
"Auw! Kaki—"
Brak!
"Akh!" jerit Lily, lagi. Jack menunjukkan wajah yang sedikit merasa bersalah, sedikit.
"Maaf ..." Jack kembali mencoba mengangkat bongkahan tembok besar yang menimpa kaki Lily.
"Bisa kalian cepat sedikit? Aku tidak bisa menunggu dengan setengah tubuh tertimpa." Irine menatap dua temannya itu datar, sebenarnya agak jengkel. Apalagi sesekali ada getaran karena ada pertarungan sekitar beberapa meter dari tempat mereka.
"Biar kubantu, Nona." Mike akhirnya datang dengan satu tangan terlihat sedang beregenerasi karena patah tulang.
"Kau yakin dengan keadaan seperti itu dan batu sebesar ini?" ragu Irine.
"Tak ada salahnya mencoba."
"Baiklah, cepat."
Mike dan Jack terus mencoba segala cara. Tapi cukup memakan waktu yang lama untuk Jack dan Mike. Karena keadaan mereka yang juga masih menyembuhkan diri.
"Setelah ini saranku, kita cari artefaknya dahulu. Aku yakin mereka belum dapat. Tentu karena ada halangan," jelas Irine.
"Kau gila mencari di antara bongkahan-bongkahan ini!?" sergah Lily.
"Rasakan aura mereka, Lily. Itu bisa jadi petunjuk. Lebih baik kamu yang dengan Avra atau Mageia terbanyak di sini bisa membantu," ujar Mike agak kesal.
"Aku ..."
"Aku dan Mike sedang berusaha menyingkirkan tembok, Irine mengalami luka yang parah. Kau hanya kaki kiri, Lil ..." imbuh Jack. Lily akhirnya setuju dan mulai berkonsentrasi merasakan keberadaan Mageia dari artefak.
Waktu terus mengalir, memang cukup sulit mencari aura asing yang bahkan belum diketahui. Namun, walau samar Mageia dari sebuah artefak memang sangat berbeda. Cenderung aura murni alam, itulah sebabnya. Lily tetap punya kesempatan untuk menemukannua di antara Mageia yang berkecamuk.
"Sepertinya dan untungnya agak jauh dari keributan di sana, yaitu arah situ." Lily menunjuk.
Mike dan Jack mengangguk, kemudian mempercepat pekerjaan mereka.
...*****...
"Ini gila! Hah ..." gerutu Blue dengan napas tak beraturan. Ia sudah kehabisan tenaga untuk menyerang lagi.
"Lihat! Rendy, Circe, Stella, teman-teman kalian akan berakhir dengan keputusasaan! Menyerahlah dan tunduklah di bawah kekuasaan kami!" seru Eloisa dengan satu suara berbeda dari dalam dirinya.
"Kalian, kalian bisa mendapatkan kekuasaan juga jika mau." Eloisa tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Kekuasaan dan kebebasan itu berbeda, Lois." Eloisa menengok ke arah suara yang datang itu.
"Oh, Ell, Sahabatku!"
"Bukan. Aku, Kepala Sekolah Ell. Penyihir Agung Raphael! Jangan ganggu murid-muridku, Lois!"
Ell langsung mematahkan sihir yang membelenggu Finne dari Eloisa dan menariknya paksa, dengan bantuan artefak kuno miliknya.
Eloisa sontak membelalakkan matanya. Tak terima, ia menyerang Ell dengan kuat. Hampir 90% dari serangan itu bisa ditahan, dan Ell langsung menghindar agar tak terkena.
"Ambil dia! Aku akan menangani Lois sebentar!" teriak Ell memberikan Finne pada Raven.
Raven segera menangkap Finne dan menyembuhkan gadis malang itu dengan kekuatannya.
"Ell, kau tidak akan bisa mengalahkanku!"
"Memang tidak, Lois!"
Ell mengangkat artefaknya agak lebih tinggi darinya dan menarik semacam energi sihir yang luar biasa besar dari sana.
Ell terlihat menyerap habis Mageia dalam jumlah besar itu dan mengangkat tangan ke atas.
Gumpalan awan gelap terbentuk di langit. Membuat beberapa suara gemuruh langit yang marah.
"Nubethymonola!" teriak Ell. Dan petir yang sangat besar menghantam Eloisa.
Petir dari awan hitam yang sangat berbahaya, terus-menerus menyerang Eloisa mencoba untuk menghanguskan penyihir itu.
"Finne? Finne?" panggil Raven berulangkali.
"Hm?" Finne akhirnya membuka matanya dan kemudian berusaha bangkit berdiri walau masih agak sempoyongan.
"Apa yang terjadi?" tanyanya kebingungan.
Finne melihat sekilas pertarungan antara Ell dan Eloisa. Ia kemudian mengangguk. "Beritahukan apa rencana kita!"
...*****...
"Ayo cepat gali! Aku yakin ada di sini, kok!" desak Lily. Jack mendengus dan berhenti menggali atau usaha menyingkirkan beberapa batu dan pecahan tembok lainnya.
"Kenapa kau berhenti, bodoh?"
"Karena kau berisik, Lily. Kau bahkan tidak membantu!" bentak Mike marah.
"Aku tidak membantu karena aku sedang menyembuhkan diri, lho. Jangan salahkan aku," ucap Irine masih memegangi perutnya dan mengalirkan Avra ke sana secara konstan.
"Aku kan perempuan! Tidak boleh angkat berat!" elak Lily.
"Oh! Aku menemukan sesuatu! Lihat!" sorak Jack kegirangan.
"Jack itu hanya pajangan, bukan artefak ..." jelas Irine melihat benda yang ditunjukkan Jack.
"Sepertinya yang benar ini," sambung Mike mengangkat benda yang mereka inginkan dan cari-cari sejak tadi.
"Artefak!"
...*****...
"Tapi itu adalah materi pelajaran yang baru, aku saja belum pernah mencobanya," lirih Finne bimbang.
Ia memang tahu jika ini keadaan terdesak. Namun karena itu juga, ia sadar dirinya diharuskan membuat keberhasilan di sini.
"Hanya kamu yang bisa kami andalkan, Fin." Blue meyakinkan.
"Aku tidak bisa, aku lemah. Aku tidak yakin."
"Aku tidak pernah ikut kelas Druid, Circe juga tidak." Stella memberi beberapa faktor dukungan, walau hanya sedikit menggerakkan Finne.
"Kita coba dahulu, jika gagal—"
"Untuk informasi, setahuku itu hanya bisa dilakukan sekali. Karena itu memerlukan Mageia yang cukup besar—" celoteh Max dan terhentikan oleh pukulan telak di perutnya oleh Raven.
"Ya, karena itu juga aku tidak berani. Itu sudah jelas. Karena itu segel mudah namun kuat. Tentu memerlukan Mageia yang sangat besar." Finne semakin menciut.
"Tidak apa, kita akan cari jalan lain untuk itu. Untuk sekarang kita coba dahulu saja!" Lucy menepuk beberapa kali pundak Finne, tentu juga ikut memberi dukungan.
"Oi! Teman-teman!" Dari kejauhan, terdengar suara familiar. Ya, itu Jack.
Dia melambai-lambaikan tangan dengan beberapa artefak yang ia pegang bersama Mike dan Lily, juga Irine yang tertatih-tatih di belakang.
"Itu mereka!"
"Ya, tumben Jack bisa mendukung suasana," seloroh Blue tersenyum.
"Baguslah, dengan artefak, Finne bisa menyempurnakan mantranya!" yakin Stella.
Jack memberikan artefak-artefak itu ke Pelatih Max untuk mengarahkan, bagaimana sebaiknya itu dipilih dan digunakan.
"Alirkan energi kalian ke artefak, jika kalian ditolak oleh artefak. Maka mereka akan terpental atau kalian yang terpental. Ini mudah, ayo cepat lakukan!"
"Benda apa ini?" Jack memerhatikan dalam-dalam artefak yang bisa cocok dengan dirinya.
"Itu? Itu jubah, sudah jelaskan?"
"Jack, itu bisa menyamarkan dirimu. Dari predator ganas, karena bisa kamuflase." Max menjelaskan.
Jack tetap kebingungan, tentu saja.
Artefak tentu saja adalah benda kuno yang diciptakan oleh penyihir zaman dahulu dan dipendam di semacam alat sihir selama bertahun-tahun untuk mengumpulkan kekuatan yang begitu besar untuk calon pemakainya.
Namun jubah Jack, adalah jubah yang terlihat baru. Itulah kebingungan yang terjadi pada Jack.
"Itu adalah Leaf Sea Dragon Cloak, batas waktunya untuk kamuflase adalah tiga puluh menit," jelas Circe.
"Bisa kita tunda dulu ensiklopedi berjalannya?" sindir Stella.
"Baiklah, akan kujelaskan bagaimana rencananya." Rendy langsung mengambil alih pembicaraannya.