Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Back To Home



"Baiklah, semuanya sudah siap kan?" tanya Max dengan penuh semangat.


"Dalam hitungan ketiga kita akan menekan tombolnya, oke?" lanjut Max.


Max mulai menghitung, "Satu, dua, ti-"


Rendy, Lucy, Jack, dan Lily sudah menghilang karena menekan tombolnya lebih dahulu.


"Sepertinya kamu harus bilang tepat di hitungan ketiga atau setelah hitungan ketiga," saran Raven. Max hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian semua menyusul teleportasi menuju Halfen Island. Kembali ke rumah.


...*...


Saat tiba di Halfen Island, mereka semua bukannya mendapatkan kota yang dirindu-rindukan, namun hanya kabut sejauh mata memandang.


"Teman-teman?" panggil seseorang, dari suaranya bisa diketahui itu suara dari Jack yang kebingungan.


"Kenapa kabutnya bisa setebal ini? Ini tengah kota bukan?" gumam Lucy.


"Hei, Lucy. Kemarilah! Jangan berpencar!" seru Rendy. Lucy mendengar itu langsung mengikuti arah suara Rendy, tentu semuanya hanya bisa dengan insting.


"Rendy? Hei, Rendy!"


"Aku di sini, jangan berpencar untuk sementara."


Rendy dengan segera langsung memegang tangan Lucy begitu Lucy terlihat di antara kabut tebal ini.


"Semuanya! Usahakan jangan berpencar! Berkelompok!" teriak Max memberi arahan.


"Kalian payah, terbiasa menggunakan penglihatan." Nereus di saat seperti ini sama saja dengan hari-hari biasanya. Tentu saja.


"Tuan Nereus, lebih baik Anda ikut saya saja." Kay yang tahu Nereus di sebelahnya tepat langsung menarik pria itu dan berjalan entah ke arah mana.


Nereus yang tidak tahu letak denah, hanya diam ditarik. Walau ia tahu, Kay untuk saat ini tentu juga hilang arah. Tapi setidaknya ada teman dan kelompok, begitu pikirnya.


"Kenapa kota jadi begini?" tanya Lucy. Rendy tentu juga tidak tahu apa-apa. Begitu mereka semua secara bersamaan pulang, keadaan sudah aneh begini.


"Kalian masih di dekat sini, kan?"


"Ya!" jawab semuanya serentak menjawab pertanyaan Raven.


"Tetap di sini sampai ada jawaban dari Pusat Halfen Laboratorium!" perintah Max. Max tetap berusaha menghubungi Halfen Laboratorium atau pihak Balaikota.


Namun setelah beberapa kali suara dering yang tidak terjawab, tiba-tiba suara berganti jeritan yang entah dari arah mana.


"Apa itu?" Jack yang tahu ada sesuatu yang salah langsung berlari ke sembarang arah yang menurutnya adalah asal suara itu.


Max yang mendengar langkah kaki berlari dan suara Jack langsung berteriak, "Jack! Jangan berpisah!"


Lily yang di sebelahnya yang tahu Jack berlari, khawatir dan mengikuti Jack tepat di belakangnya.


"Aku akan urus Jack! Tetap hubungi siapapun!" sahut Lily dan siluet mereka menghilang ditelan kabut.


"Apa benar kita berada di tengah kota?" tanya Lucy sekali lagi.


Rendy hanya menggeleng tidak tahu. "Aku juga merasa aneh. Apa kita di taman?"


"Kita sepertinya di hutan di Emerald District," lanjut Rendy berusaha mencari sesuatu dari tanah tempat mereka berpijak.


Di tanah ada banyak dedaunan yang gugur. Dan yang pasti, tak jauh dari mereka ada semacam bayang-bayang panjang besar di depan mereka yang terlihat seperti batang pohon beserta cabang-cabang yang menempel.


Rendy perlahan-lahan dengan menapakkan kakinya sedikit demi sedikit menuju ke pohon itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucy sedikit penekanan nada.


"Agar tidak jatuh ke lubang?"


"Tidak, bukan itu maksudku! Tapi kita tidak boleh berpisah, kan?"


"Aku tidak mau dimakan predator. Bisa saja kita ternyata benar di tengah hutan alam buatan Emerald District, kan?"


...*...


"Aku punya firasat buruk mengenai kabut yang sangat mengganggu ini," celetuk Nereus tetap diam dengan tangan yang masih digenggam erat oleh Kay.


Di sini, Kay terlihat seperti penjaga orang tua. Benar-benar mirip.


"Aku pernah dengar rumor di suatu desa, bukan desa manusia tentunya."


Kay tetap diam mendengarkan, tidak merespon.


"Kabut yang suka menyesatkan, kabut yang menggali kembali segala masa lalu kelam setiap orang, penuntun kepada kematian."


"Maksud Anda legenda tentang Kabut Kematian?" tanya Kay menebak-nebak.


"Iya, Fog of Death."


...**...


"Kau dengar sesuatu?" bisik Rendy ke Lucy, yang di belakangnya tepat. Tepat menempel pada punggungnya. Terlihat seperti ketakutan, namun jika kau mencoba bertanya. Kau akan kena omelan tentunya.


"Sesuatu apa?" Lucy menajamkan pendengarannya. Dan benar saja, ada suara berontak seorang anak kecil, juga tangisan seorang wanita.


"Dari mana suara itu?" Lucy mencoba menyipitkan matanya, barangkali bisa melihat lebih jauh daripada hanya sekitar beberapa langkah kaki.


"Kurasa dari sana," tunjuk Lucy ke suatu arah.


Rendy dan Lucy dengan segera berjalan perlahan ke arah itu. Dan begitu mengejutkan ketika suatu siluet muncul dan semakin mereka mendekat semakin jelas.


"Astaga!"


Seorang anak kecil laki-laki menahan mata pisau yang dipegang seorang wanita, dan mengarah tepat ke leher wanita tersebut. Tangan anak itu sudah berlumuran darah, matanya penuh dengan air mata yang mengalir deras. Entah sudah berapa lama anak tersebut merasakan semua rasa sakit itu.


Lucy tanpa pikir panjang segera memukul tangan wanita itu, sehingga pisau yang dipegangnya terpental. Dan langsung mengunci segala pergerakan wanita itu.


Anak laki-laki yang melihat wanita tersebut merintih kesakitan karena tekanan dari kunci Lucy yang mengencang, meminta untuk Lucy berhenti.


"Jangan sakiti ibuku! Dia tidak sadar!" teriaknya menarik-narik tangan Lucy agar melepasnya.


"Hei, hei ..." Rendy memeluk anak kecil itu dan berusaha menenangkannya.


"Lucy, lepas saja. Tali tangannya untuk mengurangi risiko yang akan terjadi." Lucy langsung menurut.


Namun tepat sebelum akan ditali, wanita itu tiba-tiba saja menarik napas yang dalam dan terengah-engah. Ia langsung memeluk anak laki-laki yang adalah putranya itu. Mereka menangis cukup lama bersama.


"Kakak-kakak, terima kasih ..." ucap Anak Lelaki itu.


"Tak apa, tapi kemarilah dulu. Akan kuobati lukamu," ucap Rendy lembut agar anak itu tidak ketakutan. Dan anak lelaki itu mendekat, menunjukkan tangannya yang ada luka cukup dalam.


Rendy segera merapalkan sihir penyembuhnya. Anak itu tentu saja berdecak kagum.


"Kakak itu Demi-God yang katanya sedang melakukan tugas-tugasnya itu, ya?" terkanya. "Namaku Miles! Dan dia ibuku"


"Aku Rendy, dan dia Lucy." Lucy hanya melambaikan tangannya dan tersenyum, kemudian lanjut mengobati ibu Miles.


"Kakak perempuan itu seram ..." bisik Miles di telinga Rendy. Rendy hanya bisa menahan tawanya sebisa mungkin. Lucy memberikan tatapan tajam nan jengkel pada dua lelaki itu.


"Wah! Tanganku benar-benar sembuh!" kagum Miles sekali lagi.


"Umurmu berapa, Miles?" tanya Rendy. Miles menunjukkan jari-jarinya dan menunjukkan bahwa umurnya 9 tahun.


"Kau cukup berani untuk aksi tadi," puji Rendy mengelus kepala Miles. "Ya, walau aku agak bingung. Bisa kau ceritakan kejadiannya pada Kakak?"


Miles mengangguk dengan sedikit ragu, terlihat tumbuh rasa trauma dari raut wajahnya.


"Kau tidak perlu memaksakan diri, Miles."


Miles menggeleng, dan raut wajahnya menjadi serius dan penuh tekad. "Tidak! Aku tidak mau ada korban lagi! Kakak Rendy dan Kakak Lucy harus tahu ceritanya agar bisa menyelematkan semua orang!"