Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Kematian



Dari dinding itu muncul banjir bandang yang besar, membuat Akhlis terombang-ambing di dalamnya. Akhlis terbang ke ata langit.


Namun semakin dia ke atas, semakin dinding-dinding air itu mengejarnya dan begitu juga banjir itu.


Nereus berdiri mengendalikan semuanya di puncak dinding. Dan memandang rendah wanita yang akhirnya juga terkejar bahkan berhasil ia lampaui di ketinggian angkasa itu.


Semudah membalikkan tangan? Ya, begitulah Nereus membuat Akhlis tenggelam di dalam air.


"Hiyaa!!" Akhlis berhasil lepas dari air itu.


Mereka memang tidak ke mana-mana hanya di area yang telah dibuat Nereus. Itu untuk menghindari korban jiwa lainnya. Ia tidak mau kehilangan lagi, itu saja tujuannya.


"Chaos, beri aku kekuatan!" teriak Akhlis.


"Dia tidak suka wanita jelek, mati kau!"


Makhluk yang dikisahkan dalam legenda Perseus. Kraken.


Dengan air Nereus menarik Akhlis. Dan ditelannya Akhlis oleh Kraken buatan Nereus berupa monster air yang menyerupai makhluk legenda itu.


Nereus mengatupkan kedua tangannya yang membentuk mulut. Pertanda Akhlis benar-benar dilahap sepenuhnya oleh monster miliknya itu.


"Ayah! Sudah cukup!"


Nereus melihat ke bawah. Rendy rupanya telah sadar, dan basah kuyup.


"Apa aku mengganggu tidurmu, Nak?" tanya Nereus, ia memandang Rendy sebentar kemudian menutup matanya kembali.


"Begitulah, kau mengganggunya tadi. Dengan bermain air."


Nereus menatap putranya itu. "Mirip sekali dengan Anemoi," gumamnya tersenyum.


"Hah?"


"Kapan-kapan akan kuceritakan di dongeng malam," kekeh Nereus.


Rendy tak memedulikan Ayahnya itu lagi, dan membantu Lucy yang telah lepas dari kekuatan Akhlis.


Walau pengaruh Akhlis telah dipatahkan, namun kabut tak kunjung menghilang. Tetap konsisten dengan keadaannya dari tadi.


"Kita tunggu saja," ucap Nereus duduk di salah satu batu besar.


"Hah? Kau bercanda!?"


"Rendy, cobalah percaya pada anggota-anggotamu." Nereus tersenyum.


"Ya, Ayahmu benar. Kita harus percaya pada mereka."


...**** ...


Begitu sampai di kota Indonesia, tepatnya di dekat Balaikota Indonesia. Keadaan begitu hening. Hanya ada beberapa konstruksi bangunan yang sedang diperbaiki dengan alat-alat berat yang tak ada pengendalinya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


"Kalian terlambat."


Seseorang mendatangi mereka. Itu Thalita.


"Kalian ... bodoh!" Dia berjalan pincang. Kemudian jatuh karena tak kuat menopang tubuhnya lagi.


Mike menopangnya. Napas Thalita mulai stabil. Dia terlihat tenang walau ada luka besar di lehernya dan panjang dari dada hingga perutnya.


"Hei ... rambut hitam. Aku lupa namamu." Suara Thalita lirih.


"Aku ... punya kakak, kemungkinan kalian sudah menemuinya saat petualangan ..." bisiknya tepat di telinga Mike yang di dekatnya.


"Aku ... tidak. Katakan saja padanya, aku sudah berhasil mewujudkan mimpinya. Aku ingin dia segera pulang. Jika waktunya tiba, aku akan menceritakan semuanya. Aku janji."


"Kita akan bermain petak umpet, kita akan bermain permainan papan, catur, piano, harpa, bermain rumah-rumahan, berkemah, mendaki gunung. Lalu ... yang paling kuinginkan, menciptakan mesin waktu. Kuharap aku bisa memutar balik waktu dan menatap wajahnya lagi. Aku begitu ... mencintaimu, kak—"


Napas terakhir Thalita terhembus. Dan tangannya lemas jatuh ke tanah.


Matanya yang hitam mengkilap, telah padam. Sang Ilmuwan yang terkenal tidak sopan, dan menyebalkan. Meninggal.


Mike segera menutup mata Thalita dan meletakkannya dengan lembut ke tanah. Berdoa untuknya.


"Aku akan berikan pesanmu, sudah kurekam suaramu dengan kekuatanku. Aku akan menyampaikannya pada kakakmu. Aku janji."


"Mike, ayo!" Lily menarik Mike dari duduknya.


Menelusuri balaikota tak mudah, beberapa staf yang ada di sana karena pekerjaannya telah tergeletak bertumpukan di lantai.


Sampailah mereka di kantor Locius. Walikota itu duduk termenung di meja kerjanya. Tak berkutik sama sekali.


"Kalian ... telah gagal menjadi pelindung."


...**** ...


Kay, Miles, dan Roses, Ibu Miles akhirnya bisa menemukan Nereus, Rendy, dan Lucy.


Itu karena air raksasa yang begitu menarik perhatian karena sejumlah Avra yang mengerikan itu.


"Ya, aku ingin memulihkan Avra-ku dulu. Takut saja ke kota akan menemui musuh lagi, kan?"


"Avra-mu masih banyak, Pembohong!" bongkar Rendy.


Nereus tertawa kecil. "Baiklah, untuk berikutnya. Kalian lebih baik ke benuanya para Demon. Dan menemukan spirit kalian di sana."


"Hah?" kaget Lucy.


"Sebentar lagi akan terjadi perang, itu sudah jelas. Jadi semakin cepat tugas kalian selesai, semakin baik, bukan?"


"Kenapa ke sana?" tanya Lucy.


"Kau bodoh, ya? Di sana aku mendapatkan spiritku," jawab Nereus.


"Bukankah seharusnya ke Holy Island, ya?" ralat Rendy. Kay mengangguk.


"Di sana payah-payah!"


"Maksudmu?" Rendy mengerutkan dahinya ke ayahnya itu.


"Spiritku dari Holy Island sudah tiada. Jadi aku mengambil dari ras Demon," jelas Nereus.


"Ba-bagaimana bisa?" Lucy terlihat curiga pada Nereus.


"Atau ke area bebas?" usul Nereus.


"Maksudmu Bustam City?"


"Yep!" sahut Nereus membenarkan terkaan Rendy.


"Itu melanggar hukum, tidak diperbolehkan mengambil roh yang telah ternodai!" tegur Kay.


"Jadi, maksudnya semua yang ada di Bustam adalah orang jahat?"


"Jelas, di sana adalah pembuangan makhluk-makhluk kotor! Tak berguna!" imbuh Lucy.


"Kalian akan menarik kata-kata kalian begitu sampai di sana. Mereka adalah orang-orang terbuang, bukan dibuang. Maka dari itu, mereka sebenarnya ternodai oleh kepercayaan yang dikhianati."


Tentu saja, penjelasan Nereus sama sekali tidak didengar. Itu omong kosong, begitulah pikir mereka.


Bustam City begitu terpencil di muka bumi. Di sana kumuh dan tingkat kriminalitas sangat tinggi. Beberapa ras terkumpul di sana, termasuk ras para arwah terutama roh negatif atau Demon. Juga para Half-Demon alias siluman atau juga Beast.


Beberapa ras suka berkunjung ke sana, karena perdagangan gelap.


Bagai sisi gelap dunia yang lainnya.


"Jangan bilang kamu pernah ke sana?" tanya Rendy. Nereus mengangguk.


"Pantas otakmu tak beres," lanjut Rendy kemudian duduk.


"Yah, coba saja ke Holy Island kalau mau. Hanya namanya saja yang suci, tapi di sana menjijikkan dan penuh kemunafikan!" Nereus bangkit dan menjauh.


Dia terlihat begitu kesal.


"Ada apa dengannya?" tanya Lucy ke Rendy. Rendy hanya menggeleng, kemudian menatap Miles kecil.


...**** ...


"Banyak yang telah berguguran."


Locius bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke arah keenam remaja dan pemuda itu. Menatap mereka begitu kecewa. Kesedihannya begitu mendalam.


"Astrid, dia meninggal. Kami kehilangan banyak, dan kalian tak ada di sisi kami. Aku sudah berusaha menghubungimu, Raven. Beratus-ratus kali!"


Raven tertunduk, dia berlutut dan meminta maaf.


"Maafmu tak bisa mengembalikan semuanya, Raven! Semuanya tak bisa hidup kembali! Mereka menyerang pertama kali balaikota ini, aku tahu di luar sana juga mulai mengalaminya."


Raven mendekatkan kepalanya ke kaki Locius. Mengharapkan ampun dari pemimpinnya itu. Seorang pria yang membesarkannya juga.


"Aku telah dikecewakan." Locius menatap datar ke arah mereka. "Pergi kalian dari kantorku. Aku tak mau melihat wajah kalian."


"Tuan Locius?" Max yang baru siuman. Mendengar hal itu terkejut bukan main.


"Max, kamu yang paling bisa kupercaya. Tapi kau mengkhianati tanah kelahiranmu sendiri."


"Kami mengalami kesulitan sendiri, Anda harus memahami—"


"Diam! Kau tak berhak untuk memberi alasan!" bentak Locius.


Max seketika kosong, pikirannya tak merespons satu patah pun. Hanya terngiang-ngiang bentakan pria yang begitu berarti bagai ayah untuknya.


"Ini pasti ilusi juga, Akhlis sialan itu pasti yang membuat ulah ..." gumam Max mulai kehilangan kontrol.


"Max, tidak. Ini nyata. Ini benar." Raven memeluk Max.


"Raven, bawa mereka keluar."


Raven mengangguk dan memberi tatapan yang penuh perintah pada keempat remaja itu.