Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Pergerakan dari orang markas



Lengang, keempatnya diam setelah Sunoo berucap demi kian.


Tunggu, apa?


Tentu saja itu hal yang aneh, sangat aneh!


"Sebenarnya apa yang terjadi?". Sunoo memecah keheningan, bertanya penasaran. "Apa yang kalian sembunyikan dari ku? Y-ya aku tahu kalau kita memang sudah tidak dalam satu tim untuk menjalankan misi lagi tapi kalian kan bisa cerita, mungkin saja aku bisa memantu sedikit". Ucapnya panjang lebar.


"Tim? Misi?". Heeseung bertanya bingung.


"Ah". Lia mendesah pelan merutuki mulut tak terjaga adik tingkatnya itu.


"Kau tak akan mengerti Lee. Aku dan yang lain termasuk Lia juga Sunoo diberi misi untuk mencari sebuah benda yang kami pun tidak tahu bentuknya didalam kawasan sekolah kita, selama beberapa minggu kami mencarinya kesana kemari, menghabiskan waktu istirahat yang biasa aku bilang untuk pergi ke perpustakaan padahal aku pergi menjelajah setiap inci sekolah kita yang megah itu, dan sial pada akhirnya misi itu dibatal kan karena memang benda itu tidak pernah ada disana". Beomgyu menekan setiap kata terakhir yang dia ucapkan dengan gemas.


Heeseung cengo mendengarkan nya, tidak bisa menangkap satu pun kata yang Beomgyu lontarkan dengan kecepatan cukup menyamai ahli rap.


"Sudah ku bilang, kau tidak akan mengerti kami pun sebenarnya tidak ingin protes tapi apa daya ayahku sudah campur tangan bisa-bisa aku dikeluarkan dari kartu keluarga". Ucapnya bersungut-sungut, sambil terus mamakan cemilan dengan kesal.


"Hanya sebuah kontrak kecil yang berakhir ditengah jalan, Heeseung". Lia akhirnya menimpali.


"Tapi bukan itu yang penting, untuk saat ini kami sedang membutuh ayahmu Sunoo".


"Baiklah". Tanpa banyak kata lagi, Sunoo segera bangkit dan berjalan menuju tempok yang tergantung telepon disana, mulai menekan beberapa digit angka yang dia hapal betul.


"Kau mau apa?".


"Apalagi? Menelefon ayahku untuk cepat pulang".


"Kenapa tidak kau lakukan dari tadi!". Ketiganya berkata serepak dengan nada meninggi.


"Pelankan suara kalian jika ingin ayahku pulang".


Ketiganya mulai duduk seperti biasa tapi dengan atensi yang terus melihat pergerakan Sunoo dihadapan telepon sana.


Beberapa waktu senyam saat Sunoo telah menghentikan ketikannya pada angka telepon, menunggu yang diseberang sana menjawab panggilan.


Butuh beberapa menit hingga suara grusuk dan dilanjut suara berat menyusul. "Ah! Tersambung". Sunoo bersorak, ketiganya semakin memusatkan atensi mereka.


"Halo?".


"Ayah ini aku Sunoo".


"Oh ya.. Kenapa kau menelpon anakku?".


"Ahh ini...". Sunoo melirik kebelakang melihat tiga orang tamunya yang sudah menunggu dengan raut tidak sabar.


"... Ayah, pulang lah. Ada yang ingin bertemu denganmu".


.......


.......


.......


Setengah jam semenjak Sunoo menelpon ayahnya untuk segera pulang itu, mereka menunggu dengan bercakap ringan namun juga berat saat membahas persoalan yang tidak Heeseung mengerti sepenuhnya tadi.


Dan dari percakapan itu Heeseung bisa menangkap bahwa mereka bertiga juga satu orang lagi yang sepertinya pernah bertemu secara tidak sengaja disekolah tapi ingatan itu sepertinya sudah hilang, sudahlah Heeseung juga tidak ada waktu memikirkan nya. Yang penting sekarang adalah persoalan Ryujin.


"Lalu dimana dia sekarang?". Kini mereka beralih topik dengan kasus Ryujin. Ya, dia yang dimaksud Sunoo adalah Ryujin.


"Bersama Kai, pergi merjiarah".


"Apa kalian yakin dia akan baik-baik saja?". Pertanyaan Sunoo membuat hening sejenak.


Hingga Heeseung menggeleng lalu mengangkat kepalanya, menatap langsung mata hazel Sunoo. "Aku tidak yakin sepenuhnya, tapi aku yakin apapun langkah yang Ryujin ambil... Ryujin sudah memikirkan resiko terbesarnya".


Sunoo memutus kontak mata dengan Heeseung yang mengatakan semua itu dengan mata tanpa kedip, dia terkekeh ringan. "Kau sangat menyukainya?". Gumamnya.


Apa? Begitulah ekspresi wajah Heeseung yang mewakili isi hatinya. Sunoo menjawab dengan menggeleng kan kepalanya.


Suara pintu diketuk terdengar, sepertinya pintu belakang rumah ini. Sunoo segera bangkit dan menghampiri pintu yang masih diketuk perlahan itu. Kunci pintu diputar, pintu modern itu ditarik terbuka menambilkan seorang pria paruh baya yang terlihat masih sehat bugar.


"Jadi... Dimana tamu ayah?".


...~...


Setengah jam telah berlalu, mendatangkan orang yang sedang mereka cari untuk ditemui. Lia, Beomgyu, Heeseung, Sunoo juga ayahnya. Kelimanya sudah duduk ditempatnya masing-masing.


Atmosfer berubah begitu kaku semenjak kedatangan pria setengah bawa ini. Tidak ada yang mau memulai bersuara diwaktu-waktu itu.


"Aku lupa memiliki tamu hari ini". Ucap pria didepan sedikit terkekeh diakhir kalimatnya, memecah ketegangan.


"Apa kalian membawa orang aneh didepan sana?".


"TIDAK". Lia, Beomgyu juga Heeseung menjawab serentak. Ketiganya bertatapan.


"Tidak paman Kim, kami hanya datang bertiga". Lia memberanikan bersuara.


Pria yang Lia panggil paman Kim itu mengangguk-angguk mengerti. "Kalian membawa masalah kerumahku".


"Tidak paman. Sejak awal kami tidak sadar telah diikuti". Lia menyanggah.


"Yahh maubagaimana pun salahku mengundang tamu bermasalah ke rumah sendiri". Paman Kim mengangkat bahunya acuh.


"Kami memang tidak pernah tahu apa hubungan kalian, maksudku aku tidak sepenuhnya tahu. Tapi... paman pasti mengenali Detektif Kim, terutama anak dari sepasang detektif itu".


Lengang sejenak.


"Ya, tentu aku mengenalnya. Detektif Kim adalah kawan lamaku".


Paman Kim mendengus, membenarkan duduknya menatap setiga remaja dihadapannya.


"Aku mengundang kalian kesinipun sebabnya adalah anak itu".


Tubuh ketiganya menegak condong sedikit kedepan, pupil mata mereka membesar, penasaran.


"Tapi aku tidak melihatnya sedari tadi, dia tidak bersama kalian, kemana dia?".


"Dia... Sedang pergi ke suatu tempat, tidak bisa kemari".


Terdengar helaan nafasnya. "Aku ingin berbucara dengannya langsung... temui aku jiga kalian datang bersamanya".


Paman Kim beranjak pergi, melangkah akan meninggal kan ruanagan. Ketiganya saling pandang bingung, melempar pandangan resah.


"Kami tahu apa yang paman lakukan pada Ryujin!". Beomgyu tidak sadar berucap dengan nada tinggi, mencegah paman Kim meninggal kan ruangan.


"Kau... paman, menyuntik kan cairan kebal pada tubuh Ryujin saat dia masih kecil, kan? Dengan sengaja membuat Ryujin menangis, orang tuanya kesal dan marah melihat itu. Tapi apa sebenarnya yang paman rencanakan?". Lanjutnya.


Paman Kim atau yang dikenal dengan nama Kim Seokjin ayah kandung dari Kim Sunoo. Dibalik tubuh yang memunggungi, senyuman nya tercetak. Entah apa maksud senyuman itu.


Sunoo hanya mematung, sedari tadi ia hanya diam menyimak pembicaraan antara ayah dan teman-temannya itu, tidak berani berucap, mencampuri urusan.


"Aku bilang. Aku akan berbicara jika ada anak itu disini". Seokjin kembali memecah kelengangan.


"Kami terdesak paman... bisakah berbicara sekarang?". Lia memasang wajah putus asanya, walau tidak terlihat oleh Seokjin karena dia memunggungi.


"Aku memang tidak mengenali anda. Tapi Ryujin sedang tidak baik-baik saja sekarang... bisakah anda sedikit saja memberi dia nafas? Membuatnya lega, walau sejenak?". Nafasnya tersenggal-senggal menahan marah.


Lengang kembali.


"Ayah". Sunoo berseru pelan.


Seokjin beberapa waktu hanya diam. Heeseung setelah menormalkan emosinya, ia tertunduk memandang lantai putih kediaman Seokjin, memikirkan ucapannya begitu saja terlontar lancang.


"Baiklah".


Kepala Heeseung terangkat.


Seokjin berjalan kembali ketempat semula ia duduk dengan ekspresi yang terlampau santai.


"Kalian ingin aku mulai berbicara, bukan?... aku minta kalian diam, dan dengarkan. Bertanya hanya saat aku berhenti bicara".


Ketiganya otomatis terduduk perlahan, menyiapkan pendengaran untuk menanti pembicaraan. Sunoo kembali menyandarkan tubuhnya ditembok, siap mendengarkan juga.


...~...


"Ryujin, aku mengenalnya saat Namjoon dan So Hee datang kerumah untuk bertamu, bukan hanya untuk bertamu sebenarnya. Saat itu aku adalah seorang dokter psikolog yang mendapat perintah langsung dari Namjoon untuk menangani khusus seseorang, itu pekerjaan ku, aku menerimanya"


"Seseorang itu adalah seorang gadis berambut coklat sebahu dengan fisik yang sebenarnya bisa dibilang baik-baik saja untuk seseorang yang dibawa ke tempat psikolog. Namjoon bilang, gadis ini sudah terbiasa bersikap baik baik saja disaat ia padahal mengidap penyakit mental didepan ayahnya, yang juga ternyata kawan Namjoon, gadis itu bekerja sangat keras, entahlah bekerja apa. Namjoon merasa kasihan dan secara diam-diam tanpa sepengetahuan kawan atau ayahnya gadis itu, membawa gadis kecil pergi ke tempat aku tinggal, untuk memulai pengobatan"


"Gadis itu dibawa kemari setiap dua kali seminggu, rutin, selalu mengenakan jaket gelap bercidung. Begitu terus selama hampir dua bulan, namun ayahnya gadis itu dengan cepat mengetahui apa yang dilakukan anaknya. Aku sempat mencari tahu tentang ayah gadis ini dengan cara bertanya padanya sedikit demi sedikit saat perobatan rutin itu, yang aku tangkap, ayahnya adalah seorang penjahat malah dipangkat tertinggi atau bisa dibilang bos disana, gadis itu tidak disekolahkan dia disuruh untuk bekerja, berlatih senjata, bertarung, oleh ayahnya sendiri, menjadi penjahat"


"Ayahnya tidak memandangnya sebagai perempuan lemah, dia membentuknya kuat tanpa dia tahu anak semata wayangnya itu selalu dihantui mimpi buruk didalam dirinya, selalu terjaga ditengah malam oleh sesuatu disisi kelam anak gadis malang itu, lalu paginya beraktifitas seperti biasa, yang sedikitpun tidak memperlihatkan dirinya tersiksa tadi malam. Oleh karena itu aku sempat bingung mengapa gadis yang terlihat sehat itu dipintai tolong untuk diobati?"


"Tapi dalam dua bulan itu semuanya terbongkat, topeng yang gadis itu pahat kokoh roboh jika saat berkonsultasi denganku. Semuany terlihat saat itu, aku mengerti, tentu karena aku seorang psikolog, aku terbiasa dengan orang-orang berkelainan mental seperti gadis ini"


"Namun dia berbeda. Dia bilang ingin sekali mengakhiri dirinya, lelah, itu alasannya, dia lelah menjerit tanpa suara dimalam hari disaat orang lain terlelap nyenyak didalam mimpi indah masing-masing sedangkan ia tetap terjerembab dimimpi buruknya sendiri hingga matahari tiba. Aku berusa meyakinkan gadis itu untuk bertahan, mengingatkan kegiatan kesukaanya, memanah, gadis itu pernah bilang dia suka saat diberi misi oleh ayahnya dan dia memilih senjata panah andalannya.. tapi dia menggelang, tidak"


"Itu hanya membuat sesuatu didalam dirinya senang, bukan memanah biasa, membunuh dengan panah adalah yang dinginkan sisi lain dirinya. Beberapa waktu terakhir dia mengindari benda itu, menolak misi yang melibatkan berhadapan langsung dengan musuh. Itu membuah ayahnya mulai merasa ada yang tidak beres. Dan dua bulan itu sudah cukup untuk ayahnya tahu apa yang dilakukan anaknya, yang terlihat dalam kegiatan ini. Sekaligus cukup untuk gadis itu memantapkan niatnya untuk mengakhiri diri"


Seokjin menarik nafas sejenak, mengusap melemaskan wajahnya.


"Tepat sesaat ayahnya mendapati keberadaan anaknya, gadis itu telah menyiapkan tali gantung seukuran kepala mungilnya didahan pohon besar. Tepat sesaat rombongan ayahnya memasuki sebuah hutan jauh dari keramaian kota, gadis itu naik keatas kursi yang dia bawa, menaikinya, menyusupkan kepalanya pada lubang tali yang menganga. Tepat saat rombongan yang dipimpin ayahnya turun dari kendaraan masing-masing, berpencar mencari anak bosnya, gadis itu telah menendang kursi yang ia gunakan untuk berpijak"


Seokjin menelan ludah.


"Tepat saat ayahnya lah yang pertama menemukan anaknya, ralat, jasad anaknya yang tergantung pasrah diatas sana. Anaknya tersenyum tipis. Bahkan anaknya selalu menampilkan senyuman manis dihadapan ayahnya"


"Sejak saat itu ayahnya memiliki dendam, pada Namjoon karena dia pikir namjoon lah penyebab anaknya melakukan itu. Aku beruntung diselamatkan oleb Namjoon, dia tidak pernah menyeret namaku dalam kejadian itu, aku dipindahkan kemari bersama anakku dan hanya orang-orang tertentu yang tahu ini rumahku itu termasuk kalian, karier ku sebagai psikolog juga terpaksa berhenti"


"Lupakan itu. Sebelum gadis yang sempat menjadi pasienku ini bulat dengan niatnya, dia sempat memberi tahuku sesuatu. Dia memiliki tubuh yang tidak seperti orang kebanyakan, tubuhnya kebal pada apapun, sayatan, tulang patah, air masuk pada paru-paru atau hal lain yang bisa menyakitinya maka akan sembuh dengan sendirinya, tapi tidak dengan mengobati mental. Dia berucap darahnya adalah sumber dari hal ajaib itu, pernah suatu hari dia mencoba meneteskan darah dirinya sendiri pada kaki anjing jalan yang terluka dan darah itu seperti cairan ajaib yang langsung mengobati luka tanpa menyisakan bekas luka itu sendiri"


"Dia berpikir bahwa jika darah ini masih mengalir didirinya maka proses bunuh dirinya akan sia-sia. Bayangkan saja gadis sekecil itu sudah bisa berpikir banyak hal menyeramkan, aku benar-benar tidak tega untuk hanya menyedot darah itu keluar dari tubuh tak berdayanya. Tapi gadis itu memaksa, dia sudah putus asa. Aku, tentu kasian melihat wajah memelas itu, aku menuruti. Hari itu juga aku mengambil darah gadis itu, tidak semuanya, karena dia bilang ingin pergi kesuatu tempat dan mengakhiri diri disana. Tentu aku menyergak kembali, maksudku apakah baik gadis kecil yang kekurangan darah berkeliaran diluar dan mati? Aku bukan laki-laki jahat yang tega membiarkan nya seperti itu"


"Tapi dia tetap kukuh. Dan aku tidak bisa memaksakan, aku hanya menjalankan tugas. Dan ingat ini tanpa sepengetahuan Namjoon, sungguh itupun karena keinginan gadis itu. Aku menuruti nya saat itu karena tidak mau membuat sisi lain dirinya marah dan berbuat nekat"


"Dan alasan aku menyuntik kan sebagian darah milik gadis itu pada Ryujin adalah karena aku seolah mendapat firasat sesuatu dimasa depan akan terjadi. Aku berpikir bahwa jika darah ini menyatu dengan Ryujin, maka dia akan kenal seperti gadis itu. Aku hanya ingin melindunginya"


"Tapi, saat aku mencoba menyuntikan darah itu juga pada kelinci percobaan, efek kebalnya hanya berlangsung beberapa waktu saja. Apa Ryujin masih memiliki efek darah itu?. Aku dengar juga Namjoon dan So Hee telah tiada, aku turut berduka cita untuk itu. Sungguh aku berniat menyuntikan darah itu pada mereka tapi mereka menolak keras tawaranku".


Seokjin mengakhiri ucapan panjangnya dengan sedikit menekuk bibirnya, merajuk.


"Soal Ryujin yang masih kebal atau tidak, kami tidak tahu paman. Bahkan kami baru tahu Ryujin memiliki itu didalam dirinya".


"Itulah sebabnya aku ingin untuk bertemu dengannya langsung".


"Tapi bagaimana paman tahu tentang yang menyangkut darah darah itu, maksudku paman kan seorang psikolog..". Seokjin terkekeh mendengar pertanyaan Beomgyu.


"Lagi pula aku ini seorang dokter, bukan begitu?".


Lengang.


"Maaf soal ucapan tidak sopan saya tadi paman Kim, saya terdesak".


"Kau Lee Heeseung, bukan?". Seokjin malah bertanya, Heeseung mengangguk patah-patah.


"Tidak apa, lupakan saja". Ucapnya terkekeh melambai-lambaikan tangan.


"Bagaimana anda tahu nama saya?".


Lengang sejenak.


"Tentu aku tahu. Aku lebih tahu banyak hal dari apa yang kalian duga".


.......


.......


.......


"Kai".


Panggilan Ryujin memecah hening kedua insan didalam mobil sedan yang melaju dengan kecepatan sedang itu.


Setelah puas menangis dan berjumpa dengan abu orang tuanya, Ryujin memutuskan untuk cepat kembali ke rumah Heeseung.


Kai bergumam tanpa menoleh, mencoba membagi fokus antara jalan didepan dengan sahabat kecil nya duduk disamping kemudi.


"Apa Kak Heeseung dan yang lain sudah pulang ya?".


"Aku tidak tahu, Ryu".


"Hey jangan pura-pura bodoh, aku sudah tahu kau ini hecker loh?".


"Aku sedang menyetir Ryu kau tidak lihat?".


"Kau bisa menepi sebentar kan?".


"Baiklah nyonya... biarkan aku mencari tempat yang nyaman untuk menepi". Kai berucap pelan antara ramah dan kesal.


Mobil sedan itu menepi, kan mengodok ponsel disakunya. Mengotak-atik benda itu entahlah, Ryujin hanya menunggu Kai selesai dengan urusannya.


Jari tangan yang menari lihai dilayar ponsel itu berhenti, wajahnya pucat. Ryujin menyadarinya, ada yang tak beres.


"Ada apa Kai?".


"Ryu... Tidak ada siapa-siapa kan dirumah itu?".


"Huh?". Ryujin balik memasang muka bingung.


"M-maksudku dirumah Heeseung. Tidak ada siapapun disana kan? Semuanya berada diluar?".


"Aku terakhir kali meminta kak Heeseung, kak Beomgyu dan Lia pergi. Tidak ada siapapun disana".


"Ryu..".


"Tuan Wang datang kesana".


Wajah Ryujin seketika ikut pucat pasi.