
Kalian sudah mengetahui sebagian besar rahasia bahwa ada banyak eksistensi selain manusia di dunia ini. Bermula dari para remaja keturunan dewa.
Demi-God.
Dewa, ras yang bermacam, juga salah satunya manusia.
Namun, menurut legendanya dikatakan bahwa ada yang namanya Dewa Awal atau Protogenoi.
Chaos, Sang Kekacauan atau Ketidak-beraturan. Dan Phanes, Sang Kehidupan. Dari situlah muncul Gaia, Tartaros, Eros, Nix, dan Erebos.
Chaos juga diterangkan sebagai "bukan massa kasar dan tercerna, gumpalan tak bernyawa, ketinggalan zaman dan tidak dibingkai, dari benih menggelegar dan Kekacauan adil bernama".
Chaos, kekacauan. Makhluk yang menyukai kekosongan yang tercipta dari kekacauan, kehancuran, penderitaan, dan percekcokan.
Itu adalah makanannya. Hobinya. Passion-nya. Hal yang paling disukainya.
Dalam waktu yang lama, keberadaannya telah menghilang. Itu karena serangannya dengan rivalnya, Phanes. Saling membinasakan satu sama lain.
Namun, ternyata ... Hades, Sang Dewa Alam Kematian menginginkan keberadaannya dimunculkan lebih cepat. Entah apa tujuannya.
Segala roh, jiwa, nyawa makhluk hidup yang tak bersalah dikumpulkan satu per satu untuk ritual menghidupkan makhluk yang seharusnya tetap mati.
Tak ada seorang pun yang tahu.
Jika Sang Kekacauan akan muncul. Maka alam yang begitu seimbang, membuat Sang Pembawa Cahaya, Sang Kehidupan, bereinkarnasi.
Tak lama setelah itu, pertumbuhan Demi-God setelah bertahun-tahun terakhir, dimulai.
Seakan alam mempersiapkan sesuatu. Sesuatu 'ini', hal yang di-trauma-kan semua ras, segala ras di penjuru dunia. Di-trauma-kan, bahkan sebelum terjadi.
Yang membawa penderitaan, kekacauan, kelaparan, kesengsaraan, percekcokan besar yang dahsyat. Namun dari situ, kedamaian bisa terjadi. Bagai sebuah paradoks.
Namun benarkah ini jalan yang terbaik? Atau ... ini adalah yang direncanakan Sang Kekacauan itu sendiri?
...*...
...*...
...*...
"Kalian tentu mau 'kan dapat Artefak dalam waktu kurang dari satu semester, hehe?"
"Maksudmu?" tanya Jack yang sama sekali tidak paham arah pembicaraan sedari tadi di perpustakaan ini.
"Orang bodoh harap pergi." Lily mendongakkan dagunya dan menatap tajam ke arah Jack.
"Jack, kau cukup dengarkan perintah dan jalankan saja!" tegas Blue.
"Kalau begitu dia bisa-bisa jadi tidak paham kondisi, dan justru jadi batu sandungan untuk kita," jelas Mike.
"Lalu bagaimana caranya agar dia bisa paham, hah?"
"Blue sabar lah. Ini diskusi bukan perdebatan," lerai Nereus. Blue langsung duduk manis walau matanya masih menatap tajam.
"Yah, kurasa Blue benar. Lebih baik aku diam dan menjalankan perintah." Jack tersenyum.
"Bagus, bisa kita lanjutkan?" tanya Rendy.
"Tentu saja, kita tidak punya banyak waktu." Irine menyetujui dan penyusunan rencana dilaksanakan.
"Kita tentu saja akan memilih mencuri Artefak Sihir secara paksa. Lalu menolong Circe, tepatnya menepati perjanjian dari kerja sama kita," jelas Nereus mengawali.
"Aku ada pertanyaan, kenapa orang tua Circe dibunuh? Dan dengan siapa?" tanya Lucy.
"Alasan tidak diketahui. Oleh Ratu Dallas," jawab Nereus dengan menirukan suara robot.
"Aku tidak menyukainya," spontan Lily.
"Menurut informasi dari Circe." Rendy menunjuk Circe yang ternyata dari awal melihat dari meja sebelah.
"Sekitar tiga puluh artefak ada di bawah tanah akademi ini," jelas Rendy. Semuanya reflek melihat ke arah lantai.
"Sekolahan apa yang punya ruang bawah tanah, hah?" oceh Blue.
"Pelatihan Demi-God kita di bawah tanah, kan?" balas Lily menaikkan alisnya.
"Nona pahamilah perbedaan kata 'berada' dan 'ada', oke?" kesal Blue.
"Memangnya kamu bisa memahaminya?" tanya Lily dengan nada meninggi.
Lily dan Blue menjadi adu mulut. Perpustakaan yang sepi sama sekali menjadi ramai. Untungnya hari ini penjaga perpustakaan tak masuk. Jika tidak semuanya jelas sudah diusir.
Rendy yang tak sanggup lagi memijat keningnya sambil keluar ruangan diam-diam, tanpa disadari semuanya. Kecuali Finne.
"Uhm, teman-teman ..." lirih Finne.
Tentu saja para remaja yang sedang saling cekcok itu tidak mendengar.
"Teman-teman?"
Nereus dan Circe hanya bisa menghela napas, hingga menunggu semuanya menjadi tenang.
"Teman-teman!!" teriak Finne untuk pertama kalinya sepanjang tahun mereka semua bersama. Dan itu berhasil membuat keadaan hening dan tenang.
"Rendy keluar," lanjut Finne.
"Ini semua salahmu, Blue!" tuduh Lily.
"Bagaimana bisa aku?" elak Blue. "Jelas sekali kamu!"
"Apakah tidak salah kalian semua?" sambung Nereus.
"Ya, Tuan Nereus benar." Finne menambahkan.
"Jadi, mau dilanjutkan tidak?" tanya Lucy.
"Tapi Ketua?" ucap Jack melihat arah pintu.
...*...
Rendy duduk di bangku halaman, menghirup udara segar. Baru disadarinya, ternyata tidak mudah sama sekali untuk menjadi seorang pelindung.
Dia memang sudah memahami tanggungan menjadi Demi-God. Tapi baru begitu terasa sekarang ini.
"Rendy!" sapa seseorang mendekat.
"Principal Ell?"
"Ya, bagaimana hari-hari skors-mu?" sindir Principal Ell. Rendy hanya tersenyum dan terkekeh kecil.
"Berkat Anda, menjadi lebih buruk."
"Hahaha!" Principal Ell kemudian tersenyum. "Aku tahu apa rencanamu selepas ini."
"Anda benar-benar seperti cenayang. Saya memuji."
"Ya, kuanggap itu pujian saja. Kuberitahu satu hal, segel pohon. Salah satu temanmu sangat berguna dalam hal itu. Dan kuharap kita bertemu lagi lain kali."
Principal Ell kemudian pergi setelah mengucapkan hal itu. Rendy hanya bisa kebingungan dengan ucapan Kepala Sekolah Wanita yang terkenal jenius itu.
Dirasa sudah cukup angin yang telah ditemukan Rendy, dia kembali ke perpustakaan. Tapi ternyata teman-temannya justru sudah bubar. Dan tinggal Circe yang duduk manis dengan sebotol susu juga buku di mejanya yang sedang ia baca. Melambaikan tangan. Dan kembali membaca lagi.