"Kau tau aku dari mana?". Tanya Ryujin menyipitkan matanya.
"Uh? Ya tau saja, kau kan anak baru disekolah". Ucap Heeseung sekenanya.
Ryujin kembali mengalihkan pandangannya pada jalannan didepan sana. "Kau ingin ikut dengan ku?".
"Kau ingin menculikku? Tidak, aku akan pulang". Ryujin baru saja akan bangkit, tangan nya ditahan oleh Heeseung yang malah terkekeh.
"Aku tidak berniat menculikmu, sungguh. Aku hanya berpikir untuk mengajakmu melupakan masalah yang sedang menimpa mu hari ini, mungkin?".
"Apa terlihat jelas?".
"Sedikit, tak apa bukan masalah besar. So, mau ikut dengan ku?".
Setelah beberapa saat Ryujin mengangguk "Asal itu tidak merugikanku, aku ikut". Heeseung mendengarnya tersenyum.
Tidak bagus sebenarnya jika Ryujin percaya pada orang asing, tapi didalam dirinya sana ia memang sedang membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan fokusnya.
"Assa, ayo ikuti aku~". Ryujin berdecak mendengarnya tapi tetap mengikuti orang lebih tua dari nya itu.