Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Akar dari Tragedi



Sinar matahari selalu menjadi pengganti jam weker kodok untukku. Walau agak mengganggu di mata, tapi ia berjasa. Yah, ini semua memang berawal dari insiden di kota. Semuanya jadi hancur.


Sudahlah, itu sudah terjadi. Itu kata ibuku. Dan tentang matahari yang baik hati, itu juga ajaran ibuku.


Ibuku adalah segalanya bagiku. Karena, aku hanya punya ibu untuk sekarang.


Benar, aku harus jadi anak baik. Dan bisa dipuji sebagai orang baik seperti matahari.


Aku dan ibu, kami dulunya tinggal di dekat Balaikota Indonesia. Namun setelah peristiwa menyeramkan itu, gedung apartemen hancur dan sampai sekarang adik perempuanku masih hilang belum ditemukan.


Ibu bilang, adikku, Mila akan segera ditemukan. Tapi entah setelah berhari-hari tetap belum menemukan kami atau kami menemukan Mila. Setelah pulang nanti, sebagai kakak yang baik akan kumarahi dia seperti ibu memarahiku biasanya.


Tapi, itu bukan karena balas dendam. Itu karena maksud baik, kan? Itu yang diajarkan ibuku.


Sekarang, kasurku sudah rapi. Aku harus segera mencari kayu bakar. Kalau tidak bisa-bisa aku ditinggal paman tukang kayu.


Oh ya, setelah kota jadi berantakan akan batu-batu dan lainnya. Aku tidak tahu apa saja itu. Kami harus mengungsi dahulu. Dan ada seorang paman tukang kayu mau menerima kami.


Walau hanya sebuah gubuk kecil untuk kami tidur. Tapi itu tidak apa. Aku suka dengan perabotan di sana, banyak yang baru dan belum pernah kulihat.


Kasurnya memang hanya jerami dan dialasi kain. Tapi daripada di lantai, dan tiba-tiba telingamu dimasuki cacing. Aku takut begitu ibu berkata begitu. Aku tentu tidak mau!


Aku mengangkat tas yang terbuat dari anyaman bambu, mencangklongnya. Dan Paman Tukang Kayu memanggilku.


Biasanya di pagi hari Paman Tukang Kayu akan menebang pohon di hutan dekat gubuk untuk kerajinannya. Dan aku akan pergi bersamanya untuk mencari cabang atau ranting kayu sebagai kayu bakar.


Tasku ini lebih besar daripada tas sekolahku dulu. Dan ini terbuka seperti mangkuk besar, tidak seperti tasku yang ada resletingnya. Namun aku tetap suka.


Mulailah aku mengambil kayu-kayu, dan Paman Tukang Kayu menggunakan kapaknya untuk menebang pohon.


Cukup lama kami bekerja, dan hari sudah mulai agak siang. Paman memanggilku untuk istirahat makan bekal buatan ibu. Kami makan sambil bercanda bersama.


Aku suka kisah-kisah mengagumkan dari Paman Tukang Kayu. Sangat keren! Aku senang jika besok besar bisa menjadi sebaik dan sehebat dirinya.


Hal lain mengapa aku suka di hutan adalah ... kupu-kupu!


Aku suka mengejar mereka, seperti sekarang! Memang aku akan agak jauh dari Paman, tapi tak masalah aku akan selalu menemukan jalan untuk kembali, kok. Aku pintar menandai jejak, lho!


Ayah, di jauh sana. Pasti bangga punya anak sepertiku! Aku masih 9 tahun, tapi aku bisa banyak hal. Mila pasti juga bangga punya kakak sepertiku. Kuharap Mila juga pintar mencari jejak sepertiku dan segera pulang.


Aku berhenti sejenak untuk menarik napas. Namun kupu-kupu itu justru hilang, andai aku punya sayap juga. Kupu-kupu itu hilang, dan justru digantikan oleh kabut.


Aku kebingungan. Sebelum kabut semakin tebal, aku segera berlari kembali ke paman.


Namun begitu tiba, aku langsung merasakan perasaan yang sama saat insiden serangan itu. Aku merasakan perasaan itu menjalar dari kakiku hingga di puncak dari ubun-ubunku sendiri.


Perut paman ... terbelah. Darah segar mengalir perlahan ke sepatu pemberian ibu. Aku bahkan tidak berani melihat jelas wajah Paman.


Aku segera lari dari sana, tas bambuku tertinggal. Tapi aku tak peduli. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut. Aku takut.


Hanya ada kata takut di kepalaku. Yang terlintas di kepalaku untuk sekarang hanya ibu. Aku harus menemui ibu!


...**...


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Lucy.


Miles terdiam sebentar. "Semua warga di desa, semuanya menyakiti diri mereka sendiri."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Rendy.


"Kita sepertinya harus mengabarkan hal ini kepada pelatih Max." Lucy mengangguk menanggapi Rendy.


Mereka berempat kembali ke arah Rendy dan Lucy tadi pertama pergi. Dengan saling berpegangan agar tak terpencar.


"Kita sudah sampai," ucap Rendy setelah menyentuh pohon.


Itu adalah pohon yang ia temui pertama sebelum pergi berjalan mencari sesuatu. Untungnya tadi Rendy menandainya dengan belati. Sehingga bisa dikenali kembali.


"Kuharap hanya sebatas berpencar."


Rendy, Lucy, Miles beserta ibunya tetap meraba-raba keadaan yang benar-benar membingungkan. Sedangkan Jack masih berlarian mengejar sesuatu yang tidak pasti, hanya sembarang berlari asal mendekat ke arah suara.


Lily tentu saja sudah kewalahan dan hampir kehilangan napasnya beberapa kali. Langkah Jack terus-menerus bertambah kecepatannya. Entah apa yang dikejarnya, Lily hanya menangkap perkataan Jack tentang suatu suara.


Namun Lily sedari tadi sama sekali tidak mendengar satu suara pun.


"Jack! Berhenti! Aku capek, tau'!" teriak Lily akhirnya dia memutuskan berhenti mengejar. Dan punggung Jack dilahap habis oleh kabut.


Jack tetap saja berlari, dan berhenti di sebuah rumah yang bertembok seng berkarat. Jack seketika merasakan perasaan takut dan ngeri yang familiar.


"Halo, Jack." Seseorang muncul di belakang Jack, dan Jack dengan cepat menoleh ke belakang dan mundur beberapa langkah dengan melompat.


"Kau!"


Orang itu tersenyum, dan wajahnya tertutup kabut. Jack mengambil sikap kuda-kuda, menggenggam erat gagang pedangnya. Bersiap bertarung.


"Lama tidak berjumpa, ya?" Suara itu seperti berkeliling di sekitar Jack.


Swish! Wush!


Jack menebas, namun yang ada hanya ada kabut dan kabut. Jack semakin panik dan kebingungan. Dia berkeringat dingin, air keringatnya sudah menetes berulangkali dari pelipisnya.


"Apa kamu sudah menjalani kehidupan normal?"


Jack semakin sering menebaskan pedangnya, tapi lagi-lagi hanya mengenai angin.


"Kau pikir karena bisa lepas, aku akan menyerah begitu saja?"


"Hiyaa!! Aku tidak takut padamu! Keluar kau, brengsek!" geram Jack mengalirkan api ke pedangnya.


Beberapa kabut menguap dan akhirnya terlihat sedikit siluet di antaranya. Jack dengan segera melesat cepat ke arah itu, menghunuskan pedangnya dengan kecepatan terbaiknya.


"Jack!!" teriak seorang gadis. Dan Jack baru sadar jika bayangan itu Lily.


Lily menahan pedang Jack dengan rantai senjatanya. Lily terlihat begitu kebingungan, begitu juga Jack yang langsung melihat sekitarnya dengan paranoid.


"Di-di mana orang itu?" tanya Jack dengan suara gemetar. Lily mengerutkan dahinya.


"Orang apa yang kau maksud? Dari tadi hanya ada kita berdua. Kau kenapa, Jack?"


Jack mengusap wajahnya. Badannya lemas, namun dia sekaligus merasa lega karena bisa lepas dari orang itu.


"Kau tidak akan bisa lepas dari masa lalu dan aku, Jack ..." bisik suara orang tadi menggema di telinga Jack. Jack kembali ketakutan lagi. Membuat Lily semakin bingung dan bertanya-tanya.


"Suara pria itu, pria itu! Pria itu! Orang itu lagi!" racau Jack meringkuk dengan gemetar hebat. Dia memegangi kepalanya, kepalanya terasa ingin pecah mengingat semuanya.


"Hei, hei! Ada apa, Jack?" Lily ikut berjongkok dan memegang bahu Jack.


Lily terdiam sebentar. Jujur, dia sangat terkejut melihat wajah Jack pertama kali seperti ini. Wajah periang, yang kini terlihat asing karena dipenuhi ketakutan.


"Jack, suara apa? Aku tidak paham, aku tidak mendengar apa pun, kok." Jack tidak menjawab, dia tetap mengulangi kata-katanya mengenai suara 'pria' yang tidak tahu siapa itu.


Lily melihat sekitar, tapi memang benar-benar tidak ada siapa pun. Hanya ada kabut tak berujung. Bahkan suara pun hanya ada suara angin dan suara seperti kaset rusak, dari Jack.


Jack terlihat semakin parah. Saat sudah sampai puncaknya, Jack berdiri dan memegang pedangnya lurus mengarah ke lehernya. Lily sontak berdiri dan berusaha merebut pedang Jack.


"Hei! Kau gila, ya!?" jerit Lily kaget bukan main.


Kedua remaja itu saling tarik-menarik, berulangkali Lily berteriak. Lily sadar Jack sedang terpengaruh suatu sihir. Tapi energinya begitu halus dan lembut hingga hampir tak terasa.


Sampai suara Lily serak, Jack tetap ingin menusukkan pedangnya ke lehernya. Lily semakin terdesak. Ia sangat takut jika Jack benar-benar akan melukai dirinya sendiri.