
"Hai, Lily!"
"Berisik!"
"Wow ... ada apa? Sedang apa?"
"Ini? Tentu saja sedang berusaha untuk mendapatkan makan siang," jawab Lily ketus.
"Hah?"
"Nilai di bawah B+ tidak dapat jatah makan, beda dengan kelasmu yang kelas S."
Di ruang praktek mekanik sihir ini, Lily sedang membuat tugasnya yang sempat gagal di tes kemarin. Karena itu dia mendapat semacam remedial, dan diminta mengulanginya tepat di esok hari.
Jack yang merasa bosan namun dia tidak ada teman sama sekali, memutuskan untuk memerhatikan Lily. Barangkali dia memahami satu hal dari alat sihir gadis ini.
Karena jawaban yang ketus, Jack hanya bisa berjalan ke sebelah Lily dan duduk di sebelahnya. Tapi sayang ...
"Oops ..."
Gedubrak! Brak! Prang!
Lily hanya bisa bengong. Semua peralatan di depan matanya terseret jatuh dan hancur.
"Ma-maaf ..."
Lily yang entah karena terlalu marah dan bingung mau bereaksi apa atau dia mencoba untuk sabar, memejamkan matanya dan memijatnya pelan.
"Tak apa, Jack. Ini sebenarnya tidak semuanya salahmu."
"Be-benarkah?"
"Yah, aku hanya rindu dengan kampung halamanku. Jadi kalau aku sedikit sensitif ..." Ucapannya terhenti.
"Maksudmu?"
"Oh ayolah, Jack! Kau pasti yang paling paham." Jack hanya bisa memiringkan kepalanya bingung dengan banyak pertanyaan berjalan-jalan di kepalanya.
"Kita harus terburu-buru sana-sini, pertaruhan nyawa di setiap pertarungan, monster-monster yang entah bagaimana mereka bisa sekuat itu. Dan kita?"
"Auh, itu bahasan yang berat, Lil."
"Ya, kau benar. Kehidupan kita berat." Lily menghela napasnya panjang dan berat.
"Aku rindu ibuku," lanjutnya dan tersenyum hangat. Namun Jack merasakan ada rasa hampa di senyuman gadis itu.
Jack terdiam sebentar. "Hey, jangan dipikirkan! Kita sudah melalui hampir setengahnya atau mungkin setengahnya. Yakin saja! Terkadang jadi bodoh itu enak, tak perlu pikir pusing, kan?" Jack merangkul Lily.
"Kau benar ..."
"Ya, terima kasih. Aku merasa tersanjung. Itu kalimat pujian pertama dari rekan timku, lho!"
Lily terkekeh kecil. "Bukan berarti aku memaafkanmu untuk kerusakan ini, ya."
"Oh ... ya, tentu."
...**...
"Rendy, bisa kita tidur sekarang?"
"Kau yakin? Kau belum bisa menggunakan tongkatmu dengan benar."
Rendy dan Finne berada di aula yang biasa digunakan untuk pertandingan sihir. Ini karena permintaan Rendy agar Finne bisa lebih menguasai sihir dengan baik.
"Esok hari aku akan berlatih dua kali lipat, kamu pasti lelah juga. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Tapi kamu akan tidak lulus ujian besok jika—" Rendy terhenti ketika raut wajah Finne menjadi agak terkejut.
"Oh maaf, aku hanya khawatir."
"Tidur, Rendy. Ini sudah mau tengah malam," ulang Finne tersenyum. Finne berjalan keluar. Rendy masih berdiam diri mematung.
"Hey, Rendy!" panggil seseorang dari sudut ruangan. Rupanya dari tadi orang itu memerhatikan Rendy dan Finne.
"Blue, apa yang kau lakukan di sini?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memberitahumu." Rendy memasang mimik wajah penasaran.
"Besok akan diadakan kegiatan ke toko senjata sihir oleh guru bimbingan kita," ucap Blue.
"Ya, lalu?"
"Ayahku akan ada di sana."
"Bukannya ayahmu harus mengikuti konferensi antar walikota?"
"Ya, itu benar. Hanya Amerika yang memiliki hubungan dengan toko persenjataan di Ras Penyihir, jadi ayahku ada urusan kemari."
"Lalu?"
"Aku akan izin sebentar untuk tidak ikut, tolong jangan beritahu ke ayahku di mana aku. Aku hanya tidak mau."
Rendy mengangguk. Kemudian Blue hanya menepuk pundak Rendy dan pergi.
“Ada sesuatu yang salah," gumam Rendy.
...**...
"Lucy ..."
"Ibu?" Lucy terbelalak karena ibunya, Dewi Athena berada di hadapannya. Lucy langsung melihat sekitar, ruangan serba putih namun tak begitu terang walau semuanya putih.
"Tenang, Bu. Teman-temanku selalu bisa diandalkan, terutama Rendy, dia kuat. Ada Blue juga, dia juga kuat. Ada Irine, ada Mike."
"Yang lainnya? Kau bisa mempercayai orang asing bernama Circe? Kau yakin langsung mempercayainya begitu ketuamu percaya? Bodoh sekali. Bahkan kau sebagai anggota sangat bodoh." Lucy mengerutkan dahinya dan menunduk.
"Tapi bisa saja hanya itu satu-satunya cara. Lawan kita adalah para penyihir yang secara turun-temurun dicatat oleh legenda, Bu!"
"Kalian keturunan dewa!" Lucy terkejut bukan main dengan bentakan itu. Suaranya menggema begitu keras di telinganya sampai rasanya mau pecah.
"Kau anakku, bertingkahlah dewasa dan cerdik. Kau seperti teman-temanmu. Persis, seperti anak-anak. Memalukan."
"Tidak, aku tidak ..."
"Jika mereka memang tidak bisa diandalkan, pegang kendalimu sendiri, Lucya."
Suara itu makin meredup.
"Hah!?" Lucy terbangun dari mimpinya. Napasnya tersengal-sengal. Ditengoknya jam di kamarnya menunjukkan hari masih subuh.
"Itu hanya mimpi ... benar, hanya mimpi.”
...**...
"Baik, jadi kita laksanakan pencurian tepat saat malam seusai ujian mingguan."
"Kenapa?"
"Karena ... guru akan rapat."
Semua langsung hening. "Apakah tidak ada yang khawatir mengenai nilai masing-masing?" tanya Nereus dan dia tersenyum lebar.
"Apa maksudnya? Bukannya dia yang menyarankan untuk dapat artefak dengan cepat?" sinis Blue.
"Blue, kita harus bertingkah seperti murid pada umumnya. Apalagi tempat ini dipenuhi makhluk hidup yang kompetitif," jelas Mike serius.
"Tapi kita akan keluar dari sini dalam beberapa hari lagi, kan?" balas Blue masih mengeyel dengan pendapatnya.
"Tunggu, dari mana kalian tahu kalau guru akan rapat malam itu?" tanya Lucy memotong topik perdebatan.
"Dari Circe," jawab Mike cepat.
"Circe, tahu dari mana kau?" tanya Lucy lagi.
Circe menatapnya datar. “Pengalaman selama aku di akademi ini? Aku seniormu.”
“Oh, bagus! Ini bahkan bukan kemungkinan seratus persen! Ini hanya prediksi, bagaimana jika terjadi kekeliruan?” Lucy menggebrak meja perpustakaan.
“Oh ayolah, kita harus mencobanya dulu. Daripada sama sekali?” tanggap Jack.
“Apa kamu mau menanggung risiko kalau ada salah satu dari kita dikeluarkan oleh petinggi akademi?” Lucy kembali memberikan beberapa kemungkinan terburuk yang ada di pikirannya.
“Sepertinya Principal Ell berpihak pada kita,” tutur Mike menaikkan bahunya.
“'Sepertinya'? Kau bercanda? Ini urusan yang sangat penting, pencurian yang berbahaya! Ada nama ratu yang tertera atas hak kepemilikan artefak! Kau bisa saja dihukum mati, bodoh! Minimal kau di-drop-out!” bentak Lucy.
“Lucy, kau kenapa?” tanya Rendy. Nereus ikut menunjukkan raut muka serius pada remaja berambut putih itu sebahu itu.
Lucy menggeram, berdiri dari kursinya, dan pergi dari sana.
“Rendy, kelompokmu tidak bersatu. Kau tahu dari awal, kan?” bisik Nereus.
“Ya, jangan kau ingatkan lagi.”
Keadaan hening sebentar hingga Jack bertanya. “Di mana Lily?”
Semuanya saling menatap satu sama lain. Dan benar, tidak terlihat batang hidung Lily di antara mereka.
“Sepertinya dia masih penilaian praktik alat sihir, kan? terka Blue.
“Kau yakin selama ini? Ini sudah terlalu lama,” curiga Mike.
“Aku akan mencarinya!” usul Jack berlari keluar ruangan.
**
“Lily! Lil!”
“Aku di sini, tak perlu teriak-teriak.” Lily menjawab dari bangku taman sekolah. Jack segera berlari menghampiri Lily yang duduk dengan tangan kosong. Jack tentu saja kebingungan, di mana alat yang semalam dikerjakan Lily hingga begadang.
“Bagaimana praktiknya?” tanya Jack dengan senyum ceria khasnya.
“Mengingatkan kehidupan kita,” jawab Lily.
“Lily, kamu bisa bercerita padaku jika mau. Aku walau tidak bisa apa-apa, setidaknya bisa jadi buku diarimu, lho!”
“Aku muak.”
“Eh?”
Lily bercerita banyak siang itu, hingga matahari lelah di langit dan ingin beristirahat.
“Semuanya seakan berjalan begitu-begitu saja. Kita melawan kejahatan, menjaga keseimbangan dunia, keseharian yang tak pernah tentram, belum lagi kita masih belum lengkap dalam atribut Demi-God kita.”
“Membuatku selalu terngiang-ngiang dengan satu kalimat. Ad Nauseam,” lanjutnya
“Apa artinya?”
“Memuakkan.”