Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Holy Island



"Yah, kita bertemu di sini. Tapi setelah itu berpisah lagi."


Lucy hanya membalas dengan tersenyum ke arah Lily.


"Teman-teman, jika butuh bantuan segera menghubungi satu sama lain. Mengerti?" ucap Finne. Semua mengatur koordinat berikutnya sambil mengangguk.


"Tetap terhubung itu bagus. Baiklah, kita menuju Bustam City," ucap Rendy dan masing-masing mereka pergi dengan tim mereka masing-masing.


Holy Island, tempat para keturunan Half-Demon dan Demon tinggal. Namun di tempat ini, mereka berperilaku baik. Seakan menganggap jika leluhur mereka yang jahat adalah sebuah kesalahan.


Mereka membangun pemerintahan yang dikepalai oleh raja. Semua hidup tentram, bagai kehidupan yang para manusia ketahui. Itu benar-benar yang manusia-manusia dan ras luar lainnya ketahui.


Tak ada yang tahu bagaimana di dalamnya.


Brugh


"Auw ..." rintih Jack. Yang lainnya hanya memandang Jack heran.


"Belum terbiasa perpindahan ruang? Lebih baik kamu melakukan perjalanan darat," sindir Mike. Jack berdecak kesal, lalu ditolong Lily untuk berdiri.


"Kita ke sana, kan?" tunjuk Finne.


Sebuah istana megah, serba putih. Berdiri tegak di ujung jalan yang mereka kini pijak. Mereka tak sadar bila penduduk-penduduk sekitar memandangi mereka dengan heran. Seperti bertanya dalam hati mereka, "Makhluk apa ini? Kenapa tidak ada bulu atau sisik, hanya rambut di kepalanya?"


"Mereka manusia!" teriak salah satu yang rupanya banyak membaca buku.


Seketika itu juga, keadaan di masyarakat itu menjadi gaduh dan menjerit ketakutan. Lalu menjadi tenang kembali disebabkan teriakan salah satu prajurit kerajaan yang menyuruh mereka diam.


"Atas perintah siapa kalian kemari?" tanya prajurit dengan zirah emas menyelimuti dari kaki hingga kepalanya dengan helm emas juga. Rapat hingga tak terlihat apa pun, barang sehelai rambut.


"Ka-kami Demi-God yang akan melakukan ujian," jawab Lily ragu. Tentu saja, prajurit itu tengah menodongkan tombak perkasanya ke arah mereka.


"Jangan berani-berani mencuri nama para Demi-God yang agung!" bentak prajurit itu.


Mike menyerahkan secarik kertas yang tadi diberikan Locius. Prajurit itu membaca dari sela-sela pelindung kepalanya. Ia kemudian menurunkan tingkat kewaspadaannya. Lalu berlutut meminta maaf.


Semua warga yang berbentuk bermacam-macam itu segera menyingkir memberi jalan.


Jack, Mike, Lily, dan Finne memerhatikan sekitar. Ada makhluk yang buruk rupa, ada makhluk dengan wajah kuda tubuh manusia, ada juga yang bertubuh kekar bak hewan buas dan wajahnya seperti manusia namun diselimuti rambut lebatnya. Di sana begitu beraneka ragam, dan hidup layaknya manusia di Halfen Island.


Tibalah mereka di istana yang begitu mengkilap akan perhiasan, temboknya putih bersih. Di sana didesain layaknya surga, begitu indah dan megah.


"Segala kemuliaan bagi Raja," salam prajurit itu berlutut menghadap Raja, Sang Singa Agung yang duduk di singgasananya dengan segala wibawanya yang membuat semua yang menghadap hormat padanya.


"Jadi kalian adalah manusia-manusia yang terpilih itu, para Demi-God?" tanya Sang Raja. Suaranya bahkan menunjukkan bukti bahwa dia berkuasa di sini.


"Singa itu berbicara ..." gumam Jack heran.


"Jadi, raja hutan juga raja kerajaan di sini?" bisik Lily.


"Tidak sopan," celetuk seseorang. Dari balik singgasana raja yang besar, ada seorang wanita.


"Dia tidak punya kaki!?" kaget Jack.


Benar, kakinya berupa ekor ular dan tubuhnya, bukan sepasang atau dua pasang berbentuk panjang yang terbelah dan bisa melangkah. Wanita itu membuka tudungnya, terlihat wanita cantik namun ada sisik ular yang menghiasi wajahnya. Sisik itu sempat bergerak-gerak. Membuat Jack merasa agak jijik.


"Saya Elina, penasihat Raja. Mohon kerjasamanya ke depan," ucapnya tersenyum tipis.


"Maafkan ketidaksopanan teman saya," tutur Mike dan memberikan death glare pada Jack. Jack menelan ludahnya karena terkejut dengan Mike yang marah.


"Kami kemari dengan damai, dan menghadap Yang Mulia Raja untuk meminta kerja sama. Kami ingin mencari dua pendamping untuk kami sebagai Demi-God." Mike membungkuk hormat.


"Perkenalkan namaku Rajendra, Raja Singaraja I. Dengan senang hati akan menolong."


Raja Rajendra kemudian memanggil salah satu pelayan, dan meminta mereka menyiapkan beberapa kamar untuk mereka beristirahat.


"Balin," panggil Raja. Prajurit yang masih setia berlutut menjawab panggilan Rajanya.


"Bawa mereka berkeliling, mengenal kerajaan ini."


"Baik, Yang Mulia."


Kerajaan Partenia, itulah nama kerajaan ini. Dunia luar memang mengenal mereka dengan nama Holy Island, namun dari dalam, nama mereka adalah Kerajaan Partenia. Nama ratu pertama mereka yang mendirikan tanah air mereka ini.


Selagi Balin membawa mereka berjalan-jalan, Jack terkecoh satu gang kecil yang mereka lewati. Gang itu kecil, kumuh, dan gelap. Ada anak kecil; ia memiliki ekor dan telinga.


Rupanya ia setengah kucing. Anak itu sedang mengais sampah di sana. Hal itu membuat Jack tertarik untuk menengok, mendekati, dan memasuki gang itu secara perlahan.


"Hei?"


Anak kecil itu terkejut, dia mundur dengan cepat. Tapi tersudutkan karena gang itu buntu. Jack mengulurkan tangannya perlahan agar tak menakuti anak kecil itu.


"Tak apa, aku punya roti. Mau?" Jack merogoh tasnya dan ada sepotong roti masih utuh belum dia makan. "Ini."


Jack menyodorkan bungkusan roti itu. Anak itu pertamanya kelihatan tidak percaya, seakan sudah mengalami trauma dengan semua orang asing. Namun melihat wajah Jack yang begitu tulus, ia tergerak untuk menerima pemberian Jack.


Tak terduga, sebuah kaki berbalut sepatu kulit tebal nan berat. Menendang tangan anak kecil itu. Sehingga dia makin ketakutan dan berusaha mendorong tembok di belakang punggungnya; berharap tembok itu mengasihani dia dan berpindah sehingga ia bisa melarikan diri dari tempat itu.


"Hei, Balin! Apa yang kau lakukan!?" bentak Jack marah.


"Tuan, Anda terlalu bersih untuk makhluk hina ini."


Jack terkejut. Alisnya mengerut, matanya melebar; pernyataan aneh apa yang baru saja prajurit istana ini katakan.


"Mari, Tuan. Kita lanjutkan perjalanan." Balin segera berjalan keluar gang. Jack tetap ingin memberikan roti itu. Tapi anak kecil itu justru meringkukkan dirinya, menutupi kepalanya dengan kedua lengannya yang kurus kering.


Mungkin di dalam hatinya, ia berkata berulang kali pada Tuhan agar dia tidak dilukai lagi.


Jack merasa bersalah. Ia meletakkan roti itu di bawah. Lalu mundur perlahan. Dan melanjutkan keliling kerajaan bersama Balin.


"Ada yang aneh dengan kerajaan ini," bisik Jack pada Mike. Lily juga mendengar hal itu.


"Aku tidak tahu, tapi kita harus bisa ambil untung dahulu. Mungkin saja tadi itu peraturan atau adat di sini kalau tidak boleh sembarang memberi apalagi kita orang asing," jelas Mike.


...*...


Hari sudah berlalu, matahari sudah lelah melakukan pekerjaannya dan butuh istirahat di balik bulan.


Mike, Finne, Jack, dan Lily diundang Raja Rajendra untuk makan malam bersama di perjamuan kerajaan.


Di meja panjang yang berkilau dan penuh makanan itu, hanya ada keempat Demi-God, Elina Sang Penasihat, dan Yang Mulia Raja.


Raja sembari menyantap makanannya. Ia bercerita banyak hal. Mengenai sejarah kerajaan.


Dahulu kala, leluhur mereka atau bisa dibilang mereka berasal dari Benua Kakomikos, diambil dari penggabungan dua kata yang artinya kotor dan jahat.


Lalu Ratu Partenia I, menyadari bahwa perbuatan itu salah dan ingin berubah. Ia membawa para pengikutnya yang setia padanya menuju ke pulau lain yang berhasil mereka temukan. Mereka keluar bukan dengan senang, namun sempat terusir dan dikucilkan.


Sehingga terbentuklah kerajaan ini. Maka dari itu, mereka bukan lagi menyebut diri mereka sebagai ras Demon ataupun Half-Demon. Tapi Kallagi, yang artinya perubahan yang baik.


"Kerajaan ini sempat akan hancur," lanjut Raja bercerita salah satu kisah. Kisah itu ia alami saat masih kecil. Saat dirinya yang berasal dari kalangan rakyat biasa bukanlah bangsawan.


Kerajaan dihancurkan oleh seseorang yang seharusnya menjadi pahlawan agung dunia. Namun justru menghancurkan kerajaan Partenia dengan kekuatannya.


"Namun aku, dengan jiwa dan tekad yang kuat. Kubangun kembali bersama semua teman-teman setiaku. Juga Elina. Sehingga aku menjadi raja. Dan masa kepemimpinanku bisa menjadi masa yang makmur dan jaya."


Cerita berhenti karena Elina bertanya, "Apa kalian kenal Demi-God yang bernama Nereus?"


"Y-" Mulut Jack langsung dibungkam oleh Mike.


"Maksudnya, iya. Kami pernah dengar, dia kuat. Namun sudah lama tak ada kabar, dan menghilang entah ke mana tanpa jejak," jelas Mike.


Mike tahu jika dari nada Elina, ada maksud tak baik saat ia bertanya begitu. Suaranya, bisa Mike rasakan jika ada perasaan curiga yang Elina letakkan pada mereka. Dari situlah, Mike yakin mereka tidak boleh sembarangan menjawab dengan sembrono jika tidak mau terjadi perang dadakan.


"Yah, sayang sekali. Jika saja kalian tahu, mungkin kami bisa membalaskan dendam para mendiang generasi di atas kami ..." lirih Elina.


Makan malam selesai, makanan banyak yang tersisa karena lebih banyaknya makanan dibanding orang-orang yang di meja makan. Raja menyuruh makanan itu dibuang ke pembuangan, dan para pelayan melaksanakannya.


Lalu keempat remaja itu dituntun menuju kamarnya untuk beristirahat dan melakukan kewajiban mereka di pagi hari.