Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Pengangkatan Ryujin



Yeji menghela nafas berat, terduduk disofa ruang rawat. Pagi-pagi sekali ia di panggil oleh Tuan Wang untuk datang keruangannya, sesampainya di sana ia diperintahkan datang ke kamar rawat yang ditempati oleh Ryujin, Yeji juga dengar bahwa operasi Ryujin berjalan lancar tak tahu ia harus beraksi apa. Tapi di sini lah ia sekarang, Yeji diperintahkan untuk menemani Ryujin selagi Ryujin tak sadarkan diri.


Melirik Nintendo Switch yang ada diatas meja, itu adalah milik Felix, teman kakaknya itu meninggalkan barangnya di sana dan bilang bahwa Yeji bisa meminjamnya jika bosan menunggu. Dan benar saja menunggu itu membosankan, jadilah Yeji mengambil benda itu dan mulai memainkan permainan apa saja yang ada disana.


Entah sampai kapan Yeji memainkan benda itu, sampai batas kebosanannya tiba, mungkin.


.......


.......


.......


FYI, rumah sakit markas ini ada 3 lantai, tepat dilantai 1 disalah satu ruang rawat itu adalah tempat rawat Chan sedangkan Ryujin ada di ruang rawat lantai 2.


Beda di ruang rawat Ryujin yang membosankan, sedangkan diruang rawat Chan sedikit ada reuni dadakan di sana berkumpulah 3 orang keluarga Lee, walau satu orang tak sadarkan diri. Jake tampaknya sudah kembali membaik, terbukti ia sekarang sedang memakan makanan yang Felix bawa dan jangan lupakan Brownis coklat kesukaannya, bisa-bisanya pamannya ini membuat Brownis dikala jadwalnya yang sibuk.


Oke kembali ke kedua orang bermarga Lee yang sedang asik makan lesehan dilantai rumah sakit yang dingin beralaskan karpet, sambil mengobrol membahas sana sini, termasuk membahas persoalan Ryujin.


"Jadi, setelah dia sadar dia akan di angkat sebagai anak kandung oleh Tuan Wang?".


"Kurang lebih begitu, Tuan Wang merasa dia seperti melihat Suji dengan melihat Ryujin".


"Aku tak masalah untuk itu". Jake terjeda, menaruh sumpitnya dan menahan tangannya di paha dan tangan yang satu lagi memegang box nasi.


"Aku tak tahu harus bagaimana, aku telah memarahinya waktu itu tapi kan ayah tak apa-apa walaupun dibuat koma. Anehnya aku tak merasa marah lagi, lagi pula ayah akan cepat sadar, bukan?".


Felix mengangguk setuju. "Tak apa, Ryujin tak akan ingat dengan kejadian itu kau hanya perlu bersikap normal saja Jake-aa".


"Hm, ku harap begitu dan akan aku usahakan". Melanjutkan makannya dengan tenang.


Setelah selesai dan menghabiskan makanannya Jake juga Felix membersihkan sisa-sisa sampah makanan dan membuangnya.


"Yoksi". Jake meregangkan badannya.


"Apa hyung punya jadwal hari ini?".


Felix tampak berpikir "Hyung rasa tidak, kenapa?".


"Kebetulan, aku ingin keluar untuk jalan-jalan sebentar. Jadi bisakan Hyung gantian berjaga". Pintanya dengan cengiran bodoh dimata Felix.


"Hahh, yasudah sana pergi".


"Terima kasih Hyung.. Aku tak akan lama kok".


Ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlari kecil keluar dari sana. Sebelum Jake benar-benar keluar dari rumah sakit, tak sengaja ia melewati tangga menuju lantai 2, ia berpikir apa ia harus melihat Ryujin dulu ya?, kenapa tidak. Tanya dan jawabnya dalam hati dan mulai melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Padahal ada lift, haduhh. Lumayan olahraga.


Sesampainya di depan pintu ruang rawat Ryujin yang ia tahu dari Felix Hyung. Jake tanpa mengetuk pintu langsung saja membuka pintu itu, di bangsal itu terdapat seonggok manusia yang di mana awal pertemuannya Jake sangat ingin mencabik-cabik wajah itu, tapi sekarang wajah itu terlihat damai di dalam alam mimpinya.


Melirik ke arah sofa disana ada Yeji yang tertidur dengan tangan di pangkuannya yang masih memegang Nintendo yang ia yakini milik Felix Hyung. Menghiraukan itu, Jake berjalan ke arah ranjang Ryujin dan mulai meratapi wajah pucat dan damai itu lebih dekat. Terdiam cukup lama, dengan pikiran yang berkecamuk.


"Sedang apa kau disini". Suara di belakangnya menyadarkannya, tak ia jawab sama sekali.


"Ayahmu dijaga oleh siapa?".


"Felix Hyung".


Yeji hanya ber'oh' ria, mengerjapkan matanya.


"Eh, kau mau kemana". Tanya Yeji melihat Jake akan meninggalkan ruang rawat.


"Bukan urusanmu".


"Ck, tak sopan sekali kepada yang lebih tua".


Jake menghadapkan badannya ke arah Yeji dan tersenyum lebih tepatnya senyum yang dipaksakan.


"Aku akan pergi cari angin keluar, Noona". Dengan senyum palsu yang masih mengembang.


"Ahh, begitu.. Baiklah hati-hati dijalan". Yeji tersenyum sampai matanya menyipit lucu.


Jake memutar matanya malas, lalu membungkuk dan pergi dari sana. Yeji yang meratapi kepergian Jake hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali bermain game.


Andai saja ia boleh merokok, sudah Yeji lakukan. Tapi ia tak bisa. Tidak saat ia berada di ruang rawat ini.


.......


.......


.......


Padahal hanya 2 hari Jake tak keluar dari rumah sakit, tapi rasanya dunia ini seperti berubah banyak sekali, oke ini terlalu berlebihan. Dimulai dari Jake yang berjalan santai sambil menyapa atau menjawab sapaan-sapaan orang yang ia kenal. Sesekali ada yang bertanya dengan kondisi ayahnya juga.


Kemana ya selanjutnya, keluar markas apakah boleh? tentu saja. Seperti biasa bertanya sendiri menjawab pun sendiri.


"Oh, bukannya itu Minho-hyung?... MINHO-HYUNG!!". Teriaknya, dari kejauhan bisa Jake lihat ada Minho yang akan masuk ke dalam mobil miliknya dengan beberapa berkas ditangannya.


Sang empu nama menoleh merasa terpanggil.


"YAA, APA MAU MU?". Minho tak kalah kencang menjawab. Jake tergopoh-gopoh lari ke arah Minho, sesampainya di depan Minho Jake menumpu kedua tangannya dilutut sambil mengatur nafas.


"Ada apa? Aku sibuk, nanti saja". Baru saja mau memasuki mobilnya Pintu itu ditahan oleh Jake.


"Minho-hyung, bolehkah aku ikut denganmu ke kota". Dengan nafas yang masih terengah-engah, matanya memohon seperti anak anjing, ohh menggemaskan.


Minho naikkan satu alisnya kebingungan. Jake yang menagkap segera berucap "Aku hanya akan menumpang sebentar, aku akan pulang sendiri nanti".


Minho yang sekarang sedang malas berdebat pun hanya mengiakan saja lalu masuk ke dalam mobil diikuti Jake yang duduk dibelakang karna kursi samping kemudi penuh oleh berbagai berkas. Mobil itu mulai melesat keluar markas menuju kota yang padat.


Setelah menempuh waktu cukup lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti dipersimpangan lampu merah.


"Aku akan turun disini saja, terima kasih tumpangannya". Sambil membuka pintu mobil yang kebetulan berhenti disamping trotoar. Minho menurunkan jendela seberang. "Sebenarnya kau mau kemana huh? Saat pulang nanti kabari aku saja".


Jake membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan kaca mobil "Ahh tak apa, lagi pula aku tak membawa ponsel". Cengirnya.


"Hah kau ini, yasudah baik-baik ya".


"Siap hyung" Jake membuat gertur hormat. Kaca itu ditutup lagi dilanjut dengan lampu lalu lintas yang awalnya merah kini berubah hijau, mobil Minho pun melesat dari sana.


"Chaa, selanjutnya apa?". Tanyanya pada diri sendiri dengan jari didagu membuat gestur berpikir, matanya menangkap sebuah coffee shop.


"Dimulai dari ice americano sepertinya oke". Tungkainya mulai melangkah kedalam toko coffee itu dan memesan segelas kopi dingin dihari yang cerah ini.


Saat keluar dari sana ia berjalan santai menyusuri toko-toko dan keramaian kota. Lagi-lagi matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tertarik toko itu bertulisan Salon Balayage, salon cat rambut? Boleh juga.


...~...


Di lain tempat.


Laki laki bereragam sekolah menengah seperti sedang berpikir, tangannya sibuk membolak-balikan kacamata minus di tangannya memakainya sesekali untuk memastikan kenyamanan kacamata yang ia akan beli.


"Silver atau black ya?". Gumamnya bertanya pada diri sendiri. Mencoba kacamata berwarna silver lalu bercermin dicermin yang tersedia ditoko kacamata lengkap itu. Kacamata lamanya yang berwarna hitam sudah rusak jadi ia terpaksa membeli yang baru.


"Ini not bad, boleh aku minta ukuran minusnya lebih rendah?". Tanya nya pada salah satu karyawan wanita disana yang melayaninya.


"Tentu, tunggu sebentar". Ucap sopan wanita itu sambil berbalik mengambil ukuran yang diminta.


Sambil menunggu, laki-laki atau siswa sekolah menengah pertama itu mengedarkan pandangannya kesetiap sudut toko, ditoko ini ada berbagai macam kacamata dari mulai kaca mata anak kecil hingga dewasa, kacamata gaya, kacamata mainan, kacamata unik dengan berbagai bentuk juga kacamata minus yang salah satunya sedang ia beli sekarang.


Tak lama wanita tadi datang dengan kacamata yang ia minta ditangannya.


"Silahkan dicoba dahulu". Siswa itu memakai kacamatanya, ini lebih ringan dan nyaman untuk matanya juga terlihat cocok bertengger apik dihidung mancung yang senantiasa menambah keindahan diwajah tampannya.


"Oke aku pesan yang ini".


"Baik akan saya kemas, tunggu sebentar".


Lagi-lagi menunggu, siswa itu melirik arlojinya lalu telinganya menangkap suara seseorang yang ia kenal sepertinya, dan benar saja suara itu milik teman karibnya yang sudah dua hari ini tak masuk sekolah.


"Permisi, aku ingin beli kacamata hitam yang keren"


Karyawan lain yang melayani laki-laki disampingnya menawarkan beberapa model kacamata hitam sesuai pesanan pembelinya. Dia tak menyadari bahwa siswa ini memperhatikannya sedari tadi.


"Jake?". Panggilnya, ragu-ragu takut salah menebak karna tampilan teman seumurannya ini yang agak berbeda.


Seseorang yang dipanggil Jake itu menoleh, menurunkan kacamata pertama yang dicobanya barusan, melihat siapa yang memanggilnya tadi dan langsung menyadari bahwa si pemanggil adalah kawannya.


"Ohh Jongseong". Bersalaman ala laki-laki dan menyatukan bahu mereka dengan akrab.


"Jangan memanggilku dengan nama itu". Ucapnya kesal setelah sesi salaman Lakik terlepas. Jake hanya menanggapinya dengan tawa kerasnya.


"Btw, ada apa dengan penampilanmu?". Ini yang Jongseong atau yang kerap di panggil Jay ini ingin tanyakan.


"Apa cocok untuk ku?". Menaik turun kan alisnya dan tangan yang menyisir rambut sampingnya yang berubah warna menjadi pirang, terlihat masih baru.


Jay hanya merotasikan matanya. Tak ada yang berubah menurutnya, Jake tetaplah Jake.


"Ini pesanan anda".


"Ah ya". Jay menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Sisanya untuk Nona saja". Mengedipkan matanya jahil.


"Dasar buaya". Sinis Jake.


"Ah benarkah? Kalau begitu terima kasih banyak, selamat datang kembali". Jawab wanita itu sumringah.


"Aku pesan yang ini saja". Ucap Jake kepada karyawan laki laki yang melayaninya,menunjuk kacamata pertama yang masih bertengger dihidung mancungnya sejak tadi.


"Baik, biar saya kemas-".


"Tak perlu, terima kasih". Jake menyodorkan beberapa lembar uang dan berkata "sisanya untukmu". Menjiplak perkataan Jay tadi, lalu melenggang pergi dengan Jay yang ia tarik menjauhi toko.


Karyawan laki laki itu mengerjapkan matanya melihat kepergian pembelinya barusan, lalu bergumam.


"Tapi kan uangnya pas".


Karyawan wanita tadi yang juga masih di tempat yang sama menghampiri kawan kerjanya itu dan mengusap punggungnya sambil mengucapkan kata sabar berkali kali.


.......


.......


.......


"Kau kemana saja 2 hari ini, kau di alpa kan bodoh". Jay tahu dari adiknya, Sunghoon, yang kebetulan sekelas dengan Jake bahwa ia tak masuk sekolah dan tak memberikan keterangan apapun.


"Apa kau tak tahu ayahku sedang koma".


"Ayahmu yang koma bukan kau Jake".


"Cih dasar tak punya hati, aku sedang sedih tau".


"Tapi aku lihat kau baik baik saja sekarang".


"Aku tak mungkin selalu terpuruk Jay, aku ingin mengawali hidupku lagi".


"Terserah kau saja".


Jay mengendari mobilnya begitu cepat sampai tak terasa mereka sudah sampai di lingkungan markas. Ya, Jay termasuk anggota Markas ini begitupun juga adiknya, atau mungkin semua keluarganya juga.


"Terima kasih tumpangannya Jongseong~".


"Shhh.. ku bilang jangan memanggilku begitu". Ingin sekali Jay menyumpal mulut ini agar tak memanggil menggunakan nama koreanya.


"Hahahahah baiklah Jay maafkan aku"


"Aku ingin menjenguk ayah mu"


"Kalau begitu, ayo". Ajaknya.


Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Jake selalu disapa karna penampilan baru anaknya Chan Lee ini, bahkan ada yang memuji gaya baru rambutnya itu seperti 'wow Jake gaya rambut barumu cocok denganmu' , 'tampan, itu cocok denganmu' atau 'kau terlihat semakin keren'. Saking banyaknya Jay yang bersama di sampingnya hingga gondok sendiri apanya yang bagus, dia hanya Jake dan tak akan lebih tampan dari dirinya.


Jake dengan percaya diri dan Jay yang masih kesal berjalan keruang rawat ayahnya Jake, sesampainya di dalam ruangan ia tak menemukan Felix diruangan itu.


"Aiss Felix Hyung meninggalkan ayah sendirian, keterlaluan".


"Halo paman, maaf baru sempat melongok mu kesini hari ini". Ucap Jay membungkukkan sedikit badannya ke arah Chan.


Tiba tiba saja pintu kamar mandi yang ada diruangan itu terbuka dengan Felix yang keluar dari sana.


"Eoh, siapa itu?". Matanya menyipit memastikan orang bersurai bloade disamping kakaknya.


"Kau Jake? yak ada apa dengan penampilanmu, jadi itu yang membuatmu lama huh?!". Cerocos Felix kesal karna sebelumnya Jake bilang akan jalan-jalan sebentar nyatanya hampir 5 jam lebih ia ditinggal sendirian disini.


"Uh, maafkan aku Hyung, tapi apa aku cocok dengan warna ini? Orang-orang markas bilang ini cocok untukku dan memuji ku tampan".


"Tidak, biasa saja". Jawab Felix tak minat.


"Pftt". Jay menahan tawanya melihat ekspresi masam milik Jake


"Jangan tertawa kau! bikin kesal saja". Jake mendelikkan matanya kearah Jay dan Felix lalu kembali menghadap Chan yang masih tertidur lelap itu. Felix hanya bisa mengelengkan kepalanya, mending seperti ini dari pada hari-hari sebelumnya pikirnya.


...~...


Esoknya mendadak semua anggota di istirahatkan untuk sehari oleh Jackson, dan mereka semua di kumpulkan di sebuah aula yang dimiliki markas itu. Semua, dari anggota tingkat bawah sampai atas tak terkecuali Kai, Yeji dan kakaknya Hyunjin, Jake dengan duo park, Minho, bahkan Hoseok, Chaeyoung bersama dokter dan perawat lainpun ikut dikumpulkan ruangan megah tersebut.


Ketika semuanya berkumpul, ruangan itu riuh oleh para anggota yang berbicara dengan anggota lainnya ada yang keheranan dan ada juga yang senang karna mendapat break misi dari sang Tuan.


Beberapa waktu suasana riuh oleh perbincangan tersebut. Seketika hening saat pintu terbuka dengan munculnya Tuan mereka, Jackson bersama Yoongi dan Felix yang senantiasa selalu berasa dibelakang sang Tuan, para anggota berdiri dan membungkuk memberi hormat.


Jackson langsung saja menaiki podium dan seluruh pasang mata serentak memusatkan pandangan mereka kepadanya, menunggu apa yang akan di informasikan oleh Tuan mereka. Jackson menarik nafas sebelum berucap.


"Terima kasih atas ketepat waktuan kalian semua".


"Langsung saja, saya akan membahas persoalan anak perempuan dari Kim Namjoon Agen Kepolisian Pusat". Hening, semuanya memilih mengatup mulutnya rapat-rapat dan menajamkan telinga agar tak salah menangkap informasi.


"Dia, Kim Ryujin. Akan saya angkat menjadi anak saya, Wang Ryujin".


"Dan otomatis akan menjadi anggota baru kita, Saya harap kalian bisa menerimanya dan memperlakukannya seperti putri kandungku sebelumnya. Saya percaya kalian tak akan membocorkan identitas asli anak ini, tapi jika siapapun yang menyebarkan perkara ini kepada pihak lain-selain orang markas maupun Ryujin sendiri. Tak akan segan kepalamu ku potong dengan tanganku sendiri".


Penjelasan Jackson mendapat anggukan mantap dari seluruh anggota, terkecuali seorang gadis mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi untuk bertanya. Setelah mendapat anggukan dari Jackson,ia pun mengutarakan pertanyaannya.


"Bagaimana dengan orang tuanya? Kim Namjoon adalah pihak musuh kita sejak dahulu, apa anak itu tak akan mempengaruhi kita?".


Jackson tersenyum mendengar pertanyaan gadis pintar yang dahulunya merupakan sahabat dari mendiang Suji, anak kandungnya.


"Saya akan pastika dia tak mengingat semuanya dan memastikan kita semua akan aman, kalian hanya perlu tutup mulut dan biarkan semuanya berjalan seperti biasa".


Gadis itu, menganggukan kepalanya dan tersenyum simpul setelah mendapat jawaban.


Jaskson mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, merasa tak ada lagi anggota yang ingin mengajukan pertanyaan iapun angkat bicara.


"Hanya itu, saya harap kalian mengerti, jalani ini dengan benar dan untuk misi bisa kalian mulai esok hari, untuk sekarang istirahat dan bersantailah". Diakhiri dengan senyuman Jackson undur diri keluar lebih dahulu dari aula, seluruh anggota berdiri membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.


Satu persatu anggota keluar dari aula. Gadis yang bertanya tadi berjalan menuju pintu mengikuti arus para anggota, lalu seseorang tiba-tiba saja berada di sampingnya dan mengajaknya berbicara.


"Hei kau tadi berani sekali, Chaeryeong". Yeji yang beranya hanya dibalas lirikkan oleh gadis yang bernama Chaeryeong itu.


"Mengapa sikapmu menjadi seperti ini eoh? Kita lama sekali tidak bermain bersama, aku rindu kau tau". Yeji memautkan bibirnya di depan Chaeryeong mencegat ia untuk melangkah pergi setelah mereka keluar dari aula.


"Kita sudah besar untuk bermain, Yeji".


"Kita masih 14 tahun jika kau lupa". Yeji merotasikan matanya. "Aku kesepian, tak ada teman merokok, tempat merokok sekarang jadi tak seru".


"Jadi kau mau apa?".


"Merokok bersama".


"Lain kali saja, aku masih banyak kerjaan". Langkah Chaeryong kembali dicegat.


"Hari ini kan cuti, kau tetap akan menjalankan misi disaat ada hari libur? Oh ayolah Chae-aa".


Mata itu. Ah sial, dia melakukannya. Yaa dia tahu kelemahan ku dengan baik. Batin Chaeryong mengumpat, lagi pula tak bisa dipungkuri ia pun rindu kebersamaan mereka sebelum kejadian semasa itu.


Charyeong, Suji dan Yeji bersahabat sejak kecil. Tapi suatu ketika dimana Suji yang mengalami kelainan mental membuat Suji harus mengakhiri hidupnya sendiri. Chaeryeong dan Yeji Keduanya tentu terpukul atas meninggalnya sahabat kecil mereka, diantara keduanya Chaeryeong lah yang susah sekali melupakan peristiwa itu walau Yeji terlihat lebih tegar ia berusaha untuk baik-baik saja agar Chaeryeong juga cepat melupakan dan tidak jatuh terpuruk lebih dalam.


Nyatanya selama ini Chaeryeong berusaha menjauhinya dan menyibukan diri, sampai tak memikirkan kondisinya, Yeji khawatir akan itu. Tapi untuk saat ini Chaeryeong menyerah, cukup ia tak bisa menjauhi Yeji seperti ini kita sama-sama terluka tapi kenapa hanya ia yang terlihat paling lemah. Lagi pula ia juga rindu dengan Yeji.


"Baiklah". Jawab Chaeryong pasrah.


"Benarkah?!". Muka memohon tadi seketika berubah sumringah dengan mata kucingnya yang melebar senang. Chaeryeong yang belihat kilatan senang dari sang sahabat terkekeh lalu menganguk semangat.


Yeji melompat kecil lalu menarik tangan Chaeryeong sedikit belari. "Okayyy... pertama-tama kita harus pergi ke salon dulu~". Ajak Yeji sumringah.


"Eh, eh, salon? Untuk apa?". Heran Cheryong memaksa tangannya dilepaskan,tapi Yeji menautkannya keras sekali.


"Tentu saja merapikan penampilanmu, kau seperti tukang cuci piring di restoran tau".


"Yak! Enak aja". Chaeryong menyikut pinggang Yeji tak terima, memang ia tak memikirkan penampilannya akhir-akhir ini sih. Yeji mengaduh tapi langsung dilanjut dengan tawa, keduanya tertawa bersama sangat manis mengingat moment ini sudah jarang sekali terjadi diantara keduanya.


.......


.......


.......


Terbangun di sebuah ruangan yang bernuansa putih dengan banyaknya berbagai alat medis bahkan beberapa ada yang menempel ditubuhnya, mulut kering itu bergeming tetapi kepalanya terus bertanya tentang segalanya seolah akan ada seseorang yang akan menjawab semua tanya miliknya.


Kebingungan, sedang apa ia, apa yang terjadi,ia merasa tubuhnya baik baik saja ia mencoba menggerakan sedikit anggota badannya, tangan maupun kaki ia rasa masih ituh dan yang lainnya terasa sehat tanpa merasa nyeri sedikitpun, tapi mengapa kepalanya dibalut perban?.


Segala pertanyaan itu teralihkan ketika ia menangkap seonggok manusia berjas putih yang baru saja masuk ruangan yang ia tebak adalah ruang rawat rumah sakit, dan pria didepan sana adalah dokter yang merawatnya.


Pria itu tampak terkesiap melihatnya tersadar duduk ditempatnya tidur tadi, tapi pria itu segera mengubah ekspresi mukanya perlahan mejadi cerah dan lembut, menghampiri ranjang yang ia tempati tanpa suara hanya tersenyum dan menatap matanya lamat lamat.


Ia benar benar bingung siapa pria itu ia tak pernah melihat orang didepannya ini sebelumnya, bahkan ia tak mengingat satupun wajah seseorang dibenaknya. Tunggu, memangnya siapa aku,namaku?.


"Anda.. siapa?". Akhirnya, satu pertanyaan terlontar dari bibir kering nan pucat itu,hanya itu tanya yang bisa ia lontarkan dengan suara rendah dan serak seperti baru saja bangun dari tidur panjangnya.


"Ah, tunggu dulu". Menyadari suara pasiennya yang lemah pria itu buru buru berjalan ke arah nakas dan menuangkan air ke dalam gelas, lalu kembali menghadap ke arahnya. Semua gerak geriknya tak jauh dari pengawasan sang pasien.


"Minumlah dahulu". Pasiennya menatapnya sebentar dan mengangguk, mengambil alih gelas dari genggaman orang asing didepannya. Meneguknya sampai habis tak tersisa,sungguh tenggorokanya serasa seperti baru pertama kali merasakan basah setelah sekian lama ia tidaak meminum air.


Pria itu mengambil kembali gelas yang airnya sudah ditegak habis dan disimpannya kembali di nakas. "Nama saya Hoseok Jung, kamu bisa panggil saya paman Hoseok". Ucapnya menjawab pertanyaan yang sempat terjeda tadi.


Melihat kerutan kecil didahi pasiennya seperti ingin diberi tahu lebih banyak informasi,maka Hoseok pun melanjutkan. "Paman dokter disini, paman juga yang merawat mu. Melihatmu sudah sadar dan terlihat baik paman merasa sangat senang dan berterima kasih karna sudah pertahan, Ryujin".


"Ryujin?".


"Ya, itu nama mu". Ryujin tampak semakin mengkerutkan dahinya tampak semakin tak mengerti dengan keadaan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan saya?".


Hoseok terdiam sejenak menatap mata bingung Ryujin sambil memilih kata yang bisa dengan mudah ia tangkap maksudnya. Hoseok menggenggam tangan kecil itu mengusap punggung kurus itu lembut.


"Paman tak akan menjelaskannya dengan detail karna kamu baru saja tersadar, Ryujin Wang, itulah namamu Kamu dibesarkan oleh ayahmu Jackson Wang, ia hidup dalam sebuah pekerjaan misi yang sulit hingga tak sengaja membuat dirimu menjadi korban. Ayahmu membawa mu padaku waktu itu, dan aku langsung memeriksamu tapi ternyata kepala mu lah yang terluka paling parah dan mengeluarkan banyak darah saat itu...


"Dan yang lebih parahnya memori saraf mu kena, jadi kemungkinan besar yang kamu alami sekarang adalah lupa ingatan, Ryujin. Paman tak tahu kalau kamu akan melupakan banyak hal bahkan namamu sendiri, tapi paman lebih bersyukur kamu masih hidup". Hoseok tersenyum teduh setelah berucap panjang lebar.


Ryujin kembali bergeming, jadi saat ini ia sedang lupa ingatan? Ini seperti hidup kembali dan mengenal semuanya dari awal lagi dan ya. Ryujin, namaku Ryujin.


"Tidak usah terlalu berpikir sangat keras untuk saat ini. Kamu hanya perlu memperhatikan kesehatanmu dan kembali pulih, setelahnnya kamu bisa perlahan lahan belajar mengenal segalanya lagi". Tutur Hoseok menenangkan.


Ryujin mengangguk meng'iya'kan. "Anak paman juga adalah sahabatmu, paman tak tahu apa kamu akan mengingatnya setelah bertemu nanti, secepatnya akan paman pertemukan kalian berdua". Ucapnya lagi dengan senyum mengembang menampilkan deretan gigi yang rapi.


Ryujin melihatnya pun ikut tersenyum tanpa sadar, tubuhnya yang semula kaku sekarang agak rileks setelah melihat senyum hangat dokter didepannya.


Sampai saat mata Ryujin menatap seorang pria lain dibalik tubuh Hoseok yang ia yakini baru saja masuk tanpa mengetuk pintu. Rrujin mengerutkan dahinya bertanya siapa lagi orang baru itu.


Obrolannya dan Hoseok terhenti ketika Hoseok pun menyadari kedatangan pria itu. Mereka berdua berbicara dengan suara yang amat pelan, saat selesai berbicara. Saat Hoseok berbalik dan mengungkap fakta baru lagi yang saat itu juga otaknya mencoba menerima dan menyimpan informasi itu dilabirin memori otaknya.


"Dia Jackson Wang, dia ayahmu".


Jujur sebenarnya ia bertanya separah apa ia mengalami kecelakaan sampai semua ingatannya seakan lenyap,apa separah itu. Jika ia lupa dengan dokter ini mungkin bisa dibilang wajar, tapi jika lupa dengan orang tua sendiri bahkan diri sendiri?ini gila.


Seakan dihidupkan kembali,benar benar tidak tahu apa apa Ryujin seperti hidup kembali setelah raganya mati rasa dan melupakannya lalu terbangun untuk memulai halaman baru.


Ketika pria yang katanya adalah ayahnya itu mendekat dan memeluknya, senyumnya begitu hangat dan terlihat amat sayang. Ryujin tidak bisa beraksi apa apa,ia masih memproses segalanya tapi air matanya tak memilih berbeda ia tumpah saat tangan besar pria itu merengkuh tubuhnya yang kecil, menangis tanpa suara.


Antara lega dan ragu, air matanya mengatakan ia sedih tetapi tubuhnya mengatakan ia nyaman dipeluk hangat seperti ini. Tapi untuk saat ini, ia bersyukur karena ada pria ini yang bisa melindunginya.


Setidaknya untuk saat ini.