
"Aku putra dari salah satu anak buah Tuan Wang". Ucap Kai enteng.
Tunggu dulu,apa katanya?
"K-kau?!"
"Hah.. Maaf kan aku, aku gak bermaksud berbohong padamu, tapi identitasku harus di sembunyikan".
"Aku tau kamu anak nakal, tapi aku benar-benar tak menyangka kamu termasuk anggota kelompok semacam ini, Kai".
Mereka sudah bersahabat saat masih duduk disekolah dasar dan sampai sekarang pun masih, tapi baru sadar hanya Ryujin yang tak tahu apa apa soal kehidupan Kai sahabatnya. Ryujin hanya tahu Kai adalah anak orang kaya entah orang tuanya berprofesi sebagai apa, bahkan tidak tau rupa ayah dan ibunya sama sekali.
Bagaimana bisa tahu, Ryujin tak pernah bermain ke rumah sahabatnya itu bahkan, tak tahu dimana tempat rumahnya berada.
Setelah dipikir pikir, Sahabat macam apa ia ini?.
Tapi Kai juga salah mengapa tidak pernah terbuka kepadanya selama ini, kau sahabatku bukan sih. Gerutunya dalam hati.
Tapi, sebaliknya Kai malah sering datang ke kediamannya untuk mengerjakan tugas kerja kelompok sekolah atau sekedar bermain bersama. Kai sangat bisa mengakrabkan diri dengan kedua orang tuanya, setiap ditanya tentang identitasnya oleh orang tua Ryujin pun ia selalu berkata 'aku anak orang berada' perkataan skeptis itu membuat Namjoon yang bertanya terhenyak. Setelahnya Kai pasti selalu mengalikan pembicaraan dengan mengajak Namjoon bermain catur, yang langsung di ia kan oleh saja Namjoon untuk menghindari kecanggungan.
Omong-omong, apakah papa tidak mengenal Kai atau sebaliknya?.
"Apa papa tau kamu itu siapa?".
"Tidak, sudah ku bilang aku merahasiakan identitasku dengan baik. Lagipula aku ini seorang Heacker jadi tidak semua orang tau semua soal aku".
"A-apa?". Ryujin merasa seperti orang bodoh sekarang yang tak tahu apa apa. Sebenarnya mereka melakukan apa saja selama 2 tahun bersama?.
"Bocah nakal dan bodoh sepertimu adalah Hacker?!". Benar benar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap satu persatu fakta yang terbongkar, berapa banyak yang ia lewati?.
"Shh.. Kalau tak percaya tak apa, kau akan tau nanti". Mengedipkan matanya.
Mengabaikan kegenitan Kai, Ryujin termenung memikirkan sesuatu.
"Tapi Kai... kau kan salah satu anggota mereka tapi untuk apa kau juga berada disini?".
"Ahh soal itu. Aku tak sengaja bermain game berbayar yang ternyata jebakan musuh, mereka ingin mengorek informasi markas. Ya jadilah aku disini". Jelasnya singkat, menyimpulkan bahwa ini adalah hukuman atas kecerobohan yang ia perbuat.
"Lalu, dimana papa dan mama mu, Ryu?".
Hatinya berdenyut nyeri lagi saat pertanyaan itu dilontarkan, Ryujin seketika mengingat lagi kejadian tadi pagi. Melihat tubuh tak bernyawa orang tuanya yang terkapar dilantai penuh darah.
Mengelengkan kepala seraya menunduk menahan air asin yang tertahan dipelupuk matanya itu,menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis.
"Mereka.... Sudah tiada, Kai"
.... ...
.... ...
.......
Esok harinya, meninggalkan hari kemarin yang begitu melelahkan dan berat bagi Ryujin. Dengan minimnya cahaya yang masuk keruangan itu, Ryujin mengerjapkan matanya perlahan membangun kesadarannya.
Kemarin ia dan Kai bercerita banyak sekali hingga membuat mereka berdua kelelahan sendiri. Setelah menangis meluapkan emosinya, Kai turut berbela sungkawa dengan lembut mencoba menenangkan Ryujin dari jauh karna terhalang oleh sel besi yang kokoh kalau tidak sudah dipastikan Kai akan memeluknya.
Berusaha menggerakan tubuhnya yang pegal karna posisi tidur dengan tangan yang menjadi bantalan kepalanya, karna disini tidak ada kasur atau apapun sama sekali. Perutnya mulai merasakan lapar, ahh Ryujin jadi rindu masakan mamanya.
Ryujin juga merindukan papanya, biasanya ia akan membangunkan Ryujin untuk menyuruhku turun dan sarapan. Lalu karna Ryujin tak kunjung bangun mamanya akan mengambil alih membangunkan Ryujin untuk kedua kalinya dengan omelan khas sang mama.
Ryujin tanpa sadar terkekeh mengingat moment menyebalkan yang mengganggu tidur nyenyaknya itu, tapi lihat dia malah merindukannya sekarang. Maafkan aku mah suka kesal padamu, sesalnya kemudian.
Setelah lama berkecamuk dengan pikirannya sendiri, Ryujin melirik Kai yang ada diseberang sana. Tidur dengan posisi tak jauh beda darinya tadi,meringkuk kedinginan yaa memang disini sangat dingin tak ada benda yang bisa menghangatkannya disini.
"Kai..bangun sudah pagi".
Ucapnya dengan suara serak,tangisan kemarin masih membekas sepertinya. Tak menunggu lama,Kai perlahan lahan mulai menggerakan satu persatu anggota tubuhnya.
"Apa tidurmu nyenyak, Ryu?" Tanyanya dengan suara tak kalah serak. Oh apakah mereka tidak memberi kami air walau segelas saja? Kejam sekali.
"Tak perlu bertanya kamu tau jawabannya".
Hening melanda. Kai yang masih mengumpulkan jiwanya dan Ryujin yang memilih diam agar tenaganya tak terbuabg sia sia. Sepertinya ia akan mati kelaparan didalam sini.
CREK. KYETTT
Mungkin saja tidak.
Terdengar suara pintu dibuka disusul oleh langkah kaki yang menggema diseluruh ruangan sepi itu.
"Tuan Wang tak ingin anak buahnya mati, jadi makanlah ini". Ucap pria itu, pria yang sama saat mengantarkannya ke tempat gelap ini. Dan apa katanya anak buah? Cih.
"Ahh baiklah, Terima kasih." Dengan sikap riangnya mengambil nampan berisi makanan, yang tidak dapat menggugah selera Ryujin sama sekali. Tapi mau tak mau Ryujin harus mengambilnya juga, untuk mengisi energi dan kabur dari sini.
"Dan bilang padanya. Tolong cepat bebaskan kami". Senyum lebar terpatri diwajahnya.
.......
.......
.......
Ryujin terkapar tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit setelah dibius paksa oleh Hoseok karna selalu memberontak dan tentu tindakan itu dibantu oleh Yoongi. Setelah suasana kembali tenang Yoongi pamit meninggalkan ruangan itu dengan alasan ada urusan lain yang harus dilakukannya.
Sedang asik dengan peralatan medisnya,Hoseok dibuat kaget oleh suara dari ranjang rumah sakit tepat disamping tubuhnya.
"Kenapa kau tidak langsung bunuh saya saja"
"Aduh kagetnya. Kenapa kau bangun secepat ini,huh? Apa aku menggunakan dosis rendah?". Kaget juga heran baru saja 20 menit membius anak ini ia rasa, seharusnya ada sekitar 1 jam an anak ini akan tersadar.
"Kau ayahnya Kai kan". Tanya Ryujin masih dengan suara yang lemah.
"Iya saya ayahnya,selama ini mungkin kau bertanya tanya seperti apa ayahnya Kai karna tidak pernah bertemu,kan".
Ryujin hanya membalasnya dengan anggukan setuju.
"Ekhem,kita belum berkenalan dengan benar sebelumnya". Lebih tepatnya hanya Ryujin yang belum mengenal Ayah sekaligus dokter dihadapannya ini, karna tentu Hoseok sudah tahu tentang Ryujin. "Nama saya Jung Hoseok, kau bisa panggil saya Paman atau hope-nim, dan seperti yang kau tahu saya adalah ayah dari Jung Kai sekaligus dokter pribadi di markas ini". Memperkenalkan diri dengan senyuman hangatnya.
"Apakah aku harus berkenalan juga?"
"Hahahaha tak usah,paman sudah tau tentang mu dari Jackson". Hoseok diam diam menyiapkan suntikan lagi selagi mereka mengobrol.
"Ryujin, sepertinya kau masih kelelahan lebih baik kau istirahat lagi,jika sudah waktunya makan akan paman bangunkan. Kita bisa berbincang lain kali". Sambil menyuntikan obat bius lagi dengan dosis yang cukup tinggi,mengingat tadi bahwa obat bius dengan dosis sedang hanya akan berefek sangat singkat.
"Tak usah ragu jika paman ingin menyuntikan suntik mati. Aku akan sangat berterima kasih untuk itu". Dengan suara semakin melemah,bersamaan dengan matanya yang mulai tertutup, Ryujin kembali tak sadarkan diri.
Hoseok menatap gadis tak sadarkan diri didepannya, tak tega dengan gadis yang merupakan sahabat sekolah anaknya ini.
Tiba tiba suara pintu ruangan itu berbunyi menandakan ada yang masuk keruangan tersebut. Jackson datang dengan Felix dibelakangnya.
"Kapan operasinya akan dimulai".
Hoseok membalik tubuhnya agar berhadapan dengan Jackson. "Segera setelah perintah darimu"
"Lakukan". Dijawab anggukan oleh Hoseok.
.......
.......
.......
Sedangkan diluar ruangan operasi,terhalang oleh kaca tebal yang memperlihatkan tubuh tak sadarkan diri Ryujin dan 3 orang dewasa yang sedang mengobrol disana, Yeji yang memperhatikan tanpa tahu apa yang mereka bicarakan karna tak mungkin terdengar.
Sebenarnya saat Yeji kembali dari rumah sakit atau lebih tepatnya dari ruangan Hope-nim setelah mengantarkan bocah perempuan yang masuk tanpa izin ke ruang merokoknya, Yeji tak sengaja berpapasan dengan Tuan Jackson yang sepertinya akan pergi ke rumah sakit juga.
Membungkuk hormat lalu mengekori Tuan-nya itu,karna penasaran Yeji menanyakan tentang anak perempuan tadi yang baru ia tahu bernama Ryujin, Tuan Jackson hanya bilang bahwa Ryujin akan menjadi anggota baru nantinya dan ia berkata untuk bersikap baik pada Ryujin.
Tak terasa langkah mereka sudah berhenti didepan pintu ruang operasi, Tuan Jackson melarang Yeji untuk masuk. Dan berakhirlah Yeji disini, berdiri didepan kaca tebal ruang operasi. Karna terlalu memikirkan anak bernama Ryujin itu Yeji tak menyadari kehadiran seseorang yang juga sedang menghadap kaca persis seperti dirinya.
"Sial, gara-gara gadis itu aku jadi kerepotan".
Yeji yang tak tahu ada orang disampingnya terkejut bukan main, ia hanya bisa mengelus dadanya agar detak jantungnya kembali normal.
"Minho oppa kau mengagetkanku".
"Hahahaha maafkan aku".
"Ahh..itu, karna gadis itu melapor kepada pihak berwajib,jadi aku yang harus membereskan kasusnya, huh merepotkan".
Minho atau nama lengkapnya adalah Lee Minho itu memang ditugaskan dibidang kepolisian atau pihak keamanan akar kasus yang ditimbul kan markas bisa diatasi olehnya.
Termasuk kasus dirumah keluarga Kim waktu itu, ia menyelesaikan kasus itu 2 hari nonstop untuk mengurusi dan menghapus data data yang bersangkut paut dengan anggota markas.
"Jika saja ini bukan perintah langsung Tuan Jackson,aku si malas mengurusinya". Ucapnya mengedikan bahu sambil melipat kedua tangganya didada.
"Ya, terima kasih banyak untuk itu". Suara lain yang lebih berat menyahut.
Minho yang tahu siapa pemilih suara itu langsung gelagapan membalik tubuhnya dan membungkuk hormat kepada Jackson yang berada diluar pintu. "Ahh..tentu Tuan, sudah menjadi tugas saya melakukan perintah Tuan".
Jackson hanya membalas dengan senyum tipis dan ikut menyamakan diri menghadap kaca ruangan operasi,dimana operasinya tak lama lagi akan dimulai
"Apakah kau tak keberatan jika mengurus sekali lagi,Minho?".
"Tentu Tuan". Jawabnya yakin
"Tolong,untuk anak itu". Perintahnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari sosok gadis diruangan itu yang sedang ditempeli oleh kabel kanel khusus disekitar kepalanya oleh Hoseok.
Minho mengikuti arah pandang Tuan-nya itu lalu mengangguk mengerti. "Baik".
"Pergilah". Dibalas anggukan oleh Minho,membungkuk hormat dan langsung melenggang dari sana.
"Saya juga izin pamit Tuan". Yeji yang merasa tidak ada kepentingan lagi pun ikut membuntuti Minho keluar dari rumah sakit.
"Selagi menunggu operasinya, Tuan bisa beristirahat di ruangan Hope-nim saya akan membawakan makanan untuk anda". Ucap Felix menyarankan.
"Baiklah". Jackson menuju ruangan pribadi Hoseok untuk istirahat sebentar, ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini hanya untuk menunggu operasi Ryujin. "Aku harap operasinya berjalan dengan lancar". Ucapnya setelah mendudukan diri di sofa yang berada diruangan itu.
"Saya juga".
.......
.......
.......
Menunggu dengan sabar, anak laki laki itu tampak selalu duduk disamping ranjang rumah sakit yang ditempati ayahnya, terkadang ia berbicara sendiri seakan ia sedang bercerita dengan seseorang didepannya itu nyatanya orang itu belum juga sadar sampai sekarang. Setelah dikonfirmasi ayahnya koma, anak laki laki itu selalu berharap disetiap harinya ayahnya akan segera bangun dan tersenyum lagi kepadanya, tanpa menghiraukan kantung mata yang sudah seperti panda itu ia tetap membuka matanya untuk memastikan ayahnya masih bernafas.
Terdengar ketukan pintu dilanjut dengan pintu yang terbuka memperlihatkan seorang wanita mengenakan pakaian putih rapih dengan rambut tergerai cantik,mendorong Instrument Troli itu memasuki ruangan.
"Mau sampai kapan kamu seperti itu Jake-ah".
Jake,anak laki laki itu mengangkat kepalanya yang semula menunduk lesu. "Sampai ayah bangun". Suaranya serak, bahkan lupa kapan terakhir kali ia minum.
Seorang dokter perempuan yang menangani ayahnya itu menghela nafas. Awalnya memang Jung Hoseok lah yang menangani ayahnya tetapi karna Jung Hoseok diberi perintah lain oleh Tuan Wang jadilah dokter perempuan ini yang menggantikannya. Dokter ini juga tak kalah ahli dalam bidang medis, semua dokter maupun perawat yang ada di markas ini memang tak main main, Jake bersyukur ayahnya bisa selamat dengan bantuan mereka.
Dokter itu menghela nafas mendengar jawaban yang sama terlontar kembali dari bibir kering itu. Ia berjalan kesamping Jake, dengan Jake yang menggeser kursinya agar dokter itu bisa dengan leluasa mengganti infus ayahnya.
"Kamu tetap harus menjaga kesehatanmu Jake, Chan tak akan senang jika dia bangun dan melihat keadaanmu yang seperti ini, dia akan sedih". Tangannya dengan telaten mengganti infus yang kosong dengan infus yang baru.
"Aku akan bawakanmu makan dan minum oke".
"Tak usah Chaeyoung-ssi".
"Aku memaksa".
"Tak perlu aku bisa sendiri".
"Kau yakin?".
"Hm". Jake mengangguk dengan senyum yang hangat untuk meyakin kan dokter yang merawat ayahnya ini.
"Baiklah, tapi kau harus benar benar makan ya jika tidak aku akan mengadukannya pada Chan".
"Iya iya". Jake malah terkekeh dengan ancaman dokter cantik itu. "Yasudah aku kembali ke ruanganku ya,jika ada apa apa panggil saja aku,oke". Jake membalasnya dengan jari yang menunjukan gestur oke, dokter menaruh sebotol air minum dinakas samping sofa lalu melenggang pergi.
Setelah dokter yang bername tag Park Chaeyoung itu pergi,Jake menyeret kursinya agar lebih dekat dengan ayahnya lagi.
"Dia semakin cantik tau, ayah tak ingin membuka mata untuk melihat muka cantik itu? Ayah beruntung dirawat oleh dokter yang cantik,ayah jangan terlena begitu ayah harus bangun aku janji tak akan menganggu kalian lagi lain kali". Jake terkekeh mengingat hubungan antara ayah dan dokter itu.
Awalnya ia tak setuju ketika ayahnya menyukai wanita lain lagi setelah ibunya meninggal. Tapi melihat ayah yang begitu menyukai perempuan cantik itu dan juga wanita itu tak seburuk yang ia kira dia baik, cantik, perhatian persis seperti ibunya dulu pantas saja ayah menyukainya. Jake merutuki dirinya sendiri karna terlalu egois terhadap ayahnya selama ini.
Jake melirik botol minum yang dokter tadi taruh. Jake bangkit dari duduknya perlahan berjalan mendekat nakas tadi dan mengambil botol itu, ia berdecak.
"Ck,setidaknya bawakan aku minuman soda". Walaupun mengeluh begitu Jake tetap menegak air putih itu sampai tandas tak ada sisa.
"Hah". Sebotol ai putih yang membuat hilang dahaganya merasa lega setelah 2 hari tak minum apapun,apalagi makan.
Kreuukk
Ais perutku sakit,tapi mana bisa aku meninggalkan ayah sendirian, batinnya berdebat. Berusaha menghiraukan rasa laparnya, baru saja akan kembali duduk suara ketukan pintu membuat pergerakannya terhenti.
"Masuk".
Yeji disana membawa sekantong makanan dan minuman, menyodorkannya ke depan muka Jake.
"Makanlah". Karna tak ada sahutan Yeji melanjutkan.
"Minho oppa yang menyuruhku. Kau juga harus makan agar sehat dan ayahmu juga akan cepat bangun".
Jake menatap kantong plastik itu ragu ragu. Yeji memutar bola matanya,lalu menggenggam pergelangan tangan Jake dan membawanya duduk di sofa.
"Aku bilang makan, kau hanya perlu menurut kenapa sih". Gerutunya jengkel, sembari membuka kotak nasi dan mulai menyendok nasi beserta lauknya lalu disodorkannya ke depan mulut Jake yang masih terkatup rapat.
"Aaa". Jake tetap diam enggan membuka mulutnya.
Lagi lagi Yeji memutar bola matanya. "Jake-ah, ayolah kau bisa sakit jika tak makan". Pintanya melembut dengan mata memelas.
"Tidak per-"
Kreuukk
Perut sialan.Rutuk Jake dalam hati.
"Ekhem, kau mungkin memang tak mau makan tapi perutmu membutuhkannya". Ucap Yeji susah payah menahan tawanya.
"Sini aku suapin"
"T-tak perlu, a-aku bisa sendiri". Gagapnya, sambil mengambil paksa kotak nasi dipangkuan Yeji. Baru saja akan menyuapkan nasi ke mulutnya, Jake melirik Yeji yang masih menatapnya. "Noona kenapa masih disini? Tenang saja aku akan habiskan ini". Ucapnya ketus.
"Ahh kau mengusirku? Ck, yasudah habiskan makanan mu, aku akan melongok lain kali". Yeji berdiri hendak keluar ruangan ketika tangannya membuka knop pintu Jake kembali bersuara.
"Terima kasih".
Yeji menoleh ke arah Jake dan tersenyum simpul, baru saja akan menjawab 'sama sama' Jake kembali menyela yang sukses membuatnya jengkel berkali kali lipat.
"Tolong sampaikan itu pada Minho hyung".
"Ck".
Setelah kepergian Yeji yang ia yakini pasti perempuan itu sedang merutuki nya disepanjang jalan, ia kembali menyuapkan suapannya yang tertunda dengan lahap.
.......
.......
.......
"Operasi sudah selesai Tuan".
Ucapan Felix barusan membuat Jackson dengan langkah terburu buru melangkah ke dalam ruang operasi.
"Bagaimana,Jung?". Hoseok yang sudah merapikan alat medisnya sembari membuka sarung tangan yang ia kenakan,perlahan mendekat ke arah Jackson dan menepuk bahunya.
"Operasinya sukses,lancar tanpa kendala. Tapi sepertinya harus beristirahat beberapa waktu Wang".
Jackson menghela nafas lega berterima kasih dengan sungguh pada Hoseok,lalu melirik kearah Ryujin yang masih tak sadarkan diri setelah operasi pencucian otaknya,dengan masih beberapa kabel yang menempel dikepalanya.
Jackson mendekati ranjang yang Ryujin tempati dan mengusap surai hitam legam itu lembut. Tersenyum hangat dengan mata gelap yang berbinar.
"Dia seperti anakku. Ryujin, ah tidak, Suji..".
"..Kamu adalah Uji ku".