Decision You Make

Decision You Make
Chapter 9- Apa yang Akan Mereka Lakukan?



Esok harinya, Kelas


"Reina, aku boleh pindah ke sini?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Ini kursi sahabatku."


"Minta saja dia pindah, gampang, kan?"


"Tidak."


"Kalau begitu aku pindah di sebelah sini, ya!"


"Asalkan Erine tidak keberatan ya sudah."


Damian hanya bisa menghela napas frustasi dan berbalik pergi, gadis ini sekeras batu.


Reina juga merasa risih dengan Damian, seperti lalat menurutnya. Karena sedang pergantian kelas, Chloe dan Erine pergi ke kamar mandi sebentar.


'Salahku juga tidak mengikuti mereka,' pikir Reina menyesal.


Saat sendiri seperti ini, Reina kadang memikirkan hidupnya.


Pikiran seperti ternyata mempunyai teman itu menyenangkan, ya. Aku kira tidak apa jika aku sendirian, toh aku hanya perlu melewati 3 tahun di sini. Tapi semua berubah saat dia dengan ramah menyapaku, dia berbeda dengan mereka. Dia membawa perubahan besar dalam hidupku.


Pikiran Reina buyar begitu Chloe dan Erine kembali.


"Hei, kalian kenapa lama sekali? Jangan-jangan kalian pergi ke kantin juga, ya?" Ucap Reina mengeluh.


"Tentu saja tidak, aku tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu," elak Erine begitu duduk di kursinya yang sekarang telah pindah di samping Reina.


"Heh, mengaku saja, Chloe yang baik tentu tidak mungkin, tapi kau, dari wajahmu saja kelihatan kalau kau selalu melakukan hal-hal seperti itu," balas Reina meremehkan.


"Apa kau bilang?! Kupikir kau sedang membicarakan dirimu sendiri," Erine tentu saja tidak mau kalah dan balik membalas.


Keduanya lalu bersilat lidah, tidak ingin kalah satu sama lain.


"Wow, aku tidak menyangka Nona bisa membuat mereka sangat melenceng dari karya aslinya," ucap Blaze kagum.


"Yah, aku juga tidak mengharapkan ini sebelumnya. Tapi bagus bukan jika mereka akur?" Jawab Chloe melalui pikiran ketika telah duduk di kursinya.


"Ya, tentu itu bagus. Ini mempermudah tugas," Blaze berkata sambil melihat pertengkaran kedua gadis itu yang sepertinya tidak akan berhenti.


"Omong-omong, Blaze, kemana saja kau kemarin? Aku benar-benar tidak melihatmu sejak pagi hari," tanya Chloe mengingat ketidakhadiran Blaze kemarin.


"Aku? Aku pergi mengurus sesuatu di dunia lama Nona. Dunia itu sudah berakhir, secara mengejutkan," jawab Blaze menjelaskan.


"Oh, aku hampir lupa dengan dunia lamaku. Tapi aku mempunyai sebuah pertanyaan, mengapa dulu aku tidak ditugaskan di dunia asliku saja?" Tanya Chloe sambil melihat ke arah Blaze, benar-benar penasaran dengan jawaban yang akan diberikan.


"Karena itu sudah aturannya, Nona. Beberapa hal tidak bisa diberitahukan kepada calon inang. Kecuali Nona berhasil menjadi inang yang sesungguhnya maka Nona akan mengetahui semuanya," jelas Blaze panjang.


Chloe mengangguk mengerti. Untuk sesaat Chloe melirik kedua temannya.


Mereka belum selesai bertengkar juga. Sudut mata Chloe berkedut kesal, mereka benar-benar seperti kucing dan tikus.


"Mereka ternyata sangat menikmati pertengkaran ini, ya. Aku bingung apakah ini pertanda baik atau malah pertanda buruk," ucap Blaze mengomentari kedua perempuan itu.


Chloe diam-diam menggelengkan kepalanya. Memfokuskan pandangannya pada buku pelajaran di depannya.


"Ini pertanda baik, Blaze. Itu adalah cara mereka saling mengungkapkan pertemanan mereka. Jika tidak, Erine pasti tidak akan setuju dengan rencana tadi, kan," sanggah Chloe.


Blaze tersenyum tipis, "tentu saja, Nona," jawabnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau sudah membawanya, Fred?"


"Lihat saja sendiri,"


Duakh


Entah ini adalah sebuah kebiasaan atau apa, lagi-lagi mereka melempar manusia seperti sebuah barang.


'Ada apa lagi mereka membawaku ke sini, tidak biasanya mereka secara terang-terangan melakukan ini,' pikir Vincent menerka-nerka.


Ia melihat sekelilingnya. Tidak ada orang, tapi ini koridor yang cukup terbuka.


Vincent tahu, mereka tidak cukup berani untuk merundungnya secara terbuka.


'Punggungku cukup sakit, aku harap ini tidak menggangguku nanti.' Pikiran Vincent terhenti begitu John, menunjukkan sebuah foto kepadanya.


"Kau kenal siapa ini?"


Mata Vincent terbelalak kaget. Vincent mengenal dengan baik orang dalam foto itu. Dirinya langsung merasa was-was, mengapa mereka bertanya kepadanya tentang gadis itu?


Apa yang mereka rencanakan? Apa ini tentang kejadian lalu? Bagaimana aku harus menjawabnya? Pikiran Vincent dipenuhi oleh pertanyaan yang menggerogoti seperti semut.


Selama beberapa puluh detik ini Vincent tidak menyadari bahwa dirinya melamun, mengabaikan kedua orang di depannya. John, dengan kesabarannya yang tidak begitu banyak, merasa kesal karena diabaikan.


Tapi John ingat perkataan Fred, jangan terlalu keras padanya, cobalah membuat dia mengungkapkan informasi.


Meski masih merasa kesal John tetap berusaha menahan emosinya, mencengkram bahu Vincent tanpa tenaga dan berkata:


"Aku tidak ingat." Tanpa berpikir panjang, Vincent menjawab.


Tapi John tahu, tidak mungkin bedebah kecil ini tidak tahu siapa gadis itu, kan?


Lagi-lagi John mencoba untuk membujuk Vincent, "oh, ayolah, coba ingat-ingat lagi," meski memasang wajah ramah tetapi Vincent bukan orang bodoh yang tidak menyadari niat John, bahkan setelah John memperkuat cengkramannya.


"Aku benar-benar tidak ingat," Vincent memasang wajah serius.


John hampir kehilangan kesabaran, begitu dia melihat wajah Vincent yang sekokoh benteng.


Menjengkelkan, kenapa kau tidak mengatakannya saja? Jangan sok menjadi pahlawan!


"Ba- maksudku, Vincent, apakah aku terlihat begitu membahayakan-"


"Iya. Dan sebaiknya hentikan raut wajah menjijikkan itu, membuatku mual saja," bukan Vincent yang menjawab melainkan Fred.


"Diam kau, bukankah kau yang menyuruhku, hah!"


"Ya, ya, pokoknya berhenti. Aku sudah dapat informasinya."


Fred menyodorkan handphonenya kepada John. Vincent tidak bisa melihat apa yang ada di layar handphone itu, tetapi dia bisa melihat seringai John begitu membacanya.


"Ah, Chloe Natalie, ya? Darimana kau mendapatkan ini, Fred?"


Deg!


Vincent terbelalak. Dia baru saja mengucapkan nama gadis itu, bagaimana bisa? Jika mereka telah mendapatkan informasi gadis itu, apa yang akan mereka lakukan?


Jantung yang berdetak kencang, dan rasa takut yang mulai menyelimuti. Pikiranku kacau, bagaimana ini bisa terjadi, kalau saja ... kalau saja sebelumnya aku.. Ya, semua ini ... salahku.


Saat ini Vincent tidak bisa mendengar suara apapun. Dirinya sibuk memikirkan berbagai pertanyaan yang mungkin tidak akan terjawab sekarang, semakin dia menyalahkan diri sendiri, pandangannya kabur dan pikirannya semakin kalut.


Sebelum Vincent bisa memikirkan hal lain, kesadarannya kembali ke kenyataan begitu sesuatu menghantamnya.


Ya, itu John. Dia telah kembali ke sifat aslinya, "karena itu jangan pernah melawanku."


——


"Apa, apa yang akan kau lakukan kepadanya?" Vincent tetap berusaha mengajukan pertanyaan, mengabaikan fakta bahwa jari tangan kanannya hampir tertutup oleh darah.


"Bukan urusanmu, lagipula kau mau apa, jadi pahlawan kesiangan?"


Hahahaha..


Sejenak gelak tawa terdengar memenuhi koridor, jika saja sekarang bukan saatnya jam pelajaran, mungkin beberapa siswa akan menemukan kejadian itu.


"Sudahlah, John. Lagipula dia bisa apa? Biar aku beritahu kepadanya," Fred menampilkan senyum main-main begitu menatap laki-laki itu.


Vincent merasa ada sesuatu yang salah, jantungnya berdegup kencang, untuknya sekarang menelan ludah saja terasa berat.


Dan begitu Fred memberitahukan perbuatan yang akan dia lakukan, rasa takut itu kembali muncul.


Oh, sial, ini lebih rumit dari perkiraan ku.


Saat mereka berjalan menjauh, bel istirahat berbunyi. Aku beranjak dari tempat ini, aku harus menemukan gadis itu, secepatnya.


Kelasnya, kosong. Kamar mandi wanita, sepertinya aku tidak boleh berada di sini. Kantin, terlalu banyak orang!


Pencarian sepuluh menit ini tidak membuahkan hasil. Aku berhenti. Napasku terengah-engah, terkadang aku mengutuk: mengapa sekolah ini begitu besar!


Tapi tunggu, bukankah dia bisanya berada di taman bersama kedua temannya, ya, aku tahu kemana aku harus pergi.


Kali ini aku berjalan pelan. Energiku sudah habis. Tapi berjalan memakan waktu lebih lama, sekitar tiga menit.


Di taman, aku tidak bisa melihatnya. Sebenarnya cukup mudah mencarinya, secara dia lebih tinggi daripada gadis kebanyakan. Aku hanya berjalan di pinggiran taman. Beberapa gadis melihatku seperti orang aneh, yah, memang taman secara tidak langsung telah diakui sebagai tempat berkumpulnya para gadis. Akan aneh jika mereka melihat laki-laki sepertiku berjalan-jalan memutari taman sambil melihat mereka satu persatu.


Tapi setidaknya kali ini pencarian ku membuahkan hasil. Aku menemukannya, dia sedang berjalan, lagi-lagi dengan kedua temannya.


"Nona Chloe!"


Dia menoleh begitu melihatku. Kedua temannya juga. Satu dengan rambut coklat menatapku terkejut, dan yang rambut pirang menatapku dengan ... waspada?


Baiklah, aku tidak peduli. Fokuslah kepada dia!


"Oh, ini kau. Ada apa?"


Deg


Lagi-lagi aku.. Tidak boleh, sekali lagi aku harus fokus.


"Ada yang ingin kukatakan denganmu, bisakah kita bicara?" Aku sangat berharap mereka tidak memerhatikan suaraku yang bergetar.


Chloe, gadis itu tampak berpikir, dan kedua temannya memasang wajah terkejut. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku memanggilnya, meski masih memakai embel-embel Nona.


Lama berpikir, akhirnya Chloe membuka mulutnya.


"Baiklah, ke mana kita akan bicara-"


"Aku tidak setuju!"


...----------------...


...To be continued...