Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Ilusi



"Oi, oi ... kita memang bersama-sama. Tapi kita ke mana?" tanya Blue.


Blue, Mike, Finne dan Irine sedang berjalan bergandengan. Terus mengikuti komando di depan yang sebenarnya juga tak begitu tahu arah.


"Hanya mengikuti permintaan alam kepadaku," jawab Finne. Blue memutar matanya.


"Oh ayolah, bisa saja kamu hanya berhalusinasi!" elak Blue.


Finne menggeleng pelan. "Mereka bilang, mereka tahu arah yang seharusnya kita tuju."


"Blue, sudahlah. Kita ikuti dulu, asal kita tidak berpencar, itu tak masalah," ucap Mike menenangkan Blue.


Irine hanya pasrah daritadi ditarik Blue. Di belakang, dia hanya bisa mengetahui dan menyimpan bahwa di balik kegelapan ini pasti akan ada sesuatu. Karena insting di kegelapan adalah makanannya sejak kecil.


"Lawfinne, kita semua sampai ..."


Bum!


"Hwaa!! Apa itu!?"


Kabut tersibak ke belakang. Seseorang muncul dengan tubuhnya yang begitu besar, otot-otot tangannya begitu terbentuk.


"Siapa pria itu?" tanya Blue.


"Itu bukan pria," sahut Mike bengong.


"Hah?"


Buagh!


"Waa!"


"Kyaa!"


Keempatnya terpental jauh. Irine dengan bayangannya meredam dorongan super dahsyat dari manusia luar biasa itu.


"Pelatih!?" kaget Irine begitu melihat sosok di depannya itu.


"Jangan lukai keluargaku!!" teriak Bennetta kembali menggila. Ia menghantam Irine dengan satu pukulan telak. Membuat gadis itu terbang cukup jauh dan menabrak sebuah pohon hingga pohon itu tumbang.


"Uakh!" erang Irine kemudian tak sadarkan diri.


Satu tumbang tidak membuat monster wanita itu puas. Ia mengincar Blue yang tengah bertanya-tanya apa yang terjadi.


Mike segera memerintahkan Finne untuk mengobati Irine. Lalu dengan segera Mike ke arah Blue membantunya untuk bangun dan segera berlari mengalihkan perhatian p0elatih mereka itu untuk menjauh dari para gadis.


"Ada masalah apa dengan gorila itu, hah!?" heran Blue tetap berlari demi nyawanya.


"Kalau aku tahu, aku akan memberitahumu, dasar Kera Bodoh!"


Blue melotot. Mike hanya menggeleng kepalanya karena merasa rekannya ini begitu payah.


"Daripada bertanya, lebih baik buat dia pingsan dengan putri duyungmu atau apa lah!" teriak Mike.


"Oh, ya!" Blue baru kepikiran. Ia segera menggerakkan tangannya dan mengguyur Bennetta. Membuatnya sempat terhenti karena terbawa arus air.


"Kalau Pelatih di sini, berarti kita di tengah kota?" tanya Mike.


Keduanya saling menatap dengan mata membelalak.


Dan sedetik kemudian ...


"Blue, tarik kembali airmu! Kamu membuat yang tidak bisa berenang benar-benar mati!!"


"Iya, iya!" Blue menggerakkan tangannya lagi, melayangkan air-air itu dan menguap di udara.


Tapi menghilangnya air itu membuat Sang Monster kembali mengejar mereka.


"Astaga!" teriak keduanya frustasi.


Benar saja, mereka berada di tengah kota. Mike melihat ada gang kecil di depan mereka, segera menarik Blue untuk berbelok dan masuk ke sana. Setidaknya tubuh kecil mereka bisa berguna. Dan jalan ini bisa menghambat Bennetta.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Blue. Keduanya memperlambat kecepatan mereka, seraya mengumpulkan sedikit tenaga.


Mereka sempat berhenti karena Bennetta juga berhenti di ujung gang. Bennetta terlihat terengah-engah dengan wajah garangnya.


"Kurasa dia menyerah, haha ..." kekeh Blue masih ngos-ngosan.


"Kurasa tidak," balas Mike menepuk pundak Blue menandakan mereka harus kembali berlari.


Ya, beberapa detik kemudian gang kecil itu diterobos. Dinding-dinding bangunan tinggi di kanan-kiri dijebol oleh wanita besar itu.


"Dia itu manusia bukan, sih!?" teriak Blue frustasi.


"Kalau kau ingin mengadakan wawancara, silakan! Aku lebih sayang nyawa!" jawab Mike mempercepat larinya.


"Sebelah sini!" teriak Finne menarik mereka ke cabang gang lainnya. Sementara Pelatih Bennetta tetap menerjang maju. Finne dengan segera menumbuhkan pohon dari tanah dan menopang gedung yang telah dilubangi Bennetta agar tak runtuh.


"Bagaimana Irine?" tanya Blue khawatir.


"Sudah di tempat aman, kita harus segera pergi dan mencari balaikota secepatnya!"


"Aku rasa tidak ke sana. Mengingat sepertinya ini ajang menggilanya orang-orang jangan ke tempat yang penuh orang-orang kuat. Kita bisa mati," saran Blue. Dan kedua lainnya langsung setuju.


"Sebaiknya kamu gunakan lagi ilmu alammu itu lagi dan kita ke tempat pelatih Max dan yang lainnya," lanjutnya.


Dan ketiganya langsung ke sana.


...***...


"Hng?" Nereus terbangun. Ia terkejut karena melihat sosok gadis di depannya. Bukan hanya karena siapa gadis itu, tapi karena dia melihat dengan matanya.


"Astaga! Tidak, oh tidak!" Nereus mencoba menahan dirinya. Tapi setiap dia mengedip, gadis itu selalu di depannya.


Gadis setengah rusa, yang begitu mustahil untuk dilihat lagi.


"Elios, tenang. Lihat dulu aku," ucap gadis itu menggenggam kedua pipi Nereus dan mengarahkan mata Nereus padanya.


Nereus perlahan menangis. Sudah sangat lama nama depannya tidak dipanggil, oleh Sang Gadis Rusa itu.


"Tidak, ini ilusi. Aku tahu ini ulah Akhlis. Tidak, jangan ..." lirihnya melepaskan tangan gadis itu.


"Masih ingat aku, kan? Kamu tidak melupakanku, kan?"


"Mustahil ..." sahut Nereus.


"Elios Nereus Poseidon, benar kan?"


"Iya," sahut Nereus.


"Berat, ya?" Nereus hanya mengangguk lemas.


Alasan dia mengembara, berkata jika dia sedang ada tugas dan rencana atau tujuan. Namun keinginan sebenarnya adalah menebus kesalahannya. Rasa bersalah terdalam.


Air mata tak dapat terbendung, begitulah kondisi pria itu sekarang.


"Tidak, tidak ... kamu hanya ilusi ..."


"Tapi perasaan bukan ilusi, Elios."


"Ya, itu trik Akhlis." Nereus terus menghindari kontak mata dengan gadis di depannya. Walau tahu ini hanya sihir dari Akhlis, rasa bersalah itu tetap menggerogotinya.


"Elios?" panggil gadis itu sekali lagi.


"Dira, aku sungguh ... minta maaf," lirih Nereus.


Gadis dengan panggilan Dira itu tak membalas.


Jleb!


Satu pedang kecil menancap dari ujung depan perut hingga belakang. Nereus akhirnya menatap mata Dira. Namun bukan tatapan marah maupun kaget karena hujaman itu.


"Ya, kau memang yang bersalah."


"Ugh ..." Nereus tergeletak. Melihat ulaman senyuman di wajah gadis cantik itu, yang perlahan berubah menjadi wajah wanita licik, Akhlis.


Nereus tetap diam. Dia merasa dia pantas mendapatkan itu. Dan perlahan, kegelapan dari penglihatannya kembali pulang kepadanya lagi.


"Dasar bodoh, bisa menghancurkan satu kota tapi tak bisa menghancurkan perasaan konyolnya sendiri," kekeh Akhlis.


...***...


"Lihat ini, ketua paling payah di sini!"


Rendy terbangun. Ruangan yang familiar baginya. Dan seseorang paling dia kenal.


"Nenek?"


"Rendy Winter Frost, seseorang yang sudah kuanggap seperti cucu sendiri. Harus kuletakkan di mana mukaku ini? Mendidikmu dengan begitu tegas. Tapi kau justru membuat nenek kecewa, kecewa, dan kecewa!"


"Ma-maafkan aku, Nek ..."


Nenek Durma seketika berubah menjadi Bibi Angel. Rendy terkejut, dia mundur beberapa langkah hingga tersandung dan jatuh. Namun ia tetap mundur seiring Bi Angel mendekatinya dengan sebilah pedang.


"Tu-tunggu, Bibi!?"


Jras!


"Memalukan!"


Sosok bibi itu berubah lagi menjadi ibunya, Sang Dewi Angin. Dan tetap mengayunkan pedang itu ke kaki Rendy. Rendy merangkak menjauh.


Namun dengan membelakangi makhluk misterius itu. Justru membuat punggungnya menjadi samsak empuk bagi sosok ibunya itu.


Makhluk itu berubah lagi menjadi Lucy. Dengan tombak agungnya, menghantam badan Rendy. Teriakan keras nyaring hingga ke telinga Si Peneriak.


Lucy berubah lagi menjadi Blue, memerangkap kepala Rendy dengan gelembung air. Darah segar yang dimuntahkan Rendy, membuat gelembung air itu berubah warna menjadi merah.


Ingin mengerang kesakitan, namun tak mau kehilangan oksigen. Itu sungguh menyiksa.


"Kau memang tak layak sama sekali menjadi ketua, melawan kami saja kau kalah!"


Blue berubah menjadi Irine.


"Kau tak cukup kuat, Rendy. Tak cukup kuat untuk ..."


Irine kembali berubah lagi menjadi Phanes.


"... menyelamatkanku, bahkan dunia."


Sebuah meteor meremukkan tombak raksasa itu beserta yang di bawahnya.


"Anak malang, rasa tanggung jawab yang begitu besar membelenggunya."