Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Dibawa Pergi



...FLASHBACK ON...


[Ryujin POV]


Aku terbangun dengan tubuh yang terasa pegal,samar samar aku mendengar keributan diluar kamar.


Aneh tidak biasanya papa dan mama berbicara seberisik ini, dan lagi pula ini masih sangat pagi pikirnya. Tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan karna kamarnya ini kedap suara.


Aku memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kata pertama yang terlintas di pikiranku saat membuka pintu, yaitu 'kacau' .


Semakin penasaran aku perlahan melihat ke arah lantai bawah, mataku reflek membelalak. Bisa aku lihat papa yang berlumuran darah mencoba berdiri dengan susah payah, mama duduk tersimpuh tak berdaya dengan darah mengalir di dahinya.


Aku tahu ini situasi yang sangat genting. Tapi jika aku berlari kesana untuk menyelamatkan papa dan mama, besar kemungkinan aku juga akan berlumuran darah seperti mereka. Itu akan memperkeruh situasi.


Jadi aku putuskan berjalan mengendap-endap ke kamar papa dan mama yang lurus didepan sana tak jauh dari kamarku, seingatku papa memiliki revolver dilaci kedua sebelah tempat tidur, sebagai antisipasi jika ada kejadian seperti ini.


Ketemu. Langsung aku cek peluru yang ada,hanya ada 2 peluru tersisa, aku ingat-ingat lagi teknik menembak yang pernah papa ajarkan dulu walau tidak bisa menembak dengan sempurna tapi menurut tuturan papa kemampuan ku itu cukup dan bisa di asah lagi.


Itu sudah 1 setengah tahun silam, semenjak saat itu. Aku tak pernah belajar lagi revolver bersama papa karna ia sibuk menjalankan tugas. Bahkan sekarang tangannya sudah gemetar, bagaimana aku bisa menembak? Aku hanya anak kecil tak tahu apa-apa dan hanya bermodalkan nekat.


Melirik telepon rumah yang ada diatas nakas ia segera menghubungi 911.


"Bagaimana aku bisa salah paham SEDANGKAN AKU MELIHAT LANGSUNG BAGAIMANA ANAKKU MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI KARNA ULAH MU?!".


"LALU APA YANG KAU MAU?! MEMBIARKANNYA HIDUP DENGAN RASA SAKIT YANG AKAN IA RASAKAN SEUMUR HIDUP?! Ia hanya ingin tenang".


"Bung coba pikirkan lagi, ini bukan sepenuhnya salah So Hee ataupun kau. Ini murni keinginan Sunji, ini pasti keputusan yang ia sudah pikirkan matang-matang".


Ryujin terkesiap dengan apa yang baru saja ia dengar. Hingga tak menyadari panggilan tersambung, suara seseorang disebrang telepon berhasil menyadarkannya.


"Halo? Kami dari 911, ada yang bisa kami bantu?".


"Y-ya ada".


"Silahkan berbicara".


"Rumahku di datangi orang-orang jahat".


"Apa mereka memakai senjata tajam, nak?".


"Senjata api semacam itu mereka menggunakan itu, aku tidak tahu lagi.. Ya tuhan, tolong cepat kirim bantuan orang tua ku dalam masalah".


"Baik, bisa kamu sebutkan berapa jumlah mereka?".


"Banyak, sekitar 6 orang didalam ruangan, aku belum tahu jiga diluar masih ada lagi atau tidak...".


DOR


"...tolong cepat kemari huhu".


"Tenang nak, coba beri tahu kami lokasi rumah mu".


"Di jalan XXXXXXX".


"Baik nak tim kami sedang pergi kesana,kau tolong bersembunyilah ditempat yang am-".


Cepat ku matikan sambungan telepon itu.Berlari kearah tangga mendengar mama menangis tersedu-sedu menatap papa tergeletak tak bernyawa.


Aku mematung,gemetar memegang revolver papa.Hingga kejadian berikutnya membuat aku sukses tersimpuh jatuh merasa ini adalah mimpi terburuk yang pernah aku alami seumur hidup,waktu terasa begitu cepat dunia yang ia lihat saat ini sangat hancur.


DORR


Tepat dikepala sang mama. Melihat tanpa berkedip dengan air mata yang terus jatuh, bagai slowmotion tubuh indah itu limbung kebelakang tanpa tenaga.


Beberapa saat aku terdiam. Jauh didalam diriku seperti ada dorongan yang membuat aku nekat berdiri dan mulai mengangkat revolver ditanganku dengan kilatan mata penuh amarah.


Mengarahkan kepada targetnya yang baru saja menewaskan orang tuaku, aku bisa tebak dia hanyalah tangan kanan sang Bos. Tapi tidak tahu mengapa aku hanya ingin membunuh siapa saja yang sudah mencelakai keluarganya.


Dengan amarah yang memuncak,tak segan aku tarik pelatuk itu, hingga peluru meluncur cepat tepat mengenai dada kiri dan kepala bagian sampingnya.


Orang orang yang ada disana membulatkan mata lalu berganti menoleh ke arah dimana tembakkan itu berasal, tak terkecuali Bos yang sedari tadi hanya diam menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan.


Hingga kesadaranku kembali, aku baru menyadari apa yang barusan aku lakukan.


Aku membunuh seseorang.


T-tunggu Ryu tak membunuh orang itu kan??.


Menatap revolver yang ada ditangan melemparnya jauh jauh. Meremas rambut panjangku yang berantakan itu frustasi.


"T-tidakk aku tidak mungkin m-membunuh seseorang..".


"..M-maafkan Ryu papa, m-maaf kan Ryu mama, maafka-".


Racaunya terhenti, kaki anak perempuan itu sudah tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri, terlalu shook dengan kejadian tiba tiba ini membuatnya limbung terjatuh kelantai.


"Bawa tangan kananku juga anak ini ke markas.


Dan pastikan untuk membawa semua barang anak ini". Tutur sang bos seraya berjalan keluar meninggalkan rumah berantakan beserta pemiliknya yang terkapar tak bernyawa.


"Baik Tuan".


"Bukan kah harusnya ia bangun beberapa jam lagi?apa kau yakin sudah memasukkan obat tidurnya?".


"Aku yakin betul sudah menuangkannya bahkan semuanya".


"Tapi menga-".


"Berhenti bicara bodoh cepat bawa dia sebelum kita tertangkap".


Bisa aku dengar samar samar suara sirine polisi dari kejauhan. Setelahnya aku bisa rasakan badanku diangkat oleh dua orang yang bicara tadi, mataku sudah tidak kuat dan detik berikutnya sukses tertutup rapat.


Entah aku akan dibawa kemana. Yang pasti aku tahu,aku tak akan baik baik saja.


...FLASHBACK OFF...


.......


.......


.......


Tak sadarkan diri dalam waktu lama. Ryujin sedikit demi sedikit membuka matanya,mulai mengumpulkan kesadaran setelah sepenuhnya sadar ia mengedarkan pandangannya tanpa menimbulkan pergerakan dari tubuhnya.


Bisa ia simpulkan bahwa ia sedang didalam mobil dengan dua orang laki laki besar dan berotot disamping kanan dan kirinya, jangan lupakan borgol yang melingkar apik dikedua tangannya.


Ryujin melihat ke arah depan, mereka membawaku ke dalam hutan. Ahh mungkin mereka akan membuang ku begitu saja dihutan ini, pikirnya.


Namun urung karna tak lama setelahnya aku bisa lihat terdapat bangunan yang amat besar didepan sana dengan tempok yang sangat tinggi, terlihat sangat kelam dan menyeramkan. Hahaha mereka sepertinya akan menyiksaku terlebih dahulu sebelum dibuang?, tawa mirisnya dalam hati.


Pintu gerbang dibuka. Memasuki tanah yang amat luas kurasa itu lebih besar dari lapangan sepak bola, lagi pula untuk apa ada bangunan sebesar ini ditengah hutan Bertanya pada diri sendiri.


Ada banyak juga penjaga disetiap sudut bangunan.


Mobil yang Ryujin tumbangi berhenti didepan pintu masuk yang terhubung langsung dengan bangunan tinggi tersebut.


"Ayo turun". Ucap seseorang yang duduk dibangku depan samping kemudi,menengokkan kepalanya sekilas lalu terlebih dahulu keluar. Badannya tidak terlalu besar seperti orang orang disamping Ryujin tadi. Dan, oh dia tahu aku sudah terbangun? Padahal sebisa mungkin aku tidak membuat pergerakan agar tidak diketahui aku sudah terbangun.


Jika ada yang bertanya, mengapa tidak kabur kalau sudah tahu kau tidak akan baik baik saja?. Jawabannya sudah pasti karna dua orang disamping Ryujin yang tubuh ku kalah jauh dibanding mereka, bisa dipastikan tenaga ku juga tak sebanding belum lagi mereka membawa senjata.


Tapi jika memang ia berhasil kabur, akan kemana ia lari? Ini adalah hutan yang tidak tahu seberapa banyak hewan buas diluar sana. Jadi Ryujin hanya diam, sebisa mungkin mengumpulkan informasi yang bisa membawanya kabur dari tempat aneh ini.


Setelah keluar dari mobil Ryujin dituntun memasuki ruangan besar itu menyusuri lorong yang terasa amat panjang, berbelok ke kanan dan berhenti tepat dihadapan orang yang ia tahu betul siapa ia, sedang duduk disebuah kursi besar seperti singgasana. Memandang datar ke arah Ryujin.


Ryujin harus menengadahkan kepala untuk bisa melihat wajah angkuh yang ingin sekali ia hancurkan sekarang juga.


Bertukar pandang tak akan usai jika sebuah teriakan seseorang bebarengan dengan pintu sebelah kiri Ryujin yang dibuka dengan paksa memecah atensi semua yang ada disana, seseorang itu terlihat sangat marah hingga hampir menghajar Ryujin jika tidak ditahan oleh salah seorang menjaga disana.


"KAU! BERANINYA KAU MEMBUNUH AYAH KU"


"KESINI KAU BREN**EK! AKAN KU PENGGAL KEPALAMU"


Ryujin hanya diam dengan wajah datar menyaksikan kegaduhan yang disebabkan oleh anak sepantarannya itu.


"LEPASKANN!". Semakin menjadi jadi sampai sampai si penjaga kewalahan.


"Diam Jake". Perintah Jackson


"TAPI DIA SUDAH MEMBUNUH AYAH KU TUAN WANG!" Adu Jake dengan telunjuknya yang menunjuk Ryujin.


"Kau tak tahu apa apa,Jake".


"APA MAKSUD MU?!-".


"Bawa dia keluar". Perintah Jackson mutlak.


"HEY! LEPASKAN! AKU BILANG LEPASKAN! AKU BELUM SELESAI BICARA".


Seseorang datang dari arah pintu yang tadi Jake datang. Mendekat kearah Jake menodongkan pistol ke kepalanya.


"Menurut,atau ku bolongi otakmu itu". Mengancam dengan deep voicenya.


Seketika Jake berhenti memberontak dengan nafas terengah menatap tajam kepada seseorang didepannya.


"Hyung,aya-".


Membungkukkan badannya ke arah Jackson lalu melenggang pergi dengan Jake yang ia seret.


.......


.......


.......


"Lupakan yang barusan. Selamat datang dirumah baru mu, Ryujin".


Ryujin mengalihkan pandangannya yang semula menatap pintu yang didobrak tadi. Masih tak ingin mengeluarkan suara,mencoba mencerna semuanya, Rumah baru katanya? Si tua ini bicara apa.


"Kau mulai sekarang bagian dari kami, kamarmu sudah kami siapkan barang barangmu juga sud-".


"Sejak kapan saya setuju untuk bergabung dengan anda?"


"Sejak saya membawamu kemari"


Hening sesaat


"Saya tidak mau"


"Saya tidak menerima penolakan,anak kecil".


"Saya lebih baik mati tertembak daripada ikut bergabung dengan orang sialan seperti mu". Ini pertama kalinya Ryujin mengucapkan kata kasar tapi ia tak merasa bersalah karna dirasa pantas itu ditujukan untuk iblis dihadapannya.


Terkekeh lucu, mendengar ucapan gadis kecil didepannya ini. "Kalau begitu saya akan menawarkan yang lebih baik.. ucapannya terjeda sudut bibirnya kanan terangkat.


..Membunuhmu perlahan dengan tetap berdiam disini". Sukses menyeringai puas saat mendapatkan ekspresi takut yang disembunyikan bocah itu.


"Bawa dia ke sel bawah tanah. Tak perlu terburu buru, kau harus menikmati proses kematian mu" ucapnya seperti menghina,menyandarkan punggungnya dikursi kebanggan miliknya.


"Kau PRIA TUA GILAA! TAK AKAN KU BIARKAN KAU HIDUP NYAMAN SIALAN!" Teriak Ryujin mencoba melepaskan diri yang diseret paksa oleh dua orang sekaligus.


"SIAPAPUN KAU, SAYA AKAN TETAP MEMBUNUHMU!. Ancam Ryujin sebelum bawa menjauh menyisakan pintu yang tertutup kembali, meninggalkan Jackson dan beberapa penjaganya diruangan itu.


.......


.......


.......


Orang yang lebih kecil itu mendorong masuk tubuh kecil Ryujin ke dalam ruangan jelek dan berdebu. Mengunci sel itu rapat rapat setelahnya melenggang pergi tanpa berucap apa apa.


"Akan ku ingat muka kalian sialan" Gumam Ryujin melirik dua orang kekar tadi dan satu orang lebih kecil yang membawa ia secara tidak manusiawi.


Mendudukan dirinya yang tadi tersungkur. Melipat tangan diatas lutut mulai menenggelamkan kepalanya disana, merenungi semua yang terjadi hari ini, padahal baru kamarin ia, mama dan papa bersenang senang.


Mengingat ucapan sang mama kala malam terakhir mereka berbincang. Dipikir pikir ia sudah tidak memiliki siapa siapa di didunia ini, mengapa ia masih hidup sekarang? Padahal ia berharap saja dibuang di hutan tadi tak apa jika dimakan harimau atau hewan lainnya yang terpenting ia tak datang kemari dengan orang orang aneh disini.


"Hey".


"Ryu".


Lihat bahkan ia sudah berhalu akan ada yang orang yang menemaninya sekarang, Ryujin menertawakan dirinya sendiri.


"Hey kau yang disana, kau masih hidupkan.. Hey".


Merasa itu bukan halusinasi Ryujin menegakkan kepalanya melihat ke sekeliling mendapati ada seseorang juga dibalik sel didepan sel miliknya. Mulai merangkak mendekat ke jeruji sel yang amat kokoh itu,agar bisa melihat siapa yang memanggilnya tadi.


Matanya sukses membola berusaha menyangkal bahwa orang itu bukan seperti yang ia tebak.


"Hai Ryujin Kim, kita bertemu".


.......


.......


.......


"Hai Ryujin Kim, kita bertemu".


"A-apa yang kau lakukan disini?".


"Seperti yang kau lihat".


"Tidak, maksudku kenapa kau bisa ada disini?"


"Harusnya aku yang bertanya, bocah perempuan sepertimu kenapa ada disini,hah?".


Ryujin terdiam,terlihat dari wajahnya ia sedang berfikir dari mana ia harus bercerita.


"Lupakan tentang ceritaku wajahmu lebam". Setelah melihat dengan selidik setiap inci wajah sahabatnya itu dari kejauhan. Memar dibagian sudut bibirnya terlihat begitu kentara apalagi saat ia tersenyum menyapanya tadi,menyedihkan.


Ia mengacuhkan kekhawatiran Ryujin dengan cengiran bodoh khas dirinya.


"Kau benar benar berhutang cerita denganku, Kai"


"Kau juga bocah".


.......


.......


.......


Sementara dilain tempat. Tepatnya setelah si pria pemilik deep voice itu menyeret keponakannya ke ruangan yang biasa ia pakai untuk berkumpul dengan kawannya yang lain, tidak ada seorang pun disana mungkin yang lain sedang melakukan misi mereka masing masing.


"Hyung,dia yang melukai ayahku. Kakakmu hyung, bagaimana jika sesuatu terjadi pada ayah".


"Aku tau,tapi tak perlu dengan cara seperti tadi, Jake"


Jake menghela nafas kasar, ia hanya memiliki ayahnya saja ia sudah tidak punya siapa siapa lagi, ibunya meninggal 1 tahun yang lalu juga karena misi.


Thantophobia, Jake mengidap fobia itu sedari ibunya meninggal.


Jika ayahnya pun tumbang Jake tak tahu hidupnya akan semacam apa. Walaupun ada pamannya Felix, adik dari ayahnya tapi tetap saja kehilangan kedua orang tuanya. Merasa ia tak ada tujuan lagi untuk hidup, kemungkinan fobia yang ia idap akan kembali menjadi-jadi setelah selama ini rutin terapi untuk bisa mengobati penyakitnya.


"Kau tahu ayahmu sudah menganggap kelompok ini sebagai keluarganya. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga yang dia sayangi, Jake".


Jake tahu dulu ayahnya pernah bercerita bahwa ia dan Felix diselamatkan oleh Tuan Wang yang pada saat itu ayahnya masih berusia 16 tahun dan Felix 6 tahun yang masih sangat kecil waktu itu, tepat saat dalam keadaan kacau, ayah mereka mengidap penyakit pankreas yang tak lama ini ayahnya sadari hingga terlambat untuk segara ditangani menyebabkan ia meninggal dunia.


Sepeninggalan ayah mereka, ibu mereka hampir gila karna kehilangan sosok yang ia cintai ditambah lagi kebutuhan hidup yang semakin sulit tercukupi, membuat ia nekat pergi ke luar kota dengan dalih mencari uang untuk kebutuhan mereka.


Meninggalkan Chan dan Felix seorang diri tanpa pendamping dengan setumpuk hutang yang belum ibunya lunasi, hingga Chan hampir setiap hari didatangi oleh orang tak dikenal yang menagih hutang ibunya. Hingga akhirnya Jackson muncul ditengah masalah rumit yang menimpa dua adik kakak itu,seperti super hero yang selalu Chan tonton di televisi saat ia masih kecil dulu.


Jackson atau sekarang sering dipanggil Tuan Wang itu adalah kakak kelas tingkat 3 disekolah Chan dulu, saat ia baru saja masuk kelas 1 dan juga terpaksa berhenti sekolah karna kekurangan biaya. Entah bagaimana Jackson bisa tau soal dirinya dan adiknya, Chan hanya tahu Jackson mengadopsinya dan Felix ,mengurus dan membesarkan seperti adik adiknya sendiri, hingga Chan tahu kalau Jackson adalah anak dari seorang mafia yang sangat terkenal di sektor dunia gelap yang sebetulnya tak pernah Chan anggap benar soal adanya hal semacam itu di negara ini.


Chan dan Felix sangat bergantung pada Jackson dan kelompok ini karna mereka yang bisa membantunya pada saat itu, sampai sekarang pun semuanya sudah seperti darah dagingnya sendiri. Sebagai rasa terima kasihnya, Chan dan Felix memutuskan untuk mengabdikan segalanya untuk kelompok ini hingga nyawapun mereka pertaruhkan.


"Hyung harap kau mengerti Jake".


Terdengar helaan nafas berat dari mulut keponakannya itu "Ya, aku mengerti".


"Pergilah ke ruang operasi, ayahmu sedang ditangani oleh dokter Jung, kabarnya peluru yang ditembakan terdapat racun sejenis Novichok. Kau pergilah duluan Hyung akan menyusul nanti"..


"N-Novichok?! baik, aku pergi". Tentu Jake terkejut mendengar ada racun juga dipeluru itu yang setaunya racun itu sangatlah berbahaya, tanpa babibu Jake langsung melesat pergi dari sana.


.......


.......


.......


Felix dengan langkah lebarnya kembali berjalan menuju ruangan Tuan Wang, ada yang ingin ia tanyakan sebenarnya. Menghela nafas sebentar lalu diketuk pintu besar itu sedikit memakai tenaga, mendengar sahutan dipersilahkan masuk bersamaan dengan pintu yang dibuka oleh dua penjaga disamping kanan kirinya.


Tuan Wang sedang menghadap jendela ruangannya yang berhadapan langsung dengan lapangan luas bangunan ini dimana bawahannya sedang berlatih bebagai jenis senjata.


Felix membungkukkan badannya tanda hormat.


"Bagaimana adikmu, Felix?". Tanyanya tanpa menoleh


"Dia sudah bisa menenangkan dirinya sendiri, Tuan".


Helaan nafas lega bisa Felix dengar dari seorang didepannnya.


"Hoseok akan menangani Chan tak perku khawatir. Aku tau persaan anak itu, kau juga, pasti kalian terkejut".


Felix menjawabnya dengan anggukan percaya, walau Jackson mungkin tak bisa melihatnya.


"Maaf Tuan, bolehkah saya bertanya?".


"Tentu"


Menimang kembali pertanyaan yang akan ia lontarkan,tapi rasa penasaran lebih menguasai dirinya.


"Apa Tuan punya rencana dengan gadis itu?"


Tak dijawab langsung, Jackson membalikkan tubuhnya melihat Felix sekilas lalu berjalan santai dan duduk di kursi kebesaran miliknya. Kembali menatap adik dari tangan kanannya itu perlahan bibirnya tertarik mengulas sebuah senyum miring andalannya.


"Coba tebak saja..".