Don'T Being Domesticated

Don'T Being Domesticated
Keluarga kecil



"Itu seharusnya angka sembilan dulu papa". Suara anak perempuan mengintrupsi kegiatan ayahnya.


"Apa-apaan kau pikir papa ini berumur sembilan tiga hah?". Sang ayah selaku pelaku kegiatan menyahut.


So Hee, wanita cantik setengah baya yang sedang memperhatikan kejadian itu tak berhenti terkekeh dengan percakapan ringan antara anak dan ayah tersebut.


Ting


"Oh kuenya sudah matang" .


Mendengar suara oven yang menandakan bahwa waktu memanggang sudah selesai. Segara ia pun berjalan ke dapur untuk melihat kue buatannya yang baru saja matang, lalu meletakan kue tersebut ke piring tempat kue ulang tahun.


"Wahhh baunya sangat enak".


"Tentu saja istriku tidak pernah gagal membuat kue". Bangganya sambil mengedipkan satu mata genit kepada sang istri.


So Hee hanya tersenyum malu mendengar itu. "Siapa yang akan menghias kuenya?". Dengan nada antusias.


"Ryuu!".


"Papa!". Seru anak perempuan dan Namjoon, sang ayah serempak.


"Baiklah-baiklah kalian berdua tolong hias ya selagi mama memasak". Sambil berjalan ke arah kompor yang di atasnya sudah ada panci yang menunggu.


"Baik!!". Jawab mereka lagi bersemangat.


Selama menghias kue, bukan hanya tangan yang bekerja tapi mulut Ryujin sang anakpun tak pernah absen untuk sekedar bertanya atau memarahi Namjoon karna salah menempatkan dekorasi kue.


"Kenapa papa tiba-tiba ingin merayakan ulang tahun?padahal di tahun-tahun sebelumnya setiap papa ulang tahun selalu bilang papa ini sudah tua tak perlu perayaan semacam itu". Celetuknya sambil menirukan gaya Namjoon saat berbicara.


"Loh memangnya hanya anak muda saja yang bisa merayakan ulang tahun? Lagipula kita masih mampu merayakan ini bersama-sama". Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kue yang ia hias.


"Tapi kenapa papa tidak mengundang teman-teman papa juga agar lebih ramai?".


"Tidak perlu, papa hanya ingin merayakannya bersama kalian berdua saja itu lebih dari cukup". Menatap sekilas sang istri lalu beralih menatap putrinya itu dengan senyum tulusnya.


Sang anak hanya membalasnya dengan senyum tak kalah manis dan mengangguk-anggukkan kepala kecil lalu kembali fokus mendekor kue.


Senyum Namjoon perlahan berubah menjadi senyum sendu menatap sang anak yang mulai tumbuh dewasa, menggelengkan kepalanya kecil berusaha menepis pikiran-pikiran buruk itu lalu mengikuti sang anak untuk lanjut mendekor kue ulang tahun yang dibuat istrinya.


.......


.......


.......


"Selamat ulang tahunnn"


Fhuhh


Api di lilin itu seketika padam ditiup saat berakhirnya lagu Selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh kedua perempuan yang ia amat cintai.


Tersenyum dan bertepuk tangan "Yeayyy, ayo potong kuenya papa!". Seru Ryujin sambil menatap dengan tak sabaran kue ulang tahun yang pagi tadi ia dan ayahnya hias bersama.


"Hey sabarlah dulu,bagaimana kalau kita ambil foto dahulu?".


"Ah iya aku hampir lupa,sebentar ya". Ucap So Hee tergesa, lari ke kamarnya. Tak butuh waktu lama ia kembali dengan kamera polaroid ditangannya.


"Chaaa..senyum yang lebar~". Perintahnya semangat seraya menganggat tangannya tinggi-tinggi yang memegang kamera.


Cekrek


Suara khas kamera terdengar,mengambil polaroid tersebut dikibas-kibaskannya hingga gambarnya bisa dilihat sedikit demi sedikit.


"Wahh ini bagus, sejak kapan mama punya kamera seperti ini?".


"Ahh ini, mama memilikinya saat sekolah menengah syukurlah masih bagus".


"Mamamu ini suka sekali memotret Ryu, apapun dia potret dan hasilnya selalu bagus, dia memotret kamu juga saat usia 2 tahun".


"Wahh benarkah? boleh aku lihat?".


"Sesudah makan kue ya, katanya Ryu mau makan kuenya".


"Ah iya aku sampai lupa hehe.. Baik tolong ya". Dengan senyum polos dan menggemaskannya sambil menyodorkan piring meminta sepotong kue.


Tersenyum melihat kelakuan putri semata wayangnya, segera memotong kue dan diletakkannya dipiring sang putri.


"Terima kasihh". Dengan nada menggemaskan "Luar biasa, kue buatan mama memang tak pernah mengecewakan". Sambil menunjukan jari jempolnya lagi menyuapkan kue ke mulutnya hingga penuh.


"Benarkah? kalau begitu tolong isi piringku juga". Pinta sang ayah penasaran. "Hmmmm". Gumamnya sambil memelototkan mata dengan bibir tak kalah penuh.


"Mama kenapa tidak buka toko kue saja? aku dan papa akan bantu, iya kan pa?". Sambil mengalihkan pandangan kepada ayahnya.


Gerakan sang ayah terhenti saat diam-diam mengambil sepotong kue lagi untuk diletakkan ke piringnya lagi. "Ahh ya tentu,akan kami bantu!". Ucapnya bersemangat diakhir.


"Kalian ini". Ucapnya geleng-geleng kepala.Begitulah percakapan keluarga kecil dengan diiringi canda dan tawa mereka bertiga, berharap momen manis seperti ini tidak akan pernah hilang.


Setelah perayaan kecil tadi siang, tak terasa hari mulai berganti dengan gelapnya malam. Dirumah besar menampung tiga kehidupan didalamnya.


"Ryu ayo tidur nak sudah malam".


"Iya ma,sebentar lagi filmnya selesai kok".


"Mama tunggu dikamar kamu ya".


"Iya". Balasnya menatap heran sang ibu yang berjalan menuju kamarnya.


Tak perlu menunggu waktu yang lama film yang mereka tonton sudah mencapai akhir cerita. "Papa Ryu pergi duluan ke kamar ya, mama sudah menunggu". Pamitnya sambil memakan beberapa cemilan lalu pergi tanpa menunggu izin sang ayah.


Mengusak sekilas rambut buah hatinya. "Yaa jangan membuat mamamu menunggu, tidur yang nyenyak sayang". Ucapnya dengan nada yang meninggi agar terdengar oleh putrinya yang sudah pergi ke lantai atas.


.......


.......


.......


Sambil menunggu putrinya, wanita yang dipanggil mama itu mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamar. Bisa dilihat ada polaroid didinding kamar, beberapa poster artis kesukaannya dan gitar, benda favorit putrinya yang diletakkan dipojok kamar dengan sangat rapi.


Disentuhnya benda favorit yang sudah menemani putrinya 3 tahun terakhir ini. Sudah lama ia tidak masuk kekamar putrinya belakangan ini karna pekerjaannya dan Namjoon yang menyandang sebagai detektif.


Beralih melihat 2 foto berbingkai di atas nakas,foto pertama ada anaknya yang sedang bernyanyi dengan gitar kesayangan dipangkuannya. Senyum lebar tercetak disana memperlihatkan bahwa dia menyukainya,anaknya ini suka seni bahkan pernah mengikuti ajang perlombaan bakat seni disekolahnya dan ia mendapat juara pertama di perlombaan tersebut.


Senyum wanita itu merekah mengingat momen manis itu dulu. Dan foto terakhir memperlihatkan keluarga kecil berisikan tiga orang dengan senyum


lebarnya, menggunakan pakaian senada yang menandakan kekompakan keluarga tersebut. Ingat betul itu adalah foto keluarga pertama yang mereka ambil saat Ryujin masih berusia 2 tahun. Sangat menggemaskan,menyesal ia terlalu sibuk dengan pekerjaanya sampai tidak menyadari putrinya tumbuh dengan cepat.


Melirik kesamping melihat sebuah cokelat bertempelan stickynote biru muda dan boneka yang baru pertama kali ia lihat. Kerena penasaran tangannya terulur untuk membaca stickynote itu, sampai satu suara membuat ia mengurungkan niatnya.


Wanita yang dipanggil membalikkan badannya seraya mengelengkan kepala ringan,lalu duduk disisi ranjang sang putri. "Kemari" tangannya menepuk-nepuk tempat kosong disamping kiri tubuhnya,memerintahkan sang anak duduk disana.


Anaknya menurut dengan langkah ceria mendekati sang ibu, diusak rambut anak itu halus penuh sayang sesekali disisirnya menggunakan jemari lentik yang Ryujin rindukan


"Ada yang mau mama bicarakan?".


Benar,dia memang bisa cepat menebak situasi semacam ini. Hey joon anak mu pintar sekali,ralat maksudku anak kita.


Berdehem sebentar lalu menganggukan kepalanya. "Sebelum itu mama ingin bertanya sesuatu...". Matanya beralih ke sebatang cokelat dan boneka yang membuatnya penasaran tadi.


Mengikuti arah pandang ibunya,ia mengerti lalu menjawab "Itu pemberian teman laki laki ku disekolah, mama tidak usah khawatir kami tidak berpacaran". Jawabnya polos.


Ibunya gelagapan. "Tidak bukan itu maksud mama..tapi baguslah tolong jangan melakukan itu ya,Ryu masih dibawah umur". Peringatnya.


"Egm, aku tahu mana yang baik dan buruk untukku ma". Benar kan, Jon aku ingin menangis saja rasanya putri kita benar benar tumbuh dewasa.


Terharu, berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengambil kotak kecil berwana silver mengkilap sedikit usang karna termakan usia yang dibawanya sedari tadi. "Ini,Ryu bilang ingin melihat foto-foto polaroid mama kan?".


Mengangguk antusias semakin mendekatkan diri mencari posisi nyaman. "Lihat,coba tebak siapa ini.......". Bercerita panjang lebar,menceritakan banyak kisah dalam hidupnya dulu dari mulai ia kecil,sampai ia menikah dengan ayah,yang baru pertama kali Ryujin dengar bahkan langsung dari sang ibu.


"Wahh aku baru tahu ini semua,kalian tidak pernah bercerita selama ini".


"Maaf belakangan ini kami selalu sibuk dan kurang memperhatikanmu Ryu, tapi mama rasa ini waktu yang tepat untuk bercerita. Ini sudah malam,untuk yang terakhir.... Ini, jangan dibuka dulu ya".


Pintanya menyodorkan kotak lain yang agak kecil dari sebelumnya persis dengan kotak tadi hanya saja ini terlihat lebih baru dan tidak usang.


"Buka ini saat usiamu 18 tahun Ryujin-a, itu umur yang bagus untukmu memahami semuanya. Tumbuhlah menjadi perempuan pintar dan tangguh, selalu sayangi dan lindungi orang-orang disekitarmu,tetap menjadi pribadimu yang seperti ini, ingat papa dan mama selalu mendukung apapun keputusan yang kau pilih, kami percaya padamu". Ucapnya panjang lebar dengan senyum tulus yang tak pernah luntur.


"Mama, kenapa bicara begitu? tolong jangan seperti ini,apa mama ada masalah? mungkin Ryu bisa bantu sedikit?". Khawatir dengan firasat tak mengenakkan yang akhir-akhir ini selalu ia rasakan.


"Tidak ada.. Sudah Ryu pasti mengantuk cepat tidur, jangan lupa minum susunya mumpung masih hangat". Mengusak rambutnya lagi lalu beranjak pergi. "Tidur yang indah sayang". Ucapnya terakhir kali sebelum pintu itu benar benar tertutup.


Ryujin masih diam memandang kepergian sang ibu,perasaannya tak karuan jadi ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi yang ada dikamarnya untuk cuci muka seraya menggosok gigi dan pergi tidur.


Tanpa tahu, ada seseorang yang menyelinap masuk lewat jendela kamar yang sudah tertutup rapat, dengan cekatan ia masuk sebisa mungkin tanpa membuat kerusakan dan kebisingan. Memasukan serbuk yang ia bawa ke dalam susu yang So Hee tadi buat,lalu pergi begitu saja seolah sebelumnya tak terjadi apa apa.


Setelah menuntaskan keperluanya Ryujin berjalan ke nakas untuk meminum susu buatan ibunya, diteguknya sampai habis tak tersisa lalu pergi tidur merasa matanya seketika memberat. Hingga lelap sepenuhnya, nyaman hingga sepertinya enggan untuk cepat bangun sampai bisa melupakan rasa gundah yang sebelumnya ia rasakan.


Boleh aku tidur agak lama?


Sudah diduga, tapi juga tidak bisa ditebak kapan mereka akan datang. Ini terlalu cepat bahkan tidak ada persiapan apapun sebelumnya, rumah yang begitu rapi sekarang terlihat seperti kapal pecah.


"Kau tahu betul kami akan datang kapan saja. Tapi mengapa tidak ada persiapan sama sekali untuk melawan? atau kau sudah menyerah Detektif Kim?"


"Aku kira kita masih bisa berbicara dengan kepala dingin Wang". Berusaha berdiri tertatih merasa sakit dibagian perut dan juga kaki kirinya.


Cih


"Tidak akan bisa, dendam tetaplah dendam dan itu harus dibalaskan KIM". Sentaknya


"Tuan Wang tolong mengertilah kau hanya salah paham". Tutur So Hee gemetar.


"Bagaimana aku bisa salah paham SEDANGKAN AKU MELIHAT LANGSUNG BAGAIMANA ANAKKU MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI KARNA ULAH MU?!"


"LALU APA YANG KAU MAU?!MEMBIARKANNYA HIDUP DENGAN RASA SAKIT YANG AKAN IA RASAKAN SEUMUR HIDUP?! Ia hanya ingin tenang". Ucapnya So Hee melemah.


"Bung coba pikirkan lagi, ini bukan sepenuhnya salah So Hee ataupun kau. Ini murni keinginan Suji,ini pasti keputusan yang ia sudah pikirkan matang matang". Mencoba menenangkan orang didepannya, bagaimanapun Jackson Wang adalah sahabatnya dari kecil.


"Ini belum terlambat kita masih bisa memperbaikinya".


"...".


"Bung aku tau in-".


"BERHENTI BICARA KAPARAT!".


DOR


ARRGHH


Satu tembakan berhasil lolos oleh Chan,tangan kanan Jackson. Peluru itu menembus paha kanan,berhasil membuat namjoon tersimpuh kelantai dengan darah yang mulai mengalir mengotori lantai putih kediaman keluarga Kim.


"JOON!" Teriak So Hee


"DIAM DISANA!" ancam Jackson dengan suara dingin.


"Dia akan kehabisan darah Wang tolong,tolong jangan seperti ini". Menangis meminta Jackson menghentikan kegilaan ini.


"Sudah ku bilang dendam tetaplah dendam So Hee.." seringainya.


"S-So Hee..". Lirih Namjoon.


"Diam jon j-jangan habiskan tenagamu" ucapnya gemetar,dengan jarak 3 meter dari sang suami ia bisa lihat darah yang keluar dari perut dan kakinya begitu banyak, bibirnya pun terlihat putih pucat.


"Mataku berat So..aku harus tidur,tolong bangunkan aku nanti". Ucapnya pasrah perlahan menutup matanya yang dirasa berat dan mulai menggelap.


Namjoon tewas. Karna tubuhnya kebahabisan darah.


"Tidak jon,TIDAK..TIDAK, JANGAN SEPERTI INI,JANGAN tidak...".


Racaunya, tangisnya kembali pecah memekik pilu siapapun yang mendengarnya terkecuali orang didepannya ini dia bahkan hanya menatap sahabat lamanya itu dengan muka datar tanpa ekspresi.


"Kau terlihat begitu mencintai suamimu itu,bagaimana kalau kau ikut saja dengan suamimu HAHAHAHHA" Tawanya menggelegar memantul dirumah kedap suara ini.


So Hee membelalakan matanya tak percaya,


menengadahkan kepalanya lalu menggeleng cepat. Bukan,bukan ia takut, hanya saja masih ada seorang lagi yang harus ia lindungi saat ini. Ryunjin,Ya anaknya itu masih membutuhkan dirinya.


"Tidak tolong jangan,a-aku minta maaf a-aku yang salah tolong maafkan aku". Menunjuk-nunjuk dirinya kembali menangis.


"Kau hanya akan menjadi penghambat rencanaku". Menatap kosong ke arah So Hee.


DORR


Mematuhi perintah tuannya, Chan tak segan melepaskan satu tembakan lagi.


Tepat dikepala. So Hee tergeletak dengan peluru yang bersarang tepat ditengah dahinya.


So Hee tewas. Menyusul Namjoon yang juga belum lama tadi menghembuskan nafas terakhirnya.


Disisi lain tampak seseorang yang mematung dengan mata yang membesar dan bergetar tanpa berkedip barang se detikpun.


Tak percaya kejadian ini akan ia lihat secara langsung dan terekam apik diotaknya,meremat kuat revolver sang ayah ditangannya.


DOR


DOR