Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Serangan Balik



"Haha ... hahahaha!" Eloisa tertawa keras. Separuh tubuhnya terbakar hangus, dan separuhnya sudah dapat regenerasi.


Ell menatap Eloisa tajam.


"Sudah kubilang, mau mengalahkanku itu hal yang mustahil."


"Ketahuilah, aku hanya mengulur waktu."


"Light Splash!"


"Banshee Screams!" Lily dan Mike meluncurkan kekuatan mereka. Sebuah cahaya menyilaukan pandangan, dan suara teriakan mematikan mengganggu telinga Eloisa. Walau untuk sesaat, itu cukup untuk serangan berikutnya.


Tangan-tangan bayangan yang sangat panjang menarik kedua tangan dan kaki Eloisa ke segala arah. Membuat wanita itu berteriak kesakitan.


Tanpa memberi waktu, Lucy segera meneruskan rencana matang mereka.


"The Great Spears!"


Dua tombak raksasa datang dari langit dan menusuk dari arah kanan-kiri Eloisa. Membuatnya menjerit kesakitan untuk kedua kalinya.


Untuk formasi menuju ******* serangan, Blue dan Nereus menyatukan kekuatan dan membentuk belenggu air raksasa. Menenggelamkan diri Eloisa di langit.


Rendy dengan segera membekukan gumpalan raksasa itu. Sehingga Eloisa kesulitan untuk bergerak. Tentu juga dibantu oleh sihir angin milik Max dan Ell.


"Finne, sekarang!" seru mereka serentak.


Finne langsung melepaskan kekuatannya. Matanya bercahaya hijau. Ia terangkat terbang seiring dengan bertumbuhnya sebuah pohon berukuran amat sangat besar dari tanah.


"Dentrogilluminos!" rapal Finne. Dan pohon itu sempurna terbentuk.


Akar-akar raksasa pohon itu segera menjalar dan melilit belenggu itu beserta Eloisa di dalamnya. Menariknya paksa ke dalam batangnya yang berdiameter luar biasa besar dan tinggi menembus awan di angkasa.


Cabang-cabang pohon itu ikut menarik Eloisa ke dalamnya. Dan kebesaran dari segel pohon itu berhasil menelannya habis.


Terbentuklah sebuah simbol spiral seukuran sepuluh manusia di batang itu. Pertanda ada yang bersatu, dan tersegel di sana. Dan terkutuklah yang membuka segel itu.


Semuanya bersorak kemenangan atas kejadian itu. Lalu perlahan matahari mulai menampakkan dirinya dengan indah dari langit. Tanda hari telah berganti, dan sesuatu telah berakhir.


"Aku ... lelah ..." Finne dengan rasa kantuk yang luar biasa tergulai lemas dan meluncur jatuh ke tanah.


"Hup!" Untuk saja Mike menangkap dengan segera tubuh gadis itu.


"Dia pasti sangat kelelahan," ujar Mike tersenyum.


"Ya, itu jelas." Max menanggapi. Ia merasa sangat bangga pada mereka.


"Kau berhasil sebagai seorang pelatih, Max." Ell menyenggol Max yang masih senyum-senyum sendiri.


"Ya, itu benar, Prof."


"Oh ayolah, aku sudah jadi kepala sekolah di sekolahku sendiri! Bukan guru lagi, hanya pengangguran yang digaji saja."


"Aku akan menagih tarif pembiayaan gedung sekolahku pada kalian para Zodiak, oke?" Ell menatap langsung para Zodiak lainnya yang ternyata sudah siuman dan mendekat.


Raut wajah mereka langsung berubah. Ada yang menganga, ada yang membelalak, dan ada yang mengerut.


"Oke, aku akan mengadakan perjamuan bersama dan terakhir kita bersama Rendy, Blue, Lucy, Lily, dan yang lainnya aku tidak ingat!" seru Ell dan pergi.


Lily memandangi Finne dengan wajah yang terlihat tertidur pulas, dan tenang.


"Ada apa, Lil?" tanya Jack. Lily menengok, dan menatap langsung mata merah Jack. Mata periang, yang pasti kelihatan aneh jika menjadi suram.


Lily bukannya menjawab, ia menggeleng pelan. "Tidak ada," jawabnya.


"Kay!" seru Raven begitu akhirnya Pelatih Kay ditemukan.


Pelatih Kay hanya melambaikan tangannya seraya dibantu berjalan oleh Blue yang menemukannya.


"Aku hanya sedikit terkilir, untungnya." Kay kemudian duduk, dan memperlihatkan kakinya pada Raven dan segera diobati.


"Maaf tidak ikut bertarung, aku baru saja siuman. Dan dari kondisi yang bisa dilihat, sepertinya murid-murid kita ini bisa mengatasinya sendiri." Kay tersenyum lega.


"Ya, mereka tentu sudah berkembang." Raven mengimbuhi.


...******...


"Yah ... setidaknya aku bisa sedikit senang dan tenang untuk sekarang," lega Lily menghembuskan napas panjangnya.


"Kita akan pulang untuk melapor dan menerima misi ujian selanjutnya, ingat?" ucap Blue.


"Ya, itu benar. Kita masih punya rekan yang belum diselamatkan." Rendy menambahkan dengan serius.


"Hei, kita bisa sedikit santai lah!" Blue memukul pelan lengan Rendy. Rendy hanya memelototi Blue dingin.


"Aku akan ikut kalian, karena tujuan kita sama." Nereus tersenyum dan menunjukkan jempolnya pada Rendy.


"Terserah," jawab Rendy singkat.


"Aku berikan artefak-artefak itu pada kalian. Sebagai hadiah karena menyelamatkan sekolah, kerajaan, sekaligus meratakan bangunan sekolahku," ucap Ell dengan nada sedikit kesal di akhir perkataannya.


"Terima kasih banyak, Principal Ell." Jack mengangkat gelasnya dan bersorak-sorai.


"Kami akan pulang siang nanti," ucap Rendy.


"Itu bagus," balas Ell kemudian meneguk minumannya.


Circe berdiri dari bangkunya tiba-tiba. Membuat semua orang bingung dan memperhatikannya.


"Aku, Hermione Circe sebagai Opiuchus dan sekaligus pemimpin The Zodiac. Akan menyetujui permintaan pertemanan dari ras Manusia dan Demi-God. Kami akan membangun kembali kerajaan Penyihir dan akan selalu siap sedia jika teman kami, yang adalah kalian semua, saat meminta bantuan. Kami akan senantiasa ada untuk kalian," tutur Circe.


Seruan terdengar lantang dari mereka, menyetujui perkataan Circe.


Perpisahan mereka diakhiri penjelasan Max dan Ell mengenai artefak yang baru saja didapatkan para Demi-God itu.


Beberapa dari mereka mendapatkan buku dengan mantra-mantra tingkat sulit, jubah berkekuatan khasnya masing-masing, zirah, dll.


"Aku seperti pernah melihatnya, tapi tidak tahu di mana." Max memandangi artefak Rendy, yaitu cincin yang bisa menyatu dengan Mageia lelaki berambut putih itu.


"Tidak masalah selama ini bisa berguna." Rendy mengambil kembali cincinnya itu dari tangan Max.