
"Hah! Akhirnya!" Stella dan Circe menghela napas setelah perjuangan yang begitu besar.
"Fakta apa?"
"Orang tua kita."
...****...
"Ell, kau yakin?" tanya Eloisa, atau Lois.
"Kenapa? Kau takut?" sindir Raphaelly, atau biasa dipanggil Ell.
Gadis penyihir yang jenius, calon penyihir agung masa depan. Yang juga terkenal bandel. Inilah masalahnya. Dia kurang bisa fokus, dan suka bersenang-senang.
"Aku tidak takut! Aku kuat! Dan aku ingin jadi ratu!"
"Oke, oke. Aku tidak akan mengelak impianmu itu. Aku tidak mau meruntuhkan mimpi sahabatku."
"Lagipula, secara keturunan aku lebih kuat darimu!"
"Tentu, kamu anak dari Opiuchus. Dan besok adalah pelantikanmu sebagai salah satu penyihir Zodiak."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Mempermalukan kepala sekolah di acara pelantikan," jawab Ell dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Siapa yang ingin kalian permalukan?" Tiba-tiba saja orang yang dibicarakan muncul di belakang mereka.
"Sepertinya kita ketahuan," gumam Lois mematung, begitu juga Ell.
...****...
Begitulah kedua sahabat itu. Mereka suka bermain, menjahili guru mereka karena merasa mereka yang terkuat dan terhebat. Tak salah, karena memang itu realitasnya.
Keduanya juga tentu punya mimpi masing-masing. Eloisa ingin menjadi Ratu Penyihir karena kekagumannya terhadap ratu sekarang.
Lalu Ell ingin mendirikan sebuah sekolah sihir di mana ia bisa membuat semua orang menjadi kuat.
Tapi semua masa bahagia itu berubah drastis ketika ada aturan bahwa Opiuchus tidak diperbolehkan menjadi pemimpin. Itu karena ibu Lois yang adalah pemimpin keamanan kerajaan berkhianat.
Lois begitu kecewa, dia amat sangat kecewa pada ibunya. Dan perasaan gelap tertanam di hati dan pikirannya mulai saat itu.
"Lois, kita sudah dewasa. Kau sudah berkeluarga, hentikan rencana gilamu ini!"
"Kenapa? Kau bisa berkata begitu karena mimpimu sudah terwujud! Tidak denganku!"
"Lois ... kumohon—"
"Ell, kau sudah mendapatkan yang kau inginkan. Saat jadi ratu nanti, aku akan membantu sekolahmu juga. Karena aku sahabatmu," tutur Lois dan pergi meninggalkan Ell.
"Sahabatku sudah hilang. Kau bukan Lois yang dulu."
Dengan kekuatannya yang dahsyat dalam kegelapan yang sunyi, Eloisa membunuh satu per satu Zodiak angkatannya. Mengambil bayi-bayi mereka.
Mengambil gelar ratu dari Sagitarius. Dan berpura-pura menjadi ibu dari calon Sagitarius. Kemudian anaknya?
Dimasukkannya bersama bayi Zodiak lainnya ke asrama. Dengan kebohongan bahwa orang tua mereka mati karena kekuatan mereka yang terlalu besar dan justru menggerogoti umur mereka.
Namun faktanya itu hanya agar para zodiak tidak lebih kuat daripada Sang Ratu sendiri.
Dan Sang Ratu mengonsumsi ramuan untuk menekan kekuatan.
Begitu mulus tanpa retakan yang ada, tanpa celah, karena semua orang yang tahu hanya bisa bungkam diri demi nyawanya. Dan karena rasa pertemanan.
Namun, seperti ibu juga seperti anak. Masalah sebenarnya datang dari anak kandungnya sendiri. Beberapa kali Circe ingin memberontak, walau tanpa arah yang menentu. Namun selalu digagalkan oleh zodiak-zodiak lainnya di bawah perintah Ratu.
Circe tidak punya harapan lagi, dan memilih fokus pada pengembangan bakatnya.
...****...
"Kau! Kenapa tidak cerita dari dulu!?" bentak Stella.
"Kalian tidak percaya! Dan saat itu aku masih kecil!"
"Ya, kau yang paling muda di antara kita bertiga-belas. Jadi kupikir itu hanya imajinasimu."
"Lalu bagaimana cara kita meyakinkan yang lainnya?" lanjut Stella bertanya.
"Kita tidak mungkin membunuh penyihir yang berpengalaman membunuh dua belas penyihir terdahulu kita," jelas Stella.
"Tapi kita bisa menyegelnya," cetus Circe.
"Dengan apa? Kau ingin menyegelnya dengan segel murahan? Kau cari mati, hah?"
"Tidak jika kita tahu siapa yang bisa membuat segel terbaik sepanjang masa." Circe tersenyum yakin.
"Aku tahu siapa yang paling tepat untuk melakukan itu," sambung Rendy mendekat bersama Nereus, Blue, dan Lucy.
"Segel pohon, anak dari Demeter, dan artefak. Ini akan jadi kunci dari segel yang sempurna!" seru Nereus.
"Maksudmu Finne?" tebak Circe. Dan mereka mengangguk.
"Masalahnya, setelah runtuhnya gedung ini. Aku belum melihat rekan-rekan yang disekap teman-temanku," ucap Stella.
"Kenapa tidak tinggal kita cari?" cetus Lucy. Dan mereka berenam segera berpencar mencari dengan sesekali melindungi diri dari ledakan-ledakan sihir Ratu Dallas.
"Bergegas dan hati-hati, semuanya!"
Ratu Dallas yang melihat para remaja-remaja itu berusaha merencanakan sesuatu. Semakin menjadi-jadi dan menyerang secara brutal kepada mereka.
Salah satu serangan yang terpental menghancurkan reruntuhan. Dan membuat sesuatu terlihat dari sana.
"Finne! Semuanya, di sana!" teriak Lucy yang pertama kali melihat.
Ratu Dallas yang ikut mendengar tentu ikut mendekati arah yang ditunjuk Lucy. Melihat itu mereka berenam tak mau tinggal diam.
"Takkan kubiarkan kalian!"
"Dia ada masalah apa, sih?" omel Nereus.
Sesekali Circe dan Stella, Rendy dan Blue, melancarkan serangan gabungan. Tapi kekuatan dahsyat yang misterius dari Eloisa dapat membuat serangan itu seperti hanya kerikil-kerikil.
"Hahaha!" Sayangnya, Finne didapatkan lebih dahulu oleh Eloisa.
"Kalian mau apa dengan Si Manis Hijau ini, hm?" Eloisa mengangkat Finne yang masih dalam keadaan tidak sadar dengan sihir.
"Lepaskan dia, Wanita Jelek!" teriak Blue.
"Katakan padaku, apa tujuan kalian kemari? Kenapa bisa ada tiga pelatih tercinta kalian yang ingin mengajak kerja sama?" tanya Eloisa.
"Tentu saja karena akan ada pertarungan besar, Bodoh!" jawab Nereus meledek Eloisa.
"Kamu yang bodoh, Nereus. Ketahui dulu ada di pihak siapa kami," balas Eloisa memainkan sihir di tangannya dan tertawa lepas, seperti menggila.
Sihir yang awalnya ungu, semakin berwarna gelap dan sesekali berwarna merah kehitam-hitaman.
"Begitu rupanya caramu membunuh orang tua para Zodiak, hah?" Circe menatapnya dengan tatapan tajam. Dirinya tak terkontrol lagi.
"Dia melakukan perjanjian dengan iblis," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari bebatuan.
"Pelatih Max, Anda baik-baik saja?" tanya Blue.
"Sama sekali tidak," jawab Raven ikut muncul dan mulai menyembuhkan dirinya.
"Kita jelas tidak bisa menandinginya jika ternyata dia ada kontrak dengan iblis. Kalian tahu itu, kan?" tanya Max.
"Kita akan menyegelnya, bukan mengalahkannya." Rendy menjelaskan sambil menolong Max bangkit.
"Di mana Pelatih Kay?"
"Sepertinya dia masih tertimbun?" jawab Raven tidak yakin.
"Sekarang, bagaimana cara merebut Finne kita?" lirih Nereus menghela napas.
"Alihkan perhatian dan rebut, mudah saja."
"Bicara memang mudah."
Dari 6 orang ketambahan 2.
"Ayo serang dia!"
Tapi apakah akan cukup?