
Tepat setelah pembahasan selesai dan semua orang mulai mengendurkan bahu, melemas karena lelah setelah perdebatan panjang yang akhirnya membuahkan hasil.
Suara ketukan dipintu utama kediaman Kim membuat semuanya kembali terjaga. Lalu suara familiar ditelinga Ryujin membuatnya berdiri melihat pintu.
"Ryu... I-ini aku".
Itu Kai, Ryujin tanpa berpikir dua kali langsung berlari menghampiri pintu menuju suara serak dan lemah dibalik sana. Heeseung kalah cepat menahan Ryujin karena anak itu melesat cepat dan langsung membuka kunci dan menarik pintu itu terbuka lebar.
"Kai!".
Keadaan anak itu terlihat rapuh dan lesu, Ryujin langsung membawanya kedalam dekapan tubuh nya yang kecil. Heeseung berhenti dibelakang tubuh Ryujin yang sedang memeluk Kai.
Kepalanya berdarah hingga ke baju yang dia pakai, kakinya berjalan pincang saat Ryujin menuntunnya masuk untuk duduk.
Sunoo cepat-cepat menutup pintu itu lagi dan menguncinya rapat. Lantas kembali memerhatikan tubuh teman baru yang sudah lama tidak ia temui keberadaan nya disekolah.
"Kau, mau apa kau datang kemari?".
Tanpa diduga sebuah pistol telah tersodor menunjuk dahinya yang dipenuhi darah segar, itu Beomgyu dia dengan wajah datarnya berdiri dihadapan Kai yang sedang duduk.
"Kak Gyu apa-apaan kau?!". Teriak Ryujin.
"Kita tidak tau, mungkin saja dia mata-mata yang dikirim".
"Kai terluka kak!".
"Tidak apa Ryu.. Wajar jika kalian mencurigaiku". Kai angkat suara, dia menengadah memandang Beomgyu yang sedikit terhalang moncong pistol.
"Aku hanya diperintahkan ke sini untuk menjemput Ryujin, karena mereka tau Ryujin tidak akan menolak kedatangan ku".
BUGH
Satu pukulan sukses membuat sudut bibir Kai terluka. Semua orang membulatkan mata terkejut, termasuk Ryujin disamping Kai. Dia menutup mulutnya dengan tangan.
"B*J*NG*N!".
Beomgyu segera berjongkok, mengobrak-abrik pakaian yang Kai pakai, mencari sesuatu.
"Kau sedang apa kak?!".
"Mencari alat menyadap, pasti si b*j*ng*n itu menaruhnya dipakaian anak ini".
"Mereka tidak menyimpan apapun ditubuhku". Lirih Kai.
"Dia bilang tidak!".
Terakhir Beomgyu mengodok saku baju Kai dan menemukan sesuatu, ia berdiri lantas melihat apa yang di dapatkan.
Sebuah pil obat penenang.
Cih. Beomgyu berdecih, melemparkannya ke lantai lantas menginjaknya sekuat tenaga.
"See? Kai tidak membawa apapun, jadi biarkan aku mengobatinya dulu.. boleh aku minta kotak P3K, paman?". Ryujin beralih pada paman Kim yang masih memandang termangu kejadian barusan.
"Ahh iya, sebentar". Orang tua itu segera melesat dan cepat kembali dengan kotak putih ditangannya.
"Aku seorang dokter, biar aku yang obatti". Ryujin awalnya akan menyergah tapi segera ia mengangguk dan beranjak berdiri, membiarkn Seokjin mengambil alih tempatnya.
...~ ...
Pengobatan selesai, Kai mendapat banyak perban dan plaster dibeberapa bagian tubuhnya yang terluka. Kai bilang setelah kecelakaan mobil nya tak lama setelah ia sadar bukannya mobil ambulans yang datang, melainkan mobil hitam suram yang keluar dari dalamnya anggota Tuan Wang.
Dia dibawa paksa dengan keadaan yang payah itu ke markas dan disiksanya disana, dengan tubuh yang semakin payah itu dia di perintahkan untuk kembali membawa Ryujin ke markas, yang tentu Kai tidak bisa menolak perintah itu. Lebih tepatnya terpaksa.
Tuturan Kai membuat Ryujin naik pitam. "Kita mulai rencana nya sekarang". Ujarnya yakin.
"Aku akan menghubungi kakakku, tapi aku masih ragu menggunakan alat komunikasi". Beomgyu murung.
"Aku bantu". Jeda Kai menelan ludah ditatap semua orang disana. "Aku bersih memihak kalian, aku sungguh-sungguh ingin membantu Ryujin".
"Apa kau punya laptop atau komputer Sunoo?".
"Ah, ya ada satu komputer dikamar ku.. kau mau memakainya Ryu?".
"Kai yang akan memakainya, tunjukan dimana kamarmu".
Sunoo mengangguk, mulai berjalan menuju kamar miliknya. Ryujin yang melihat Kai masih terdiam ditempatnya tadi berseru gemas.
"Kau sungguh ingin membantuku tidak sih?! Cepat ikuti dia!".
"A-ah iya". Dengan tergagap Kai berdiri, walau terpincang ia paksakan berjalan membuntut langkah Sunoo yang jauh didepan sana.
"Kak Gyu juga ikut mereka, Kai butuh arahanmu juga kan".
Tanpa diperintah dua kali, Beomgyu mengangguk dan ikut berjalan membuntuti Sunoo bersama Kai.
"Kami tidak jadi mengantarmu, ada Kai sekarang. Itu berarti kamu akan berangkat dengan nya kesana, kamu harus punya persiapan sebelum pergi Ryu".
Ryujin mengangguk mengerti. "Tapi peretasan tetap harus dilakukan agar kalian masuk nanti tidak ketahuan". Heeseung mengangguk paham.
"Untuk jaga-jaga, paman punya pistol".
Kedatangan Seokjin yang membawa 2 buah pistol ia lempar pada Ryujin dan Heeseung dengan cekattan langsung keduanya tangkap.
"Paman punya cutter atau benda kecil yang tajam?".
"Kamu ingin pisau bedah? Mau ukuran berapa?". Tawarnya cepat membuka kotak putih berisikan alat-alat operasi siaga, yang entah sejak kapan dia bawa itu.
"Ah yang ini saja". Setelah meneliti lamat-lamat Seokjin menyodorkan sebuah pisau bedah berukuran sedang pada Ryujin. "Ini mungkin terlihat tumpul, tapi yakinlah pisau ini bisa menembus kulit beserta tulangnya".
Ryujin mengidik ngeri mendengar perkataan Seokjin yang entah kenapa terdengar lebih menyeramkan ketika seorang dokter yang mengatakannya, tangannya terulur mengambil pisau itu hati-hati.
Lalu ia simpan ditalikan dibetis kaki kanan agar lebih memudahkan pengambilannya jika akan digunakan nanti, dan agar tak terlihat oleh orang lain karna tertutup celana hitam panjang yang dikenakan Ryujin saat ini. (Ryujin menyimpan pisau bedah dibetis bagian samping) (untuk celana nya pun tidak terlalu ketat ya)
Seokjin juga memberi pisau bedah yang sama kepada Lia, untuk berjaga-jaga karena kemampuan berkelahinya lemah sekali. Langsung Lia terima tanpa bantahan, melakukan hal sama seperti yang Ryujin lakukan, menyimpan nya dibetis kaki.
"Aku sudah menghubungi kak Soobin, mungkin kakak akan melapor kepada ayah dan akan segera menyiapkan yang diperlukan. Untuk semua akses kesana, temanmu ini sudah meretasnya selagi kelompok mafia itu tidak tau, kita tak akan ketahuan".
Beomgyu berucap demikan sambil mendekat ke arah Ryujin, meraih pistol digenggaman gadis itu. Tentu Ryujin akan protes namun tertahan karna Beomgyu kembali berbicara dengan menatap matanya lurus.
"Pelurunya lengkap, pergunakan dengan bijak". Ucapnya mengembalikan pistol ke telapak tangan Ryujin, Ryujin mengangguk.
"Kau sudah terlalu lama disini, cepat bergegas.. Ah ya lukamu..".
"Tak apa, paman?..".
"Kim Seokjin, kau bisa memanggil ku paman Kim, nak".
"Ahh ya paman Kim, terima kasih atas pengobatannya tapi sepertinya aku harus melepas kembali perbanan rapimu ini". Kai mendapat raut bingung dari orang yang mungkin seumuran ayahnya itu.
"Mereka akan curiga jika aku terlihat diperlakukan baik begini. Yaa walau sepertinya mereka akan tetap curiga sih, tapi untuk meminimalisir kecurigaan apa tak masalah aku lepas, paman Kim?".
"Tak masalah, justru paman khawatir dengan lukamu akan kembali terbuka".
"Aku akan baik-baik saja, terima kasih sekali lagi, semuanya". Kai menghadap setiap orang dan memberi salah perpisahan.
"Berhenti berterima kasih dan cepat bersiap, pastikan kata terima kasih itu tidak akan menjadi permintaan maaf pada kami". Ucap Beomgyu tetap sinis, melupakan bantuan Kai padanya beberapa waktu lalu.
"Tunggu sebentar". Lia mendekat ke arah Ryujin dan memeluknya erat.
"Jaga dirimu disana selagi kami belum datang Ryu". Bisiknya tepat disamping telinga.
Mereka melepas pelukan, ini bukan waktunya untuk berharu ria. Ryujin dituntun Kai mendekati mobil hitam tentu bukan milik Kai yang terparkir apik didepan pekarangan rumah.
Sebelum benar-benar masuk kedalam sana, kegiatan Ryujin membuka pintu mobil terhenti dan membalik tubuhnya hanya untuk mendengarkan Heeseung berbicara.
"Hati-hati, tunggu kami disana". Pesannya, tentu hanya untuk Ryujin karena mata yang hitam legam itu sedari tadi tak henti menatap dirinya gelisah.
"Aku menunggu mu, kak Hee". Ryujin tersenyum manis sekali, sebelum ia benar-benar masuk dan duduk manis di kursi samping kemudi.
Heeseung menganggukkan kepalanya, Kai yang mendapat kode ikut menganggukan kepala dan menyusul Ryujin memasuki mobil.
Sorot mata yang semula gelisah, setelah melihat senyum manis itu segera tergantikan oleh semangat membara. Kegelisahan yang tak jelas seakan pudar begitu saja, ia tak sabar. Tak sabar melihat senyum itu lagi.
Mobil itu bergerak maju meninggalkan tempat semulanya berdiam diri.
"Ayo bersiap". Ucapnya mantap.
.......
.......
.......
Pagi buta, keadaan senyap dan gelap tidak dipungkiri penjagaan dikendurkan, malah semakin diperkuat kuat, apalagi mereka melihat kendaraan tak asing mendekati gerbang utama.
Mobil itu berhenti, menyembul kepala dari kaca mobil yang terbuka. "Aku membawanya, cepat buka".
Penjaga yang tahu apa yang dimaksud, melirik sekilas kedalam kaca mobil samping kemudi melihat seluet disana kemudian mengangguk paham. Segera ia berlari mengetukkan sebuah gagang kecil ke badan pintu baja itu hingga mengasilkan suara.
Tak lama pintu baja yang amat berat itu terbuka perlahan. Kai kembali memasukkan kepalanya dan menaikkan kaca ke posisi semula. Pintu terbuka lebar, dan mobil hitam itu bergerak masuk memasuki pekarangan markas.
Kai mengarah ke tempat biasa mobil diparkirkan. Dengan kondisi perban dan hansaplas dibagian tubuh yang terlihat sudah dia lepas sejak mereka pergi dari rumah paman Kim, terkecuali balutan perban diperutnya, sebetulnya akan dibuka juga namun Ryujin menahannya karena ternyata ada luka sobek disana mengakibatkan darah yang terus keluar.
"Ambilah".
"Itu milikmu, Ryu".
"Jangan menolak aku tahu kau tak punya senjata sekarang, ayahku- ekhem, dia pasti merampas semua senjatamu kan".
Masih belum ada tanda-tanda Kai akan mengambil pistol yang ia sodorkan.
"Yaa walaupun jika aku memberikan ini pada mu, apa ini pilihan yang tepat karena aku masih meragukan kau masih dipihak ku atau tidak, kau akan melindungiku atau malah memerangiku. Aku tidak tau, tapi aku khawatir padamu".
"Jadi ambillah".
Kai mengambilnya, menyimpannya dibalik jaket. Tak tahu harus menjawab apa, dia hanya diam.
"Kamu sudah siap?".
Nod. Ryujin menganggukan kepalanya.
"Tapi kamu harus pemanasan dulu, Ryu".
"Maksudnya?".
"Pukul wajahku sekarang".
Hening. Ryujin menghadapkan tubuhnya kesamping, menghadap Kai.
"Apa-apaan kau ini Kai? Kau sudah cukup babakbelur begitu, lagian aku gak butuh pemanasan apapun".
"Lakukan saja Ryu".
"Tidak akan".
"Pukul aku jika kau tak mau aku mendapat masalah disana".
Hening kembali. Kedua pasang mata itu terus bersitatap.
"Tapi luka si bibirmu masih baru, apa itu belum cukup".
Kai menggeleng. Mereka semua tau, luka disudut bibirnya bukan ulah Ryujin, namun luka yang mereka buat sendiri.
"Lukanya akan semakin parah nanti".
"Tinju saja dibagian lain". Ucapnya enteng.
Kai menghadapkan tubuhnya kesamping, mencondongkan tubuhnya sedikit. Membuat jarak mereka semakin kecil.
"Aku tidak akan meminta maaf setelah ini".
"Baiklah". Tetap diposisinya, Kai memejamkan mata bersiap menerima bogeman.
Satu, dua, tiga, empat, lima detik berlalu.
Tak ada tanda-tanda Ryujin akan mendaratkan pukulannya. Perlahan Kai membuka mata, namun belum matanya terbuka sepenuhnya. Ia dikagetkan dengan perlakuan Ryujin yang tiba-tiba saja mendorongnya kencang sekali.
Dan entah sejak kapan tangan gadis itu membuka pintu mobil dibelakangnya yang mengakibatkan Kai dan juga Ryujin terjungkir ke belakang. Kai mengaduh saat ia menyentuh permukaan aspal dibawah sana ditambah lagi bobot tubuh Ryujin yang juga ikut menimpa dirinya dari atas.
BUGH
Kai lagi-lagi dibuat terkejut, satu bogeman mendarat dimukanya, lebih tepatnya dipipi menjadikan sudut bibir yang awalnya baik-baik saja itu, sama robeknya dengan bagian sudut bibir sebelah.
Kai tidak bisa menahan ekspresi keterkejutan nya. Matanya melotot shook menatap Ryujin diatasnya. Lagi, pergerakan Ryujin mengejutkan nya.
Dengan tampang sok datarnya, Ryujin menarik kerah baju lusuh Kai mendekat. "Sekarang serang aku dan berpura-pura lah bahwa kau sedang menangkap penjahat yang berusaha untuk kabur". Bisiknya.
Kebingunan melanda isi pikiran Kai. Sekarang di sekeliling ia dan Ryujin sekelompok orang badan kekar sebagian ada yang membawa senjata api, melingkar, memperhatikan mereka berdua, siaga.
Dengan cepat Kai memahami situasi, setelah mendengar drap langkah dari kejauhan dan seruan seseorang.
"HEY!".
Seseorang yang berteriak tadi membelah kerumunan yang hanya berdiam diri tanpa bertindak itu, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kai membalik tubuh Ryujin dengan mudah karena memang gadis itu mengendurkan tenaganya, sekarang dia terkunci pergerakan dibawah Kai.
Ryujin mangaduh. Kai melirik kedatangan Chaeryeong dan Yeji dengan nafas terngahnya.
"Tak apa, aku bisa urus ini". Kai tersenyum seolah tak terjadi apapun.
Chaeryeong mendengus mendengarnya.
Kai segera membawa Ryujin berdiri dengan kedua tangganya yang disekap dibelakang tubuh oleh Kai, tan erat.
Sebetulnya aksi Ryujin ini mengundang perhatian para anggota yang sedang berlatih atau kebetulan lewat disekitar sana.
"Apa ada masalah?". Jake dengan nafas terengahnya ikut datang, begitu juga Sunghoon dibelakangnya yang masih memegang pedang berlatihnya.
Mungkin mereka sedang berlatih dan mendengar teriakan Yeji eonni tadi. Monolog Ryujin dalam hati.
"Hanya sedikit masalah, tidak usah khawatir". Kai kembali menjawab.
Kadua nya melirik Ryujin yang wajahnya tertekuk dengan kedua tangan disekap ke belakang oleh Kai. Sedikit meringis, bukan akting tapi sungguh lengan Ryujin sepertinya lecet sungguhan karena ulahnya sendiri tadi.
"Kau akan membawanya pada tuan Wang?". Dengan suara datar Sunghoon bertanya.
"Ya, sesuai perintahnya".
"Biar ku bantu-".
"Tidak perlu. Tuan Wang hanya menyuruhku, aku tidak mau ada yang ikut campur". Sergah Kai tak kalah datar saat mendengar tawaran Sunghoon.
Sedangkan, Ryujin mengerjap bingung. Sejak kapan si pria es ini peduli dengan urusan orang lain?. Dan... sejak kapan Kai punya kepribadian yang ketus begitu. Ryujin yakin mimik muka sahabatnya itu pasti berubah datar sekarang.
"Kalau begitu cepatlah, tuan Wang sudah menunggu didalam". Bertambah lagi orang yang berjalan santai kearah kerumunan, itu Jay.
"Kau sudah ditunggu sejak tadi. Lambat".
Kai menatap tak kalah sinis kearah datangnya Jay. Adik dan kakak sama saja.
"Aku hanya perlu keruangannya Tuan Wang,kan?". Kai memastikan, bertanya pada beberapa orang yang menjaga mereka tadi.
"Kalau begitu, aku izin pergi dulu". Kai kembali mengubah ekspresi mukanya ramah kepada Yeji dan Chaeryeong, menganggukkan kepala tanda format, tidak membungkuk karena terhalang tubuh Ryujin didepannya.
Kai mendorong tubuh Ryujin cukup keras hingga tubuh kecil itu sedikit terhuyung kedepan namun kembali mempertahankan keseimbangannya lalu berjalan sesuai dorongan Kai dari belakang. Para manusia berbadan kekar tadi ikut membuntut dibelakang, setelah mengantar Kai dan Ryujin ke ruangan bos mereka, tugas mereka sudah selesai.
Keduanya melenggang dari sana, sesekali Ryujin berdecak sebal didorong paksa hingga keduanya hilang dibalik pintu masuk markas. Para anggota yang tadi menghentikan kegiatannya hanya untuk menonton pun kembali pada kegiatan masing-masing.
"Kalian kembalilah berlatih". Titah Yeji.
Jake mengangguk patuh, menyikut Sunghoon yang masih menatap kosong kepergian Ryujin dan Kai. Sunghoon mengangguk mengerti ajakan Jake, merendahkan kepala, hormat, lalu berlari kecil dari sana.
"Kalian sedang tidak berlatih,kan? Ayo pergi ke ruangan taun Wang".
"Tuan Wang memanggil kami?". Berlari kecil, tanya Chaeryeong pada Jay yang sudah putar balik hendak ke tempat tujuan.
Tanpa beruara kepalanya mengangguk mengiyakan. Akhirnya Yeji dan Chaeryeong ikut membuntut dibelakang laki-laki bermarga Park itu.
.......
.......
.......
Tiba lah mereka di ruangan besar milik Jackson.
Awal melangkahkan kaki memasuki ruangan megah nan suram itu, Ryujin memekik tertahan melihat dua orang yang ia kenal sedang terduduk tak berdaya di bagian lain ruangan.
Itu Taehyun dan Yuna.
"Tugas kalian sudah selesai, kembalilah".
Orang-orang berbadan kekar tadi tanpa suara membungkuk hormat lalu melenggang pergi meninggalkan Kai dan juga Ryujin yang sedang menghadap Jackson.
"6 jam setelah aku menghubungi mu, dan 1 jam setelah aku mengutus Kai menjemputmu akhirnya kamu datang juga". Jackson tersenyum ditempatnya berdiri.
"Aku sudah disini, sekarang lepaskan mereka". Ryujin membuka suara, sebisa mungkin ia tak terlihat gegabah.
"Mereka teman-temanmu, Uji?".
Sungguh Ryujin muak dengan sebutan itu. Namun ia mencoba mengendalikan deru nafasnya agar tak hilang kontrol. Inhel. Exhel.
"Mereka tak tau apa-apa, aku disini sekarang, kembali padamu, sesuai keinginanmu. Sekarang permintaanku adalah lepaskan mereka".
"Ayah bertanya. Apa mereka teman-temanmu Uji?".
"Tidak.. mereka tak pernah menjadi teman ku".
"Tapi kamu mengenalnya kan dan itu sama saja, mereka memiliki hubungan denganmu. Lagi pula, mereka sudah tahu keberadaan kita. Kita harus mengakiri saksi agar kita bisa tetap hidup'kan, Uji?".
Ryujin mematung.