Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Tetap Sadar



"Jack!!" teriak Lily keras. Jack baru bisa sadar, getaran matanya berhenti dan terbuka lebar menatap Lily.


Perlahan air mata jatuh dari mata Jack. Semakin deras seiring Jack perlahan jatuh tersungkur.


Lily mengambil pedang Jack pelan-pelan, dan melemparnya jauh untuk menghindari kejadian tadi. Kemudian memeluk Jack, membelai dari rambut hingga punggungnya. Berusaha menenangkan lelaki berambut merah itu.


"Sshh, ssh, shh ... aku ada di sini. Pria itu tidak akan melukaimu, jadi tenang lah ..." bisik Lily di telinga Jack.


Tangisan Jack perlahan mulai mereda. Mereka berdua tetap di posisi berpelukan. Jack napasnya pun perlahan ikut stabil.


Saat keadaan sudah tenang. Lily bisa bernapas lega, dia ikut ketakutan melihat perilaku abnormal Jack tadi.


"Lil ... apa kamu membenciku?" tanya Jack tiba-tiba. Lily terdiam karena pertanyaan yang mendadak itu.


"Tidak, tidak ada yang membenci Jack, kok." Lily menjawab dengan nada lembut dan masih membelai Jack.


"Apa aku tidak berguna?"


"Tidak, kok. Jack berharga bagiku."


"Apa aku memang pantas kembali pada pria itu lagi?" tanya Jack, terpampang jelas Jack begitu ketakutan dari kalimatnya itu.


Lily menggeleng. "Nggak, Jack lebih pantas di sisi kami."


"Apa aku memang berharga?"


"Iya, seperti batu Ruby."


...**...


"Kenapa jadi auranya cuma kita berdua?" gumam Nereus. Kay juga sudah merasakannya dari tadi. Tapi tetap diam.


"Oh! Ada Rendy dan Lucy yang kembali." Nereus kembali bersuara.


"Pelatih Kay!" teriak Lucy. Rupanya Lucy dan Rendy juga akhirnya bisa merasakan aura orang lain.


Mereka bertemu, Kay penasaran dengan dua orang yang dibawa Rendy dan Lucy itu. Lucy menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami. Nereus mengangguk paham.


"Ya, ini benar-benar Kabut Kematian. Kita harus bisa kuat mental jika mau melewati kabut mematikan ini." Nereus menjelaskan, Miles mendengarnya ketakutan dan mempererat genggaman tangannya pada Rendy.


"Adik Kecil tetap menempel pada Rendy saja, kamu pasti aman." Nereus tersenyum pada Miles, Miles justru bersembunyi di kaki Rendy.


Rupanya di mata Miles, Nereus seperti pria aneh dan mencurigakan.


"Lihat, dia saja tahu betapa tidak menyenangkannya pria satu ini ..." gumam Rendy menyengir.


"Jika dari kabar yang kudengar, Kabut Kematian memilikinya kelemahan suhu panas yang tinggi," jelas Kay.


Rendy menatap Lucy. "Jack!"


"Tapi masalahnya, selain kita berenam. Tidak terasa aura siapa pun. Bahkan Max dan Raven ikut menghilang," ucap Nereus mengeluh dengan helaan napas yang berat.


"Yang pasti untuk sekarang, pastikan diri kita tetap dalam kondisi sadar. Itu sudah cukup membantu, karena tidak akan merepotkan. Oke?" saran Rendy.


"Ya, menurut saya pribadi. Menunggu lebih baik, karena kita tidak mengetahui apa pun di luar sana yang akan kita jumpai. Apalagi dengan penglihatan yang terganggu akan menghambat sekali," balas Kay.


Namun sepertinya di antara berenam itu, hanya Lucy yang merasa tidak setuju.


Ia merasa bahwa ini hanya buang-buang masa, dan dilihat jika ada yang dalam bahaya dan ada yang bisa diselamatkan, seperti Miles dan Ibunya. Lucy semakin merasa ini sungguh pembuangan waktu.


"Apa mereka hanya akan berdiam diri? Lalu baru akan merasa prihatin kepada mereka yang kehilangan? Tanpa berbuat apa-apa?"


Lucy melepas genggaman tangannya dengan Rendy. Membuat Rendy refleks menoleh dan menaikkan alisnya, merasa aneh.


"Aku akan pergi mengecek sekeliling," ucapnya serius. "Kalau kalian tetap akan di sini dan berjamur di sini. Itu pilihan kalian, bukan aku."


"Kau gila, hah!? Apa yang bisa kamu lakukan di keadaan seperti ini?" Rendy menatap tajam. Tentu saja, baginya tindakan Lucy adalah tindakan yang sembrono.


"Bisa saja ada yang membutuhkan pertolongan seperti Miles, kan?" sahut Lucy.


"Ya, aku juga tahu itu. Tapi jika kita bertindak ceroboh, bisa jadi justru kita akan mencelakai mereka!"


Rendy mendengus frustasi. Ia kemudian berjongkok melihat raut muka Miles yang kebingungan, kemudian juga menatap ibu dari anak itu. Mimik ibunya begitu khawatir, bisa dilihat genggaman tangan wanita itu pada anak satu-satunya yang sekarang ia punya, begitu erat seakan tidak mau kehilangan untuk kesekian kalinya.


"Miles, kamu di sini dulu. Kak Lucy butuh Kakak, kamu kan berani, jadi ikut Paman Kay dulu, ya?"


Miles mengangguk kemudian menengok ke Kay, lalu membalas uluran tangan pria itu.


"Sama Paman Nereus juga, sini!" seru Nereus sumringah dengan kedua tangan membuka lebar.


"Kakek." Satu kata dari mulut Miles membuat pria berambut putih itu seketika lesu.


"Nona, siapa nama Anda jika boleh tahu." Kay mengulurkan tangannya juga pada Ibu Miles.


"Saya Rose," jawabnya dan menggenggam tangan Kay.


Nereus segera mendekatkan Miles ke kakinya dan mengangguk ke Rendy, pertanda ia bisa memahami pemikiran Rendy dan akan membantu.


Rendy pun segera berjalan ke arah Lucy tadi menghilang. Mencarinya sebisa mungkin.


...***...


"Mereka semua payah, hanya berdiam diri dan menunggu pertolongan seperti gadis cengeng!" keluh Lucy masih berlari di kegelapan.


"Ya, itu benar ..."


"Tuhkan!" sahut Lucy refleks. Sedetik kemudian, Lucy segera mengambil senjatanya dari sarungnya. Mengambil kuda-kuda seraya memerhatikan sekitar.


"Siapa itu?"


"Lucy!" Melihat ada Rendy, Lucy menghela napas lega dan mengendorkan otot-ototnya yang sudah siap bertarung itu.


Krak!


Tapi seketika es membelenggu tubuh Lucy, membuat senjatanya terjatuh dari kedua tangannya.


"Kau! Kenapa ..." Suara Lucy seketika bergetar, suhu tubuhnya setiap detiknya terus menurun, membuat napasnya menjadi tak teratur.


"Menurutmu kenapa?" Sosok 'Rendy' itu tersenyum tipis, tatapannya begitu dingin seperti kekuatannya yang mengerikan itu.


"Kau! Le-lepas ..."


"Kenapa? Anak dari Athena masa tidak bisa melepaskan diri dari kurungan begitu saja?" remeh 'Rendy'. Lucy menggeram marah.


"Kau, memang betul-betul ketua ti-tidak becus!"


"Oh ya? Kamu mau menggantikanku? Begitu? Kalau begitu hidup dan mati calon ketua ada di sini."


Lucy seketika darahnya mendidih, jantungnya memompa cepat, tubuhnya menjadi panas.


"Haaarrghh!!!" Dengan sekuat tenaga, Lucy berhasil menghancurkan es itu menjadi bongkahan-bongkahan yang nyaris mengenai Sang Pengendali jika saja tidak melindungi dirinya.


"Ya, lawan aku!" teriak Rendy. Tepat sedetik berikutnya, diiringi teriakan menggila Lucy dengan senjata melayang bersama tubuhnya di udara.


"Mati kau!!"


Jleb! Krak!


Dua pedang itu menancap, namun bukan ke daging seperti yang Lucy inginkan.


"Lihat, betapa bodohnya putri dari Athena?" senyum 'Rendy'.


"Cerewet!"


Lucy memijak dinding es itu dan mendorong tubuhnya untuk menarik senjatanya dan menciptakan jarak di antara mereka.


Lucy mengarahkan jarinya ke arah 'Rendy', dan seketika satu pasukan belati tajam terbang memberondongnya. Namun lagi-lagi semua tertahan es. Es itu menari sebentar di udara kemudian membalikkan senjata-senjata itu untuk menyerang tuannya.


Lucy dengan lihai menangkis semuanya, sehingga senjata-senjatanya itu terjatuh ke tanah.


"Pertaruhkan nyawamu di sini, Lucy!!" teriak pria itu.