Decision You Make

Decision You Make
Chapter 6- Damian dan Erine



Kringgg...


Suara bel masuk berbunyi. Chloe dan Reina yang sedang berkumpul di koridor, segera masuk ke kelas.


"Anu, Chloe, bisa kau pindah ke sebelahku, tolong?" Ucap Reina begitu duduk ditempat duduknya. Sambil memegang lengan Chloe dengan wajah memelas dan ekspresi imut yang dibuat-buat.


"Haha, hentikan wajah itu, terlihat seperti anak ayam. Baiklah, aku akan pindah," Chloe menyentuh hidung Reina dan tertawa kecil.


Berbalik, menghadap anak laki-laki yang duduk di samping Reina.


"Ini, teman sekelas, bisakah aku pindah ke sini? Tempat dudukku tadinya ada di samping jendela, bagaimana? Ingin bertukar?"


Sambil berbicara kepada laki-laki yang tidak ia ketahui namanya, Chloe tersenyum manis.


Laki-laki, apa tidak akan mempan terhadap senyum maut ini?


Laki-laki itu terpana dan dengan canggung mengatakan, "bukan ini, aku Felix. T-tentu, ayo bertukar," Felix langsung mengemasi barang-barangnya dan pergi ke tempat duduk Chloe.


Chloe juga pergi ke tempat duduknya, mengemasi tasnya dan pergi ke samping Reina.


"Yeay! Sekarang aku bisa dekat dengan Chloe!" Sorak Reina senang.


Tak!


Suara pintu terbuka dengan keras.


Guru segera masuk. Tapi ada yang berbeda, yaitu dua sosok manusia berbeda jenis kelamin yang ikut masuk ke dalam kelas.


Guru perempuan segera menepuk tangannya mencoba mendapatkan perhatian seluruh kelas.


"Perhatikan semuanya! Kali ini kita kedatangan dua murid baru. Silahkan perkenalkan diri kalian."


Anak laki-laki dengan rambut hitam dan mata hitamnya dengan ekspresi energik berkata, "halo teman sekelas. Aku Damian Marley, umur 18 tahun dan hobi berolahraga. Salam kenal," laki-laki itu memperkenalkan dirinya.


Dengan energi positif seperti itu tentu saja orang-orang segera menyukainya. Belum lagi laki-laki itu cukup tinggi. Mungkin sekitar 187 cm.


Berbeda dengan Chloe yang memiliki perasaan berdebar-debar.


Bukan cinta tentunya, hanya perasaan agak gugup. Untuk mengkonfirmasi ia segera menyalakan identifikasi.


...[Nama: Damian Marley...


...Umur: 18 tahun...


...Status: Karakter (potensi pasangan pria)...


...Tingkat kesukaan: 0% (seperti orang asing)]...


Begitu identifikasi diaktifkan, identitas perempuan di samping Damian juga mulai terlihat.


...[Nama: Erine Alisher...


...Umur: 18 tahun...


...Status: Karakter (potensi antagonis)...


...Tingkat kesukaan: 0% (seperti orang asing)]...


Bersamaan dengan itu perempuan itu berkata:


"Namaku Erine Alisher, umur 18 tahun," Erine berkata dengan senyum. Mencoba menciptakan kesan pertama yang baik. Wajahnya kecil, tingginya sekitar 168 cm dengan netra merah dan rambut coklat sepanjang punggungnya.


'Benar-benar tampilan yang mencolok untuk seorang antagonis!' Batin Chloe.


"Baiklah, mohon bantuannya untuk kedua teman baru kita. Kalian berdua, silahkan duduk di bangku kosong pada belakang kelas. Pelajaran akan dimulai."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu istirahat


"Chloe, ayo pergi ke kantin. Kudengar ada berbagai stok makanan baru. Ayo, ayo!" Dengan semangat Reina menarik tangan Chloe yang bahkan belum berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, iya, sabar," Chloe dengan pasrah membiarkan tangannya ditarik oleh Reina yang sungguh terlalu banyak energi.


Tetapi bahkan sebelum mereka melewati pintu masuk kelas, seseorang menjulurkan tangannya. Menghalangi pintu.


"Hai, teman sekelas! Siapa namamu? Perkenalkan, aku Dami-"


"Kau Damian, dia Chloe, dan aku Reina. Sekarang singkirkan tanganmu, itu menghalangi pintu," ucap Reina dengan wajah ketus, merasa tidak senang dnegan sikap Damian.


Wajah Damian membatu. Tetapi dia mencoba menguasai dirinya dan berbicara kembali.


"Ahaha, ternyata begitu. Baiklah, bagaimana jika aku mentraktirmu makan?" Tawar Damian tanpa menurunkan tangannya yang sedari tadi menghalangi pintu.


Beberapa saat, Damian menyadari kesalahannya dan mengatakan, "mentraktir kalian makan."


Reina mendengus pelan, "tidak terimakasih. Kau mengganggu kami."


Damian baru saja akan mengatakan sesuatu lagi sebelum seseorang menurunkan tangannya dan menegur dengan dingin.


"Cukup, kau mengganggu mereka. Lain kali tolong jaga matamu dan berhenti menggoda setiap gadis yang kau temui," pemilik suara adalah Erine, yang dengan erat memegang tangan Damian seakan-akan ingin mematahkannya.


Melihat kesempatan, Chloe segera menyapa Erine.


"Erine, kan? Perkenalkan, aku Chloe dan ini temanku, Reina. Bagaimana jika pergi bersama sesama gadis? Tentu keakraban diperlukan bagi teman sekelas, kan?"


Erine terlihat memandang Chloe dengan sedikit keterkejutan. Sebelum mengangguk setuju.


"Baik."


Tapi Damian menyela dengan cemas.


"Teman sekelas! Aku juga ingin ikut!"


Ck..


"Tidakkah kau mendengar apa yang dikatakannya tadi? Sesama gadis, laki-laki tidak boleh ikut," usir Erine dengan sinis terhadap Damian.


Wajah memelas Damian bahkan tidak melelehkan hati Erine.


"Ayo, teman-teman." Ajak Erine membalikkan badannya dan menggandeng tangan Reina.


——


Di kantin Chloe, Reina, dan Erine mengobrol bersama-sama.


Sebenarnya Chloe ingin cepat-cepat mencegah Erine menjadi antagonis. Karena itu ia segera menyalakan identifikasi sebelum melakukan suatu hal.


...[Nama: Erine Alisher...


...Umur: 18 tahun...


...Status: Karakter (potensi antagonis)...


...Tingkat kesukaan: 30% (teman)]...


Perempuan lebih mudah akrab dengan sesama perempuan, dan ini menguntungkan Chloe tentunya.


Melihat tingkat kesukaan Erine yang mencapai 30% Chloe segera melaksanakan misinya.


"Erine, kau terlihat tidak menyukai Damian, mengapa?"


Erine lalu menjawab dengan santai, "bukan tidak suka, tetapi aku hanya jengkel melihat sikap penggodanya yang selalu ditujukan untuk setiap gadis yang dia temui."


"Erine tidak suka jika Damian mendekati perempuan lain?" Reina bertanya


Tanpa sadar Erine mengatakan, "iya."


Beberapa saat kemudian Erine menyadari apa yang dia katakan dan dengan panik menjelaskan.


"Maksudku, aku memang tidak suka sikap penggodanya itu. Selalu saja ditujukan untuk gadis lain."


"Berarti Erine berharap Damian menggoda Erine saja, bukan gadis lain?" Tanya Reina polos.


Diam-diam Chloe ingin memberi jempol kepada Reina yang telah membantu rencananya.


Anak pintar!


"Aku, aku..."


Bahkan setelah aku yang panjang Erine tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Serius Erine menyukai laki-laki menyebalkan itu? Wow, sungguh tak terduga." Ucap Reina heran.


"Ada yang bisa aku bantu?" Chloe menawarkan bantuan. Tinggal sedikit lagi dan Erine mungkin tidak akan menjadi antagonis.


Mata Erine dipenuhi binar haru. Ternyata menyenangkan mempunyai teman, pikirnya.


"Uhh, bisa tolong aku? Dia sungguh laki-laki yang tidak peka," Erine memalingkan wajahnya dan menyentuh pipinya canggung.


Diam-diam Chloe bersorak dalam hatinya.


Kemudian Chloe menyarankan, "seperti yang kau bilang, dia itu tidak peka. Karena itu satu-satunya cara adalah berinisiatif sendiri. Coba ajak dia untuk pergi malam ini. Kau tahu, ada pasar malam di sekitar sini, kalian bisa pergi melihatnya bersama."


Erine mengangguk-angguk sambil berterimakasih kepada Chloe.


Chloe sekali lagi menyalakan identifikasi.


...[Nama: Erine Alisher...


...Umur: 18 tahun...


...Status: Karakter...


...Tingkat kesukaan: 35% (teman)]...


Rasanya Chloe ingin berteriak sambil menari dan melompat-lompat kegirangan karena berhasil menangani masalah terbesar protagonis Reina, yaitu antagonis Erine.


Dengan ini tugasku bukannya akan menjadi lebih mudah?


Setidaknya masalah antagonis telah terselesaikan. Hanya beberapa masalah tersisa dan setidaknya masih ada waktu setengah tahun sebelum kelulusan.


Chloe senang caranya berhasil. Cara untuk menghentikan Erine menjadi antagonis dengan menunjukkan perasaan Erine yang sebenarnya.


Dalam cerita asli, Erine menyakiti Reina tanpa mengetahui perasaan sebenarnya. Motif utamanya hanyalah iri hati.


Setidaknya Chloe juga mengerti tipe idaman Reina dan berpikir setidaknya Damian bukanlah orang yang cocok untuk Reina.


Tiba-tiba Chloe merasakan perutnya menjerit-jerit ingin mengeluarkan isinya.


"Teman-teman, kurasa aku harus menyelesaikan masalah alam ini dulu sebelum kita pergi ke taman," ucap Chloe sambil memegangi perutnya dan berlari kecil menuju kamar mandi.


——


"Hahh... Lega rasanya," Chloe mendesah pelan begitu keluar dari kamar mandi.


Melihat di cermin dan merapikan penampilannya sebentar, sebelum keluar.


"Eh, ada apa itu?" Tanya Chloe heran kepada dirinya sendiri.


Dari jauh terlihat tiga orang anak laki-laki sedang berkumpul. Tentunya itu bukan perkumpulan yang baik.


Chloe segera menyalakan perspektif untuk bisa melihat lebih jelas sementara ia merapatkan tubuhnya pada tembok, sedikit bersembunyi.


Dengan perspektif, pandangan Chloe terhadap ketiga laki-laki itu terlihat lebih jelas.


Menurut situasinya, seorang laki-laki dengan rambut putih dan netra ungunya sedang dirundung oleh dua orang laki-laki lain yang cukup kurus, mungkin mereka hanya berasal dari keluarga yang tidak begitu kaya.


Tak lama, kedua laki-laki segera membawa si rambut putih menuju sebuah tempat yang sedikit terpencil.


"Hei, apa-apaan, perundungan? Dasar, anak-anak sebaiknya belajar saja, untuk apa bermain api seperti ini?" Keluh Chloe dengan kesal mengikuti mereka.


Dia samasekali tidak takut terhadap laki-laki kurus yang sepertinya bahkan tidak bisa berdiri tegak selama sepuluh menit.


Lagipula, Chloe membenci perundungan.


Benci, sangat benci, karena dia sendiri pernah mengalaminya.


...----------------...


...To be continued...