
"Lucy?" Berapa kali Rendy sudah memanggil-manggil nama gadis itu. Tapi tak ada balasan sama sekali.
Menyerah? Tidak. Bisa jadi Lucy sedang dalam bahaya.
Trang! Buum!
Tiba-tiba saja ada suara ribut dari pertarungan dari arah depan. Rendy segera mengikuti arah suaranya.
"Lucy!?"
Pertarungan itu sempat terhenti sebentar dan dilanjutkan raut wajah bingung Lucy.
"Re-rendy?" bingung Lucy melihat dua Rendy dalam satu tempat.
'Rendy' yang dilawan Lucy tadi seketika berubah wujud menjadi wanita dengan kulit pucat dan terpampang jelas kesuraman dari auranya. Ia mengenakan tudung hitam kelam, dan jubahnya menyapu tanah.
"Yah, sudah ketahuan ... padahal tadi energi ketakutan gadis itu enak," ucap wanita itu lalu menjilat bibirnya. Suaranya parau, membuat atmosfer di sekitarnya menyalurkan betapa suram keberadaannya.
"Ta-tapi tadi ... Rendy ..." Lucy masih bengong dan menunjuk Rendy juga wanita misterius itu bergantian.
"Maksudmu, kau mengira wanita jelek itu aku, hah? Aku memang berambut putih, tapi mukaku tidak sepucat itu! Dan lagi rambutnya kan hitam! Kamu buta warna, ya!?"
"Aku sedih disebut jelek, lho ..." respons wanita itu.
"Ta-tapi tadi wanita itu mirip sekali denganmu! La-lalu dalam satu detik, 'wush'! Jadi tambah jelek!"
"Apa maksudmu 'tambah jelek', hah!?"
"DIAM!" Angin dingin mengiringi teriakan itu.
Rendy dan Lucy baru benar-benar bungkam karena rasa takut yang menjalar dari kaki hingga ubun-ubun mereka seluruhnya.
"Aku juga punya nama, adik-adik manis ... namaku Akhlis," lanjutnya.
"Akhlis? Seperti familiar ..." gumam Rendy.
...***...
"Jadi maksud Anda, ini ulah Dewa Mula-mula lagi?" tanya Kay meyakinkan penjelasan baru saja Nereus.
"Ya, Dewi Kabut Kematian. Eh, Dewi atau Dewa, ya? Aku lupa ... yang pasti namanya Akhlis."
"Lalu apa alasannya menyerang Halfen Island?" tanya Ibu Miles.
"Entah, paling juga mengincar para Demi-God," jawab Nereus santai. Padahal anaknya sedang dalam bahaya.
"Lalu apa kekuatannya—"
"Bingo! Itu artinya, Akhlis sedang di sekitar sini. Mengingat dari tadi aku dibuat merinding oleh aura-aura misterius ini."
"Apa yang harus kita lakukan, Kakek Nereus?" tanya Miles dengan nada polos.
"Aku masih muda, tau! Panggil Kakak juga, dong!"
"Kakek."
"Lupakan, ya pilihan terbaik tetap sama. Jaga kesadaran."
"Lalu apa kita harus tetap menunggu di sini?" tanya Kay.
"Aku kan hanya bilang jaga kesadaran, bukan menunggu. Kamu yang menjebakku di sini terus-terusan. Aku gak bisa ke mana-mana! Kalau bisa aku mau pergi dari tadi!"
"O-oh ..." Kay mengendorkan genggamannya.
Selang beberapa detik, tak hanya Nereus. Bahkan Kay juga merasakan ledakan Avra gelap dari satu wilayah yang tak jauh dari mereka.
"Itu Rendy dan Lucy," ucap Nereus kemudian berlari ke arah sejumlah Avra raksasa itu. "Kay, tetap di situ! Jaga mereka dan kesadaranmu!"
"Bagaimana Kakek itu bisa tahu arah kalau buta?" celetuk Miles.
"Insting?"
...***...
"Tugasku mudah sebenarnya." Akhlis berjalan perlahan mendekati dua remaja yang masih dalam posisi siaga itu.
"Apa yang akan kau lakukan, ha?" tanya Lucy.
"Untuk peperangan, kita membutuhkan pasukan. Pasukan jika bukan para dewa, tentu lemah bukan?"
Akhlis terus berjalan mengitari keduanya. Membuat beberapa luapan energi negatif di sekitar sana. Membuat ciut mental mereka. Itulah kemampuannya.
"Aku hanya ingin mengambil, oh bukan ... meminjam beberapa teman-temanmu, Rendy ..."
"Tanpa Phanes yang naif, bisa apa kalian?" kekeh Akhlis.
"Sampai mati pun, kami tidak akan mau dengan sukarela memberikan diri kami, bodoh!" bentak Lucy.
Akhlis berhenti. Ia menengadahkan kedua tangannya. Kabut semakin tebal bahkan membuat keduanya benar-benar tidak bisa melihat apa pun.
"Astaga, kalian begitu mengandalkan penglihatan kalian, ya?"
Crat!
Satu tebasan yang cukup dalam mendarat di kaki Rendy dan Lucy. Membuat mereka oleng dan jatuh ke tanah.
"Sedangkan aku? Yang telah dibutakan oleh kekelaman dunia?"
Jrat! Jleb!
Tusukan demi tusukan, goresan demi goresan, menghiasi seluruh bagian yang tak terlindungi. Membuat keduanya benar-benar tak berdaya di dalam kegelapan itu.
"Masih mau mempertahankan kesadaran? Oh ayolah, menyerah itu menyenangkan dan mudah."
"Kau pikir sampai ke titik ini mudah, hah?" Lucy tetap berusaha bangkit. Meregenerasi setiap sel-sel yang dirusak wanita busuk yang entah di mana ia sekarang.
Terus bertahan, tiba-tiba dalam beberapa detik. Tak ada serangan lagi dan justru tergantikan suara pria paling menyebalkan.
"Anak-anak payah, aku berpikir cukup keras bagaimana kalian bisa bertahan hidup selama ini?"
Seketika saja semua kabut gelap itu telah hilang. Dan tubuh mereka baik-baik saja, tidak ada luka sama sekali.
"Apa, apa yang terjadi?" tanya Lucy. Ia melihat Akhlis tengah terduduk lemas dengan perut ada satu luka tebasan, yang tengah ia pegangi dan terlihat mukanya di balik tudung yang terbuka.
Dia sebenarnya cukup cantik, tapi juga terlihat betapa kelam kehidupannya dari wajahnya yang sangat amat pucat itu.
"Kalian!?" erang Akhlis kemudian terbang ke arah mereka.
Nereus membentuk dinding air, dan Akhlis mundur beberapa meter. Dia kemudian kembali membuat kabut lagi.
Kali ini benar-benar rasa takut yang bukan main-main. Hingga suhu udara di sekitar mereka serasa di bawah 0 derajat.
Gigi gemeletuk hebat, tubuh menggigil, juga pengalaman kedinginan pertama bagi Rendy. Ini bukan karena suhu udara, tapi rasa takut dari alam bawah sadar mereka yang bisa mempengaruhi pikiran, dan tubuh menjadi kedinginan karena ketakutan.
"Kalian pikir bisa mengalahkanku!? Kalian pikir bisa mengalahkan rasa takut kalian sendiri!? Makan semua kesombonganmu itu, wahai makhluk bodoh!"
Beberapa serangan sihir menerjang ketiganya. Berusaha menghindar dan menangkis memang bisa, hanya sebagian serangan. Lainnya tetap saja memborbardir mereka.
"Nereus yang malang, kamu terlihat menahan diri. Kenapa? Kenapa takut?"
"Diam, jelek! Aku sedang konsentrasi dengan seranganmu!"
Ombak besar datang, dan menghanyutkan Akhlis. Tapi Akhlis tak tenggelam dan terbang ke atas. Dia tertawa terbahak-bahak. Serangan sihir tentu tak berhenti.
"Kau pikir selama bertahun-tahun berkelana, aku masih kekurangan pengalaman seperti dua remaja pubertas di belakangku ini?"
Hiu air terbentuk dari ombak, menerkam Akhlis. Akhlis lagi-lagi menghindarinya. Meledakkan hiu-hiu itu dengan sihir hitamnya.
"Kau tahu, tak ada makhluk yang tak takut padaku." Gumpalan abu-abu kehitaman terbentuk di kedua tangan Akhlis. Ia tembakan itu ke arah ketiganya.
"Menghindar! Kamu bisa masuk RSJ kalau kena!" teriak Nereus. Ketiganya melompat berpencar.
Akhlis terus menembakkan gumpalan aneh itu bertubi-tubi.
Rendy beberapa kali menumbuhkan es tajam dari tanah, untuk menghujam wanita itu namun tak ada satu pun mengenainya. Begitu juga Lucy yang menghujaninya dengan berbagai macam senjata.
"Dia itu lentur sekali, latihan senam yoga di mana? Aku mau untuk meditasi!" Nereus kembali membuat ombak dengan skala lebih besar.
"Ayah! Kita tidak tahu ada apa saja di sekitar sini!" teriak Rendy menghentikan tindakan Nereus. Nereus segera melepas kekuatannya.
"Lihat, kalian naif seperti Phanes. Betul-betul naif!" Akhlis meluncurkan lagi gumpalan sihirnya.
Begitu besar hingga sulit untuk dihindari.
Pyas!
Akhlis, Sang Dewi Kabut Kematian. Terkenal dengan kematian yang terus-menerus berada di sekitarnya. Ia diketahui sudah ada sejak zaman Chaos, sejak zaman semua masih kosong dan gelap.
Dirinya selalu dikawal oleh ketakutan dan kekelaman di semesta ini. Tak ada yang berani padanya.
Ia dulunya memang cantik jelita, namun seiring semuanya berjalan. Tak ada yang tahu masa lalunya, namun yang mereka tahu. Ia selalu membawa kesuraman. Segala kesuraman, selalu berasal dari dirinya.
Alam bawah sadar adalah sasarannya. Selalu sasarannya, dan senjata pamungkasnya. Menjatuhkan mental musuh adalah tekniknya. Begitu mematikan dan kejam. Penyiksaan tiada tara.
Membunuh, tanpa membunuh.