Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Misi anak sekolah



Berbeda dengan situasi markas yang sedang diwaktu damai nya. Lain lagi di pihak kepolisian, sudah 3 tahun berlalu dan selama itu pula mereka mencari keberadaan keluarga Kim, dari hasil pencarian menyeluruh Namjoon dan istrinya So Hee ditemukan dengan keadaan sudah dikremasi hanya meninggalkan abu mereka saja dirak penyimpanan abu jenazah.


Tapi entah kenapa sampai sekarang tidak ada bukti yang bisa ditemukan penyebab sepasang suami istri itu meninggal, terutama anak perempuan mereka yang juga sampai sekarang belum bisa ditemukan keberadaan nya.


Pihak kepolisian terlebih Jimin, Seungmin dkk sungguh menyesal karena terlambat menolong keluarga itu. Terutama Taehyung Kim satu satunya keluarga Namjoon Kim tentu merasa terpukul atas kepergian kakaknya itu yang bahkan tidak menahu kronologi nya seperti apa.


Walaupun sulit untuk Taehyung mengikhlaskan kepergian Namjoon yang secara tiba tiba itu, seiring berjalan nya waktu ia mencoba menguatkan dirinya dengan dukungan dari istri juga anaknya. Ia tersadar dan mulai berdiri kembali, membangun lagi perusahaan miliknya yang akan menuju masa emasnya namun sempat tertunda karena kasus ini.


Namun bukan berarti mereka menutup kasus ini begitu saja, masih ada satu orang lagi yang harus mereka cari yaitu anak perempuan pasangan tersebut. Tidak peduli harus mencari sampai manapun mereka harus mendapatkan anak itu baik dalam keadaan bernyawa maupun tidak.


...~...


Dan bukan berarti mereka harus terpatok pada masalah satu saja, benar?.


"Aku menemukan nya!".


Seru Yeonjun, membuat seluruh atensi mengarah padanya lalu mengerubuni meja kerja miliknya.


"Titik ini menandakan posisi Chip itu". Jarinya menunjuk tanda bulat merah dilayar komputer miliknya.


"Itu bukannya di sekolah Seoul ya?". Tanya Jisung yang masih meneliti layar didepan nya.


"Ya, sepertinya disana. Tapi kita belum tau dimana persis letak chip itu, Yeonjun-ssi apa kau bisa melacaknya lagi?".


"Hahh bagaimana ya, mencari ini saja sudah aku usahakan semaksimal mungkin aku gak tau harus melacak nya bagaimana lagi".


Keluh Yeonjun saat Seungmin meminta nya untuk melakukan lebih, padahal ia sudah melacak Chip itu tiga hari tiga malam sampai sampai kantung matanya pun tercetak jelas, apa dia tak melihatnya huh.


"Ahhh bagaimana ini?". Seungmin mengosok tengkuknya frustasi.


"Tidak ada cara lain kita harus turun tangan". Jimin angkat suara setelah sedari tadi diam saja.


"Maksud anda?". Tanya Seo Changbin, si pemilik bisep kuat itu berkomentar setelah lama menyimak.


"Jangan jangan kita harus ke TKP dan mencarinya langsung??". Jisung menebak apa yang atasannya itu pikirkan.


"Exactly, tapi sepertinya tidak etis jika kita dengan tiba tiba mengobrak abrik sekolah terlebih itu sekolah internasional bisa bisa negara akan gempar dan informasi ini akan bocor ke negara lain juga".


"Kecuali jika kita menyamar". Timpal Seungmin.


"Menyamar?". Terpangpang jelas wajah tak mengerti Jisung.


"Tidak mungkin jika kita mencari keberadaan itu secara terang terangan bukan? Kita harus diam diam mencari dimana persis letak Chip itu ya tentu dengan menyamar". Changbin kini menambahkan.


"Tapi apa kita masih bisa menyamar menjadi murid dengan umur yang terpaut jauh dari mereka?". Jisung bertanya sambil menahan tawanya saat menekankan kata kita.


"That's the point, saya berencana untuk memilih anak remaja untuk melakukan nya, mencari titik keberadaan Chip itu dan bagian akhir kita yang urus".


"Apakah mungkin Jimin-nim?". Seungmin bertanya ragu.


"Kita lihat nanti, aku akan mendaftar nama namanya kalian hanya perlu membawa mereka kehadapan ku besok. Jika tugas ini tidak berjalan mulus, terpaksa kita yang harus turun ke lapangan". Ucap Jimin menepuk bahu Seungmin.


Ceklek


"Oh maaf, tadi saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada respon jadi saya masuk saja".


Seorang anggota polisi masuk dengan beberapa lembar berkas ditangan nya. Membungkuk beberapa kali meminta maaf karena dipikir ia tidak sopan.


"Ah tidak apa apa. Kami mungkin tidak mendengarnya tadi, apa kau membawa berkasnya?".


"Ya Jimin-nim, ini". Orang itu mengangkat berkas ditangan dekapannya. Orang itu mendekat untuk menyerahkan berkas yang diminta atasannya itu.


Jimin menerimanya lalu memeriksanya sekilas.


"Jika ada yang belum lengkap anda bisa memanggilku". Orang itu berucap sambil membenarkan letak kacamatanya.


Jimin tersenyum mengalihkan pandangannya dari berkas tadi.


"Tidak ini sudah cukup, kau sudah bekerja keras. Terima kasih, Minho".


.......


.......


.......


Tok Tok Tok


"Masuk".


Melihat tubuh Kai yang mulai masuk dan berjalan semakin dekat dihadapan nya, ada sesuatu yang sudah Kai dapat sepertinya mengingat ada suatu hal yang ingin Jackson tahu dan memerintahkan Kai untuk menelusurinya.


"Sudah dapat Kai?".


"Hanya garis besarnya saja, untuk letak spesifiknya itu sudah diluar kemampuanku".


Jackson mengangguk medengar nya, jika Kai sudah berkata begitu berarti itu memang sudah dibatasnya. Jackson menyadarkan tubuhnya, menautkan jari tangan dipangkuannya.


"Dimana?"


"Dwight School Seoul. SMA Internasional TOP di Seoul, titiknya mengarah disana tapi tidak jelas dimana letaknya sepertinya orang sekolah pun tidak tahu ada Chip negara ditanah yang mereka gunakan".


"Chip itu sudah lama bersembunyi disana, bahkan kita baru sekarang menyadari keberadaan nya. Wajar jika tidak ada yang tahu".


Kai mengangguk membenarkan.


"Kalau begitu ini adalah tugas kalian". Kai menyeringai mendengar nya.


"Panggil semua anggota markas sepantaran Kai sekarang". Perintah Jackson pada seorang disamping kiri nya yang sedari tadi menyimak perbahasan keduanya.


"Baiklah Tuan Wang". Felix membungkuk lalu melenggang pergi dari ruangan itu setelah menerima perintah.


"Apa tidak terlalu berlebihan menurunkan mereka langsung Wang". Tanya Yoongi di samping kanan nya yang juga mendengarkan sedari tadi.


"Mereka hanya akan melakukan tahap awal, Min".


"Aku hanya khawatir dengan identitas mereka".


"Karna itu, kau dan Minho akan mengurusnya. Jadi aku percaya mereka akan aman oleh kalian".


"Sialan kau Wang".


~


Terhitung sudah ada enam orang seumuran atau hanya lebih satu tahun darinya itu, menghadap sang atasan secara serentak. Melihat Jackson yang tak kunjung berbicara membuat semuanya bingung dan membuat tanya dibenak mereka.


"Jadi, Tuan Wang akan diam sampai kapan?". Bisik Jay pada Yeji disamping nya.


"Mana aku tau, mungkin ada yang belum data-". Bisikan Yeji terpotong kala suara pintu yang dibuka membuat mereka secara bersamaan menoleh kearah sumber suara.


Kiyett


Ryujin terkejut tapi dengan cepat mengubah ekspresi nya lalu membungkuk setelah mengerti keadaan bahwa ia satu satunya yang terlambat.


"Maaf". Hanya itu yang bisa keluar dari bibir tipisnya, Jackson mengangguk mempersilahkan putrinya bergabung, Kai mengayunkan Tangan nya menyuruh Ryujin berdiri disebelahnya.


"Kau kemana saja?". Tanya Kai berbisik setelah Ryujin berada disamping nya, menyingkirkan sehelai daun yang ada dikepala gadis itu.


"Aku-". Ucapan Ryujin terpotong saat suara bariton ayahnya mengelegar disepenjuru ruangan itu.


"Baik. Saya rasa semua nya sudah berkumpul, dan kalian pasti tahu kenama kalian dikumpulkan disini". Semuanya mengangguk serempak tanda mengerti.


"Saya ada misi yang cukup sulit kali ini, kalian ditugaskan bersama untuk mencari keberadaan Chip negara disebuah sekolah. Dimana kalian harus berkamufulase untuk mencarinya secara diam diam, kalian harus saling bertukar informasi dan jika sudah mendapat letak Chip itu langsung melapor pada saya langsung".


"Satu minggu dari sekarang kalian akan mulai sekolah disana, dan ingat di misi kali ini identitas kalian harus dijaga dengan ketat walau nanti kami akan ikut tangan mengatur identitas kalian, tapi kalian harus tetap waspada".


"Jangan terlalu fokus pada apa yang ada disana, fokuslah pada misi kalian dan jangan sampai dicurigai. Apa ada yang ingin ditanyakan sebelum saya akhiri pertemuan ini?".


Chaeryeong mengangkat tangannya. "Dimana kita akan di sekolahkan?".


"SMA Internasional di Seoul, Dwight School Seoul. Disana tak jarang berkomunikasi menggunakan bahasa inggris". Chaeryeong mengangguk mengerti


"Kami sudah mengurus semua perlengkapan kalian untuk bersekolah, kalian juga akan diberikan alat pembantu berupa detection watch untuk kalian agar mempermudah mencarinya". Lagi lagi semua nya mengangguk.


"Baik sudah cukup untuk hari ini. Selamat menjalankan misi kembali lah tanpa tangan kosong".


"BAIK TUAN". Jawab ketujuhnya serempak sebelum meninggalkan ruangan itu.


.......


.......


.......


"Kai". Setelah kaluar dari ruangan tadi kini mereka sedang menuju parkiran.


"Hem?".


"Aku kok gugup ya?".


"Huh? Hahahaha aku lupa ini misi kedua mu ya".


"Ish bukan itu. Aku ngerasa aneh saat mau masuk sekolah nanti".


"Karna itu kamu gugup? Ini bukan sekolah seperti biasa Uji, kamu disana hanya akan menjalankan misi berkedok siswi nanti".


"Iya sih, tapi tetep aja aku harus beradaptasi untuk menghilangkan kecurigaan kan. Lagi pula ini pertama kalinya aku mulai sekolah lagi dari sekian lama??".


Kai tersenyum memaklumi "jangan risau, kamu akan melakukan nya dengan baik. Aku akan meminta untuk ditempatkan satu kelas dengan mu nanti pada Suga-nim".


"Mau mampir ke tempat favoritmu dulu?"


Ryujin dengan mata berbinarnya mengangguk. "Traktir?".


"Huh apa apaan, kamu punya banyak uang kenapa minta traktir padaku, gak!". Tentu Kai menolak, ia hanya mengajak Ryujin ke sana untuk memperbaiki moodnya bukan untuk mentraktir.


"Oh ayolahh Kai~". Ryujin mengguncang tangan Kai membuat Kai hampir oleng karna ia sudah diatas motor besarnya.


"Eh eh ehh stop nanti aku jatoh".


"Kau ini". Sambil masih mengguncang tangan itu.


"Aduhh iya iya dehh... traktir kok maksa".


"Lagian ngapain nolak".


"Ya kan kam-". Celotehan Kai terpotong oleh tlakson motor sebelakang nya yang ia yakini milik Jake.


Tin Tinn


"Udah woy berisik". Ucap Jake sewot karna ia sedari tadi tak henti mendengar celotehan dua orang bersahabat itu yang tak kunjung berakhir.


"Sewot bener, sirik ya bang". Kai malah menimpali.


"Sirik apa cemburu nieee". Ucap Jay dibelakang mengompori.


"Ngapain juga aku cemburu". Jake mengerlingkan matanya, langsung menancap gas meninggalkan semua orang yang terbahak akan tingkah lakunya, mungkin anak itu kepalang malu tadi.


...[SATU MINGGU BERLALU]...


Satu minggu berlalu dan tibalah hari dimana misi mereka pencarian Chip Negara dimulai, Ryujin pagi ini sudah siap dengan seragam sekolahan juga blazer berwarna navy khas Dwight School. Ryujin memarkirkan motornya diparkiran, lalu melirik kendaraan disamping nya.


"Sudah datang rupanya". Gumam nya, melihat motor familiar yang tidak disengaja terparkir bersebelahan bersama motor miliknya.


Benar jika sekolah ini adalah sekolah Internasional terbukti dengan sedari awal ia masuk sudah disuguhi oleh banyaknya murid berbeda ras darinya, bahkan telinganya tak sedikit mendengar mereka menggunakan bahasa berbeda dari kebanyakan orang dinegara ini gunakan.


Dan jangan lupakan bahwa mereka tentu orang berada dengan berderetnya mobil mewah milik para siswa/i. Disamping itu Ryujin dibuat cukup takjub dengan bangunan sekolah tersebut, sangat megah dan mewah.


Ryujin melepas helm nya, menuruni motor dan mulai berjalan menyusuri lorong sekolah sambil menggendong tas selayak pelajar pada umumnya. Langkahnya mematri menuju ruang guru walau sepanjang perjalanan terkadang ada beberapa murid yang melihatnya bertanya tanya tapi Ryujin acuhkan lebih memilih melihat kawasan sekolah megah tersebut.


Akhirnya setelah berjalan cukup lama Ryujin kini sudah berada didepan ruang guru atau lebih tepatnya ruang kepala sekolah, jangan tanya Ryujin tahu dari mana letak ruangan itu jika bukan karna Yoongi yang memberi tahu mereka sebelum nya. Dan tanpa babibu Ryujin mengetuk pintu itu, lalu masuk saat seseorang didalam sana mempersilahkan.


Untuk mengurangi kecurigaan pihak sekolah, mereka tidak bisa masuk sekolah secara serempak. Anggota satu tahun lebih tua dari Ryujin seperti Jay,Yeji dan Chaeryeong yang akan menempati kelas tingkat dua itu sudah lebih dulu masuk seminggu yang lalu.


Dan disusul oleh anggota tingkat pertama yaitu Ryujin,Kai,Jake dan Sunghoon. Tidak salah jika Jackson menyuruh tujuh orang anggota untuk menjalankan misi ini, karna bangunan sekolah itu tak main main luasnya butuh waktu untuk menjelajahi dan memeriksa setiap sudutnya.


Kembali kepada keempat murid baru diruangan kepala sekolah, Pria paruh baya didepan mereka yang merupakan kepala sekolah Dwight School itu sendiri mulai membuka suara.


"Selamat datang di sekolah kami, semoga kalian nyaman belajar disekolah ini".


"Terima kasih Pak, senang bisa belajar disini dan tolong bantuan nya".


"Berhubung kelas kami hanya tersisa dua kelas saja yang masih kosong, kalian skan mendapat kelas berbeda. Lee Jaeyun dan Park Sunghoon akan ditempatkan dikelas yang sama dan kelas Jung Kai dan Wang Ryujin akan mendapat kelas yang berbeda. Saya harap kalian tidak keberatan atas pembagian kelas ini". Lanjut pria itu menjelaskan, sambil sesekali melihat lembaran kertas ditangan nya memastikan tidak salah menyebut nama.


"Tidak masalah Pak, Terima kasih". Kai berucap mewakili, sisanya mengangguk menyetujui. Tidak lama setelahnya Bel masuk berbunyi menandakan pelajaran pertama pada pagi itu akan dimulai.


"Baiklah, mari saya antar kalian ke kelas masing masing".


Semuanya bangkit dari duduknya dan mulai melangkah membuntut dibelakang kepala sekolah untuk menuju kelas masing masing.


Kini hanya menyisakan Kai dan Ryujin yang belum memasuki kelas mereka, setelah beberapa waktu lalu Jake dan Sunghoon sudah memasuki kelas yang akan mereka tempati.


Kelas yang akan ditempati keduanya tidak jauh dari kelas Jake dan Sunghoon sebenarnya. Kai tidak bohong soal ia akan meminta Yoongi untuk menempatkan Ryujin dan Kai dalam satu kelas, Ryujin sedikit berterima kasih dibuat nya.


Saat memasuki kelas, kepala sekolah meminta para murid itu untuk tenang lalu kelas yang awalnya sedikit bising itu seketika menjadi tenang saat tahu ada kepala sekolah mereka beserta dua orang asing dibelakangnya memasuki kelas.


"attention please!.. you guys have new friends, they were originally independent school at home and this is their first time going to normal school. so please create a comfortable atmosphere and make good friends".


("mohon perhatiannya.. kalian kedatangan teman baru, mereka awalnya sekolah mandiri dirumah dan ini adalah kali pertama mereka bersekolah normal. jadi tolong buatlah suasana yang  nyaman dan bertemanlah dengan baik").


"Yes sir". Jawab mereka serempak.


("Baik pak").


"Please introduce yourselves". Kai dan Ryujin mengangguk.


("Silahkan perkenalkan diri kalain").


"Hi my name is jung kai just call me kai i'm from korea let's be good friends".


("Hai nama saya jung kai panggil saja saya kai saya dari korea mari berteman baik").


"Hi my name is Wang Ryujin, nice to be friends with you guys. Please help".


("Hai nama saya Wang Ryujin, senang berteman dengan kalian. Mohon bantuannya").


Diakhiri dengan senyuman, lalu disambut riuh tepukan dan sambutan oleh seisi kelas dan mencelos sedikit ada yang bilang bahwa mereka berdua sangat tampan dan cantik.


"Well that's it, you guys can sit on the bench that's left. And please don't make a fuss, I'm leaving".


("Itu saja, kalian bisa duduk di bangku yang tersisa. Dan tolong jangan ribut, aku pergi")


"Yes sir". Jawab mereka kembali.


"Thank you sir". Kai dan Ryujin berucap sambil membungkuk sedikit, pria itu menepuk bahu Kai sebelum benar benar keluar dari kelas.


"Ryujin, you can sit here". Seorang siswi berkucir itu menepuk bangku disamping mejanya, menawarkan.


Ryujin melirik sebentar pada Kai, yang diangguki olehnya "Aku duduk dibelakang mu". Ucapnya berjalan kearah meja kosong dibelakang meja yang siswi tepuk tadi, Ryujin membuntuti lalu langsung saja duduk disana.


"Terima kasih". Ryujin berucap dengan aksen Korea pada siswi tadi, dan dibalas senyuman senang olehnya.


"Tidak masalah, wow kau bisa bahasa korea. Kalo begitu mari berteman perkenalkan aku Park Lia". Mengulurkan tangan nya.


Tidak perlu waktu lama Ryujin pun membalas uluran itu "Tentu karna aku orang Korea, dan senang berteman dengan mu Lia-ssi".


"Hahahaha benar juga". Lia menertawakan kebodohan nya.


Seorang pria dimeja depan Ryujin membalik tubuhnya untuk bisa menghadap langsung sang murid baru.


"Hello Ryujin! i'm Sunoo. Kim Sunoo".


"Dia bisa berbicara bahasa korea bodoh". Gadis lain didepan meja Lia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk memukul bahu siswa pria bername tag Kim Sunoo itu.


"Suka-suka akulah". Jawab Sunoo sedikit sassy.


"Jangan terlalu memerdulikan anak aneh itu. Aku Shin Yuna, karna kamu berteman dengan Lia jadi kita teman sekarang". Ryujin mengangguk sambil terkekeh melihat ekspresi kesal Sunoo karna disebut aneh oleh Yuna.


"Aku senang sekali sekarang ada tiga orang yang beraksen korea, akhirnya aku bisa berbicara santai sedikit". Ucap Yuna.


"Hey hey aku juga, kau tidak menghitungku". Protes Sunoo


"Maksudku hanya perempuan bodoh".


"Mulutmu memang lemes sekali. Oh iya, apa Kai juga bisa bahasa korea? Aku lihat dia seperti orang bule deh".


"Ah dia bisa kok". Ryujin sedikit memundurkan tubuh nya agar Kai terlihat.


"WAHH AKU JUGA ADA TEMAN BERAKSEN SAMA, SENANG NYAA~".


"Yak! Kecilkan suaramu yang lain tidak akan mengerti apa yang kamu ucapin".


Sunoo menutup mulutnya malu dengan diselangi ucapan kata maaf dalam bahasa inggris.


"Kau kan punya teman laki-laki lain yang bisa beraksen Korea".


"Ya kan dikelas ini bodoh". Ucap Sunoo menjiplak perkataan Yuna tadi. Lia menggelengkan kepalanya saat keduanya malah kembali ribut adu mulut, lalu berusaha acuh memilih kembali fokus pada Ryujin dan Kai.


"Nanti saat waktu break ,kalian mau ke kantin bareng, menu hari ini katanya sedikit spesial?". Ryujin dan Kai yang sedang terkekeh melihat tingkah dua orang ribut itu berhenti.


Ryujin melirik Kai yang mendapat anggukan darinya. "Boleh". Ryujin mengangguk antusias, mungkin ini pertama kalinya ia mendapat teman perempuan seumuran setelah sekian lama didalam markas jadi ia sedikit bersemangat untuk itu.


...~...


Bel berbunyi kembali menandakan pelajaran sudah usai berganti dengan waktu istirahat, guru yang berada disetiap kelas mengakhiri pembelajan dan memberikan waktu untuk para murid nya mengisi perut mereka.


Sesuai ajakkan Lia tadi setelah mereka membereskan alat tulis, kelimanya pergi beiringan menuju kantin, sesudah mengambil nampan nya masing masing mereka duduk di salah satu meja panjang yang letaknya tidak terlalu tengah itu.


Saat asik makan dan berbincang kecil, Ryujin tidak sengaja melihat sekumpulan orang di meja tidak jauh darinya dan beberapa dari meraka bisa Ryujin kenali dengan cepat.


Selama beberapa detik Ryujin dan Jay membuat kontak mata seakan keduanya bisa saling membaca pikiran masing masing, namun Jay pertama yang memutus kontak mata itu karena sepertinya ia dipanggil oleh teman satu mejanya.


Disana ada Yeji juga Chaeryong dan beberapa murid lain nya, sepertinya mereka juga cepat mendapat teman. Sunoo yang duduk berhadapan dengan Ryujin, memperhatikan Ryujin sedang melihat ke arah meja lain pun ikut melihat apa yang Ryujin lihat.


"Mereka anak kelas dua, cukup hits karna selain ganteng mereka juga pintar bahkan pernah ikut lomba sains beberapa waktu lalu. Mereka kayaknya menambah personil dikelompoknya, padahal baru saja masuk satu minggu lalu". Tanpa diminta Sunoo menjelaskan karna merasa Ryujin kepo dengan orang orang dimeja itu.


"Eh?". Ryujin tentu bingung, ia bukan bermaksud tertarik ia hanya melihat anggota nya saja sebenarnya.


"Habiskan dulu makanan mu, nanti aku kasih tau lebih banyak tentang mereka". Setelah berucap demikian Sunoo kembali fokus kepada kegiatan makan nya yang tertunda.


Ryujin mengedikkan bahunya acuh, masa bodo dengan mereka karna tujuan awal ia dan yang lain kesini itu hanya berfokus menjalankan misinya saja. Berteman dengan mereka hanya agar mereka tidak mencurigai para anggota, walau sebenarnya tidak terlalu terpaksa berteman dengan mereka karna Ryujin merasa cukup senang.


Berbeda dengan Kai duduk disamping Ryujin sedari tadi terus memperhatikan meja lain, tepatnya meja yang sedang ditempati oleh Jake juga Sunghoon dan beberapa teman barunya juga, namun tak lama keduanya seperti pamit memisahkan diri dan tak sengaja bersitatap dengan mata Kai lalu keduanya mengangguk dan kembali mematri langkah.


Selama disini mereka akan berpura pura saling tak mengenal lagi-lagi agar tidak ketahuan. Dan pergi bergerombol saat akan menjalankan misi itu terlalu beresiko, mereka harus menjaga pergerakan selama masih diarea sekolah. Untuk sekarang Jake dan Sunghoon yang akan pergi lebih dulu, keduanya akan memulai menelusuri sebelum waktu istirahat berakhir.