
Motor besar Kai berhenti didepan parkiran mansion, mereka sampai saat hari sudah gelap. Ryujin turun dari motor itu melepaskan helm full face yang ia pakai lalu menyerahkannya pada Kai.
"Makasih ya, maaf ngerepotin".
"Santai aja".
"Mau mampir dulu?".
"Gak usah, aku ditunggu orang rumah".
"Kalo gitu salam ya buat semua orang di rumah". Kai menjawabnya dengan deheman.
"Ryujin". Panggil Kai dan Ryujin menjawabnya dengan deheman pula.
"Masih ingat namaku?".
"Kai, kan?". Ryujin mengangkat satu alisnya.
"Kai Jung lebih tepatnya". Ucap Kai mengkoreksi, Ryujin meresa tak asing dengan marga itu.
"Kau kenal Paman Hoseok? Dia memiliki marga yang sama denganmu sepertinya". Tanya Ryujin.
"Dia ayahku". Berkataan Kai hampir saja membuat Ryujin tersedak ludahnya sendiri.
"Kau anak paman Hoseok? Hoseok Jung?.. berarti kau..".
"Sudah sana masuk, udara semakin dingin bisa-bisa kulitmu pecah nanti".
Kai kembali menyalakan mesin motornya bersiap pergi dari sana.
"Kai-". Lagi lagi ucapan nya terpotong.
"Kita ketemu lain kali, jaga dirimu Ryu". Ucapannya sedikit terendam suara motornya sendiri, lalu berlalu begitu saja dari hadapan Ryujin.
Ryujin menjatuhkan bahunya lesu. Hari yang melelahkan batinnya.
.......
.......
.......
Sepeninggalan Kai yang mengatarkannya pulang beberapa waktu lalu, Ryujin memikirkan banyak hal diotak kecilnya. Untuk mendinginkan kepalanya yang sudah bekerja keras hari ini ia pun memaksakan tungakainya untuk pergi mandi agar tubuhnya lebih segar.
Memilih salah satu setelan piyama berwarna hijau pastel bermotif kotak kotak dari lemari besar disana dan mengenakannya, terlihat begitu pas ditubuhnya.
Ia bertanya pada penjaga sebelumnya kapan ayahnya akan pulang, penjaga itu bilang ayahnya mungkin akan pulang larut dan meminta maaf pada Ryujin karna harus makan makan sendirian di mansion.
Tapi Ryujin tidak makan malam dan memilih mengunci diri didalam kamarnya, merebahkan diri diatas kasur empuk itu dengan pandangan menerawang jauh ke atas sana, kamar itu sangat sepi tapi Ryujin dibuat berisik oleh isi kepala nya sendiri.
Kai itu anaknya paman Hoseok, itu berarti..
"Anak paman juga adalah sahabatmu, paman tak tahu apa kamu akan mengingatnya setelah bertemu nanti,secepatnya akan paman pertemukan kalian berdua".
Ryujin kembali mengingat perkataan Hoseok di ruang rawatnya waktu itu.
Berarti Kai itu sahabat ku dulu..
"Ryu, kau tak mengenalku?".
Pertanyaan Kai tergiang-giang dikepalanya, Ryujin baru sadar bahwa ia juga cepat merasa dekat dengan Kai, buktinya ia mengiakan dan percaya saja dengan tawaran Kai tadi yang noteben nya baru saja bertemu hari itu, seperti sebelumnya mereka pernah bertemu dan menjalin suatu ikatan seperti pertemanan, dan sayangnya itu memang benar.
Kenapa dia tidak mengatakannya langsung sih kalau dia adalah sahabatku, membuat tambah banyak pikiran saja, gerutu batinnya berperang sendiri didalam sana. Tapi diam-diam Ryujin berniat datang ke markas besok dan berharap Kai pun ada disana esok hari.
Ryu
Panggilan dari Kai itu kembali terputar diotaknya, membuat Ryujin seperti merasa jati dirinya yang sebenarnya keluar, Ryujin merasa kalau ia baru saja mengenal dirinya lagi.
"Aku suka panggilan itu". Gumam Ryujin sambil menyamankan kepalanya digumpalan kapas empuk berbentuk persegi itu, memejamkan matanya yang kelelahan, seharian ini ia memulai harinya dengan banyak hal yang terasa baru yang begitu banyak ia dapat.
Hidupnya kali ini terasa seperti puzzle berceceran yang harus ia cari bagian-bagian yang lain untuk disatukan dan susun beraturan di mulai dari awal hingga akhir oleh dirinya sendiri.
Hahh
Hidup itu rumit.
.......
.......
.......
Paginya Ryujin sudah siap dengan celana jeans dan jaket denim oversize yang melekat sempurna ditubuhnya, seperti biasa Ryujin mendapati ayahnya sedang membaca koran dimeja makan, dengan riang Ryujin menghampirinya.
"Pagi ayah!".
"Oh pagi Uji.. pagi-pagi gini sudah rapih aja, mau pergi? Dengan siapa?". Tanya Jackson bertubi tubi.
"Bertanya nya satu-satu dong, yah". Kekeh Ryujin. "Tapi aku tanya dulu, ayah mau pergi ke markas juga kan?".
"Ya tentu ayah akan ke markas". Jawab Jackson lalu menyuapkan makanannya.
"Aku boleh ikut dengan ayah ke markas?.. ingin bertemu yang lain".
"Tentu saja boleh, apa Uji senang berteman dengan yang lain?".
"Ya mereka semua memperlakukan ku dengan baik".
"Syukurlah ayah senang mendengarnya". Setelah beberapa waktu hening Ryujin mencoba memecah keheningan itu.
"Hmm.. ayah". Jackson menjawab dengan deheman dengan mulut masih mengunyah makanannya.
"Ayah kan sering manggil aku Uji, aku gak tau kenapa ayah memanggil ku seperti itu tapi boleh kah aku minta ayah mengganti memanggil aku dengan panggilan Ryu saja? Aku rasa aku suka dipanggil Ryu". Permintaan yang Ryujin pikir cukup sederhana itu malah membuat Jackson melambatkan kunyahan dimulutnya, menatap awas pada Ryujin.
"Tidak. Ayah akan selalu memanggilmu Uji, selain itu tidak boleh dan tidak akan ada".
"Tapi ada yang memanggil ku Ryu kemarin". Bela Ryujin tak terima.
"Siapa?".
"Kai. Dia memanggilku Ryu, aku suka itu. Memangnya kenapa sih gak boleh?". Ucap Ryujin mulai kesal.
Jackson terdiam sebentar lalu berucap "Tidak, sudah ayah bilang tidak boleh berarti tidak boleh". Tekan Jackson disetiap katanya.
"Kai hanya asal memanggil mu saja saat itu". Jackson bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan makanan miliknya. "Jika ingin ikut, cepat habiskan makananmu".
Ryujin mengerutkan dahinya bingung, harusnya ia yang kesal tapi ini kok malah ayahnya yang kesal padanya. Ryujin tanpa mengabiskan sarapannya juga ikut melenggang keluar mengikuti Jackson menuju mobilnya.
Setelah masuk mobil dan melaju menuju markas, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Mobil yang mereka tumpangi terasa canggung, bahkan supirnya pun tadi meringis saat melihat interaksi ayah dan anak yang tak sehangat sebelumnya.
Jackson yang memilih fokus kepada kerjaan di ipad miliknya dengan perasaan masih kesal atas permintaan Ryujin dimeja makan tadi.
Juga Ryujin yang sebenarnya tak tahu harus berbuat apa, jadi ia memilih melihat keluar kaca mobil lagi sambil menimbang-nimbang harus kah ia meminta maaf pada ayahnya sekarang tapi Ryujin pikir ia tidak melakukan kesalahan tadi.
Sesampainya di markas, Jackson langsung turun dari mobil dan akan melenggang pergi Ryujin yang melihat itu buru-buru melepas selbet dan membuka pintu mobil.
"Ayah tunggu!". Langkah Jackson terhenti lalu berbalik. Melihat ayahnya yang hanya diam saja membuat Ryujin gelagapan untuk mengutarakan permintaan maafnya.
"M-maafkan Uji soal yang tadi. Seharusnya Uji tak mengatakan itu, maaf ayah". Ryujin menunduk menyesali perbuatannya.
Jackson yang melihat itu tak tega lalu mendekat dan memeluk Ryujin, ia tak marah hanya sedikit kecewa saat Ryujin tak menyukai saat dia panggil dengan sebutan Uji. Memang hanya permasalahan kecil tapi sangat menganggu baginya.
"Tidak, maaf kan ayah juga tadi terlalu keras pada Uji. Lain kali jangan bahas ini lagi, Uji adalah nama kecilmu terasa berat bagi ayah jika panggilan itu diganti, kamu mengerti". Melepaskan pelukannya pada Ryujin menangkup pipi putrinya itu dengan kedua tangannya lalu mengecup puncuk sang putri saat Ryujin mengangguk patuh.
"RYUJIN!". Seru seseorang dari kejauhan, Ryujin memalingkan pandangan nya bisa ia lihat Kai berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan diudara.
"Kai". Gumam Ryujin memerekahkan senyumannya.
Setelah jaraknya sudah dekat, Kai membungkukan badannya ke arah Jackson. "Pagi Tuan Wang". Jackson mengangguk menanggapi.
"Mau berkumpul dengan yang lain Ryu? Yang lain ada di ruang kaca tuh".
Menengokan kepalanya ke arah Jackson tapi malah muka masam ayahnya yang ia dapat, ia mengerti lalu meminta izin pada ayahnya itu.
"Uji mau kumpul sama teman yang lain boleh yah?".
Muka masam itu meluntur menatap binar mata putrinya lalu mengangguk.
"Kai Jung, kau ikut keruangan saya".
...~...
Kai tidak tahu mengapa tiba tiba saja ia disuruh datang keruangan kerja itu walaupun begitu Kai tetap menurut dengan perintah Tuannya, dan disini lah Kai sekarang. Diruangan kerja Jackson sang atasan, sang empu duduk dikursi kebesaran miliknya dengan tangan bertaut didepan wajah datarnya.
Ekspresi mukanya terlihat tak bersahabat memandang sanksi Kai sedari awal mereka pertemu diparkiran tadi.
"Kau tahu tujuan saya mengahapus ingatan Ryujin bukan?... Langsung ke intinya saja. Saya tak suka saat kau memanggil Ryujin seperti itu". Kai mengerutkan dahinya bingung.
"Jangan sekali kali kau panggil Ryujin dengan panggilan kecilnya dulu". Oh okay Kai mengerti arah permasalahan ini sekarang.
Tuan Wang tidak menyukainya saat Kai memanggil Ryujin dengan panggilan kecilnya dahulu yaitu 'Ryu' rupanya, tapi bukan kah itu hanya nama panggilan saja ia sudah terlalu nyaman memangil sahabatnya dengan sebutan itu.
"Sedikit saja pun Ryujin tidak boleh tau tentang masa lalunya, sudah cukup saya biarkan kau masih bisa muncul dihadapannya dan berteman dengannya".
Kai menyunggingkan senyumnya.
"Maaf atas kelalaian saya Tuan, saya terlalu terbiasa memanggil Ryujin seperti itu sejak dulu tapi saya berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi saya meminta maaf sekaligus berterima kasih karena tidak memisahkan kami". Ucap Kai sedikit membungkuk tetapi wajahnya tampak tak terlihat merasa bersalah sama sekali.
Hal sepele seperti ini saja membuat Tuan nya itu was-was, apalagi ada hal lain lebih besar dari ini yang terkupas sedikit saja mungkin sudah ia bumi hanguskan negara ini, huft merepotkan.
Setelah merasa tak ada lagi yang ingin orang di depan nya ini bicarakan, Kai pamit undur diri dari ruangan itu lalu cepat melenggang pergi menemui kawan nya yang lain atau lebih tepat nya menemui Ryujin.
Markas terletak jauh didalam hutan, tertutup oleh banyaknya pohon menjulang dan lebat yang banyak tumbuh disana, tidak akan ada yang bisa menginjakkan kakinya disana terkecuali orang khusus dan tahu bahwa dibalik kegelapan hutan lebat itu didalam nya berdiri sebuah bangunan tua nan kokoh dan masih dipergunakan.
Tidak akan ada yang pernah menyangka jika ada tempat seperti itu dinegara ini, bahkan di cari diinternet pun daerah ini tidak terdeteksi atau memang dihapus dengan sengaja. Akan mengejutkan jika ada yang mengetahui tempat itu bukanlah hanya sebuah bangunan tua biasa, melainkan tempat berkumpulnya kelompok ilegal yang dicari cari oleh pihak keamanan negara karena banyaknya masalah yang kelompok ini perbuat. Dengan pekerjaan kelompok ini yang kotor, Mereka sering memanggil kelompok itu dengan sebutan, Mafia.
Dan tempat inilah yang menampung kami, kami tidur, makan, mandi, berlatih, juga bekerja memproduksi sabu ditempat ini, banyak yang kami lakukan ditempat besar nan luas ini. Hanya beberapa anggota saja yang bisa tinggal diluar Markas dengan syarat bisa menutup identitasnya rapat rapat dan anggota sisanya tinggal menetap dimarkas.
Seperti sebuah asrama banyak sekali kamar tidur disini tidak terlalu luas pun tidak terlalu sempit, setiap kamar diisi oleh 1 orang dengan 1 orang sebagai roommate total ada 2 nyawa yang hidup dalam satu kamar minimalis itu tentu anggota wanita dan pria terpisah, dimana kamar pria jumlahnya lebih mendominasi dari jumlah kamar anggota wanita.
Banyak sekali fasilitas yang dibangun, walaupun terlihat tua dari luar, didalam sana kalian bisa merasakan seperti tinggal diapartment bergaya tradisional, ruang senjata, kolam renang outdoor, cafeteria, rumah sakit, gym, lapangan yang membentang luas, dan yang lainnya.
Salah satunya ruangan kaca yang tak jauh dari tempat latihan memanah, beristirat disana jika sudah lelah berlatih, salah satu tempat yang dipilih Yeji, Jay ddk untuk bersantai dan secara tidak langsung men'cap' tempat itu sebagai daerah milik mereka juga tidak ada satupun anggota lain selain diantara mereka yang mau masuk ruangan itu.
Sedangkan Felix dkk memeliki ruangan milik mereka sendiri memisah dari perkempulan anggota dibawah nya, memilih bersantai diruangan indoor didalam gedung itu, sebenarnya tidak sering masing masing dari perkumpulan itu bisa berkumpul dengan formasi lengkap disana karena terkadang diberi misi yang diberikan berbeda beda.
Tapi kali ini hampir semuanya berkumpul dalam satu ruangan kaca minimalis yang sekarang terasa padat itu, maka lengkap sudah formasi hari itu jika saja salah satu makhluk lagi tak berhalangan dan bisa data-
KIYETTT
"Ah maaf, kayaknya aku yang dateng terakhir, biasalah orang sibuk hehe". Ucap Kai, si satu makhluk yang baru saja dibicarakan, dengan tangan masih memegang gagang pintu kaca diambang pintu juga cengiran bodoh nya yang ditatap jengah oleh hampir seluruh orang yang ada disana.
.......
.......
.......
Beralih ke tempat lain disebuah kamar minimalis.
Terdapat seorang pemuda tanggung berpipi gembul sedang merapikan tataan rambutnya ia baru saja selesai mandi dan memakai seragam kerja khas miliknya, sebelum keluar dari kamar dan turun untuk sarapan ia kembali melihat pantulan dirinya dicermin setelah dirasa rapi ia mengantongi beberapa benda yang penting termasuk gajget miliknya, terakhir ia mengambil topi khusus itu lalu melenggang menuruni tangga.
"Pagi eomma". Sapanya melihat sang ibu sedang menata sarapan hasil masakannya beberapa menit lalu.
"Pagi Jisung, cepat duduk dan makan sarapanmu".
Kedua orang berbeda generasi itu duduk berhadapan dimeja makan kecil, menyatap sarapan masing masing dengan tenang.
"Kamu berangkat pagi banget, padahal kemarin pulangnya larut banget loh kamu beneran tidur kan?". Tanya khawatir sosok ibu didepan nya itu mengingat anak nya baru saja pulang dini hari tadi, ia tahu karna suara pintu apartement yang mereka tempati dibuka siapa lagi yang masuk jika bukan anak nya itu.
"Jisung tidur kok, nyenyak sekali malah". Ucap Jisung meyakinkan dengan tangannya yang masih sibuk menyuapkan makanan.
"Aku harus membantu Seungmin, aku gak bisa biarin anak itu nyelesein tugas sendirian. Eomma tenang saja, aku tidak melupakan keperluan perut kok Jimin-nim selalu mentraktir kita makan kok". Terangnya lagi kali ini dengan senyumnya.
"Jisung-ah.. Jangan terlalu memaksakan diri". Ucapan ibunya membuat kunyahan itu melambat. Jisung menatap sosok wanita paruh baya yang sedang menatapnya sendu itu.
"Tidak, eomma jangan risau Jisung sudah sejauh ini akan aku pastikan aku akan cepat menemukan ayah dan membawanya pulang dan berkumpul bersama".
"Jisung-".
"Aku masih belum tau sih dimana ayah sekarang, tapi akan aku cari ayah sampai dapat".
"Kamu gak perlu seperti ini, hidup berdua denganmu saja eomma sudah bahagia".
"Kalau begitu jiga ayah pulang maka hidup eomma akan lebih bahagia".
"Percayakan padaku, aku bisa melakukannya, eomma cukup berdoa akan keselamatanku dan juga ayah disana. Aku sudah selesai makan, aku pergi dulu ya eomma~". Jisung menaruh piring kotor miliknya ke wastafel lalu melenggang pergi dengan tangan melambai sampai tubuh kecil itu hilang dibalik pintu yang terkunci otomatis.
Wanita itu hanya diam memandang kepergian anak semata wayangnya yang sekarang sedang menggeluti perkerjaanya sebagai anggota baru kepolisian pusat. Tahu betul bahwa pekerjaan itu bukan semata mata karna cita citanya sedari kecil tapi juga tekad nya yang ingin mencari keberadaan seorang ayah yang sejak dahulu tak pernah mereka tahu dimana ia hidup dan bagaimana ia hidup.
...~...
Sesuai dengan rencana yang mereka atur kemarin, sejak tadi pagi hingga siang ini Seungmin dan Jisung dibuat kelelahan dibuatnya bagaimana tidak, mereka sudah kesana kemari menginjakan kaki ke seluruh bandara yang ada di negara ini hanya untuk menanyakan keberangkatan sepasang suami istri beserta anaknya yang katanya pindah ke luar negeri.
Tapi nyatanya, sejauh ini mereka tidak bisa menemukan data apapun bahkan mereka memeriksa cctv bandara untuk memastikan bahwa Namjoon dan keluarga nya benar benar tidak pergi ke bandara.
Seseorang datang dengan baju seragam sama yang dikenakan oleh Seungmin juga Jisung, suara sepatu pdh itu terdengar nyaring ketika langkah larinya semakin mendekat ke arah dua partner kerjanya yang sedang terduduk lelah dikursi tunggu disana.
Seungmin yang menyadari kehadiran orang itu langsung saja menegakkan kepalanya lalu bertanya melalui kontak mata dengan si partner dan hanya dijawab gelengan olehnya yang sudah berhenti dihadapan Seungmin dan Jisung dengan nafas terengah.
"Mereka tidak menemukan penumpang dengan nama Namjoon-nim maupun Sohee-nim, juga sudah ku periksa kamera keamanan tapi tak ku lihat mereka datang ke sini". Jelas Yeonjun, Partnernya.
Jisung yang sedari tadi hanya menyimak kembali menundukkan kepalanya lesu setelah mendengar tuturan yang lagi lagi sama didengar nya.
"Kita sudah menyusuri semua bandara yang ada, tak mungkin jika Namjoon-nim keluar negri jika tidak lewat jalur udara kan?". Tanya Seungmin yang diangguki oleh keduanya.
"Benar, kalau begini apa mungkin memang mereka gak pernah keluar negri Seung, maksud ku mereka masih disini dan informasi yang kau dapat itu adalah palsu". Jisung menimpali.
Benar, inilah masalahnya. Meraka sudah mencoba menghubungi nomor Namjoon dan istrinya itu tapi nomor mereka selalu saja tidak aktif, malah handphone keduanya ditemukan didalam tempat sampah kecil didalam kamar. Lagi dirumah nya tidak terpasang kamera pengawas, kawasan rumah itu memang tenang jarang sekali ada kasus disana tapi kenapa Namjoon tidak memasang untuk berjaga jaga.
"Aku beli minum dulu". Bermaksud menyegarkan diri Jisung berjalan ke arah mesin minuman di sebrang, memasukan beberapa lembar uang lalu menekan 3 minuman soda yang ada disana.
"Apa kita harus menghubungi keluarganya?".
Yeonjun tahu apa yang Seungmin maksud dengan keluarganya. Ya Namjoom hanya memiliki satu keluarga yang tersisa yaitu adiknya, Namjoon dan adiknya memiliki perbedaan jika Namjoon memilih menjaga keamanan dengan menjadi polisi sekaligus detektif, sedangkan adiknya memilih bergelut dengan dunia bisnis yang kini dengan diri nya sendiri yang menjadi CEO perusahaan miliknya.
Adiknya itu beberapa waktu ini sedang berada diluar negeri tepatnya di Tokyo, Jepang sedang mengurus beberapa pekerjaan perusahaan nya disana.
Pihak kepolisian bukan ingin menyembunyikan ini kepada keluarga Namjoon satu satunya itu tetapi mereka hanya tak ingin merusak keadaan yang mereka tahu akhir akhir ini perusahaan adik dari Namjoon itu sedang naik daun, jadi mereka memilih menyelesaikan dan mencari keluarga Kim sebelum kepulangan adiknya itu.
"Kita bicarakan nanti dengan Jimin-nim". Yeonjun mengurut pangkal hidungnya, ucapanya itu menjadi akhir dari obrolan mereka dengan Jisung yang sudah kembali dengan 3 botol kaleng soda ditangan nya.
.......
.......
.......
Sesampai nya ketiga polisi muda itu dikantor mereka langsung saja melaporkan hasil pencarian mereka yang sia sia itu pada atasnya, Jimin. Setelah berunding, mereka memutuskan untuk menghubungi Adik satu satunya dari Namjoon itu yang terpaut jauh disebrang negara sana. Berharap saja semoga memang Namjoon dan keluarganya ada disana, tak peduli mereka kesana menggunakan kapal laut atau semacamnya.
Keempatnya terdiam hening menunggu orang disebrang menjawab panggilan nya dan berharap dia sedang tidak sibuk bekerja, karna setaunya sekarang adalah waktu lunch dinegara itu.
Lama menunggu dan akhirnya diangkat.
"Halo.. Dengan CEO Kim disini".
"Ya Kim, ini Jimin". Menjawab dengan cepat sahabat kecil nya itu.
"Ahh jimin apa kabarmu?". Mendengar nama sahabat kecilnya itu suara formal disebrang sana berubah ramah.
"Aku baik, apa kau sedang santai?".
"Ya, ada apa?".
"Itu, ahh aku hanya ingin bertanya".
"Ada apa dengan nada bicaramu hah? Kau ingin bertanya apa?".
"Itu... Apa Namjoon hyung ada bersama mu?".
".... Huh?? Apa maksudmu hyung tak ada disini tuh". Ahh jawaban ini, Jimin tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan bibir yang mulai memucat Jimin segera ingin mengakhiri percakapan itu dengan natural.
"Ahh begitu ya, kalau begitu makasih Kim maaf menganggu waktu istirahat mu. Aku ada kerjaan akan ku kabari kam-".
"Ada apa Jimin?". Nada bicara yang rendah dan menuntut membuat Jimin semakin gelagapan termasuk 3 orang lain diruangan itu yang sudah tegang sedari awal panggilan terhubung.
"Tidak Taehyung-ahh tidak ada apa ap-".
"Berkata yang sebenarnya, Jimin". Merasa ada yang tidak beres, pemuda yang menjabat sebagai CEO itu sudah berdiri dari duduk santainya tadi.
Dan disini lah dimulai, Jimin dengan terpaksa menceritakan apa yang terjadi dengan kakaknya Namjoon pada Kim Taehyung adik sekaligus satu satunya keluarga yang Namjoon punya sekarang.
...________________________________________...
...Egois adalah satu sifat yang hampir seluruh manusia dibumi ini pernah merasakan dan alami, rasa egois timbul dari diri seseorang ketika ia tidak merasakan kepuasan dengan apa yang ia miliki sekarang. Dan dengan perasaan itu, seseorang bisa menghancurkan hidup orang lain untuk bisa membuat hidup nya sempurna, apapun. Sampai tak menyadari bahwa penyesalan akan datang kapan saja dikemudian hari....
...______________________________________...
...[3 TAHUN KEMUADIAN]...
Waktu berjalan dengan cepat terbukti sudah tiga tahun berlalu sejak Ryujin terbangun dari istirahatnya dan memulai kembali hidupnya sebagai Ryujin Wang. Sejauh ini ia sudah dapat beradaptasi cukup baik dengan lingkungan nya tinggal saat ini, sekarang ia mulai mengerti bagaimana cara kelompok ini berjalan.
Ayahnya, Jackson adalah bos dari seluruh anak buah disini, dia ketua mafia, mafia mudah nya bisa dibilang sebuah organisasi ilegal yang bergerak di bidang kejahatan atau seseorang yang terlibat dalam tindak kriminal atau kejahatan.
Dibawah kuasa dan perintah Tuan mereka, segala macam hal gelap dan kotor mereka lakukan seperti hal nya jual beli organ, membobol bank, melakukan transaksi ilegal dengan banyak negara, pembunuh bayaran, penculik orang penting, penyelundup, pengendar juga produsen bahkan pengonsumsi berbagai jenis sabu.
Yeji, yang cukup dibilang dekat dengan Ryujin adalah perokok akut hingga tak aneh melihatnya mengonsumsi benda nikotin itu setiap saat sedangkan kakaknya Hyunjin tak separah itu dalam merokok tapi dia adalah sang dealer dari banyaknya jenis obat obatan, tak sedikit anggota disana juga yang pengonsumsi sabu maupun obat obat lainnya.
Dan untuk menjalankan misi yang ditugaskan, mereka tentu perlu ilmu bertarung yang bagus, yang Ryujin tahu bahwa mereka hanya menggunakan tangan kosong tapi tak sedikit menggunakan berbagai jenis sejata juga untuk berjaga jaga, contohnya saja Sunghoon si penguasa pedang benda tumpul panjang dan tajam, atau kakaknya Jay serta, Yoongi si sneaper handal dari daerah tinggi,
Juga Chaeryeong dan Jake yang ahli menembakkan anak panah dalam berburu atau kepentingan misi dihutan, si pemanipulatif Minho dan si jari canggih Kai siap membrantas bank manapun dan data apapun,
Atau sifat introvert Jake mungkin membantunya saat mengendap dan mengunakan senjata seperti pisau kecil atau cutter untuk menusuk lawan nya secara diam diam, juga jangan ragukan keahlian bela diri mereka terutama Felix tubuh kecil itu bisa saja melawan 10 orang sendirian, waw.
Tapi tentu kebanyakan dari mereka pasti memiliki kemampuan berkelahi yang bagus dan menguasai senjata api semacam pistol juga para antek anteknya, dan sisanya dengan kemampuan mengotak atik sistem dengan mudahnya yang tugasnya hanya duduk didepan layar komputer khusus untuk melakukan misi membajak jaringan sistem apapun yang tak semua orang bisa melakukannya.
Dan sebagai anggota yang 'baru bergabung' kembali dengan mereka, Ryujin mencoba membiasakan diri dengan lingkungan dan olah fisik yang kasar juga menggunakan berbagai senjata berbahaya. Sejauh ini Ryunin ahli dalam hal bela diri dibantu Felix sang pelatih,
juga dalam hal memanah dengan Jake sebagai partnernya. Dalam bidang hecker memang tidak semuanya harus bisa tapi Ryujin memaksa Kai untuk mengajarinya setidaknya bagian dasar.
Jake juga banyak membantunya, dia juga mengajari Ryujin cara mengendap dan menggunakan senjata tajam kecil, juga berbagai strategi untuk menjalankan misi yang diciptakan oleh otak cemerlang nya itu.
Seiring berjalan nya waktu, Jackson yang melihat perkembangan pesat Ryujin itu sedikit sedikit sudah mulai percaya dengan kemampuan yang Ryujin miliki untuk bisa menjaga diri bahkan menjalankan misi.
Termasuk saat ini, ia memberi Ryujin sebuah misi, hanya misi biasa menyerahkan pesanan sabu milik si pemesan yang meminta bertitik temu di sebuah hutan daerah utara.
Ryujin dengan pakaian serba hitamnya pergi menggunakan motor besar pemberian Jackson. Sesampainya disana ia memarkirkan motornya dijalan arah masuk hutan, membuka helm full facenya lalu mengantinya dengan topi yang menutupi sebagian wajah putih bersih itu, memutuskan untuk berjalan kaki memasuki hutan.
Tak lama ia menemukan seseorang dibawah salah satu pohon besar disana yang persis menggunakan pakaian yang sama seperti yang Ryujin pakai, bedanya ia memakai kupluk dan masker hitam hampir menutupi mata suramnya.
Mendengar suara sepatu boots yang bergerekan menginjak dedaunan kering, reflek seseorang disana menoleh lalu menegakan badannya yang semula bersandar pada batang pohon saat tahu siapa yang datang.
"Kau terlambat berapa menit kau tahu?".
Pertanyaan yang tak penting pikir Ryujin, ia memilih diam enggan menjawab seseorang yang menjadi konsumennya itu.
"10 menit". Timpal orang itu berdecih saat tak ada respon apapun dari orang didepannya
"Penjual tidak ramah bintang 1". Tambah nya lagi.
Itu hanya basa basi Ryujin tahu, tapi apa pembahasan seperti itu tepat disituasi semacam ini.
"Saya hanya perlu menyerahkan ini pada anda, bukan?. Bisa tunjukan identitas anda, untuk memastikan bahwa orang didepan saya bukan orang yang salah".
"Cih merepotkan saja cukup berikan itu pada-".
"Tinggal serahkan kartu nama anda, pak". Ucap Ryujin menyela.
Orang didepannya kembali berdecih tapi kemudian mengambi sesuatu dibalik jas yang ia pakai lalu menyerahkan semua kartu nama pada Ryujin.
Ryujin mengangguk setelah memeriksa, lalu menyodorkan sebuah plastik dari dalam tas yang tersampir dibahu kanannya.
Saat baru saja plastik itu akan diambil, tangan si pria dicekal oleh Ryujin, membuang asal plastik tadi dan dibantingkan nya tubuh itu ketanah dalam sekali gerakan.
"Pembohong".
"Argg..lepaskan! Apa maksudmu hah?! tulang punggungku patah".
"Beritahu saya, anda tahu ini dari mana pak". Ryujin membalik tubuh kecil pria setengah baya itu sehingga Ryujin berada diatasnya memelintir tangan pria itu kebelakang.
"Kau pikir saja bocah!".
Tepat saat kalimat itu berakhir sebuah panah menancap dikepala sang pria tua yang keras, menembus sampai tanah.
Ryujin menolehkan kepalanya ke atas dahan pohon, dan benar saja disana ada Jake yang sedang menurunkan busurnya setelah menembakan satu anak panah tajam miliknya dan berhasil menghilangkan satu nyawa diwaktu yang sama.
"Kau hanya akan membuang waktu jika bergelut dengannya".
"Setidaknya aku bisa dapat sedikit info darinya". Ryujin bangkit dari tubuh tak bernyawa dibawahnya lalu mengambil plastik hitam yang tak sengaja terlempar tadi.
"Kau tak akan mendapatkan itu darinya". Jake melompat dari dahan pohon lalu mendekati mayat baru itu, mencabut alat manah miliknya membalik tubuh itu dan menginjak sesuatu yang menempel dibaju sang mayat, sebuah alat penyadap.
"Kau mengikutiku". Terang Ryujin
"Mengawasimu lebih tepatnya, sudah ku tebak hal semacami ini akan terjadi apalagi kepada kau yang masih pemula".
"Ayo balik, hari udah mau sore". Ajak Jake lebih santai.
"Dia akan ditinggal gitu aja?". Ucap Ryujin menatap mayat dengan dahi berlubang yang terus mengeluarkan darah.
"Kau mau bawa dia dan mengambil organnya? Terserah, tapi setauku organ orang tua seperti dia sudah tak bagus Ryujin".
Ryujin merotasikan matanya lalu melengang dari sana meninggalkan Jake yang terkekeh, Jake mengelengkan kepalanya lalu ikut menyusul Ryujin untuk pergi pulang.
.......
.......
.......
Ryujin mencari ayahnya untuk melaporkan hasil misinya ah ralat mungkin misi Ryujin dan Jake karna anak itu ikut tangan tadi. Tapi sesampainya dimarkas saat akan memasuki ruangan ia bertemu dengan seorang pria setengah baya yang ia kenal sebagai ayah dari Jake, Chan Lee.
Chan baru dibertemukan dengan Ryujin oleh Jake beberapa minggu setelahnya dengan keadaan koma diruang rawatnya, dan baru dua tahun terakhir ini ia siuman dari tidur lamanya itu, tapi kini sosok itu terlihat lebih sehat dari kali pertama mereka dipertemukan.
Ryujin dengar Chan mendapat dua tembakan yakni satu peluru mengenai kepala bagian samping nya dan yang satunya tepat didada kiri nya, tapi untung nya langsung ditangani dengan operasi pengangkatan peluru dan perawatan medis.
Beruntungnya lagi Chan merupakan salah satu dari 5%(meski tak sampai) orang yang mampu bertahan dengan tembakan dikepala. Ryujin menyimpulkan bahwa itu adalah konsekuensi saat menjalankan misi, mungkin ia akan mengalami tragedi mematikan sama seperti itu suatu saat menjalankan misinya nanti.
Kembali kepada Chan yang didepan nya kini, Melihat ia yang baru saja keluar dari ruang kerja ayah nya sambil membawa setumpuk berkas ditangan nya, hampir saja bertubrukan dengan Ryujin yang akan masuk. Chan membenarkan kacamata yang melorot diatas hidung bangirnya, memperhatikan gadis didepan nya.
"Ah Uji?!.. maaf ya paman tak melihatmu tadi".
"Tak apa Chan-nim".
"Kau mau bertemu Jackson? Dia sudah pulang tadi sih, katanya mau istirahat lebih cepat".
"Ah begitu kah? Apa ayah sedang tak baik?".
"Sepertinya iya, kamu cepatlah pulang Uji".
"Baik Chan-nim.. mau Uji bantu?". Tangan Ryujin terulur untuk mengambil beberapa berkas yang Chan pangku, sebelum Chan menjauhkan nya.
"Tidak perlu paman bisa sendiri, terima kasih Ryujin paman duluan ya". Ryujin menundukan tubuhnya saat Chan melenggang pergi perlahan menjauh dan menghilang dibalik tembok saat ia belok ke arah kiri.
...~...
Ryujin yang mendengar ayah nya kurang sehat pun langsung bergegas pulang menggunakan motor besar miliknya, hari sudah malam sangat memakan waktu jarak dari markas menuju mansion. Beruntung jalan malam ini lumayan lenggang jadi Ryujin dengan leluasa dapat mempercepat laju motornya membiarkan angin malam menembus tubuh nya sampai ke tulang.
Sesampai nya di mansion, Ryujin memasuki bangunan megah itu dan tak mendapatkan ayahnya ditempat favorit ia biasanya akhirnya Ryujin memutuskan untuk pergi menuju kamar milik ayahnya itu dan benar saja ia ada disana terlihat damai dialam mimpinya.
Ryujin dengan hati hati menutup pintu kamar itu saat dirinya sudah masuk, tapi niatnya untuk tidak membangunkan ayahnya tidak membuahkan hasil.
"Uji?".
"Ah maaf membuat ayah terbangun". Ryujin membalik tubuhnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Gak kamu nggak bangunin ayah". Jackson menggeleng lemah.
"Ayah sakit?". Tanya Ryujin mendekat lalu mendaratkan bokongnya dipinggir kasur tepat disamping kaki Jackson yang diluruskan dan mulai memijit kaki itu.
"Hanya tidak enak badan".
"Sudah minum obat?".
Jackson menjawabnya dengan anggukan lalu setelahnya hening, Ryujin fokus memijit kaki dan Jackson yang memandangi putrinya itu.
"Bagaimana misi pertamamu?". Ryujin mengangkat kepalanya lalu menghela nafas.
"Orang tipuan, ayah sudah memperlihatkan visual pembeli kita dan dia bukan orang nya, tadi Jake menemukan alat penyadap dibaju orang itu".
"Jake?". Ryujin mengangguk. Ryujin mengalihkan pandangan nya berdecih samar tak bisa menyembuyikan kekesalan nya.
"Dia membuntuti Uji tadi".
Jackson terkekeh "Jake hanya khawatir Uji, dia hanya memastikan".
"Tapi tidak dengan menghancurkan misi pertama ku ayah". Kali ini Ryujin memasang muka memelas seperti ingin menangis.
"Maafkan dia, masih banyak misi lain yang bisa kamu selesaikan sendiri". Ryujin menghela nafas pasrah tapi tak lama sesuatu benda disaku dalam jaketnya bergetar tanda ada panggilan.
Saat ditariknya benda pipih itu dan dilihat, tertera nama Jake disana, Ryujin melirik ke arah Jakson dan dibalas anggukan olehnya. Ryujin tekan ikon jawab lalu mendekatkan nya pada telinga.
"Uji, kau sudah pulang?".
"..."
"Aku kira kau akan berkumpul dulu dengan yang lain".
"...".
"Uji?". Jake menjauhkan handphone miliknya untuk melihat panggilan masih tersambung.
"Kau masih marah padaku? Oh ayolah ji aku hanya memastikan, oke aku minta maaf. Gimana kalo sebagai ganti nya aku traktir kau makan ditempat kesukaanmu, gimana?? Ayolahh kapan lagi kau ditraktir oleh ku". Jake dengan suara memelasnya berceloteh dari sebrang sana.
Ryujin tentu sangan tergiur saat Jake akan mentraktirnya apalagi ditempat kesukaan nya. Ryujin terlihat menimbang nimbang antara mempertahan kan harga diri nya tapi juga ingin pergi karna jujur saja ia belum makan sedari siang tadi.
"Oke deal". Akhirnya Ryujin mematahkan rasa gengsi nya demi sebuah makanan.
"Sudah ku duga, okay aku akan menunggu disana, see you". Penutup dari Jake saat panggilannya terputus sepihak.
Ryujin menatap ayah nya ragu, ia lupa bahwa ayah nya sedang sakit tapi malah memutuskan untuk pergi. Aduhh ingin menepuk jidat nya sendiri tapi malu karna ada orang didepan nya.
"Eumm ayah...". Jackson lagi lagi terkekeh.
"Sudah sana pergi, kalian jangan sampai lama bertengkar".
"Kalo gitu Uji berangkat dulu ya, yah".
"Iya sana hati hati dijalan".
"Iya ayah~". Ryujin berucap setelah melepas pelukan singakat nya lalu melenggang keluar kamar milik ayah nya itu. Dan segera persiap menemui Jake ah ralat lebih tepatnya makanan favorit nya.hehe.