Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
pulih



Heeseung membopong Ryujin keluar dari rumah itu, Taehyun dan Beomgyu sudah didepan sana bersama mobil milik Taehyun tentunya. Beomgyu yang diperintahkan Heeseung untuk tetap didalam, seketika keluar dari mobil saat melihat Ryujin yang tak sadarkan diri digendongan Heeseung.


"Yak! Ada apa dengannya? Apa yang kau lakukan?!". Serbu Beomgyu melihat Ryujin yang begitu kacau.


"Berhenti bertanya, dan cepat bukakan pintunya". Beomgyu menurut walau banyak sekali yang ia ingin tanyakan.


"Kita ke rumah sakit sekarang". Perintah Heeseung langsung diangguki oleh Taehyun, dan melesat pergi menuju rumah sakit terdekat.


Ketiganya duduk dikursi yang ada didepan ruangan yang beberapa waktu Ryujin memasuki. Hening melanda ketiganya, sibuk dengan pikiran masing-masing. Heeseung duduk menggigiti jarinya sendiri khawatir, Beomgyu terus-terusan mondar mandir hingga membuat Taehyun yang memperhatikan nya jengah sendiri.


Namun tak lama seorang dokter yang memeriksa Ryujin baru saja keluar, yang langsung mendapat atensi ketiganya.


"Keluarga Wang Ryujin?". Tanya dokternya.


"Ya, saya sepupunya". Beomgyu berucap spontan membuat Heeseung dan Taehyun mengerutkan keningnya bingung.


Dokter itu mengangguk. "Sepupu anda hanya kelelahan, sepertinya ia terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini. Kalian bisa menjenguknya namun jangan mengganggu, biarkan ia beristirahat sebentar disini, jika dalam waktu dekat ia sudah siuman dan sehat, ia bisa dipulangkan". Ucap dokter itu menjelaskan.


"Baik dokter, terima kasih atas bantuannya". Beomgyu membungkuk yang diikuti kedua teman dibelakangnya. Setelah dokter itu melenggang pergi, Beomgyu langsung saja memasuki ruangan medis itu.


Ryujin tertidur disana, Beomgyu mendekatinya ia mendudukan diri dikursi sebelah ranjang rumah sakit.


"Hai... Ryujin". Sapanya, sambil mengusap puncuk kepala yang lebih muda.


"Lama tidak bertemu, tapi kamu malah dikondisi yang seperti ini". Gerutu Beomgyu walau nadanya bicaranya sedikit bergetar.


"Gyu".


"Kau tak mau menyembunyikan apapun dari kami kan". Heeseung berucap meminta penjelasan.


Terdengar helaan nafas dari Beomgyu sebelum ia berbalik menatap kedua teman karibnya.


"Aku akan menceritakan semuanya nanti, lagi pula aku juga harus meminta penjelasan dari nya". Beomgyu melirik Ryujin sebelum kembali menatap keduanya. "Untuk sekarang biarkan dia istirahat dan tolong jangan memberitahu siapapun Ryujin ada disini, jika waktunya tepat aku akan menjelaskan pada kalian".


Jika Beomgyu berucap serius begitu, Heeseung dan Taehyun hanya mengangguk mengiyakan. Lagipula kesehatan Ryujin adalah yang utama.


...~...


Setelah percakapan itu keheningan kembali melanda seisi ruangan itu, Beomgyu tak ingin beranjak sedetikpun dari sana, begitupun Heeseung yang masih tetap disana menemani Ryujin hingga siuman, Sedangkan Taehyun pamit untuk membeli beberapa minuman dan camilan.


Bahkan ketiganya masih menggunakan seragam sekolah mereka. Heeseung yang bersandar disofa dengan tangan sebagai tumpuan kepalanya mulai jengah melihat Beomgyu yang tak henti-hentinya mengusap halus permukaan tangan Ryujin.


"Kau akan membuat kulitnya menipis jika terus dielus begitu". Unek-uneknya akhirnya terucap.


"Tch, kalau cemburu bilang saja".


Hening sesaat, masih dalam posisi yang sama. "Kau tau".


"Sikapmu terlihat jelas saat dibescamp Lee".


Terdengar suara kekehan darinya. "Haha, Kau bahkan menyadarinya".


"Aku bahkan menyangka kau menyukainya juga". Dia tertawa diakhir ucapannya, tak tahu saja Beomgyu sudah menghentikan elusanya pada tangan Ryujin.


"Aku sempat". Bisiknya.


"Apa?". Heeseung menghentikan tawaan nya untuk mendengarkan ucapan Beomgyu yang terlalu kecil itu. Namun sebuah gelengan yang ia dapat.


"Tidak, aku tidak bilang apa-apa".


Sempat hening, bersyukur tak lama dari itu Taehyun datang dengan kantong platik ditangannya. Membuat setidaknya kecanggungan yang dirasakan Beomgyu menghilang.


.......


.......


.......


"Ayah!". Kai berseru ribut memasuki rumahnya, membuat Hoseok yang didalam terjengit kaget.


"Ryujin, aku dengar dia mengilang?". Benar, kabar setelah Ryujin pergi dari markas menggehgerkan satu markas. Masalahnya Jackson juga menemukan kamar miliknya sudah diacak-acak tanpa sebab.


Kai sudah mencoba untuk menghubungi ponsel milik Ryujin tapi tidak bisa. Kai juga sudah melacak motor milik sahabatnya yang memang sudah ia pasang alat pelacak dari jauh-jauh hari, Kai langsung datang ketempat dimana motor itu ditunjukan.


Motor itu terparkir dihalaman rumah mendiang keluarga Kim, tergesa Kai masuk kedalam sana yang pintu dan jendelanya sudah pecah tetapi tak menemukan tanda tanda Ryujin disana.


Jika tak salah lihat diserpihan kaca yang masih menempel dijendela, Kai menemukan sepercik darah yang ia yakini milik Ryujin untuk mencoba masuk kedalam melewati jendela pecah tersebut.


"Kai". Hoseok menepuk bahu anaknya itu dengan tatapan kosong.


"Dia sudah mengetahuinya.


.......


.......


.......


Total ada 5 orang dengan satu orang yang masih tak sadarkan diri diranjang rumah sakit. Lia, datang kesana saat Beomgyu menyuruhnya tanpa alasan untuk segera menemuinya, dan begitu kagetnya saat teman kelasnya terkulai lemas disana.


"Aku pernah menyadari bahwa dia adalah orang yang ayah cari, kau tau kan aku tak jarang ikut dengan ayah ke kantor polisi dan sempat bertemu dengan Namjoon-nim disana... juga dia, saat itu aku tidak tau namanya jadi mungkin aku salah kira, tapi ternyata aku tidak cepat menyadari bahwa dialah sosok yang dicari". Lia menghela nafas lambat, mengantikan tempat Beomgyu beberapa waktu lalu dikursi dekar Ryujin.


"Mengapa kau tidak langsung memperitahuku".


"Karna aku tidak menyadarinya. Jika aku bisa cepat menyadari itu, mungkin Ryujin tak akan bernasib seperti ini". Lia memandang sendu Ryujin yang masih tenang dialam mimpinya.


"Lalu bagaimana seterusnya?". Beomgyu berucap buntu.


"Tak mungkin jika Ryujin harus kembali ketempat itu".


"Biarkan Ryujin tinggal dirumahku". Tawaran Heeseung membuat Beomgyu dan Lia mengalihkan pandangannya dengan curiga padanya.


"Apa?". Heeseung mendapat tatapan itu tentu saja mengelak. "Aku hanya ingin Ryujin ditempatkan ditempat yang aman, lagi pula jika dirumah kalian mungkin mereka akan cepat menemukannya".


Beomgyu tampak berfikir sejenak, sebelum mengangguk. "Baiklah".


"Kak". Sergah Lia tak percaya.


"Kau menginaplah juga disana, walau dia temanku tetap saja harus diwaspadai".


"Tck, terserah kau saja".


.......


.......


.......


Semenjak kepulangan Jackson ke kediamannya dan menemukan kamar yang begitu berantakkan juga laporan dari beberapa penjaga disana bahwa Ryujin berangkat terburu-buru setelah keluar dari kamar miliknya, bahkan tidak mau mendengar ucapan mereka dan pergi begitu saja.


Jackson tentu tak akan tinggal diam, baru saja ia mengutus beberapa bawahannya untuk segera menemukan anak itu. Jackson tak henti menggigiti kukunya cemas, mendadak otaknya tidak bisa memproses dengan benar.


Tak berseling lama sejak beberapa bawahannya keluar ruangan, seseorang kembali datang dengan tampang yang panik juga pingung, Jackson sudah menebak apa yang akan dia tanyakan padanya.


"Apa yang terjadi?".


"Aku kira tidak akan secepat ini". Jackson berucap gundah.


"Sudah aku peringati bahwa hari ini akan datang. Tidak, kau jangan membuat keberadaan kami terancam Wang". Yoongi berucap serius terbukti dengan tatapannya yang semakin menajam seolah menyudut kan Jackson pada permasalahan ini.


"Aku, akan segera membawanya pulang".


"Sejak awal disini bukanlah tempatnya untuk pulang, kau yang mengambil rumahnya".


"Orang tuanya telah mengambil rumahku! Dan mereka harus membayarnya".


"Lepaskan dia Wang, kau hanya akan membuat nasibnya menjadi semakin buruk".


"Tidak. Tidak akan!".


"Kita semua bisa saja ditangkap dan dihukum mati hanya karna obsesimu itu Wang, ini bukan tempatnya untuk kembali.".


"Pikirkan kami, kami yang selalu mengabdi padamu karna kau yang bilang akan menjaga kami. Jangan karna hal ini kau kehilangan segalanya".


"Kau seolah tau apa yang aku rasakan Min. Jika kalian ada disini, maka kalian sudah tau kalian mati untuk siapa


.......


.......


.......


Hari itu berlalu berganti dengan pagi baru didalam ruangan medis, Ryujin melenguh terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berdenyut nyeri walau sudah berisirahat yang cukup.


Ryujin merasa berat dikaki bagian kirinya, saat ia lihat ternyata ada seseorang yang tertidur disana, Beomgyu. Masih merasa jengkel sebenarnya tapi melihat dia sepertinya menjaga ia sepanjang malam membuat Ryujin sedikit memaafkan laki-laki didepannya itu.


Tak berniat membangunkannya Ryujin memilih mengedarkan pandangannya, Ya ruangan ini lagi Ryujin ingat ia sempat mendapat sakit yang teramat dikepalanya sebelum Heeseung datang dan ia sudah tak ingat apapun setelahnya.


Dan orangnya ada didepan sana, disofa sedang tidur terduduk dengan bersidekap dada sama dengan Beomgyu yang masih mengenakan seragam sekolah mereka. Sebenarnya mengapa mereka begitu peduli padanya sampai seperti ini.


Kegiatan melamunnya terbuyar saat suara kenop pintu yang dibuka, menampilkan Lia dengan baju santainya membawa sekantung plastik makanan juga buah buahan. Lia sempat akan menjerit saat melihat Ryujin sudah sadarkan diri.


"Ryujin". Lia dengan cepat mendekat, menaruh kantung plastik itu dinakas dan cepat memeluk Ryujin amat senang.


Beomgyu dan Heeseung yang mendengar bising dari Lia pun terbangun dari tidur mereka. Beomgyu mengucek matanya mengantuk, tapi saat melihat adegan didepannya mata itu secara otomatis terbuka sepenuhnya.


"Ryujin!". Pekik Beomgyu.


Sama dengan keduanya, Heeseung langsung saja mendekat tanpa suara melihat Ryujin tersenyum didekapan Lia.


"Bagaimana keadaan mu?". Heeseung membuka suara.


Ryujin melepas pelukannya pada Lia berganti menatap yang lebih tua dengan sinyum simpul yang membuat Heeseung sejenak merasa tenang.


"Lebih baik, hanya sedikit pusing.. Terima kasih sudah menolongku".


"Tak masalah". Heeseung berucap membalas senyum itu.


"Tapi bagaimana kalian berdua ada disini". Ryujin menolehkan kepalanya pada Beomgyu juga Lia bergantian.


"Ah... Aku ikut menjemputmu dengannya saat itu dan Lia aku panggil kesini untuk menemanimu". Beomgyu menjelaskan.


"Ah... Begitu".


"Ryujin... Bisakah kamu ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi". Kali ini Lia membuka suara.


"Tapi sebelum itu. Kita harus pergi dari sini terlebih dahulu, Ryujin kau baik, kan?". Pertanyaan Heeseung dibalas anggukan oleh Ryujin.


"Bersiaplah".


Mereka sudah berada dikediaman Heeseung saat ini sesuai rencana mereka sebelumnya, mereka diantar oleh Taehyun dengan mobilnya.


Heeseung hidup sendiri dirumah minimalis diujung kota itu. Mereka berkumpul diruang tengah menunggu cerita yang akan Ryujin bicarakan.


Yang termuda hanya mengela nafas kasar sebelum memulai mengangguk pasrah. Ryujin menceritakan semuanya, dari gejala awal ia selalu mendapat sebuah mimpi yang sama, sakit kepala yang tiba-tiba, beberapa memori yang kembali diingat dan sesuatu yang membuatnya seperti ini.


"Bisakah kalian memberitahu ku sesuatu yang aku tak tau?".


"Aku tak mau mengambil resiko jika kau akan mendapat sakit lagi dikepalamu".


"Tak apa, bicaralah". Beomgyu mengela nafas sebelum memulai memberi tahunya.


"Ayahmu adalah seorang detektif dikepolisian Ryu, dan ayahku Kim Taehyung adalah adik dari ayahmu, paman Namjoon".


"Beberapa tahun lalu, kalian diduga menghilang secara misterius hingga suatu waktu pihak kepolisian menemukan abu kedua orang tuanmu dipinggir sungai begitu saja". Beomgyu berhenti sejenak melihat Ryujin memejamkan matanya.


"Aku mendengar suara tembakan. Ibu dan ayah ditembak". Dengan mata yang masih terpejam kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Apa kau ingat kelanjutannya?". Pertanyaan Lia mendapat gelengan dari Ryujin.


"Tapi sepertinya aku tahu siapa pelakunya". Ucapan Ryujin membuat ketiganya juga Taehyun yang sedang memakan popcron terhenti.


"Tapi untuk sekarang aku mohon jangan dahulu fokus padanya, untuk saat ini aku hanya butuh waktu".


Walau sempat tidak setuju dengan itu, mereka kemudian mengangguk memaklumi lagi pula mereka tak bisa memaksakan Ryujin untuk saat ini.


"Kau bisa disini sampai kapanpun".


"Terima kasih, kak". Heeseung menangguk menanggapi.


"Jadi selanjutnya apa?".


"Untuk saat ini aku ingin bertemu dengan Kai".


.......


.......


.......


Kai kini sedang berada disebuah atas jembatan yang dibawahnya adalah jalan raya, memandang kendaraan yang berlalu lalang dibawah sana. Tadi ia mendapat telepon dari Heeseung bahwa ia ingin bertemu, dan disinilah ia sekarang menunggu yang tua datang walaupun masih bingung apa maksudnya untuk bertemu.


Suara telakson dari mobil sedan menariknya dari lamunan, segera ia tengok mobi yang perlahan mendekat ke arahnya. Setelah berada tepat disamping Kai, kaca mobil itu turun memperlihatkan Heeseung didalam sana.


"Lama menunggu?".


"Tidak juga".


"Kau membawa ponsel?".


"Kemarikan". Heeseung menyelundupkan tangannya keluar meminta barang yang dimaksud.


"Untuk apa?". Kai berucap agak tak enak.


Heeseung menghela nafas sebelum kembali berucap. "Serahkan saja. Kau akan mendapatkan yang kau cari". Kai semakin mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Apa maksudmu-". Ucapannya terpotong oleh ucapan Heeseung, selanjutnya setelah mendengar itu ia buru-buru mengodok saku menjadi benda pipih itu dan menaruhnya ditelapak tangan yang lebih tua


"Ryujin ada didalam. Berikan itu, dan temui dia.


Final, Kai menuruti begitu saja dan langsung memasuki mobil dikursi penumpang. Merampas ponsel Kai tentu penting agar Kai tidak bisa mengabari orang-orangnya yang lain.


Heeseung beralih pada benda pipih milik Kai, mengambil CPS dan kartunya lalu membantingnya cukup kasar keluar sana lalu menutup kembali kaca mobil pinjaman dari Taehyun itu, sementara sang pemilik ponsel tak menyadari dan fokus pada seorang gadis dikursi penumpang sebelahnya.


"Ryujin!". Setibanya didalam Kai langsung saja memeluk Ryujin rindu sekaligus gemas. "Kau ini, kemana saja huh?! Aku mengkhawatirkanmu!".


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi ini bukan waktunya untuk membahas itu". Ryujin berucap flat tanpa membalas pelukan itu.


Pelukannya mengendur, Kai menjauhkan sedikit tubuhnya.


"Kau tau apa yang terjadi antara aku dan ayah-uh maksudku dia kan". Heeseung dikursi kemudi itu menolehkan kepalanya kebelakang ingin tahu, Kai dan Ryujin serempak menatap Heeseung tanpa bicara.


"Apa kalian ingin bicara berdua saja?". Tak ada respon hanya gestur mereka membuat Heeseung mengerti.


"Ahh baiklah, aku akan tunggu diluar". Heeseung beranjak dari sana membiarkan Ryujin menyelesaikan urusannya.


Sepeninggalan Heeseung, keadaan didalam mobil menjadi hening sesaat. Ryujin tetap menjaga jaraknya dengan sahabat kecilnya itu, karna tak tahan dengan situasi yang tidak mengenakkan Kai mencoba memuka suara.


"Ryujin-".


"Kau sudah tau kan". Sergah Ryujin.


"A-apa?".


Ryujin mengalihkan pandangannya pada Kai. "Kau pasti tau betul dengan apa yang terjadi padaku".


Ryujin menatap Kai tepat dimata hazel itu yang bergerak terpatah-patah, membuat Kai membuang mukanya kaku.


"Aku bisa memaafkanmu jika kau bisa menceritakan semuanya".


Kai mendongkakkan kepalanya menatap raut muka Ryujin yang mulai melembut tidak seperti sebelumnya yang sangat mengintimidasi, dilanjut dengan anggukan walau terlihat sedikit ragu.


"Aku harap kau memberitahukan yang sebenarnya. Tidak ada yang kurang ataupun lebih.


~


Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang dilontarkan Kai sepanjang ia bercerita menceritakan segala hal yang dia tahu pada Ryujin, sukses membuat gadis itu selalu mengukir keruttan didahinya sendiri.


Sungguh tak habis pikir dengan apa yang Jackson lakukan padanya, menghapus ingatan?. Ryujin tak pernah absen mendengar setiap ucapan yang dilontarkan oleh Kai.


Hingga dipenghujung cerita, Ryujin hanya bisa membeku ditempat pikirannya sudah berkecamuk dengan banyak hal.


"Ryu. Maafkan aku". Kai mencoba mengenggam tangan dingin Ryujin.


"Dimana abu papa dan mama disimpan?". Ryujin balas menatap Kai dengan mata yanh sudah berembun sekali kedip saja pasti sudah mengalir.


"Kita pergi besok, sekarang tenangkan dirimu dulu. Jaga kesehatanmu... Aku berjanji akan membawau kesana".


Setelah berucap begitu Kai pamit untuk pulang, tidak lupa memastikan sahabatnya itu untuk tidak telalu memikirkan banyak hal untuk saat ini. Kai menutup pintu mobil sedang itu perlahan, saat tubuh sudah sepenuhnya diluar.


"Oh, sudah?". Heeseung mendekat melihat keberadaan Kai diluar mobil.


"Bisakah kau jaga dia?".


"Tanpa kau suruhpun aku akan tetap melakukanya".


"Aku harap kau tidak membocorkan pertemuan ini".


"Sudah ya... nah ponselmu". Heeseung menarik lengan Kai untuk menaruh ponsel miliknya itu, setelahnya ia berjalan memasuki mobil dan tak lama mobil itu mulai bergerak, jalan menjauhi dirinya.


"Maaf".


Mobil sedan diparkirkan oleh Heeseung didepan rumahnya, namun Heeseung mengerutkan keningnya saat menangkap sesuatu yang ganjal dari halaman rumahnya itu.


Mobil sedan yang ia tak kenal terparkir disana. Heeseung segera menghapiri Ryujin dan mengenggam tangannya saat Ryujin baru saja keluar mobil, yang tentu saja memperlihatkan raut kebingungan.


"Tetap dibelakangku".


Keduanya berjalan menghampiri rumah minimalis itu dengan awas. Pintu itu terbuka, menampilkan Beomgyu yang baru saja keluar dari dalam sana.


"Oh kalian sudah datang". Beomgyu menghampiri keduanya lalu berbisik. "Ayahku ada didalam, jangan khawatir dia cuma mau melihat mu".


"Paman Taehyung?" Pertanyaan Ryujin langsung diangguki oleh Beomgyu.


Ryujin melepas tautan tangannya dengan Heeseung lalu berjalan masuk sendirian.


"Kenapa tidak mengabariku?". Heeseung berbisik penuh penekanan.


Beomgyu hanya memainkan mulutnya, melirik-lirikkan bola mantanya sebelum mengangkat bahu dan berucap enteng. "Surprise".


Heeseung hanya mengerutkan dahi seolah berkata "freak" lalu berlalu begitu saja, menyusul Ryujin yang sudah berjalan menjauh.


Ryujin membuka pintu itu dan terdiam diambang pintu, Taehyung sedang mengobrol dengan Lia disana. Namun mendengar pintu yang terbuka keduanya mengalihkan perhatian kearah sumber suara.


Taehyung yang menyadari kehadiran Ryujin sontak berdiri dari duduknya, matanya tak bisa untuk beralih dari anak dari kakaknya itu.


"Ryujin". Taehyung berjalan mendekat, mempersempit jarak antara keduanya, sampai Taehyung tepat didepannya ia memeluk Ryujin kedekapannya dengan lembut.


"Lama sekali tidak bertemu, Ryujin". Ryujin tidak ada niatan untuk sekedar menghindar atau kabur, ia membiarkan sosok yang nyatanya adalah pamannya ini memeluknya.


"Bagaimana keadaanmu?". Taehyung mengendurkan pelukannya, beralih memegang kedua bahu kecil gadis didepannya sambil terus menatap mata itu.


"Aku... baik". Diakhiri dengan senyum sedikit terpaksa diakhir kalimat, Taehyung ikut melebarkan senyumnya.


"Ah ya ayo duduk, kita mengobrol sedikit". Taehyung menuntun Ryujin untuk duduk disofa tadi, yang juga disambut senyuman oleh Lia disana.


Sedangkan sang pemilik rumah merotasikan matanya jengah. Sepertinya ia harus terbiasa dengan kedatangan orang banyak kerumahnya ini.


Beomgyu yang menangkap gelagat sahabatnya terkekeh kecil lalu menepuk pundak lebar itu. "Maaf Lee, karna mengorbankan tempat tinggalmu".


"Selagi untuk Ryujin, itu tidak masalah". Ucapnya sembari menatap Ryujin yang sedang dalam pelukan Taehyung. Mulai duduk didepan sana, dengan sangat serius menatap Taehyung dihadapannya.


"Ryujin-ah, kau sudah tumbuh besar. Terakhir kali aku melihatmu masih sangat kecil". Taehyung tidak berhenti tersenyum sambil terus menatap Ryujin.


Ryujin dengan tak nyaman melirik ke arah Lia disampingnya bermaksud meminta bantuan, namun hanya dibalas anggukan menyakini Ryujin untuk bisa mengatasinya.


"Paman".


"Ya Ryujin?".


"Paman sudah tau banyak dari kak Beomgyu kan?". Ryujin menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Kita memang sudah lama tidak bertemu, tapi untuk saat ini bisakah paman membantu?".


"Tentu, tentu saja apapun itu".


Ryujin menghela nafas sejenak sebelum memulai berbicara, ia melirik ke arah Heeseung dan Beomgyu yang berjalan mendekat setelahnya kembali melihat sang paman.


"Besok aku akan pergi dengan seseorang, hanya untuk berjaga-jaga tolong suruh beberapa orang untuk menjagaku dari jarak jauh".


"Dengan siapa?". Beomgyu bertanya.


"Kai... Ada sesuatu yang akan dia tunjukan".


"Kami ada disini, Ryu. Kami bisa menemani dan menjagamu".


"Tidak. Aku tak mau kalian yang melakukan ini". Ryujin menyergah, menatap Heeseung dan Beomgyu bergantian.


Merasa tidak ada lagi bantahan dari keduanya, Ryujin kembali fokus kepada Taehyung yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Hanya beberapa orang saja, paman. Hanya memantau pergerakan kami selama disana".


"Tak masalah, paman akan mengirim mereka".


"Terima kasih". Taehyung menanggapinya dengan anggukan.


"Hah... Yasudah, paman akan pulang sekarang".


Taehyung bangkit dari duduknya. Ryujin mendekat dan memberikannya pelukan rindu antara paman dan keponakan, pelukan itu mengenduk di iringi oleh ucapan lembut Taehyung "Tolong berhati-hatilah untuk besok".


Setelahnya Taehyung melangkah pergi, disusul Beomgyu dari belakang bersiap mengantarkan sampai teras depan rumah milik Heeseung seorang itu.


"Paman". Panggilan Ryujin menghentikan langkahnya diambang pintu, Taehyung berbalik.


"Terima kasih". Lanjutnya, dan dibalas oleh senyuman hangat oleh Taehyung sebelum dia benar-benar keluar dari rumah itu.


"Aku akan tetap disini ayah". cegat Beomgyu memberitahu ayahnya. "Kamu memang seharusnya disini, jaga sepupumu Gyu". Ucapnya.


Sepeninggalan Taehyung dengan suara pintu yang ditutup dari luar itu. Heeseung dan Beomgyu yang sudah kembali dari teras langsung saja menghampiri Ryujin, hanya ingin menanyakan tentang apa yang sebenarnya Ryujin rencanakan.


Heeseung telah mendaratkan bokongnya disofa miliknya sendiri siap membuka obrolan, namun belum sempat bersuara dering telefon rumahnya terdengar.


Sempat keempatnya berpandangan saling melempar ekspresi awas, namun Heeseung menganggukan kepala meyakinkan bahwa itu bukan apa-apa.


"Akan ku angkat".


Sebagai pemilik rumah, Heeseung mencoba mengangkat telepon itu dan mengarahkan nya pada daun telinga.


"Halo?".


"Halo, bisa aku bicara dengan Ryujin". Heeseung membeku.


Dia melirik Ryujin yang sedang memperhatikan nya dengan raut kebingungan.


"Apa maksud anda? Mungkin anda salah orang, tidak ada-".


"Aku tahu dia disana, Heeseung-ssi". Demi apapun bulu kuduknya seketika bediri.


"B-bagaimana kau tahu namaku?".


"Bagaimana jika kau bertanya setelah kita bertemu nanti?".


"Siapa yang menelefon?". Lia bertanya penasaran karna melihat raut wajah Heeseung yang begitu serius.


Melihat Heeseung yang diam saja membuat Lia sedikit gemas dan segera mengambil alih telefon digenggaman pria itu.


"Datanglah kerumah ku, teman perempuan mu pasti tahu rumahku jangan lupa Ryujin haruslah ikut". Ucap pria diseberang sana dan setelahnya Lia tidak dapat mendengar apa-apa lagi.


"Halo?... Ais dimatikan". Lia membantingkan telefon itu ketempatnya.


"Kenapa? Siapa yang menelefon?".


Lia melepaskan nafas gusarnya tangannya bertolak dipinggang dengan gurat tipis di dahinya.


"Aku tidak yakin, tapi aku mengenali suaranya". Lia mengalihkan pandangan nya pada Beomgyu. "Kau juga pasti mengenalinya".


"Dia bilang, dia tau mengenai Ryujin". Heeseung berucap setelah beberapa waktu terdiam.


"Apa?".


"Dia tahu tentang mu dan keluargamu". Seolah tidak mendengar pertanyaan Lia, Heeseung melanjutkan ucapannya.


"Apa kau punya sesuatu yang tidak kami ketahui, Ryujin?".


.


.


.


Esok paginya.


Ryujin kukuh untuk pergi sendirian setelah dibujuk beberapa kali oleh Heeseung dan Beomgyu agar mereka bisa ikut, tapi setelah Ryujin dengan tegas meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja membuat keduanya mau tak mau membiarkan Ryujin pergi.


"Aku belum bisa memberitahu tentang kejadian semalam, aku juga belum mengerti apa yang aku alami aku harap kalian mengerti".


"Tidak usah dipikirkan. Kami akan mencoba pergi menemui orang yang menelefon semalam".


"Ya, kalian hati-hati".


"Lebih perhatikan dirimu, Ryu". Heeseung menimpali, dijawab anggukan singkat oleh Ryujin.


Sekarang Ryujin sedang duduk didalam bus untuk pergi menemui Kai seperti perjanjian mereka sebelumnya.


Dengan menggunakan masker dan topi yang hampir menutupi seluruh bingkai mukanya, Ryujin melangkah turun saat bus yang ia tumpangi telah sampai di pemberhentian nya.


"Menunggu lama?".


"Tidak". Kai sudah berdiri tagap menunggu dihalte itu sendirian, tanpa masker ataupun topi seperti yang Ryujin pakai.


"Bisa kita langsung pergi?". Ucap Ryujin seperti terdesak.


"Kau sudah sarapan? Jika belum lebih baik kita cari makan dahulu".


"Sudah, aku diberi makan dengan baik".


"Oh, ya um-okay motorku ada ditaman".


Tanpa menunggu lama Ryujin mengambil langkah pertama sebelum Kai berlari menyusul menyetarakan langkah mereka.