Demi-God: Chaos

Demi-God: Chaos
Bukan Satu Kota



Lily masih memeluk lelaki merah itu. Dari tubuhnya, memang terlihat jika dia berusia sekitar 18-19 tahun. Namun jika diperhatikan lagi, hatinya seperti anak-anak yang baru saja mendapatkan seragam sekolah dasarnya.


Tak disangka-sangka, pria ini memiliki trauma yang sangat besar.


Lily kemudian melihat sekitar. Kabut tetap menemani mereka. Sebenarnya apa penyebab kabut ini ada? Bagaimana menghentikan semua ini?


Melihat Jack lagi, membuat Lily mendapatkan satu ide.


"Jack!" Lily mengangkat tubuh lelaki itu agar duduk tegak.


Terlihat jika ingus lelaki itu masih mengalir. Lily mau merasa jijik, tapi dia takut jika ... lupakan.


Idenya begitu patut untuk dicoba.


"Jack, dengar. Bagaimana jika kita menaikkan suhu di sekitar sini? Kabut itu kan uap air, awan ... jadi buat saja semuanya menguap sampai habis dengan apimu! Guru IPA-ku pasti bangga padaku!" Lily terlihat tersenyum bangga.


"Aku tidak akan bisa, aku akan mengacaukan semuanya!" Jack kembali tidur di pangkuan Lily. Membuat Empunya Pangkuan itu mengerang kesal, kemudian kembali menegakkan lelaki itu supaya berkontak mata.


"Jack, kamu harapanku yang terakhir kali ini. Tolonglah sekali saja!"


"Aku berulangkali menolong, dan berulangkali gagal bahkan memperkeruh semuanya!"


Plak


Satu tamparan panas mendarat di pipi Jack.


"Jangan cengeng! Aku menyukaimu bukan karena kamu cengeng! Bodoh! Sekarang berdiri dan bantu aku menyelamatkan rakyat Halfen Island!"


Jack berdiri perlahan sambil memegangi pipinya yang merah, dengan wajah tetap mematung terkejut.


"Sekarang keluarkan Avra-mu dan buat kabut menyebalkan ini menghilang!"


"O-oke ..." Jack mengeluarkan api dari tangannya.


"I-ini tidak berhasil ..." ragu Jack.


"Perbesar apinya! Tingkatkan suhunya!"


Jack menyemburkan apinya ke depan. Dan perlahan kabut itu menghilang, namun hanya sepanjang api itu bisa menyentuh mereka.


"Itu sudah bagus, setidaknya terbuka jalan sedikit. Lakukan terus, Jack!"


Jack tersenyum kecil. Mereka pun berjalan dengan membuka sedikit demi sedikit kabut itu, walau tak lama setelahnya akan tertutup kembali. Namun setidaknya mereka sekarang bisa tahu arah.


Wosh!


Beberapa pohon terkena api Jack, dan api itu menjalar. Membuat beberapa terbakar hangus. Dan dengan cepat bisa padam karena kabut itu sendiri.


"Kurasa kita jangan menggunakan api lagi ..."


"Jack, bisa kau hanya membuat suhu di sini meningkat?"


"Hah?"


"Ya, apa pun itu asal bisa menghilangkan—"


"Begini?"


Jack menyalurkan api ke pedangnya. Lalu mengarahkannya ke kabut, sesekali sedikit menebas untuk memperluas.


"Bagus, ayo kita lanjut!"


...***...


"Kenapa mereka mengarahkan ke tempat yang lebih dekat dengan perbatasan antara hutan buatan dan kota. Bukan tengah hutan di tempat kita mendarat tadi?"


"Hei, kamu pemandunya di sini. Jangan menyesatkan!" Blue menatap kesal Finne.


"Mereka itu alam, mereka jujur. Tidak sepertimu, Blue."


Jujur saja, kalimat itu menusuk Blue.


"Lalu kenapa bukannya mengarahkan ke tempat kita tadi—"


"Karena mereka yang mendekat," potong Irine menunjuk suatu arah.


Kabut terbelah dengan pelan. Dan terlihat dua rekan mereka dari sana.


"Finne!" teriak Lily ia kemudian berlari ke arah gadis berambut hijau itu. Lalu memeluknya.


"Bagaimana kamu bisa menemukan kami?" tanya Lily dengan senyum bahagianya yang tak kunjung terbenam.


"Aku mengikuti arahan pohon-pohon dan hewan-hewan kecil," jawab Finne dan tentu membuat Lily semakin bingung.


"O ... ke, aku akan percaya karena kamu punya yang begitu, dan begitu ..."


"Sekarang kita temukan pelatih Max dan pelatih Raven—"


"Sudah di sini." Tiba-tiba saja dua orang itu muncul. Dengan keadaan Si Pria pincang ditopang, dan tangan kanannya digendong dengan kain segitiga karena patah.


"Aku terperangkap manipulasi lawan, kemudian menyerang Raven. Dan aku kalah, dia tidak menyembuhkan patah tulangku karena takut aku ..."


"Kembali sakit jiwa, " lanjut Raven melepas topangannya. Membuat Max oleng dan jatuh.


"Kenapa, Pelatih Max tidak menyembuhkan diri dengan sihir penyembuhan?" tanya Lily.


"Aku kehabisan Mageia," jawab Max berusaha membuat mukanya menghadap atas.


"Bagaimana bisa, Pelatih Raven mengalahkan ..."


"Kalian bayangkan melawan monster Avra yang berulang kali menyembuhkan dirinya sendiri dan terus melawan. Aku kehabisan tenaga pada akhirnya. Lalu dipatahkan tangan dan kakiku, itu membuatku tersadar," jelas Max. Kemudian dia mengangkat jempolnya ke atas seakan berkata, "Hei, aku baik-baik saja." Dan pingsan.


"Aku tidak akan terhipnotis," gumam Blue merinding, tentu karena melihat kondisi Max.


"Aku medis terbaik ras manusia, aku punya cadangan Avra yang luar biasa. Karena tidak pernah kupakai di garis depan. Jadi ayo ke balaikota!"


...***...


"Nereus?"


Suara familiar lagi. Namun berbeda dengan yang tadi. Ada apa dengan saat-saat ini? Apa memang akhir dari hidup Sang Nereus? Sehingga semuanya seakan berkunjung untuk mengucapkan selamat tinggal?


"Nereus? Ini aku, Ane."


"Moi Moi? Benar itu kau? Mana Dira? Oh, tidak  maksudku Akhlis ..." Nereus bangkit ke posisi duduk dengan susah payah.


Ane melihat pedang di perut kekasihnya itu segera menariknya pelan-pelan.


"Tu-tunggu, ini alam bawah sadar. Aku tidak bisa regenerasi dengan mudah, ini jiwa bukan fisik."


"Ya, aku tahu. Tapi kamu menderita jika ini masih tertancap di sini."


Nereus kemudian diam. Ia biarkan Ane menarik senjata itu. Sedikit erangan ia keluarkan, namun sebisa mungkin ia tahan.


"Aku ..."


Bruk!


Ane memeluk Nereus. Perih. Ya, lubang di perutnya masih terlihat jelas sekali bahkan tangan bisa masuk ke sana.


"Akhirnya bisa ketemu, ke mana saja kau? Hah? Tapi itu tidak penting, berkat kamu bersama Rendy. Aku juga bisa menemuimu"


"Aku ...." Nereus tak melanjutkan kalimatnya lagi.


"Maaf," lanjutnya. Hanya satu kata yang sanggup dia katakan.


"Lupakan, kamu tidak salah. Kamu sudah menceritakan hal 'itu' pada Rendy?"


"Ya ... sudah," jawab Nereus ragu.


"Bagus. Untuk sekarang dia sedang butuh bantuanmu. Aku menemuimu di Ruang Hampa ini, karena aku hanya punya satu kesempatan. Olympus sedang terpecah belah, Poseidon dan Zeus tak pernah bisa akur."


Nereus terkekeh kecil. "Ya, mereka selalu begitu. Ego yang utama."


"Ingat, aku akan memberimu sedikit—"


Nereus menarik lagi Ane ke dalam pelukannya.


"Hah ... aku rindu rasa hangat. Dingin yang selama ini menemaniku. Tapi semua memang harus kulakukan, karena memang aku pantas."


"Nereus, aku paham perasaanmu. Tapi waktuku tak banyak."


"Anemoi, terima kasih sudah di sisiku selalu." Nereus memang tidak bisa melihat senyum Ane. Namun dia tahu, akan selalu ada lengkungan yang begitu tulus di sana, tepat di depannya.


"Sekarang, lepas saja kekuatanmu. Rendy akan menolongmu untuk mengendalikannya." Anemoi menyembuhkan Nereus dengan energi sihir murninya.


"Ingat, dia itu putra kita. Dia pasti bisa."


Anemoi menatap dalam-dalam suaminya itu. Dia begitu ingin menghabiskan waktu lebih lama. Tapi ia yakin, suatu hari nanti. Mereka akan bertemu, pasti.


Dikecupnya lelaki albino itu. Dan mendorongnya menuju kesadarannya.


"Aku menyayangimu, Elios!"


...****...


"Hah!?" Nereus terbangun. Dia mengecek perutnya. Benar, dia terpengaruh ilusi dari Akhlis.


Akhlis terlihat sedang menatap tajam Nereus yang berhasil lepas dari kekuatannya.


Perlahan mata Nereus terbuka. Pupilnya berwarna biru keputihan, bersinar terang di antara remang-remang kabut.


Nereus membuat dinding air di sekitar mereka. Hujan membasahinya, sehingga kabut menghilang namun tergantikan air hujan yang deras.


"Ini yang dikisahkan bisa menghanyutkan satu kota?"


"Bukan, tapi satu kerajaan."