
Malam hari telah datang, dan begitu juga rencana mereka akan segera dimulai. Benar para guru tidak ada satu pun di gedung sekolah. Dengan kemungkinan mereka mengadakan pertemuan di gedung lainnya. Sehingga gedung sekolah sekarang sepi sama sekali.
"Ingat, lakukan sesuai rencana. Jangan ada yang melenceng," tegas Rendy sekali lagi.
Mike dengan segera meredam segala suara dari mereka untuk menutup kemungkinan terburuk. Sehingga Mike, Lily, Jack, Finne, dan Irine menunggu di pintu menuju bawah tanah agar memastikan semuanya berjalan dengan lancar.
Sementara Rendy, Nereus, Circe, Blue, dan Lucy menuju ke bawah tanah. Awalnya Lucy tidak diminta di kelompok ini, namun dia memaksa.
Dan inilah sekarang, mereka sedang berjalan di tempat yang remang-remang dan agak lembab. Entah apa yang ada di bawah sini, namun yang tepat adalah tidak ada waktu untuk memastikannya.
"Ini terasa seperti tempat yang tepat untuk melakukan trepanasi seperti di film-film, dan akan ada suara jeritan yang bisa membuat jantung ingin lari terbirit-birit," gumam Nereus.
"Hmm! Hm!"
Mereka berlima langsung terdiam dan memandang ke Nereus.
"Kenapa berhenti? Apa kalian melihatku? Aku merasa seperti diperhatikan. Yang jelas suara tadi bukan aku."
Circe menggunakan tongkatnya dan membuat sihir cahaya sebagai penerangan. "Sepertinya itu dari sana," ucapnya mengarahkan cahaya ke sebuah terowongan.
"Ruang bawah tanah ini persis seperti film horor," celetuk Nereus lagi.
"Mau ke sana?" tanya Lucy. Rendy mengangguk. Dan mereka berjalan.
"Hm!" Ada siluet seseorang. Tidak. Sebenarnya 3 orang.
"Pelatih Max!?" kaget Blue melihat ketiga pelatihnya dikurung dalam sebuah penjara dan terikat sebuah segel sihir, serta mulut yang mereka ditutup dengan segel sihir.
Prang
Circe dengan cepat memecahkan segel-segel di penjara, tangan, dan mulut mereka.
"Rendy, kalian seharusnya tidak kemari—"
"Oh, ada tamu?" Tiba-tiba saja ada seseorang di belakang mereka. Saat semuanya menengok, lampu di seluruh ruangan menyala. Menunjukkan siapa orang itu, juga pasukan-pasukannya.
"Itu Ratu Dallas, ya?" terka Nereus tepat sasaran.
"Senang melihatmu masih hidup, Nereus."
"Sapaan yang menyenangkan."
"Stella." Circe melihat orang yang tepat di samping kanan Ratu Dallas.
"Oh hai, Hermione."
"Sagitarius, Aquarius, Aries, Gemini, Leo, dan Capricorn? Mana enam lainnya?" tanya Rendy.
"Oh iya, di mana mereka ya?" senyum Ratu Dallas melihat ke arah jalan masuk.
...***...
"Kita tidak akan pernah bebas dari semua masalah ini, iya kan?" Lily dari tadi tidak berhenti dengan ocehannya.
"Lily, tenang ..." Jack sudah berulang kali mencoba untuk menenangkan Lily. Tapi tidak berpengaruh.
"Bagaimana jika mereka tahu kita sedang di sini? Ini akan menambah dan memperumit masalah yang ada!"
"Bisa kau diam!? Aku sedang konsentrasi!" bentak Mike.
"Ah ya, benar. Ini semua bermula pada saat kita lahir."
"Lily, kamu harus tenang ... kita harus percaya pada teman-teman kita." Finne meyakinkan Lily. Lily justru mengerutkan alisnya ke Finne.
"Kau. Yang paling tidak bisa dipercaya. Aku muak dengan melindungi yang lebih lemah. Contohnya, kau!"
"Hei, hentikan! Lily justru kau akan mengacaukan semuanya!" lerai Mike.
Brukh!
"Ukh!" Tiba-tiba saja Irine terpental dan menabrak Mike.
"Semua sudah kacau dari awal," ucap Irine memegangi perutnya.
"Sial, gara-gara kalian aku tidak bisa mendeteksi kedatangan musuh."
"Kalian berenam urus mereka, bunuh juga tidak masalah. Aku tidak suka hama." Seseorang mendekat dengan rekan-rekannya. Tidak lain adalah enam zodiak yang tersisa.
"Halo, perkenalkan aku Sere Sang Libra," lanjut orang itu tersenyum.
...***...
"Hidup atau mati terserah, yang penting tidak menghalangi kan?" tanya Stella dengan tatapan tajam ke Circe.
"Ya, itu benar." Ratu Dallas menjawab santai.
"Kau yakin, Stella?" tantang Circe dengan Mageia cukup besar di sekujur tubuhnya. Tak kalah dengan Stella yang ingin menandingi Sang Opiuchus.
"Circe ..." Rendy menahan Circe dan pertarungan di antara mereka berdua terhindarkan, entah mungkin untuk sementara waktu.
"Apa kalian tidak menyadari ada dua aura Zodiak yang hampir sama di sini?" tanya Rendy.
"Apa maksudmu?" bingung Lucy.
"Tidak, itu Sang Ratu sendiri," jawab Circe menatap orang yang ia maksud itu.
"Ah, kamu belum memberitahu mereka?" kekeh Ratu Dallas.
Benar, Eloisa Dallas. Adalah generasi penyihir Zodiak sebelumnya. Ia adalah Zodiak Opiuchus sebelumnya.
"Karena ... aku lah anak kandung yang sebenarnya," sambung Circe dengan wajah yang masih tidak percaya akan kenyataan yang dia dapatkan itu.
...***...
"Lihat, lihat ..." ujar Sang Pisces ke Finne dengan menaikkan dagu Finne.
"Dia bau murid buangan?" sahut Sang Virgo.
"Hahaha, iya."
"Coba lepas segel mulutnya," usul Yara, Zodiak Taurus.
"Jangan memerintah, lakukan sendiri!" tolak Sere dengan bentakan.
"Kalian ini tidak mau hiburan, hah?" Sera mendekati Finne yang mencoba untuk menghindari sentuhannya. Namun tidak guna, karena dia terikat dan tak dapat lari ke mana-mana.
Tersenyum puas, Sang Scorpio makin mendekat dan melepas segel mulut Finne.
Mike yang tak terima mencoba untuk memberontak untuk kesekian kalinya.
"Apa kamu merasa tidak guna, Kelas B? Merasa jadi beban kelompokmu, huh? Hihihi, aku prihatin padamu." Perempuan itu menunjukkan mimik meledek ke Finne.
"Setidaknya ..."
"Apa? Setidaknya apa?"
"Aku percaya mereka."
"Percaya ke teman-temanmu? Memangnya kamu percaya pada kemampuanmu? Dasar benalu!"
Mike makin memberontak terus-menerus. Salah satu dari mereka, Isla Sang Cancer memutar bola matanya.
"Sera, kamu lebih baik duduk dan menunggu perintah berikutnya dari Yang Mulia Ratu."
"Kenapa? Aku hanya bersenang-senang." Mendengar hal itu Isla kembali memutar matanya.
"Ya, benar. Begitu saja terus, barangkali kau bisa menemukam otakmu di belakang matamu itu!" sarkas Sera memicu emosi dari Isla.
Tiba-tiba saja ada suara ledakan dari bawah tanah. Lantai, tembok, langit-langit retak dan mulai runtuh. Membuat semua gadis-gadis penyihir itu menjerit ketakutan dan panik.
...***...
Dalam kurang dari 1 menit, gedung sekolah telah rata dengan reruntuhan yang sebagai hasilnya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Salah satu bongkahan bangunan tergelimpang dan terlihat Jack yang terbatuk-batuk karena ada pasir yang masuk ke mulutnya.
Berkat runtuhnya sekolah, segel sihir Jack bisa pecah karena kemungkinan adalah Si Penyegel tidak peduli lagi dengan mereka. Tentu saja dalam keadaan seperti ini mereka lebih mementingkan nyawa mereka dahulu.
"Teman-teman!" teriak Jack. Semua yang terlihat adalah reruntuhan dan sepinya malam. Seakan tidak ada yang peduli jika ada salah satu bangunan telah runtuh.
"Apa benar guru-guru rapat?" gumam Jack. Seketika dia terdiam dengan mata membelalak tanpa berkedip sama sekali.
"Ra-ratu Dallas?" ucap bibirnya refleks.
Ratu Dallas terlihat diselimuti aura bercahaya ungu. Dan beberapa orang di sekitarnya berusaha melindungi teman-teman mereka masing-masing.
"Kenapa yang terkuat tidak boleh memimpin!!?" amuk Eloisa.
"Aku! Opiuchus! Tidak boleh diperintah! Akulah yang memerintah!"
"I-Ibu! Hentikan!" teriak Stella berusaha memperkuat sihir pelindungnya.
"Stella!!" panggil Circe agak jauh karena terpisah oleh aura sihir Eloisa.
Stella berusaha melihat arah panggilan itu. Mereka berdua berkontak mata.
"Kita hentikan dia!" ucap Circe dengan suara lantang.
"Kau bercanda!? Siapa kau!? Kita ini musuh, bodoh!"
"Kau yakin di saat seperti ini mau dengar sebuah kisah dulu, hah!!"
...***...
"Rendy!!" teriak Nereus.
"Aku tepat di depanmu, Pak Tua."
"Oh, oke. Habis aku dengar semuanya berteriak-teriak. Jadi kupikir semuanya terpencar."
"Kalian, berusaha melawanku!? Aku sudah sangat berpengalaman sebagai Opiuchus!" Eloisa masih mengamuk dengan aura yang dahsyat di sekitarnya.
"Bagaimana kita melawan dia?" tanya Blue masih mempertahankan penggabungan kekuatan antara dia dan Rendy untuk memperkuat perlindungan mereka.
"Aku juga tidak tahu," jawab Rendy. "Aku sedang berpikir."
"Berpikirlah yang cepat!" tuntut Lucy yang ternyata di belakang Blue tepat sedang berpegangan padanya.
"Aku masih berpikir mengenai pesan Principal Ell mengenai 'segel pohon'."
"Segel pohon?" ulang Lucy.
"Maksudmu Kelas Druid? Siapa yang di kelas Druid?" tanya Nereus.
"Lawfinne!"