Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Ancaman



"Kai aku tidak bisa menghubungi ketiganya, bagaimana ini?!".


Mobil kembali berjalan namun dengan kecepatan diatas rata-rata. Situasi genting, Jackson Wang bersama antek-antek nya telah tahu dimana tempat persembunyian Ryujin berada selama ini dan mereka telah mengepung dan menggeledah rumah Heeseung, yang bahkan sang pemilik rumah tidak mengetahui nya.


"Mobil yang mereka kendarai memiliki GPS Ryu". Kai berucap terlampau santai.


"Lalu?!". Ryujin tetap meninggikan intonasi suaranya, panik.


"Aku bisa melacaknya".


Ryujin tetap memasang wajah gusarnya menatap Kai yang sedang menyetir penuh konsentrasi pada jalan. Kai menyadarinya, mendengus.


"Kau lupa aku seorang yang ahli dalam bidang ini, huh?". Berucap sedikit tersinggung.


"Tidak Kai, bukan itu".


"Lalu?".


"Kita harus cepat, di markas bukan hanya kau yang pintar dalam hal ini, Kai".


.......


.......


.......


"Lapor! Tidak ada apapun disini Tuan Wang".


Jackson mengangguk. Setelah mengerahkan bawahan nya untuk memeriksa setiap sudut ruangan yang menurutnya kecil itu, hasilnya mereka tetap tidak menemukan keberadaan Ryujin maupun teman-temannya.


Salah satu bawahannya yang lain mendekat.


"Tuan, Minho ingin berbicara dengan anda". Bawahan nya itu membungkuk menjulurkan tangannya yang membawa benda pipih, ponsel.


"Ada yang kau dapatkan Minho?". Tanya langsung Jackson setelah mengambil alih ponsel.


"Kami mendapatkan mereka..".


".. Tapi aku pikir tidak ada Ryujin disana Tuan. Saya sudah mengirim beberapa anggota kita dan mereka sedang berada tepat didepan rumah seorang teman lama detektif Kim, aku akan segera menyusul segara".


"Kerja bagus, pantau terus mereka Minho cepat kabari jiga ada perkembangan".


"Baik Tuan".


Panggilan terputus.


"Cari dan bawa kemari siapapun yang pernah berhubungan dengan Ryujin!". Perintah mutlak.


Sebagian bawahan berlarian dan melompat masuk ke kendaraan masing-masing, segera menjalankan perintah sang atasan. Dan tak akan kembali jika belum mendapat apa yang dia mau, atau jika tidak mereka berakhir.


.......


.......


.......


Kembali ke tempat dimana mobil yang Kai kendarai masihlah melaju cepat, jarak antara mereka dan tempat tujuan sangatlah jauh mereka memerlukan waktu paling cepat satu jam.


"Kai apa mereka akan baik-baik saja?".


"Mereka baik, Ryu. Jika memang pasukan Tuan Wang ada disana, mereka tidak akan berani maju jika tidak ada kau disana".


"Ini gara-gara aku, mereka jadi ikut terlibat masalah". Ryujin menunduk dalam.


"Hei ini bukan salahmu, mereka melakukan ini pun karena menyayangi mu Ryu.. janganlah berpikiran yang tidak-tidak".


Kai menggenggam kepalan tangan Ryujin dipangkuan pahanya, menenangkan.


Ryujin melirik tablet didepannya yang memperlihatkan peta dan lokasi yang akan mereka tuju, hampir sampai. Tapi.. eh? Mengapa berbelok? Didepan sana harusnya mereka hanya tinggal lurus dan sampai.


"Kai? Apa yang kau lakukan?! Kita salah jalan!". Ryujin berseru panik.


"Tidak Ryu, kita tidak salah jalan".


"Lalu kemana ini?! Kita berjalan semakin jauh dari mereka!".


"Kita tidak bisa kesana Ryu".


"Kenapa?!".


"Minho-nim ada disana! Mereka mengincarmu! Aku tidak bisa membiarkan mu ditangkap!".


"Tapi bagaimana dengan Lia dan yang lain? Mereka teman-temanku!".


Dengan gegabah Ryujin akan membuka knop pintu mobil disampingnya yang sedang melaju kencang, namun tak bisa karena Kai cepat menekan tombol mengunci pintu otomatis itu rapat-rapat.


"Apa ini?! Kai buka pintu nya!". Tidak digubris oleh Kai.


"AKU BILANG BUKA PIN-".


"KAU DIAM DAN MENURUTLAH!". Kai tidak sadar menyela ucapan Ryujin dengan intonasi yang tak kalah tinggi membuat Ryujin terdiam mendengarnya.


"Di banding mengorbankan teman-temanku... aku lebih baik menyerahkan diri".


"Berhenti berbicara yang tidak-tidak Ryujin.. aku tau kau khawatir, tapi tolong khawatirkan dulu dirimu..".


".. mereka akan baik-baik saja".


Hening. Keduanya terdiam, hanya deru suara mesin mobil yang menjadi satu-satunya suara diantara kecanggungan yang ada.


Kai menghela nafas kecil, Ryujin diam dibangku samping. Pikirnya Ryujin mungkin merasa yang ia ucapkan benar dan tindakan gegabahnya barusan bukanlah hal yang patut dilakukan dalam keadaan seperti ini.


Namun salah, baru saja Kai mengendurkan otot bahunya. Persis disaat jalan yang lenggang, Ryujin mencoba mengambil alih kemudi dengan brutal. Tentu itu membuat Kai kaget dan dengan cepat akan mengambil alih kemudi.


"Lepaskan! Apa yang kau lakukan!".


Panik, karena Ryujin bukannya melepas malah semakin mempererat genggaman nya pada kemudi dan dalam sekali hentakan ia membanting stir kemudi kesamping jalan.


CITTTT


BRAKK


Sebelum tahu apa yang mereka tabrak, Kai terlebih dulu kehilangan kesadaran nya. Kepalanya membentur stir menciptakan pelipisnya mengeluarkan darah segar.


Ryujin sama terhantuk, tapi dengan cepat luka itu tertutup kembali. Ia memandang Kai disamping nya yang tak sadarkan diri, tidak, ia menyesal.


Ryujin mengambil serpihan kaca mobil yang pecah dihadapan nya, lantas mengesekkan permukaan yang tajam itu pada lengan kirinya, hingga mengeluarkan darah dari sana.


"Maaf".


Luka yang mengeluarkan darah itu ia peras dan cepat cepat ia sodorkan pada luka di pelipis Kai, sebelum luka itu tertutup dengan sendirinya.


Satu


Dua


Tiga


Dan beberapa tetes darah berikutnya mengenai luka sahabatnya itu, bercampur dengan darah murni milik Kai hingga luka yang ia buat sendiri tertutup kembali.


Ryujin memandang sejenak Kai yang masih menutup matanya. Ia bergumam 'maaf' beberapa kali, menekan tombol kunci pada pintu yang sebelumnya terkunci itu.


Membuka pintu, berjalan keluar. Mobil ini menabrak pohon besar dipinggir jalan, karena ulahnya yang membanting stir secara tiba-tiba. Bagian depan mobil rusak parah dan mengeluarkan kepulan asap, tapi Ryujin yakin itu tidak akan meledak.


Ryujin menengok kanan dan kiri, tempat ini sepi, belum ada kendaraan lewat, Ryujin menemukan telepon umum segera menghampirinya.


"Halo kami 911, apa terjadi sesuatu?".


"Ya, kecelakaan mobil dijalan-***".


"Baiklah apa di sana ada korban lain-".


"Ini darurat, datang saja!".


"Baiklah nona, tetap di panggilan-".


Tutt


Ryujin mengembalikan gagang telepon pada tempatnya, lantas berjalan cepat berbalik arah dari saat mobil berangkat. Dia harus menemui teman-temannya, memastikan mereka aman.


...~...


TOK TOK TOK


Ke limanya- Seokjin, Sunoo, Lia, Beomgyu dan Heeseung mengalihkan pandang pada pintu, menatap horor ke arah sana.


"Kalian bersembunyi". Titah Seokjin pada para remaja disana.


Ia melangkah pada meja dapur, mengambil salah satu pisau dapur besar disana. Menggenggamnya erat, mengacungkan nya kedepan sana.


Tangan siap membuka knop pintu dengan gemetar. Dan...


Ckekk


Hampir saja badan pisau yang tajam itu menggores sedikit puncuk hidung seseorang didepan sana. Seokjin terpaku beberapa saat.


"Ryujin!". Lia berseru berlari menghambur pelukan


"Turunkan pisaunya ayah". Ucap sang anak, dengan gagap Seokjin menurunkan acungan pisaunya.


"Kamu baik,kan? Tidak ada yang luka? Oh! Apa ini?! Kau berdarah?!". Serbu Lia histeris.


"Kecilkan suaramu. Ayo! Lebih baik masuk". Seokjin menengahi berjalan terlebih dahulu masuk.


Ryujin tidak bodoh. Ia tahu rumah ini karena didepan sana terparkir mobil yang ia kenal milik salah satu bawahan Jackson dimarkas, Minho. Setelah berjalan cukup jauh dari titik kecelakan yang di buatnya, Ryujin akhirnya memutuskan memasuki rumah ini melalui halaman belakang, dan beruntung nya ada pintu disana.


Dan ia disambut dengan acungan senjata tajam kearah nya. Ryujin tidak takut, orang yang mengancungkan pisau itulah yang takut. Dilihat dari cara ia menggenggam pisaunya dengan gemetar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?". Lia menggiring Ryujin duduk disofa. Sunoo cekatan mengambilan kotak p3k, menyerahkan nya pada Lia.


"Kecelakaan mobil".


"Dia.. disana, tak sadarkan diri".


Lia semakin melebarkan matanya. "Tenang saja, dia baik-baik saja".


"Lukamu-".


"Bekas darahnya masih ada, tapi tidak ada luka sama sekali". Ucapan Heeseung dipotong oleh Seokjin, dia berjalan mendekat.


Mengusap darah tanpa luka didahi Ryujin.


"Kau meneteskan darahmu pada luka temanmu?".


Meski ragu karena sejujurnya Ryujin tak mengenal siapa orang yang sedang berjongkok didepannya ini, ia tetap mengangguk.


"Apa tidak masalah membiarkan nya begitu saja?". Lia bertanya khawatir.


"Dia baik-baik saja, sebentar lagipun akan bangun". Jawab Seokjin seperti meramal.


Tapi bukan itu yang seharusnya mereka pikirkan untuk saat ini. Jackson dengan idenya sedang mulai bergerak maju menyusun strategi disebrang tempat.


...~...


"Apa kita akan terus berdiam diri begini?". Mereka jengah.


Ryujin sedari tadi hanya diam dan menunduk kan kepala ditempatnya duduk.


"Ryu jika kau punya rencana, utarakan. Kami akan siap membantu".


"Tidak".


"Huh, apa? Kenapa?". Beomgyu terus mendesak.


"Kalian terlalu banyak membantu".


"Heii, kami sudah sejauh ini karena peduli dan ingin melindungi mu". Heeseung berjongkok, berusaha menatap wajah tertekuk Ryujin dibalik ramputnya yang menutupi.


"Hei nak".


Seokjin memangil, membuat Ryujin mendongkak. Ryujin telah mengetahui seorang pria didepan nya itu dari penjelasan Lia sebelumnya.


"Dengarkan apa kata teman-temanmu ini, mereka jauh-jauh menemuiku hanya karena mu. Entah apa yang membuat mereka begitu, tapi alasannya, mungkin sama dengan alasan aku ingin membantumu".


"Juga, setidaknya kau beruntung masih memiliki darah kebal itu, berhenti bermuka murung dan bergerak lah. Mereka tidak akan diam saja, kita tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan".


Benar, mereka mengangguk menyetujui ucapan Seokjin sebagai yang tertua disana, walaupun ada beberapa bagian yang mereka tak mengerti. Terkecuali Ryujin, dia nyatanya masih merasa bersalah atas segala hal.


.......


.......


.......


Namun ditempat seberang, atau dimana Minho dan beberapa bawahan Jackson berada kini mendapat sesuatu yang membuat mereka menampakan wajah sumringah setelah penungguan yang amat lama.


Minho hanya sedang memeriksa beberapa CCTV jalan yang ada dibeberapa titik sekitar tempat itu, dan ia menemukan seonggok manusia tengah berjalan dengan gusar dengan kening sedikit berdarah.


Ya, itu target yang mereka cari. Ryujin. Dia tampak berjalan dan sedikit berlari kecil melirik kanan kirinya, namun tidak memehartikan CCTV yang menggantung manis diatas sana.


Dia berjalan semakin dalam memasuki gang kecil, hingga tubuh itu luput dari pandangan CCTV yang sedang Minho pantau. Dia melirik dua orang dibanggu penumpang dan bangku kemudi bergantian, lalu mengangguk bersama.


Mengambil ponselnya, berniat mengabari atasan. Satu, dua, ti- , diangkat. Suara berat menyapa disebrang sana, seperti biasa bertanya to the point.


"Dia disini Tuan. Kami siap diberi perintah".


"Bagus... tapi biarkan saja". Minho baru akan protes dengan apa yang diucapkan atasannya itu.


"Aku punya cara lain, cara yang lebih baik-baik". Jeda sejenak. "Bisa kau lacak alat komunikasi yang bisa menyampaikan pesanku kepada Ryujin didalam sana, Minho?".


"Tentu Tuan".


"Bagus, cepat kirim padaku. Dan kembalilah, tugasmu sudah selesai.". Dan berakhir juga panggilan itu.


Minho cekatan meraih ipad nya, megotak-atik sesuatu disana hingga mendapatkan yang dicari ia segera mengirimnya pada sang atasan.


"Selesai... kita kembali!". Dibalas anggukan si pengemudi, dan mobil hitam itu melesat menjauhi kediaman psikolog Kim.


...~...


Ringg


Semua orang menoleh.


Ringgg


Semuanya saling pandang.


Ringg


"Haruskah aku angkat?".


"Jangan! Diam disana Beomgyu!". Lia memerintah.


"Itu bisa saja jebakan".


Ringg


Ringgg


"Bagaimana kalau ini panggilan lain?".


"Jangan pernah percaya pada apapun yang tak pasti". Lia berkata horor.


Riinggg


"Apa yang harus kita lakukan?". Sunoo terlihat ikut gelisah mendengar nada dering telepon rumahnya sendiri.


"Jangan angkat mereka akan tahu lokasi kita!".


"Jika begini, mereka sudah tahu sejak awal kita disini! Mereka tahu Ryujin ada di sini!". Benar juga.


Suara dering masih menggelegar nyaring memenuhi ruangan yang lengang. Ryujin tertunduk, mengepalkan tangan nya. Lalu bangkit secara tiba-tiba.


Dengan pasti melangkah mendekati dimana telepon rumah itu tergantung. Tentu gerakannya terbaca oleh semua orang, Ryujin akan menjawab panggilan itu.


"Berhenti Ryujin!". Perintah Lia tak digubris sama sekali oleh sang empu.


Dia malah semakin mengikis jarak antaranya dengan keberadaan benda berdering itu. Tangannya terjulur, tapi dengan cepat dicekal oleh tangan lain yang lebih besar.


"Ryu". Suaranya sendu.


Ryujin terhenti, tersadar dengan perbuatan nya. Lantas menatap tangan nya yang dicekal.


"Sudah cukup sampai sini. Kalian tidak perlu ikut campur, ini urusan ku dengan nya... Aku akan mengangkat nya dan pergi, biarkan aku pergi dan menyelesaikan masalahku sendiri".


"Apa-apaan ucapanmu itu hah?! Kau meragukan keberadaan kami disini untuk mu? Astaga Ryujin... kau tahu kau masih kebal hingga membuatmu jadi sekeras kepala ini? Betul begitu?!". Beomgyu bersungut-sungut hingga urat dilehernya tampak.


"Apa? Tidak, aku tidak pernah meragukan kalian... hanya saja aku tidak mau ada korban karena ku lagi-".


"Bukan untuk mu saja, untuk paman dan bibi Kim!".


Bukan egois, tapi Ryujin pikir dia terlalu banyak merepotkan orang-orang disekitarnya. Padahal mereka hanya mencarinya, jika ia menyerahkan diri mungkin saja semua masalah terselesaikan, bukan?.


Heeseung memandang diam pada Ryujin. Dia terdiam ditempat, lagi. Heeseung menghembuskan napas kecil, membalik tubuh menghadap orang-orang disana.


"Aku akan coba mengangkatnya.. apapun konsekuensinya aku bersedia menerima itu".


Ryujin menoleh. Memelototkan bola matanya pada Heeseung, nyatanya pemuda itu hanya mengangkat bahunya acuh.


"Aku setuju. Aku juga akan menerima konsekuensinya". Lia menimpali.


"Aku ikut". Beomgyu mendengus.


Sunoo, juga ayahnya mengangguk setelah ditatap Heeseung. Ia meraih gagang itu, membesarkan volume telepon agar terdengar oleh semuanya.


"Lama sekali". Sapaan pertama yang mereka dengar.


"Uh, apa anda daliveri pizza? maaf tapi kami sedang tidak memesan-".


"Bicara apa kau, Lee Heeseung?". Senyum canggung itu berubah kecut, dia tau namaku juga?


Setidaknya ia mencoba mengelabui.


Benar-benar hening setelahnya.


"Jangan terlalu takut... kalian tahu, kita bisa bicara baik-baik, yaa harusnya jangan ditelepon begini sih tapi kalian suka sekali petak umpat ya".


Basa-basi. Mereka tahu, diam, mereka semua hanya diam mendengarkan.


"Halo? Apa ini masih tersambung? Astaga kalian tegang sekali HAHA". Suara tawa renyah terdengar.


"Baiklah, untuk menjelaskan maka dengarkan baik-baik". Hening, lalu BUGH, Suara pukulan pada sesuatu terdengar samar tapi dapat didengar


ARGGH


Disusul suara erangan kuat dari seseorang- Heeseung familiar dengan suaranya.


"Apa yang kalian lakukan sialan! Dia memuntahkan darah!". Disusul lagi teriakan histeris seorang perempuan yang juga familiar ditelingga pendengar.


"Taehyun".


"Yuna".


Heeseung dan Lia bergumam bersamaan. Rahang Heeseung mengeras, mereka berusaha menyekap kedua temannya.


"Kalian dengar? Aku tahu kalian tidak bodoh untuk mengenali suara teman kalian, kan? Kalian pasti tau situasi macam apa ini".


Sekali lagi Ryujin menegang ditempatnya berdiri.