Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Berhasil dan Gagal



"Tuan Locius pasti sedang sangat terpukul, jadi sedikit tidak jernih dalam berpikir. Iya, kan?"


Di tengah-tengah pembicaraan mereka. Ada seorang pria dengan penampilan berantakan. Dia begitu melihat keempat Demi-God itu, pandangannya menusuk penuh kebencian.


"Kita kehilangan kepercayaan dari bangsa kita sendiri, Raven ..." lirih Max.


"Apa ini juga karena aku penyihir? Aku adalah kaum yang membunuh banyak keluarga mereka—"


"Max, hentikan! Pikiranmu sedang kacau, dinginkan dulu kepalamu!" Raven menatap tak percaya akan apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"Pelatih, kurasa kita tetap harus menghapus semua kabut ini. Bisa saja mereka hanya membenci kita karena kabut ini," usul Mike.


"Aku sedang berusaha meningkatkan lagi suhunya." Jack ternyata sudah berusaha sedari tadi. Tapi hanya sekitar balaikota yang bisa ia atasi.


"Gunakan pedangmu sebagai pusat kekuatan, begitu juga artefakmu." Irine memberi petunjuk.


Jack mengangguk. Dan api Jack semakin panas. Dari merah, berubah menjadi biru, dan berubah terus hingga menjadi putih.


Kabut di seluruh kota menjadi menghilang. Bahkan sampai seluruh pulau. Jack telah berhasil.


Namun, keberhasilan itu tak berbuah pujian atau penghormatan. Tatapan jijik, kecewa, benci, marah, dan hal negatif lainnya lah yang mereka terima dari rakyat.


Semuanya menatap mereka begitu tajam hingga mencapai mental mereka.


"Mereka Demi-God, kan?" bisik salah satu dari mereka.


"Ya, dan yang pemuda itu penyihir."


Satu per satu, mereka mengambil batu dari tanah. Melempari para pahlawan yang telah mengecewakan mereka.


Kehilangan yang paling menyakitkan, kehilangan kepercayaan.


...*...


Kabut telah menghilang sekitar kurang lebih 50 jam yang lalu. Rendy dan rekan-rekannya sudah bisa berkumpul, di rumah Miles.


"Maaf kami menjamu kalian yang adalah pahlawan hanya seadanya begini," ucap Roses.


"Tak apa kami sudah merasa senang ada yang menerima kami," jawab Max dengan tersenyum pahit.


Sejak dua hari yang lalu, Max terus kepikiran mengenai Locius.


"Untung desa ini sudah sepi, jadi kami bisa membantu kalian walau kecil." Roses menuangkan teh.


"Berikutnya, kita harus ke Holy Island." Raven memulai pembicaraan serius.


Nereus mendengar hal itu hanya mendengus. Betapa keras kepalanya mereka, apa ini budaya zaman sekarang?


"Ke sana kita akan mengikat janji dengan roh suci juga makhluk legenda untuk salah satu atribut yang diperlukan Demi-God," jelas Raven.


"Masalahnya bagaimana kita ke sana? Thalita sudah tidak ada, kita perlu koordinat lokasi untuk sabuk teleportasi ini. Dan alat yang kita perlukan ada di Halfen Laboratorium alias bawah Balaikota. Masa kita menggunakan jalur darat?" papar Blue.


Benar, terlihat dengan jelas. Ras Manusia begitu membenci mereka, hanya Roses dan Miles yang masih mau menerima mereka.


Padahal mereka sangat ingin menemui keluarga yang dirindu-rindukan. Tapi mengingat manusia yang berubah haluan menjadi sinis pada mereka. Semakin menakutkan jika mengetahui fakta keluarga mereka juga memperlakukan mereka begitu.


"Aku penasaran, mengapa Pria Tua itu melarang kita ke Holy Island." Rendy menyela.


Dan mereka semua menatap Nereus dengan penasaran. Nereus menelan ludahnya sendiri.


"Apa kalian menatapku?" tanyanya sedikit canggung. "Tentang Holy Island, ya? Bukan saatnya mendongeng. Oke?"


"Aku hanya bertanya 'kenapa'?" tegas Rendy.


"Kerajaan indah itu sudah hancur," timpal Nereus datar.


"Bagaimana bisa?"


"Aku yang menghancurkannya. Mereka menyebut dirinya suci, tapi penuh hal yang busuk bangar. Aku benci tempat itu. Yah ... walau akan dibangun kembali, dan aku yakin sekarang makin hancur."


"Baiklah, aku akan ke tempat yang ia sarankan. Bustam City." Rendy berdiri dan segera ke ruangannya untuk bersiap-siap.


"A-apa? Dia bercanda?" tanya Blue mengakhiri pertemuan itu. Mereka menghabiskan teh yang disajikan dan segera bersiap. Mereka memilikinya tujuannya masing-masing.


Seakan sekarang kelompok mereka benar-benar akan terpecah belah.


Nereus, Max, Raven, Kay, mereka hanya diam. Merasa tak ada hak berkata satu kata pun.


"Boleh Miles minta diajarkan bertarung?"


*


"Ekhem, aku akan ikut denganmu. Kombinasi kekuatan kita cukup berguna. Kau tahu, kan?" deham Blue dengan tas sudah ia cangklong dan baju berkelana yang rapi.


Rendy hanya bisa tersenyum. "Oke, aku merasa tertolong."


"Aku juga akan ikut," timpal Lucy juga siap.


"Aku juga akan ikut," tambah Irine tiba-tiba muncul di belakang Lucy.


"Kalian yakin akan ke Bustom City bersama kami?" tanya Blue meyakinkan. Kedua gadis itu mengangguk mantap. Matanya terlihat memancarkan cahaya penuh percaya diri dan tekad yang bulat.


"Lalu apa kita akan benar-benar melakukan jalur darat untuk ke sana? Itu bisa memakan berminggu-minggu meski kita menggunakan kekuatan," tutur Lucy.


Rendy berpikir satu hal yang mungkin sedikit berisiko. Tapi memang hanya satu-satunya jalan adalah itu.


"Kita menyusup ke Halfen Laboratorium."


Keempat remaja itu keluar dari ruangan. Dan mereka dihentikan oleh Lily.


"Kalian juga akan ke Halfen Laboratorium?" tanya Lily.


"Ya, aku tidak mau buang-buang waktu untuk perjalanan. Aku tahu jika hal ini akan semakin membuat kita dibenci oleh mereka. Tapi tidak ada cara lain."


Lily terdiam. Namun memang benar. Ia lalu mengangguk. Dan akan berangkat bersama. Nereus dan Pelatih Max juga yang lainnya akan menetap di Halfen Island untuk nantinya. Karena setelah peristiwa serangan dua kali selama ini. Halfen Island tidak bisa dibiarkan untuk ke depannya.


"Pertama kita menyusun rencana dulu."


*


"Maaf, Tuan. Walikota tidak bisa menemui Anda."


"Oh, ayolah. Aku anak kesayangannya, aku hanya ingin menyampaikan semacam keluhan sebagai seorang warga."


Penjaga muka seram itu menatap tajam. Dan menutup jalan dengan tongkat mereka.


Blue menekan alat komunikasinya untuk menghubungi yang lainnya.


"Sepertinya gagal untuk bernegosiasi."


"Buat mereka pingsan." Blue mengangguk lalu meregangkan otot lehernya.


"Apa yang akan kau lakukan, Tuan?" Penjaga itu menyipitkan mata, merasa curiga.


"Mencari tiket masuk."


Blue langsung menyerang dan mengincar leher kedua penjaga itu. Satu dapat dilumpuhkan karena tak sempat melawan. Yang satunya melawan, namun tak terduga terjatuh karena terpeleset. Dan Blue bisa membuatnya pingsan.


"Beres," lapor Blue.


Mike dengan segera mendekati Blue dan meredamkan suara seperti biasanya. Irine dan Rendy dengan segera menyembunyikan kedua penjaga tadi ke balik semak-semak agar tak menarik perhatian.


"Ingat, kita akan langsung pergi ke koordinat yang sudah dikirim. Kirim tiga koordinat: Perbatasan Halfen Island, Holy Island, Bustam City. Paham?" pesan Rendy. Irine, Mike, dan Blue mengangguk paham, segeralah mereka melaksanakan tugas.


Irine menyelimuti mereka semua dengan bayangannya sehingga bisa bergerak bebas di tempat gelap tanpa diketahui oleh orang-orang.


Penyelinapan mereka begitu mulus, sampai di kantor Walikota. Ruangan itu sepi, entah ada di mana Locius. Tapi itu tak penting, selama mereka sempat untuk masuk.


"Rendy, buku mana yang harus ditarik?" tanya Blue.


"Coba saja semuanya, aku juga lupa—"


"Buku ungu dengan corak emas, bertuliskan Sejarah Demi-God."


Semuanya langsung menoleh ke sumber suara. Itu Walikota Locius.


"Tuan, kami tidak ingin menyakiti Anda," peringat Mike. Locius bukannya melakukan apa-apa, ia justru menarik kursi kerjanya mendekat ke sofa. Lalu mengisyaratkan mereka untuk duduk di sofa tamu.


Tiga lelaki dan satu perempuan itu saling memandang, kemudian duduk.


Locius tersenyum tipis. "Kalian sudah tahu bahwa saya ada sangkut pautnya dengan Elf, kan?"


Keempatnya mengangguk pelan.


"Bagaimana keadaan putriku?" lanjutnya.


"Dia hanya kesal pada ayahnya," jawab Rendy pelan. Locius tertawa kecil.


"Aku tidak bermaksud membenci kalian karena kehilangan warga-wargaku tercinta," ungkap Locius dan menghela napas berat. "Hanya saja terlalu banyak kematian terjadi di hadapanku. Dan kalian justru menjadi pelampiasan amarahku yang seharusnya kutujukan kepada nasib."


"Kami tahu Anda tidak benar-benar marah atau membenci kami," sela Mike.


Locius menggeleng. "Kalian setelah ini akan mencari dua pendamping kalian, kan?"


Pertanyaan itu dijawab mereka dengan anggukan lagi. Locius ikut mengangguk, lalu ia merogoh saku jasnya. Mengeluarkan secarik kertas bertanda-tangan dan ada lambang Halfen Island di sana.


"Tunjukkan pada pemimpinnya, maka kalian akan diperlakukan dengan semestinya." Locius memberikan kertas itu. "Sekarang pergilah, sebelum ada yang tahu."


Rendy, Blue, Mike, dan Irine pun segera menuju Halfen Laboratorium. Ternyata pusat penelitian kota itu tak ada satu orang pun. Benar-benar mati, bahkan tak ada aliran listrik.


"Aku akan ke ruang pengendali listrik dan menghidupkannya. Kalian bergegaslah dahulu." Blue mengambil senter di tasnya. Dan segera berlari.


Yang lainnya pun ikut berjalan dengan senter sebagai alat bantu mereka. Keadaan begitu sunyi, hanya suara langkah kaki menginjak genangan air. Kemungkinan kekacauan yang lalu menyebabkan beberapa kebocoran saluran air.


"Kudengar di sini ada beberapa makhluk dikurung yang memang diteliti oleh para ilmuwan. Menurutmu di keadaan tidak ada orang begini apa yang terjadi pada mereka?" celetuk Mike.


Baru dibicarakan oleh Mike, dari arah kegelapan ada suara erangan walau redup.


"Sial, cepat kita pergi!"


Ketiganya segera mempercepat lari mereka. Namun berlari adalah keputusan yang kurang tepat. Suara langkah kaki dan cipratan air semakin keras. Membuat monster dalam kegelapan itu ikut berlari menuju ke mereka karena merasa ada mangsa yang bertamu.


"Makhluk itu mendekat!" seru Irine.


"Kalian lompat setinggi mungkin! Hati-hati dengan langit-langit!" perintah Rendy. Irine dan Mike, juga Rendy lompat.


Rendy mengendalikan air yang menggenang setinggi sepatu untuk membelenggu monster buruk rupa itu dengan esnya. Seketika makhluk itu membeku, namun telah sempat memanggil kawanannya.


"Dasar monster sialan, main keroyokan ..." geram Mike.


"Mereka itu makhluk apa? Lalu bagaimana keadaan Blue?" tanya Irine. Baru sempat bertanya begitu, seketika banjir bandang mendatangi mereka.


Tak hanya air rupanya di banjir itu, tapi juga beberapa kawanan monster. Dan di ekor banjir itu ada Blue.


Monster-monster yang terguyur itu lari menjauh seakan kapok diombang-ambingkan.


"Apa-apaan ini?" kesal Mike.


"Maaf, aku hanya membela diri. Aku tentu tidak mau jadi santapan pertama mereka, kan?" balas Blue.


"Aku akan bersama Blue, kalian berdua ke ruang teleportasi. Berdua lebih baik." Irine segera mendekati Blue dan keduanya segera melanjutkan perjalanan mereka.


Beberapa monster memang menghadang di jalan. Tapi bisa diatasi dengan baik. Sampailah mereka di masing-masing tujuan.


Dan listrik dinyalakan sehingga lampu-lampu mulai menyala. Begitu juga mesin pengirim koordinat teleportasi.


"Listrik sudah menyala!" lapor Blue.


"Koordinat terkirim ketiganya!" lapor Mike.


Lily segera menganggukkan kepala kepada Finne, Jack, dan Lucy. Mereka pun segera ke tujuan pertama, titik perkumpulan dan perpisahan, Perbatasan Halfen Island.


Dzing!