Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Kenangan lama



"Wang fokuslah pada pekerjaanmu". Tegur Yoongi saat kembali menemui Jackson yang hanya diam memijit dahinya sendiri sambil menggeram rendah, tanpa memerdulikan pekerjaanya.


"Bagaimana aku bisa fokus saat anakku sendiri menghilang!". Amuknya menggebrak meja.


"Tuan Wang atur emosi mu, kita akan segera mendapat kabar tentang Uji". Chan, tangan kanan nya berkata menenangkan sedangkan Yoongi memutar bola matanya jengah.


TOK TOK TOK


"Tuan ada informasi penting untuk anda".


Semoga ini informasi yang di inginkan.


"Masuklah". Pintu yang sempat diketuk itu terbuka menampilkan Minho, dia membungkuk sebelum menyampaikan kalimat.


"Saya sudah dapat memperkirakan lokasi Ryujin".


Akhirnya!


Pernyataan itu membuat Jackson berdiri dari kursi kebesarannya, raut wajah yang semula berantakan berlahan menerbitkan cahaya nya.


"Kau memang bawahan yang cerdas. Katakan dimana anakku berada?".


"Dia disembuyikan temannya yang bernama Lee Heeseung, saya rasa dia berada dirumah anak laki-laki itu Tuan".


"Heeseung... Siapa dia?".


"Dia hanya anak sekolahan dan bersekolah ditempat dulu Ryujin menjalankan misi".


"Apa ada orang lain yang datang ke sana?".


"Taehyung dan anaknya juga beberapa teman Heeseung yang terlihat pernah mampir kesana Tuan".


"Baiklah.. Lakukan perkerjaan mu Min, kau harus mamastikan tidak ada orang lain yang tahu ketika aku pergi kesana".


Yoongi yang merasa, hanya mengela nafas dan kembali menyibukkan diri di depan komputer dengan tulisan acak dan aneh miliknya, bersiap mengakses kamera CCTV atau hal-hal semacam itu.


Seolah mendapat jalan keluar, mata Jackson memancarkan bianrnya. Dia berjalan menghampiri Minho, memeluk dan bahkan megucap rambut ditengkuknya.


"Terima kasih Minho. Sekarang siapkan mobil dan beberapa bawahan ku, kita pergi kesana".


Semuanya akan dimulai dari titik awal lagi, Jackson hanya perlu mendatangi Ryujin, meyakinkan nya, lalu membawanya pulang. Terbayang sederhana, namun Jackson yakin mungkin membutuhkan waktu untuk bisa meyakinkan Ryujin.


Namun bagaimana pun, anak itu harus kembali.


.......


.......


.......


"Nah sampai".


"Huh? Kau yakin?".


"Apa maksudmu, tentu saja ini lah tempatnya".


"Ini bukannya seperti gudang tua?".


"Ya.. memang sengaja untuk terlihat berantakan diluar".


Ryujin menelisik seluruh pekarangan rumah kayu yang dipenuhi jejukutan tinggi itu, tentu banyak sekali pertanyaan dibenaknya namun ia urungkan dan akan langsung melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Kai yang melihat Ryujin terus diam mengamati itu mulai terkekeh pelan dan lanjut berjalan menuntun Ryujin untuk mengikutinya.


Sabahat semasa kecil nya itu membuka gembok yang mengunci pagar berkarat setinggi dada nya itu, terdengar decitan nyaring dari gesekan engsel tua.


Lanjut berjalan menuju teras rumah yang berdebu, bahkan tumbuhan menjalar sudah mulai merampar pada dinding-dinding rapuh rumah itu.


"Baiklah.. ayo masuk". Ucapnya setelah berhasil membuka pintu menggunakan kunci yang berbunyi  trek dua kali.


Kai sudah masuk duluan kedalam sana. Ryujin malah terdiam memandangi mobil sedan hitam yang terparkir sedikit jauh disebrang motor milik Kai, pamannya mengapulkan pemintaan nya.


"Ryu". Kai berseru dari dalam.


"Ah ya.. Aku akan segera kesana".


Rumah oh apa tempat ini bisa disebut rumah? Setidaknya disana ada satu tempat dengan pintu berwana putih yang Ryujin yakini itu adalah kamar, dan lahan kecil sengai ruang tamu sederhana dengan sofa panjang berwarna abu-abu disana.


Tidak seperti keadaan di depan rumah, Di dalam sini terlihat sangat bersih dan rapih seperti yang memang di urus dengan teratur.


"Aku dan ayahku yang mengurus tempat ini". Kai berucap seolah menjawab pertanyaan dibenaknya.


"Ah, tapi mengapa kau membawa ku kesini?".


"Sejujurnya pada awalnya aku bimbang untuk memberitahu mu soal ini, namun disatu sisi aku juga tidak mau terus menyembunyikan nya dari mu".


Ryujin terdiam bermaksud agar Kai terus melanjutkan perkataan nya.


"Aku tidak tau apa reaksimu tentang ini, tapi sebelumnya aku juga mewakili ayahku ingin meminta maaf sedalam-dalam nya padamu, Ryujin".


"Cukup tunjukan apa yang ingin kau perlihatkan".


"Hah... baiklah". Kai berjalan kearah pintu berwarna putih tadi, mengambil kunci lain dari saku jaket yang dikenakannya dan mencoba membuka pintu tersebut.


KIYETTT


"Masuklah, ini waktu mu".


Ryujin berjalan perlahan memasuki kamar itu.


"Ini..."


Tempat tidur, nakas dengan beberapa foto, polaroid, gitar, poster, cokelat bertempelan stickynote biru muda dan boneka disampingnya. Terakhir kotak silver kecil ditengah tempat tidur disana.


Itu semua miliknya. Ryujin mengingatnya.


Itulah mengapa saat ia datang kerumah nya disana tidak terdapat barang miliknya. Ryujin melirik Kai dibelakangnya memasang ekspresi haru juga marah seolah berkata "mengapa tidak tunjukan ini padaku sebelumnya?'.


"Maaf". Satu Kata yang bisa Kai lontarkan atas segalanya.


Ryujin mulai mengayunkan tungkai nya mendekati tempat tidur, duduk dipinggiran kasur dan diraihnya kotak silver kecil disana. Kai ikut mengambil kursi belajar yang sebenarnya milik Ryujin, lalu duduk menghadap pada Ryujin.


Mereka sempat membuat kontak mata sebelum Ryujin kembali memfokus kan dirinya pada isi kotak dipangkuan nya. Seingat nya ibu menyuruhnya untuk membuka itu pada saat umurnya genap 18 tahun.


Masa bodo dengan wejangan itu. Sembari bergumam meminta maaf pada ibunya, Ryujin membuka kotak silver tersebut. Didalam sana ada sabuah kalung dengan permata dan kertas yang mulai usang.


Kalung bermata biru itu tanpak masih mengkilat dan indah, namun Ryujin meraih kertas dibawahnya yang lebih membuatnya penasaran. Kembali melirik Kai didepan nya, Kai hanya mengangguk dan Ryujin pun membuka kertas itu.


...Untuk putri kecil kami...


...Hai anakku, Ryujin.....


...Mungkin saat kamu membaca surat kecil ini kamu sudah tumbuh besar, ibu harap putriku tumbuh dengan sehat dan bahagia....


...Maafkan ibu dan papa yang jarang memberimu waktu bersama kami, tapi yakinlah kami mencintaimu, teramat sangat....


...Jika sudah besar mungkin kamu juga sudah menyadari bahwa ada yang aneh tapi juga ajaib terjadi didalam tubuhmu. Untuk itu kami juga meminta maaf, maafkan kami Ryu....


...Saat kamu masih sangat kecil, kami pernah membawamu bertemu dengan seorang dokter kenalan kami. Entah mengapa dia begitu tertarik denganmu, lalu dia mengungapkan bahwa dia sedang mengerjakan suatu proyek yang membutuhkan seorang balita saat itu. Ibu dan papamu tentu terkejut dan mencoba menolak itu dengan halus, namun dia tetap memaksa dan dengan nekat menyuntikan cairan aneh itu kepadamu dengan paksa. Kamu menangis kencang, ibu mendekapmu dengan erat, papamu berteriak marah pada teman dokternya yang juga tampak terkejut atas aksinya....


...Tapi semuanya terlambat, cairan itu menyebar cepat pada tubuhmu Ryujin. Kami selalu membawamu kesetiap dokter terbaik yang ada, tetapi jawabannya sama mereka tidak mengetahui dibidang itu. Hanya dokter tertentu yang bisa mengatasinya....


...Mau tak mau kami datang kembali ke kediaman dokter yang membuat mu seperti ini, tapi parahnya dia pun tidak tahu untuk mencegah penyebaran, kami begitu marah dan dengan santainya dia berucap bahwa... Cairan itu akan membantu mu suatu saat nanti, dan efek dari cairan itu hanya beberapa tahun saja. ...


...Efek dari cairan itu adalah menyembuhi luka yang ada ditubuhmu, luka apapun itu dan cepatnya penyembuhan itu sesuai dengan besar kecilnya luka. Apa kamu masih mengalaminya? Ini memang aneh, tapi jika itu bisa menjagamu kami bersyukur....


...Kami harap kamu tidak pernah ataupun membuat luka pada dirimu sendiri....


...Terlebih lagi, kami harap kami masih bisa berada disisi mu saat kau membaca surat ini....


...Untuk akhir dari surat ini. Ibu dan papa hanya ingin memberi hadiah kecil, pakailah kalung itu....


...Kami sudah membayang kan nya, kalung itu indah di dirimu....


^^^Putri kecil tercinta kami,^^^


^^^Ryujin^^^


^^^Kim So Hee & Kim Namjoon^^^


.......


.......


.......


Satu, dua, tiga dan semakin bertambah air mata itu jatuh membasahi sepuncuk surat yang ia baca. Ryujin tak menyeka nya, ia hanya membiarkan air asin itu mengalir semaunya, ikut menghanyut kan rasa sesak yang ia rasakan.


Kai mendekati nya. Merentangkan tangan nya memberi intruksi tanpa kata untuk Ryujin meluapkan isi hati di dekapan nya.


Selama beberapa saat mereka berpelukan. Kai tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tangan besar itu tak henti untuk sekedar mengusap dan menepuk halus menenangkan.


Ryujin yang pertama kali menjauhkan tubuhnya. Dengan muka me merah karena tangis, ia memaksa air mata itu untuk ia seka paksa. Kai mengambil sapu tangan milik nya dan menyerahkan nya pada Ryujin, tangan kecil itu mengambilnya.


Entah mengapa membaca surat yang jelas-jelas ditulis tangan oleh sang ibu dan tertuju langsung pada nya itu membuat hati nya sangat sakit di banding mendengar dari orang lain bahwa kedua orang tua nya telah tiada, yang tidak ia percayai sepenuh nya.


"Kenapa baru sekarang?". Suara parau yang membuat hati si pendengar nya ikut bergetar.


"Aku tau kapan pun itu, kenyataan memang menyakitkan".


"Entah aku harus marah pada mu atau aku berterima kasih padamu untuk ini... jujur saja aku kecewa".


Kai menunduk, memejam kan mata nya. Dia tahu Ryujin pasti akan merasa seperti itu padanya, sepanjang malam dia telah memikirkan nya. Dan Kai tidak akan menyesal jika setelah memberitahu kan nya tentang ini Ryujin akan marah besar bahkan membeci nya setelah ini.


"Kesempatan.. yakinkan aku jika kamu memang menyayangi ku".


Kai kembali menatap mata sembab itu lagi. Mulutnya seakan lumpuh tidak bisa digerakan untuk mengutarakan isi hatinya.


"A-aku, aku akan menjaga mu Ryujin.. aku berjanji".


Selesai, kata yang keluar begitu singkat di banding dengan yang ada pada hati nya. Kai kembali menunduk.


Kai semakin memperdalam tundukan kepalanya, tidak berani menatap mata itu yang disebabkan oleh dirinya.


"Tapi...". Kai membuka matanya yang terpejam, dengan terpatah-patah dia mencoba kembali mendongkak.


"Kamu tetaplah sabahatku. Satu-satunya yang aku anggap sebagai keluarga yang tersisa".


Sepenuh nya mendongkak, kembali menatap wajah itu. Wajah itu seakan menampak kan cahaya nya, senyum kecil terpatri di wajah memerah itu.


Kai mempaut kan bibir nya dengan muka memelas penuh haru juga mata yang sudah berembun hampir menangis. Ryujin menatap nya terkekeh kecil.


Kai menubruk kan tubuh nya memeluk lagi tubuh kecil Ryujin. Sedangkan sang empu hanya terkekeh dengan air mata kanan yang menetes.


"Aku-aku takut kamu membenciku. Kamu tau aku menyanyangi mu, sangat, sangat menyanyangi mu". Racau nya masih mempererat pelukan.


Lagi dan lagi Ryujin hanya terkekeh. "Kamu lucu sekali".


"Jahat sekali". Kai menjauh kan tubuhnya, masih merajut dengan muka sama me merah nya. Ryujin mengangkat tangan nya yang masih menggenggam sapu tangan, mengarahkan nya pada Kai.


Dengan perlahan ia menghapus air mata yang membanjiri wajah putih lelaki di depan nya. "Kau jelek jika begini, berhenti lah menangis".


"Aku begini karena mu.. aku sangat merasa bersalah padamu". Cicit nya diakhir kalimat, mengambil alih sapu tangan ditangan Ryujin.


"Benar jika aku merasa kecewa padamu.. tapi ternyata rasa sayangku padamu lebih besar".


Kai kembali memasang mimik terharu dan hampir saja menunbruk lagi tubuh Ryujin untuk kembali dipeluk nya, namun Ryujin mendorong jidat itu dengan jari telunjuk dan tenganya menghalau Kai.


"Sudah-sudah.. habis waktuku jiga kamu terus menangis".


Kai memundur kan tubuhnya tak terima tapi cepat-cepat merubah wajah nya seperti semula. Ia melirik kalung berwarna biru mengkilat yang nampak indah.


"Kalung itu.. mau aku pakaikan?". Tawarnya.


"Oh ya.. tolong". Ryujin menyerah kan kalung nya pada Kai lalu membalik tubuh memunggungi.


Kai mengalungkan rantai silver itu, mengaitkan nya dengan pasti. "Sudah".


"Terima kasih". Ryujin genggam dan tatap kalung itu.


"Benar, itu sangat cocok untuk mu".


"Kau berlebihan.. jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?".


"Apa kamu sudah puas berada dikamar mu?".


"Aku bisa datang kemari kapan-kapan kan?". Balik nya ber tanya.


"Ya tentu kapan pun kamu mau".


"Kalau begitu, sekarang antarkan aku pergi menemui ibu dan papa".


"Ryujin maksudmu-".


"Ya, tolong antarkan aku kesana".


"Halo paman bibi, Kai membawa seseorang".


Kai menggeser tubuh nya membiar kan Ryujin maju dan semakin dekat, menghantarkan kaki lemasnya dengan rak kaca antara diri nya dan abu pada guci didalam sana.


"Ibu... papa... Ryu datang".


Ryujin berucap lembut sambil mata nya tak berhenti terus menatap bingkai foto kedua orang tua nya beserta guci yang tidak terlalu besar disamping nya.


"Maaf, baru kali ini Ryujin mengunjungi kalian".


"Ryujin sudah tumbuh besar, Ryu juga makan dengan baik, Kai selalu ada disisi ku dia sahabat yang baik bukan?". Ryujin terisak sedikit menurunkan pandangan nya.


"Terkadang aku berfikir kenapa hanya kalian yang dijemput oleh tuhan? Mengapa tidak dengan ku sekalian, agar setidaknya tidak akan ada hal rumit semacam ini yang terjadi sekarang". Ryujin menengadah dengan bulir air yang mulai berjatuhan.


"Mengapa tidak bawa aku bersama kalian?!". Tanpa sadar suara bergetar itu semakin meninggi sambil memukul dada nya sendiri yang terasa sesak itu semakin sakit.


"Ssttt... Ryujin tenang lah". Kai menghampiri nya, kembali memeluk erat tubuh itu menghalau tangan nya untuk terus memukul dada nya sendiri. Membiar kan Ryujin memukul punggung tegap miliknya.


"Bukan ini yang paman dan bibi Kim ingin kan". Kai berusaha berucap selembut mungkin tepat ditelinga memerah sang sahabat.


Ryujin mulai menghentikan pukulan nya, dan menjatuhkan tubuh sepenuh nya di dekapan Kai. "Kamu hanya lelah hingga kamu jadi seputus asa ini".


.


.


.


"Aku tidak mengira kita akan pergi kesini".


Ketiganya menatap rumah kecil dengan dua lantai disamping kiri mobil yang Heeseung kendarai dengan bantuan Lia sebagai petunjuk arah jalan.


"Ya, kita sampai". Lia yang lebih dulu keluar dari mobil.


"Rumah siapa ini?".


"Paman Kim". Jawab Lia pendek.


Kini ketiganya telah berada tepat didepan pintu rumah yang sedari tadi hanya mereka pandang itu, Lia yang berada persis didepan kedua lelaki dibelakang nya memberani kan diri mengetuk pintu.


TOK TOK TOK


Hening sementara, Beomgyu dan Heeseung hanya saling lirik memberi isyarat antara mata-kemata karna belum ada jawaban hingga sampai beberapa saat mereka tediam.


Lia mencoba mengetuknya kembali, berharap ada suara sang pemilik rumah menyaut dari dalam sana. Namun yang suara menyahut malah terdengar dari belakang ditempat mereka bediri.


"Kalian mencari siapa? Oh Lia!".


Suara yang awalnya sempat curiga terharap ketiga orang yang sedari tadi berdiri didepan pintu rumah nya itu seketika sirna saat melihat wajah familiar sahabatnya.


Sunoo, ingat? teman sekelas Lia yang meiliki mata seperti rubah itu, mendekat dan sedikit membungkuk kan badan nya saat menyadari dua orang lain nya disamping Lia yang dia kenali sebagai kakak kelas nya.


"Ada perlu apa kalian kemari?". Tanya nya memberi lirik pada ketiga tamu dadakan dihadapan nya.


"Em.. ya, Sunoo-yaa aku ada perlu dengan ayah mu, apa dia ada dirumah?".


"Oh ayah ku sedang keluar entah kemana dan gak tau kapan ayahku pulang".


"Ahh begitu". Lia memberi isyarat kepada dua orang yang sedari tadi diam dibelakang nya.


Heeseung yang menyadari dengan gagap ikut masuk dalam obrolan. "K-kalo begitu kami akan kembali jika ayahmu sudah datang".


Heeseung baru saja bersiap akan melangkah kan kaki nya namun Sunoo kembali bersuara. "Kalian tunggu lah didalam sampai ayahku datang".


Ketiganya kembali memandang Sunoo. "Aku pikir kalian seperti sedang terdesak oleh sesuatu, dan menunggu mungkin bukan pilihan buruk?".


Ucapan Sunoo membuat ketiganya terdiam dalam pikiran masing-masing, dalam hati mereka mengiyakan apa yang Sunoo ucapkan bahwa mereka sebenarnya sedang terdesak. Lagi mereka tak ada pilihan lain.


"Apa tidak masalah?". Beomgyu kini yang bersuara.


"Menurutmu, kenapa aku nawarin kalian untuk masuk?". Jawaban Sunoo mendapat dengusan dari Beomgyu.


"Kalian hanya datang bertiga?".


"Ya, hanya kami". Mulut Sunoo membentuk bulat dan mengangguk kecil. "Kalo gitu, ayo masuk!".


"Baiklah, terima kasih Sunoo". Heeseung mengulas senyum nya yang dibalas anggukan oleh Sunoo.


Sang pemilik rumah membuka pintu utama berwarna biru gelap itu lebar-lebar mempersilah kan ketiganya untuk masuk. Setelah dipastian ketiganya masuk Sunoo menjadi orang yang terakhir masuk segaligus yang menutup pintu itu kembali dan menguncinya dari dalam.


...~...


"Duduklah". Sunoo menggiring tamunya ke dalam ruangan khusus tamu. "Aku akan membuatkan minum, kalian mau apa?".


"Air putih saj-".


"Cola jika ada". Beomgyu menyela ucapan Lia, setelah ketiganya baru saja mendaratkan bokong diatas sofa panjang disana.


Sempat menghela nafas pelan Sunoo kembali memberikan senyuman nya. "Baik, tunggu sebentar". Dan saat tubuhnya membalik senyuman itu hilang.


Lia memutar matanya jengah dengan tingkah Beomgyu sedangkan sang empu hanya mengedikan bahu nya acuh.


Berbeda dengan keduanya, semenjak kakinya itu melangkah memasuki rumah Heeseung terus menggukir mata, mengamati setiap inci ruangan yang dia masukki.


"Apa ayahnya itu seorang dokter?". Tanya nya dengan kedua iris mata yang menatap sebuah pigura terpajang di dinding ruangan.


"Setahu ku, ya ayahnya itu dokter... Entahlah, tapi aku pernah dengar juga bahwa ayahnya itu seorang psikia-".


"Chaa, pesanan datang". Sunoo datang memotong ucapan Lia, dengan nampan yang berisian 3 gelas minuman cola dengan es dan beberapa jenis makanan ringan.


"Cuaca panas sekali, nikmatilah". Lanjutnya sambil menyajikan minuman dan makanan yang dia bawa ke atas meja.


"Aigoo terima kasih banyak". Beomgyu yang bersender langsung merebut segelas cola dan menyeruputnya, jangan lupakan suara nikmat 'ah' nya sesaat setelah menegak hampir setengah gelas.


Heeseung dan Lia hanya menggeleng kan kepala dan berucap terima kasih pada Sunoo. Sunoo menempatkan dirinya disofa tunggal yang ada.


"Lama sekali gak pernah ada yang datang kesini, akhirnya kalian datang". Sunoo berucap ceria.


"Kami datang kesini bukan buat ketemu kau, jika ingin tau". Beomgyu tiba-tiba berucap ketus dengan tangan yang menyomot kue ringan didepan nya dan memakan nya.


"Kami ada urusan dengan ayahmu". Lanjutnya, dengan mulut penuh.


"Sudah aku bilang, ayah masih belum pulang entah kemana dia tidak bilang".


"Kapan ayahmu pulang?".


"Perihal dia pergi kemana saja aku tidak tau apalagi kapan dia pulang". Kerutan didahi putih susunya itu cukup membuat mereka tahu Sunoo sudah terlampau kesal menjawab pertanyaan yang Beomgyu lontarkan.


"Lagian, kalian lebih bagus diam disini..". Ucapan si tuan rumah menggantung.


"..Kalian bilang, kalian hanya datang bertiga kan?". Dijawab anggukan. "tadi saat aku berjalan pulang ke rumah, aku melihat orang-orang tak ku kenal didalam mobil sedang memerhatikan kalian bertiga, bukankah itu aneh?".


Tunggu, apa?


Tentu saja itu hal yang aneh, sangat aneh!